
"Cih! Kau tidak ada bedanya dengan gadis. Tapi bagus juga, karena aku tidak perlu jauh-jauh mencari wanita yang bisa memuaskan hasrat ku." Ucap Lucas berdecih. Pria itu langsung memakai kembali pakaiannya, kecuali jaket hitam miliknya.
Dini bangkit duduk dan memakai kembali segitiga bermudanya, tapi ia tidak bisa menutupi tubuhnya bagian atas karena bajunya robek di depan sana. Apalagi isi dari dalam itu hampir menyembul keluar sintal. Melihat hal itu saja, membuat Lucas ingin kembali menyerang wanita itu.
Namun, Lucas segera melemparkan jaket hitam yang ia pegang.
"Pakai jaket ini, karena aku tidak ingin melihat tubuhmu yang sangat menjijikan itu. Keluarga mu juga akan marah sekaligus sedih pakaian mu tak karuan lagi menatap putri mereka telah di jamah olehku, Apalagi pria suamimu itu, dia pasti yang lebih terluka dan ingin sekali menghajar ku tapi sayangnya tidak akan bisa." Ucap Lucas sambil melirik Dini dengan tatapan dinginnya. Tanpa menunggu lama lagi, akhirnya Dini segera memakai jaket milik Lucas, untuk menutupi tubuhnya.
Tak berselang lama, sang anak buah datang dan memasuki kamar. Seolah pria itu tahu, bahwa permainan Lucas sudah selesai.
"Apa kau sudah selesai dengan tugasmu?" Tanya anak dengan dingin. Rasanya suasana itu terasa mencekam. Bosnya berani bermain-main dengan wanita yang tengah hamil. Memang makhluk tak berperasaan!
"Sudah, Kalian sendiri sudah membereskan mereka?" Tanya dan jawab Lucas tegas
"Sudah bos, pria itu sudah terkapar lemah bersama keluarganya lain." Jawab Anak buah Lucas
Mendengar hal itu, membuat Dini menggelengkan kepala seolah tak percaya, dengan apa yang ia dengar saat ini mereka tak ada kapoknya.
"Lucas, apa yang kalian lakukan pada keluarga dan suamiku? Apa?! Cepat katakan padaku, di mana letak kesalahanku, hingga kau terus menyiksa orang yang tak bersalah! Cepat katakan padaku! Apakah mereka masih hidup?" Teriak Dini histeris, sambil mengguncang tubuh Lucas dengan kasar, bahkan wanita itu memukuli Lucas secara membabi buta, meskipun hal itu tak berarti apa-apa bagi Lucas.
Lucas yang sudah tak tahan dengan sikap Dini, langsung mencekik wanita itu hingga wajahnya memerah.
__ADS_1
"Kau adalah wanita yang tidak tahu malu, bahkan kau selalu mempertanyakan apa kesalahan mu. Kau tenang saja mereka masih hidup, mereka hanya terkujur lemah mendekati ajalnya, Aku tidak mungkin membuat mereka mati secepat ini." Ucap Lucas menatap Dini dengan tatapan tajam, sambil menekan setiap kata yang ia ucapkan.
*
*
*
Hingga pada akhirnya, Dini tampak murung kembali berjalan gusar ke tempat semua keluarganya di sandera. Saat Dini hendak menemui Arya terbaring lemah itu, langkahnya terhenti seketika, tulang-tulang dalam tubuhnya seolah rontok entah kemana. Lututnya lemas, wajahnya memerah, matanya mulai panas, sampai air mata bening meluncur bebas membanjiri pipinya.
Waktu sudah malam dan mereka masih tetap seperti ini tanpa diberi makan. Ia menatap suaminya sedih dan dengan kasar ia melepaskan ikatan tali yang mengikat tangan kaki, dan penutup mata Arya tidak peduli walau di sana ada penjaga yang berjaga malam hari. Dini sendiri tak berniat kabur, ia hanya ingin melepaskan ikatan suaminya yang pasti pegal dan lelah. Penjaga mempersilakan sembari mereka berwaspada.
Ternyata Arya masih hidup. Ia sendiri tidak tertidur dan pasti selalu membuka mata walaupun matanya tertutup. Ia menatap Dini yang sudah ada di dekatnya, ia juga yang melepaskan dari ikatan itu. Arya terbangun dan Dini membantu Arya duduk.
Ia tak kuasa melihat tubuh suaminya yang lemah seperti ini. Berkali-kali Dini menangis dalam pelukan suaminya, tubuh yang selalu ia sukai dan rindukan.
Arya merasakan tangisan Dini berbeda. Terdengar menyakitkan bagi dirinya. Apa yang terjadi? Datang dengan rambut acak-acakan, noda merah di leher, memakai jaket pria itu. Kenapa Dini belum berbicara?
Dengan gemetar Arya mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh istrinya yang tengah menangis. Tatapan mereka bertemu dan terlihat sangat lemah, mata yang merah dan wajah penuh darah.
__ADS_1
"Maafkan aku... Aku berbuat dosa sudah mengkhianati mu." Cekat Dini dalam ucapnya membuat Arya bingung
"Aaa...ppaa..." Lirih Arya lemah, serak, dan pelan
Tangis Dini semakin histeris. Ia bersimpuh pada tangan suaminya yang ia genggam menangis di punggung tangannya memohon ampunan.
Dini membuka jaket yang ia kenakan. Ia harus jujur pada Arya. Perlahan ia membuka setengah jaket itu yang memperlihatkan atasnya. Tak ada salahnya ia melakukan itu bukan, karena Arya adalah suaminya.
Hanya baju yang terlihat robek atasnya dan dada Dini yang penuh dengan merah. Arya sudah memahami segalanya dan tidak perlu dijelaskan secara rinci hingga ke akarnya. Ia sudah tahu apa yang terjadi pada istrinya, Lucas sudah bermain-main dengan wanitanya.
Arya menangis. Tak kuasa menahan rasa sakit hati bukan melainkan istrinya berkhianat, Ia tahu istrinya pasti memberontak dan tak mungkin menikmati permainan itu. Arya menangis karena gagal menjadi suami yang baik untuk istrinya, menjadi suami yang lemah tak bisa menjaga, hanya terkapar lemah melihat mereka menindas Keluarga.
Sedih, marah, kecewa, melawan, saat ini tidak bisa. Arya tak henti menangis tersedu tak lagi mampu menatap istri yang terlihat dari pelupuk mata berharap padanya meminta bantuan. Untuk sekedar menenangkannya pun saat ini ia tidak bisa. Mulutnya tak mampu berbicara lagi. Kenapa ini semua terjadi? Kesalahan apa di masa lalu? Ingin hidup bahagia bersama keluarga kecil satu tahun saja tidak bisa.
Arya dan Dini menangis bersama. Tangisan mereka sangat pedih. Orang yang memiliki hati akan ikut menangis bersama. Seorang anak yang tumbuh dewasa dan menikah, Ternyata Pernikahan mereka sulit untuk dilalui, berjalan di atas bara api yang tak henti apinya padam dan malah terus berkobar.
Saat kecil, mereka bermimpi menikah dengan sang putri dan pangeran seperti film dalam kastil kerajaan diselenggarakan secara megah dan mewah, Hidup bahagia seperti raja dan ratu melihat anak mereka duduk di atas kursi tahta.
Tapi sepertinya ini dunia nyata. Bukan novel ataupun komik. Ternyata Pernikahan ini tak mudah jika kita belum bisa melupakan masa lalu!
"Aku sudah lelah, Din. Bolehkah aku menyerah pada dunia ini. Meninggalkan mu dan juga anak-anak sendirian di dunia jahat ini. Aku tidak berharap pada dunia ini lagi... Hanya hidup tenang yang ku inginkan, pergi jauh darimu... mungkin karena diriku lah yang masih bertahan di sini sampai membuatmu masih menderita." Batin Arya yang mampu berkata
__ADS_1