
Keesokan Harinya~
Dini yang diikuti oleh Valerie datang mengunjungi mansion Keluarga Pratama untuk sekedar memenuhi permintaan Bu Amira.
Saat datang, Bu Amira menunjukkan ekspresi kurang mengenakkan melihat Valerie yang ternyata ikut datang ke mansion nya.
Perasaan benci dan tidak suka melihat Valerie timbul kala dia berpura-pura bersikap baik pada Bu Amira dengan menyapanya.
"Ibu sedang apa? Biarkan aku membantu." Ucap Dini menghampiri Bu Amira yang sibuk di dapur
Sedangkan Valerie, ia bersantai di ruang tamu sedikit berbincang dengan Pak Barma.
"Sebelum menjawab. Banyak sekali yang ingin ibu tanyakan padamu. Kemarin kau pergi ke mana saja sampai Arya mencari mu?" Langsung interogasi Bu Amira
"Sepertinya kemarin mereka memang mengkhawatirkan diriku. Aku diculik dan tidak mungkin menceritakan pada ibu siapa penculiknya. Tuan Darwin akan mendapatkan masalah nanti." Gumam Dini
"Ibu sedang bertanya padamu. dan kau malah sibuk melamun."
"Maaf, ibu. Bukan maksudku untuk menghiraukan ibu." Ucap Dini
"Dan sekarang apa alasanku untuk menjawab pertanyaan ibu." Gumam Dini bingung
"Setelah kau ditemukan, Arya menelpon ibu kembali dan mengatakan pada ibu jika kau berada di sebuah panti asuhan. Hal sekecil itu tapi kau membuat orang lain khawatir besar."
"Mungkin panti asuhan adalah alasan tuan untuk mengatakan pada ibu. Dia juga sepertinya menyembunyikan penculikan ku kemarin agar ibu tidak khawatir."
"Iya, Bu. Berada di panti asuhan membuatku lupa diri sampai melupakan waktu. Aku senang bermain-main dengan anak kecil, mereka juga terlihat bahagia saat aku membawakan banyak mainan. Maafkan aku sudah membuat kalian khawatir." Ucap Dini berkata
"Tidak apa. Ibu hanya khawatir jika ternyata terjadi di luar dugaan padamu. pikiran ibu sudah negatif menganggap jika kau korban penculikan."
Dini tertegun membisu tak mampu lagi menjawab ibu mertuanya.
"Saat ini ibu sedang memasak untuk bekal makan siang Luna. Tadi dia menelpon untuk dikirimkan makan siang buatan ibu karena kantin ternyata tidak buka."
"Siapa yang akan mengirimkan bekal itu?" Tanya Dini
"Ibu biasanya menyuruh supir untuk mengantarkannya pada Luna." Jawab Bu Amira
"Ini kesempatan bagiku untuk mengunjugi tempat yang tidak pernah aku kunjungi lagi. Aku ingin melihat bagaimana kondisi universitas sekarang yang ku rindukan itu." Gumam Dini
"Ibu, Bisakah aku yang mengantarkannya pada Luna?" Pinta Dini
"Tidak perlu, Din. Kau sedang hamil dan jangan terlalu beraktivitas yang bisa melelahkan mu."
"Tidak apa, Bu. Aku hanya ingin mencoba menjalin hubungan yang baik dengan Luna. Dari sejak aku menikah, Kami tidak pernah saling bertemu ataupun berbicara. mungkin saja dengan cara ini bisa mengubah sudut pandang Luna terhadapku."
"Ada benarnya juga. mungkin saja Luna bisa membangun jalinan yang baik denganmu. Baiklah, kau bisa mengantarkannya. Tapi pesan ibu untuk berhati-hati di sana." Ucap Bu Amira mengizinkan
Dini tersenyum sumringah karena senang bisa mendapatkan izin dari Bu Amira untuk mengunjungi mantan tempat kuliahnya itu yang ia rindukan.
"Aku dengar Dini akan pergi ke tempat kuliah Luna. Bolehkah aku juga ikut bersamamu? Aku juga ingin tahu bagaimana suasananya." Ucap Valerie menyambar datang menghampiri perbincangan Dini dan Bu Amira
Spontan mereka melirik ke arah Valerie.
"Tidak perlu, kau diam saja di sini." Jawab Dingin Bu Amira yang tidak suka pada Valerie
__ADS_1
"Kenapa memangnya ibu mertua? Ibu seperti tidak suka padaku." Tanya Valerie tertantang
"Biarkan saja Dini yang mengantarkannya. Kau tidak perlu ikut." Cetus Bu Amira
"Tidak apa, Bu. Biarkan nona Valerie ikut bersama denganku. Lagipula akan lebih baik jika ada teman untuk pergi bersama ke sana." Ujar Dini berkata
"Tapi Din, Ibu..." Ucap Bu Amira khawatir karena Dini akan bersama Valerie yang bisa saja membahayakan menantunya
"Ibu tenang saja. aku bisa menjaga diri." Ucap Dini mengerti apa yang menjadi pikiran Bu Amira dan menenangkan dengan meletakkan tangan kiri di bahu kirinya Bu Amira
"Baiklah. Ibu harap kau lebih berhati-hati dengannya." Perasaan gundah Bu Amira
Dini mengangguk sebagai jawaban.
...***...
Perlahan untuk berhenti melaju, mobil yang di tumpangi Dini berhenti di gerbang utama yang menjulang tinggi.
Saat turun, Kilas balik muncul kembali saat Dini menjadi mahasiswa di sana. Banyak sekali kenangan dan lika-liku yang ia hadapi, perjuangannya untuk bisa masuk ke universitas impian sampai terpatahkan akibat peristiwa yang tidak terduga.
Perasaan getir menatap universitas itu membuat Dini sedikit sakit hati. Andai saja takdir tidak membawanya ke kehidupan sekarang, mungkin dia masih menempuh pendidikan dokter nya di sana.
"Aku tahu ini adalah tempat kuliah mu dulu, kan? Dan kau dikeluarkan akibat kebusukan mu. Lalu, sekarang kau menginjakkan kaki di sini seperti orang yang tidak tahu malu." Ucap Valerie sebelum melanjutkan langkahnya mendahului Dini masuk
Sambil menentang Tupperware yang dia bawa. Dengan perasaan senang ia masuk lebih dalam. Dan segera menuju kelas Luna yang masih dia ia ingat bahwa itu adalah kelasnya dulu juga.
Saat berada di koridor, Dini dan Valerie kehilangan jejak. Mahasiswa yang memiliki jam kosong sedang berkumpul di luar ruangan kelas, otomatis mereka melihat kedatangan dan mengenali Dini.
Sempat heran, dan itu pasti. mereka berbisik-bisik akan kehadiran Dini di sana.
Swsh...swsh...sws...
Seakan hanya mendesis dan tidak nyaring membicarakan.
"Pasti mereka masih teringat akan skandal ku dan sedang membicarakan akibat kedatangan yang tiba-tiba seperti ini setelah sekian lamanya." Gumam Dini terpojokkan selama perjalanan di koridor
Menghiraukan semua pandangan dan mulut yang mengikutinya.
Kini Dini telah sampai di kelas Luna. Kebetulan Luna dan kedua temannya sedang berada di luar kelas, dengan mudah ia langsung menghampiri Luna.
"Luna!!" Panggil Dini sedikit berlari kecil
Mendengar ada yang memanggil namanya, spontan Luna melirik.
Refleks ia terkejut saat dengan intens matanya mendapati Dini kini sedang berada dihadapannya. Perasaan heran muncul kenapa dia bisa ada di sana.
"Kau?? Untuk apa kau di sini?" Kecam Luna terkejut
"Ini bekal makan siang untukmu. Ibu mengatakan jika kau meminta untuk diantarkan." Ucap Dini berseri-seri
"Lalu, kenapa kau yang mengantarkannya?" Ucap Luna yang marah karena malu
Kedua temannya pun menatap tak menyangka akan kedatangan Dini secara tiba-tiba. Ia juga heran melihat interaksi Luna dan Dini seolah tidak menunjukkan orang yang sudah lama bertemu.
"Luna, Ibu siapa yang dia maksud? Apa itu ibumu?" Tanya Felisha. Seketika membuat pipi Luna memerah menahan malu
__ADS_1
Dini yang mengerti akan salah berubah. menatap Luna yang sudah memerah dan menatapnya tajam.
Semua orang yang menjadikan bahan tontonan berkumpul menyaksikan mereka berdua.
seketika mereka juga meneriaki Luna yang mempertanyakan keberadaan Dini di sana.
"Ya, Luna. Apa hubungannya kau dengan dia? Kalian seperti sudah saling bertemu. padahal wanita itu sudah lama tidak ada kabar." Teriak bertanya
Luna semakin bergemetar dan hatinya bergemuruh. dia menyalahkan Dini yang sudah membuatnya tersudutkan.
"Apa akibat skandal itu kakakmu tuan Arya jadi menikahinya? Dan sekarang dia kakak ipar mu?" Terus teriak mahasiswa yang berkumpul
"Bukan!! Kenapa kalian bisa berpikir seperti itu, hah?" Teriak Luna
"Dia adalah pembantu di mansion orang tuaku. Kalian tahu sendiri jika kakakku baru saja menikah dengan kak Valerie. kenapa kalian berpikir aneh-aneh?" Hardiknya
Semua orang pun menjadi lebih mengerti saat Luna menjelaskan pada mereka.
"Oh, Jadi selama ini Dini bekerja di mansion orang tuamu. Aku pikir dia hilang di telan bumi. serapat ini kau menyembunyikan kabar keberadaannya yang ternyata dia tidak pergi ke mana-mana." Ucap Vera
"Dan karena dia pembantuku, Sehingga dia bisa datang menunjukkan diri lagi dihadapan kalian dengan mengantarkan kotak makan ku." Ucap Luna memperjelas
"Itu benar, Dia datang bersama denganku untuk mengantarkan kotak makan Luna." Bicara seseorang tiba-tiba dalam keheningan
Spontan mata mereka tertuju pada wanita tinggi bak berjalan seperti model ke tengah-tengah mereka.
"Perkenalkan, Aku adalah kakak iparnya Luna." Ucap Valerie berseri-seri dan sekilas menatap ke arah Luna
Luna tak menyangka jika Valerie ada di sana. Ia menatap kedatangannya dengan senang.
"Kaka ipar, Kau ada di sini juga?" Senang Valerie
Valerie hanya tersenyum dan mengangguk.
"Yang dikatakan Luna benar. Wanita di sampingku ini adalah pembantu di rumah kami. Aku memintanya ikut untuk membantuku mengantarkan kotak makan siang Luna. Kalian pasti sangat terkejut melihat wanita yang kini dihadapan kalian dan dulu merupakan teman kalian ini, menunjukkan diri setelah sekian lama bersembunyi." Kata Valerie menunjuk Dini
Dini hanya diam saat dirinya diolok-olok oleh Valerie dan juga Luna.
"Kalian percaya itu? Kakak ipar ku adalah kak Valerie. Karena dulu orang tuaku kasihan melihat wanita ini tidak memiliki tujuan, sehingga mereka memperkerjakan dia sebagai pembantu di mansion nya."
"Iya, Luna. Maafkan kami yang sudah berburuk sangka padamu. Wajar saja skandal itu masih melekat dalam pikiran kami, jadi kami pikir bisa saja kehidupan seperti di film-film terjadi pada keluarga mu juga." Jelas dan meminta maaf mahasiswa lain
"Sudahlah. Yang terpenting kalian sudah tahu jika wanita ini adalah pembantu di mansion ku." Ucap Luna kesal
"Sini! Berikan kotak makannya padaku." Lanjut Luna merebut kotak makan itu dari tangan Dini dengan kasar dan sarkas
Seperti itu tanggapan mereka yang mengetahui jika sebenarnya Dini adalah pembantu di mansion orang tuanya Valerie.
Setelahnya mereka bubar.
"Kakak terima kasih kau sudah datang untuk menyelamatkan ku. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika kakak tidak datang sebagai kakak ipar asliku." Ucap Luna berterima kasih pada Valerie setelah membawanya pergi ke tempat sepi
"Semua ini terjadi karena wanita itu secara tiba-tiba. Kasihan sekali adik ipar ku ini mendapatkan masalah karenanya." Elus Valerie pada rambut Luna
"Aku akan mengunjungi rumah kak Arya untuk bertemu dengan kakak nanti. Walaupun kakak sedang hamil besar, kak Valerie tetap langsing dan cantik saja. Aku jadi tidak sabar bertemu keponakanku." Ucapnya
__ADS_1
"Aku akan tunggu kedatangan mu. mungkin aku harus pulang sekarang juga. Makan makanan itu dan semangat untuk belajar, supaya nanti keponakanmu ini bangga memiliki bibi seorang dokter." Pamit Valerie setelahnya pergi