
Di dalam kamar milik Arya, Valerie menelusup masuk sembarangan kala melihat ponsel milik Dini yang tergeletak di atas laci dan mendapatkan pesan. Seketika Valerie teringat dengan Darwin yang ia ketahui sangat mencintai Dini, ia juga mengetahui bahwa Dini dibawa paksa kembali oleh Arya.
Valerie pun langsung saja meraih ponselnya dan segera memeriksanya. Dini terlalu baik, Dia sama sekali tidak memberi keamanan pada handphone nya, tidak terdapat pin atau pola yang mengunci ponselnya. Benar saja, puluhan pesan singkat dan panggilan masuk dari Darwin seketika muncul dilayar ponsel itu. Dengan sengaja tanpa sopan santun ia meretas ponsel milik orang lain.
Form. Darwin
[Din, Apa kabarmu? Kau baik-baik saja?]
[Aku ingin mencarimu dan mendatangi rumah itu. Aku sempat mencari tahu jika kau tidak tinggal di mansion. Kalian tinggal bertiga di sana, Apa dia menyakitimu?]
[Kalian baik-baik saja, bukan?]
[Aku sangat mengkhawatirkan kalian, Din!]
[Sudah berbulan-bulan Kalian bahkan tidak ada di rumah ku. Sepertinya kau sangat nyaman tinggal bersama dengannya. Ansel sendiri tidak merengek ingin menemui ku, Kan?]
[Kapan kau akan pulang? Tinggalkan dia jika sampai menyakiti mu lagi.]
Pesan masuk dari Darwin yang dibaca oleh Valerie.
"Cinta segitiga. Sangat dramatis dan juga romantis. Rupanya mantan adik ipar ku ini tetap setia menunggu kekasih pujaan hatinya. Di luaran masih banyak wanita, tapi dia tidak bisa melupakan kakak iparnya sendiri. Ini akan terjadi balap motor yang akan tikung menikung." Ujar Valerie terdengar mengejek
"Sedang apa kau dengan handphone ku?" Teriak Dini yang memasuki kamarnya dan melihat Valerie yang tengah memegang handphone miliknya
Dini pun menghampiri Valerie dan mengambil paksa handphone dari tangan Valerie.
Ia sekilas melihat dan membaca pesan masuk itu. Itu artinya Valerie membuka pesan masuk dari Darwin dan bahkan membacanya.
"Dasar Selingkuh! Tak cukup dengan kakaknya, ternyata kau masih berhubungan dengan adik ipar mu sendiri." Hardik Valerie
__ADS_1
Lalu, berkata lagi
"Oh aku lupa, kalian bisa saja sudah menikah. Maka dari itu Ansel memanggil Darwin sebagai Ayahnya. Apa aku perlu mengatakan kebenaran pada Ansel?" Cerca Valerie
"Tidak perlu, Aku yang akan mengatakannya sendiri. Kau hanya akan membuat alibi yang membuat Ansel benci pada ayahnya seperti kau membuat Arsen benci padaku."
"Katakan segalanya sebelum orang lain bertindak lebih cepat. Kau yang ingin membiduk rumah tangga kembali dengan Arya, akan mengalami hambatan yang besar, akibat tidak ada anak yang mendukung kalian bersatu." Kecam Valerie
Valerie sangat angkuh. Dia pikir dengan berbicara begitu membuat lawannya mati kutu. Ia sendiri dengan sengaja menyenggol bahu Dini saat akan pergi dan melewati dirinya.
...***...
Siang itu, setelah Dini yang menjemput anaknya dan Valerie yang ikut untuk menjemput Arsen. Kini setelah makan siang mereka bergegas mengerjakan tugas sekolah yang di PR kan. Orang dewasa itu tengah membimbing anak-anak mereka bila ada kesulitan.
Arsen yang senantiasa menganggap Valerie adalah ibunya, dia tidak pernah lepas dari siluman ular itu. Sengaja atau tidak, Sikap Arsen pada Dini sangatlah berbeda, Dia selalu enggan mendapatkan bantuan dan juga diperhatikan oleh ibunya sendiri. Sikap Arsen yang manja pada Valerie seolah ingin memanasi Dini yang terlihat cemburu dan sedih Arsen akan sedekat itu.
Batin dan jiwanya terluka melihat Anak kandung seperti orang lain baginya. Arya sendiri sama sekali belum mengambil tindakan lebih lanjut untuk menyadarkan Arsen.
"Yang mana? Jika ibu bisa, ibu akan senang hati membantu." Balas Valerie
"Ini Bu, Soalnya sangat mudah. Ibu pasti bisa menjawabnya." Tunjuk Arsen pada soal nomor 6
Valerie pun membaca tugas soal Arsen. Niat hati ingin mendapatkan simpati dengan bisa menjawab soal itu, sayangnya ia terlalu pintar sampai tidak mengetahui pelajaran sekolah dasar.
"Anak ini pasti sengaja mencari perhatian dariku. Dia mencoba ingin mengujiku. Anak Arya satu ini sangatlah pintar, dia tidak akan mungkin bertanya sesulit apapun pertanyaannya." Gumam Valerie sangat kesal. Ia sengaja dibuat untuk bersikap sebagai seorang ibu yang ingin dibimbing oleh anaknya.
"Bagaimana Bu, Kau tahu?" Tanya Arsen lagi
"Agh,,, Emm... Biarkan ibu ingat-ingat lebih dulu, Ya. Cukup waktu lama agar ibu bisa mengingat masa-masa sekolah dan ilmu pengetahuan yang diajarkan pada ibu dulu. Ibu hampir melupakan semuanya." Ujar Valerie padahal ia sama sekali tidak tahu jawaban dari soal itu
__ADS_1
"Baiklah, aku akan coba menjawab soal yang lain." Balas Arsen
"Pantas saja kelakuanmu seperti iblis. Ternyata guru mu percuma memberikan landasan ilmu dalam dirimu sendiri yang sama sekali tidak memberikan bekal. Orang mengatakan di atas ilmu adalah adab, Adab lebih penting daripada ilmu, Tapi dia salah satu manusia yang tidak beradab dan berilmu juga." Ketus Dini dalam hatinya yang sedari tadi melihat interaksi mereka
Dini pun melihat kesusahan Valerie yang terlihat berpikir keras. Dia juga sedang berada di ruang tamu membantu Ansel mengerjakan tugas dari sekolahnya juga.
"Iya, Ibu baru ingat. Jawaban untuk pilihan ganda pertanyaan nomor 6 adalah A!" Ujar Valerie
"Apa alasan kau memilih jawaban itu? Secara tidak sadar kau sudah menjawab jawaban yang salah." Timpal Dini mencela jawaban yang diberikan Valerie karena itu salah
"Apa yang salah? Kau saja yang tidak tahu. Kau sendiri adalah wanita yang tidak berpendidikan. Arsen juga tahu jawaban yang benar, Iya kan Arsen?" Cela Valerie yang tidak tahu jika Dini melanjutkan pendidikannya kembali bahkan ia adalah seorang Dokter
"Arsen saja bertanya padamu apa jawaban yang benar. Jika dia tahu, dia tidak akan mungkin bertanya padamu. dalam soal tertulis, Berikut pejuang proklamasi Indonesia kecuali? a. Ir. Soekarno, b. Achmad Soebardjo, c. Moh. Hatta, d. Hasanudin. Dan jawabanmu tidak terduga, Kau malah menjawab pilihan A." Jelas Dini membacakan soal itu
Valerie pun membeku. Ia hanya berdiam diri menatap benci pada Dini.
"Arsen, Jawaban yang benar adalah D. Kau bisa mengisi pertanyaan dengan jawaban itu." Titah Dini
Arsen hanya menatap Dini. Ia sendiri sebenarnya tahu jawaban dari soal tersebut. Arsen hanya bertanya Valerie hanya untuk bersikap manja padanya. Ia ingin merasakan kasih sayang ibu yang membantu setiap anak ketika mendapat PR.
"Pejuang proklamasi saja kau tidak tahu. Bahkan kita tinggal di Indonesia dan kau sendiri di lahirkan di Indonesia, hanya karena sejarah negara kita, Kau bahkan tidak tahu sama sekali. Pejuang apa yang kau ketahui di dunia ini? Aku pikir kau hanya tahu pejuang perebut suami orang! Dan jawabannya adalah Kau!" Hardik Dini dengan kejam
Valerie tidak bisa mengelak. Ia tidak diberi kesempatan untuk membalas Dini yang menyerangnya perkataan terus bertubi-tubi.
"Kau yang salah. Aku tahu jawaban dari pertanyaan ini. Jangan salahkan ibuku karena dia sudah benar. Kau saja yang tidak tahu jawaban ini dan mempertahankan jawabanmu yang sudah jelas salah." Jawab Arsen membela Valerie
Demikian walaupun Arsen tahu jika Valerie salah, Ia tetap membelanya. Seharusnya ia sadar jika Dini memberikan kebenarannya, tapi dia kelas kepala dan buta hati, Rasa bencinya pada Dini tidak mengubah sisi gelap kesalahan Valerie.
"Ini hanya pertanyaan akademik. Ketika dewasa, kesuksesan tidak akan dilihat dari seberapa banyak kita menjawab benar pertanyaan ini. Tetap saja otak kita harus berpikir kritis memahami sudut pandang lain di dunia pekerjaan." Ketus Arsen pada Dini
__ADS_1
Valerie pun menyeringai mendapatkan pembelaan dari Arsen. Ia pantang menang jika memiliki Arsen yang berada di pihaknya.