Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 87 - Kecemburuan


__ADS_3

"Kenapa kau terus datang ke rumahku? Apa kau tidak memiliki rumah?" Ketus Arya seraya berkata


"Apa kesalahanku? Aku datang untuk menemui adik dan keponakanku saja. Istrimu saja tidak masalah." Jawab Zayn


"Pulang! Atau aku akan menyeret mu keluar dari rumah ini." Gertak Arya


"Tidak bisa. Aku sendiri yang meminta kakak datang kemari." Cegah Dini


Mata Arya berdelik menoleh istrinya. Terlihat dari raut wajahnya ia bertanya-tanya dan menyimpan kemarahan.


"Tuan, ini adalah waktu di mana akhirnya aku bisa bertemu dengan kakak ku. Aku ingin sekali menghabiskan waktu dengannya." Ungkap Dini


Di sela perdebatan mereka, Ansel yang gembira menghampiri pamannya itu. Ia juga tak segan memihak paman dibandingkan ayahnya sendiri, hal itu Ansel sengaja lakukan untuk memanasi ayahnya.


"Paman penculikkk... Akhirnya kau datang juga. Kau adalah paman ku rupanya, Ibu mengatakan jika paman adalah kakak dari ibuku. Dulu paman penculik hilang ingatan, Ya." Ucap polos Ansel


"Benar, yang dikatakan ibumu itu semuanya benar." Balas Zayn mencubit lembut pipi Ansel akibat gemas


"Bagaimana rasanya hilang ingatan, paman?" Tanya Ansel


"Seperti yang Ansel lihat, Paman tidak mengenal adik dan ayah ibu paman, dan Paman tidak mengenal keluarga paman sendiri, Paman juga tidak ingat siapa sebenarnya paman." Jawab Zayn


"Itu pasti membuat paman sangat sedih. Tapi sekarang paman sudah ingat semuanya, dan paman bisa bermain denganku."


"Tentu saja. Paman akan sering datang ke rumah ini bertemu Ansel dan juga Arsen. Di mana kakak mu?" Tanya Zayn mencari Arsen


"Kakak ada di kamar bersama laptopnya. Begitulah dia yang seharian terlalu sibuk tidak menyempatkan waktu untuk bermain." Kata Ansel memutarkan bola matanya malas


Melihat interaksi Zayn dan Ansel yang sangat dekat membuat Arya merasa terabaikan, berdiri seperti patung bernyawa semakin membuatnya cemburu pada Zayn.


"Ansel, Apa kau tidak mempedulikan ayah lagi? Ayah bisa meluangkan waktu jika kau ingin kita bermain bersama." Arya memotong pembicaraan

__ADS_1


"Tidak ayah, Aku sudah bosan bermain dengan ayah. Ayah dan Arsen sama saja tidak pernah bergairah saat diajak bermain. Bermain dengan paman sangat seru dan menarik. Ayo paman, kita pergi ke taman belakang! Kita bisa bermain, dan Paman bisa melihat kebun tanaman milikku dan ibu yang ditanam di sana." Ajak Ansel menarik tangan Pamannya


"Kau lihat ini?! Anakmu ingin aku yang menemaninya bermain." Kata Zayn memanasi


Gigi Arya menggertak, Kedua tangannya mengepal keras menahan amarah. Jika tidak ada Dini dan Ansel, ingin sekali saat itu juga ia menghajar orang yang disebut kakak iparnya.


"Kau lihat itu, Anak kita?! Dia sudah mulai menghiraukan ayahnya." Geram Arya


Dini hanya tertawa melihat kecemburuan suaminya itu.


"Tenang saja Tuan, Ansel bermain dengan pamannya bukan dengan calon ayah barunya." Ujar Dini mengeluarkan gurauannya


Arya semakin meremang dan tidak peduli pada istrinya. Ia anggap istrinya sama saja yang berpihak pada Zayn.


"Sangat menjengkelkan!" Ujar Arya mendelikkan matanya


Lalu, berkata lagi


Dini hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat suami yang posesif.


...***...


Lagi dan lagi, Keesokan harinya Zayn tidak kenal lelah mengunjungi rumah Arya untuk bertemu dengan Dini. Zayn seperti tidak memiliki pekerjaan utama yang membuatnya sibuk, padahal perusahaan miliknya di Indonesia harus diberikan tanggung jawab melalui kepemimpinannya.


Begitupun dengan kelanjutan kerja sama dengan perusahaan Arya, Zayn malah bersikap tidak peduli dan lebih menyerahkan semuanya pada adik iparnya. Zayn sengaja dan sangat senang membuat Arya sibuk bekerja agar dia bisa memiliki banyak waktu bersama Dini.


Hal itu kerap kali membuat Arya marah akibat ketenangan keluarganya yang diganggu oleh Zayn. Setiap kali ia mendekati istrinya, Zayn selalu datang diwaktu yang salah. Arya sendiri entah berapa kali memanggil dokter pribadi untuk mengecek tekanan darahnya yang didapatkan selalu tinggi melihat kelakuan kakak iparnya.


"Zayn, Apa kau tidak memiliki pekerjaan yang bisa kau kerjakan dan membuatmu sibuk? Sekiranya carilah uang untuk menopang kebutuhan mu sendiri, bukan hanya mengandalkan harta milik orang lain." Sindir Arya karena Zayn bisa mendapatkan kekayaan itu semua milik Pak Antonio


Dan semua orang sudah tahu jika Zayn bukanlah anaknya, ia adalah anak korban penculikan yang diubah status dari orang tua aslinya.

__ADS_1


"Eittss... Apakah begitu caramu berbicara pada kakak ipar mu? Panggil aku dengan kakak ipar, kita bukan teman yang tidak memiliki hubungan keluarga." Jawab menjengkelkan Zayn


Arya pun sampai beberapa kali mendengus kesal hingga kasar. Benar tidak ada gunanya berbicara dengan Zayn, jika pun tidak berbicara Zayn malah akan semakin melunjak berbuat sekeinginnya.


"Dini adikku sayang..." Panggil Zayn


"Iya kakak..." Balas Dini dengan lembut


"Kakak sering menemui mu hanya karena untuk merawat mu dan si jabang bayi. Kakak tahu jika suamimu itu tidak pernah peduli dan perhatian padamu. Saat hamil si kembar saja, dia masih sempatnya menyiksa dirimu. Bagaimana dengan kehamilan keduamu ini, dia pasti melakukan hal yang sama." Ucap Zayn dan sekilas selalu melirik ke arah Arya untuk melihat reaksinya


"Agh,,, Tidak Kakak, Suamiku itu sangat baik. Dia merawat ku dan bayinya dengan penuh perhatian. Kemarin suamiku baru saja membelikan apa yang diinginkan istrinya." Jawab Dini membela Arya karena tidak ingin memperkeruh keadaan


"Kau dengar itu Kakak Ipar Zayn? Istriku sendiri menyadari kasih sayang suaminya. Dan kau orang lain seenaknya berpikir negatif padaku..." Debat Arya melawan


"Tak perlu dengarkan dia. Anggap saja itu angin yang melewat. Ini, Kakak membelikan sesuatu untukmu dan si jabang bayi. Makanan yang sering ibu inginkan di saat hamil. Rujak!!" Ucap Zayn dengan semangat


"Hhh... Rujak? Itu tidaklah aneh. Kemarin baru saja Dini memintaku untuk membelikannya juga. Jangan sampai karena terlalu banyak orang memberinya rujak, Istriku bisa overdosis mangga. Ada hal yang masih disukai ibu hamil selain rujak, biasanya mereka menyukai barang mahal, kau tidak mampu membeli barang mahal untuk mereka, bukan? Paman macam apa dihari pertamanya sebagai paman memberikan rujak pada keponakannya. Coba tanyakan pada Dini apakah dia menginginkannya?" Pungkas Arya tertawa meledek Zayn


Senyuman ceria Zayn pun menghilang dan menatap tajam Arya yang beraninya meledek.


"Emm... Terima Kasih untuk kirimannya Kakak. Tapi, saat ini aku tidak menginginkannya. Ada perbedaan humor yang dialami ibu hamil setiap harinya. Maafkan aku tapi aku akan menyimpannya di dapur, siapa tahu nanti aku ingin memakannya." Jawab Dini jadi canggung


Zayn pun kecewa berat. Arya merasa menang dan terus tertawa meledek Zayn.


"Kau dengar apa yang dikatakan istriku? Istriku memang baik hati masih ingin menerima pemberian mu. Tapi dia akan menyimpannya di dapur, dan mungkin saja rujak mu itu di makan oleh Bu Shani atau pelayan di rumah ku. Hhh..." Arya tergelak yang tidak bisa menghentikan tawanya


Zayn menatap Arya sinis.


"Awas saja! Aku akan memberimu pelajaran pertama dari seorang kakak ipar. Suatu saat nanti, Aku akan menertawakan mu seperti kau menertawakan ku saat ini. Semua keadaan akan berbalik, ingat itu Arya, Adik Ipar!!" Geram Zayn ingin sekali menonjok perut Arya agar ia terbatuk dari tawanya


Tapi apa boleh buat? Di sana ada Dini dan tidak mungkin ia melakukan itu dihadapan adiknya. Jika saja terjadi, hancur sudah reputasi Zayn!

__ADS_1


__ADS_2