
Setinggalnya Nek Arini yang sakit namun, telah sembuh saat Dini menyampaikan Kehamilannya, hal itu menjadi penyembuh baginya.
Kini semua keluarga sedang berjalan-jalan berkeliling disekitar rumah Nek Arini yang luas itu. Untuk memperkenalkan setiap sudut yang ada di rumahnya.
Tibalah saatnya mereka berada di pekarangan kuda.
"Ini adalah pekarangan kuda peninggalan suami Nenek. Kakek mu senang sekali merawat kuda dan menungganginya. Itu karena kakek mu seorang atlet berkuda." Jelas Nek Arini pada Dini
"Suami nenek pasti sangat hebat. Terbukti di lemari hias banyak sekali piala yang dimenangkan kakek." Ucap Dini
"Itulah dia, banyak sekali peninggalan yang dia tinggalkan, tapi sayangnya dia sudah meninggal. Dia mewariskan bakat berkuda itu pada cucunya Darwin dan Arya, mereka mendapat pengajaran dari kakeknya. sehingga mereka berdua memiliki skill berkuda, iya kan Arya, Darwin?!" Ucap Nek Arini bertanya
Arya dan Darwin sama sekali tidak menggubris.
Tidak mendapatkan respon apapun dari mereka berdua membuat Nek Arini kebingungan terutama Darwin yang terlihat dingin. Jika Arya, ia sudah terbiasa dengannya yang tak pernah mendapatkan respon baik.
"Mereka bisa saja menunggangi kuda seperti saat kecil yang berlomba. Benarkan, Darwin? Apa kalian tidak ingin mencoba untuk berlomba lagi?" Tawar Nek Arini
Arya dan Darwin saling bertatapan dengan sorot mata tajam.
"Tidak Nenek, Aku tidak bisa menunggangi kuda." Jawabnya dingin
"Dulu saat kecil kau dan Kakakmu sama-sama belajar dengan almarhum kakek cara menunggangi kuda. Aku masih ingat jika kau sudah bisa menungganginya, Darwin. Bahkan kalian saling berlomba dan saat itu kau yang memenangkannya."
"Itu saat kecil. Dan sekarang aku sudah dewasa dan lupa bagaimana cara menungganginya." Ucapnya dingin
Melihat Darwin berbicara tak seceria dulu, membuat Bu Amira dan Nek Arini kebingungan.
"Katakan saja jika kau takut melawanku." Tantang Arya
Tubuh Darwin meremang saat seolah Arya menantang dan menganggapnya lemah.
"Siapa yang mengatakan itu?! Padahal aku berbohong untuk menyelamatkan image mu dihadapan semua orang yang pasti kalah berlomba denganku. Sepertinya anda saja yang tidak memahami skill diri sudah tahu saat itu kau kalah melawan ku dan malah ingin melawan orang yang menang." Jawab Darwin sarkas
"Kita buktikan saja siapa yang lebih kuat saat ini. Aku atau kau!" Tantang Arya
"Baiklah, Siapa takut!" Berani Darwin
Setelah menerima tantangan itu, Kini mereka sudah memakai safety untuk lomba berkuda.
Mereka berdiri dihadapan kuda masing-masing sebelum menunggangi kuda mereka. Di sana Arya dan Darwin saling berhadapan satu sama lain menarik hawa dingin dan panas yang terhantar menjadi sebuah perlombaan yang menantang.
Setelah lama-lama membanggakan diri sendiri dan menganggap jika mereka pemenang. Mereka menaiki kuda mereka dan segera melakukan perlombaan.
__ADS_1
Setelah bunyi ledakan kecil yang menandakan lomba di mulai. mereka langsung melajukan kuda mereka.
Terlihat Darwin yang memimpin perlombaan itu setelah melewati beberapa rintangan seperti showjumping.
Sehingga pada akhirnya Arya bisa menyusul dan perlombaan kini seimbang tidak bisa melihat siapa yang lebih unggul.
Beberapa kali mereka mencoba lebih keras dan Arya meninggalkan jarak jauh dari Darwin yang tertinggal.
Melihat Arya yang kini memimpin tak memutuskan harapan Darwin sebagai pemenang.
Awalnya perlombaan itu berjalan lancar dengan Arya yang memimpin. Namun, Akibat perkelahian kakak beradik yang belum usai perlombaan mereka semakin agresif.
Semua keluarga yang menyaksikannya menjadi panik melihat pertarungan mereka dengan kudanya itu.
"Apa yang terjadi dengan mereka. mereka keluar jalur?!" Kejut Bu Alma
Kuda itu pun lepas kendali dan semua keluarga semakin panik.
"Apa yang mereka berdua lakukan, kenapa perlombaan menjadi seperti ini? Arya,,, Darwin,,, Hentikan kudanya." Teriak Pak Barma
Perlombaan semakin mencekam kala berubah menjadi sebuah pertarungan yang saling beradu.
"Darwin, hentikan pertarungan kalian. Ini bahaya. Apa yang kalian lakukan?" Teriak Bu Amira
Bertubi-tubi hantaman kuda Darwin lesatkan pada Arya. Sementara pemandu yang bekerja di sana sekuat tenaga menghentikan amarah Arya dan Darwin yang sudah memuncak.
"Jika kau tidak mencintainya, jangan di nikahi. Jika kau tidak bisa membuatnya bahagia, jangan menyakitinya." Hardik Darwin membahas Dini
"Apa urusannya dengan mu? Kau sendiri sama halnya seperti pria bajingan yang menculik istri orang lain." Lawannya
"Istri? Hah? Apa aku tidak salah dengar kau menganggapnya sebagai istri. Suami mana yang memperlakukan kasar istrinya, Hah?"
Emosi mereka semakin memuncak. tidak ada lagi yang bisa menghentikan mereka. Pada akhirnya kuda mereka mengamuk.
Wueher....
Suara kuda meringkik mengangkat tubuhnya ke atas.
Membuat Arya dan Darwin terpelanting dan jatuh.
Arrrrrgghh...
Tuan...
__ADS_1
Arya! Darwin!
Mereka pun berlari menghampiri.
Terlihat mereka meringis sangat kesakitan di kakinya.
Sebagai Dini bukannya menghampiri Arya yang merupakan suaminya dan pantas untuk dikhawatirkan. Mereka termasuk Dini malah sibuk menghampiri Darwin. sedangkan Arya, hanya dipedulikan oleh Bu Clara dan Valerie.
"Arya, Kau tidak apa-apa? Jangan tinggalkan aku dan anakmu. Kami masih membutuhkanmu."
Sangat sakit ia masih memegang kakinya yang terlihat robek.
Melihat semua keluarga terutama Dini mengkhawatirkan Darwin, Hati Arya bergejolak menahan amarah dan kecemburuan.
"Tuan Darwin... Kau baik-baik saja?" Terlihat Dini sangat mengkhawatirkannya
"Arrrrghh..." Darwin meringis kesakitan di salah satu kaki lutut bawah
Semua keluarga tak ada yang peduli dengan Arya. Mereka sibuk mengkhawatirkan Darwin yang membuat Arya sakit hati.
"Apa sebenarnya yang kau lakukan. Bukannya berlomba, kalian malah bertarung menyakiti kuda dan diri kalian sendiri. jika sudah seperti ini, siapa yang rugi? Apakah nenek yang rugi melihat kalian seperti ini?" Bentak Nek Arini
"Bawa mereka berdua masuk. Setelahnya kau panggilkan Dokter, Alma." Titahnya
Bu Amira dan Pak Barma pun membopong Darwin masuk ke dalam.
Arya yang dibantu oleh Valerie dan Bu Clara untuk dibopong masuk sangat kesusahan karena lukanya lebih parah dari Darwin.
Sekilas Dini melirik ke arah Arya yang menatapnya tajam. ia mengerti dari sorotan matanya.
"Tuan, kau baik-baik saja?" Beralih Dini menghampirinya
"Jangan pedulikan aku. Aku bisa sendiri." Kata Arya terdengar marah
"Dasar wanita yang tidak tahu diri. Bukannya kau membantu suamimu, malah membantu pria lain sampai mengkhawatirkannya." Hardik Valerie
"Jangan bertengkar sekarang. Cepat bawa aku masuk!" Titah Arya
Valerie pun melanjutkan langkahnya membopong Arya.
Dini hanya diam melihat punggung Arya yang menjauh darinya. Ia menatap suaminya itu dengan nanar.
"Maafkan aku Tuan, aku sadar dengan tindakan ku tadi itu sangat salah. Sebenarnya aku sangat mengkhawatirkan mu, Aku takut terjadi sesuatu padamu. tapi nenek menarik ku kehadapan Tuan Darwin. Kau pasti salah paham dengan hal ini." Gumam Dini sedih
__ADS_1