
Darwin menerima panggilan masuk melalui telepon genggamnya.
"Kembali... Pekik Darwin
"............"
"Nanti malam? Kenapa mendadak sekali?! besok aku masih ada pertemuan dengan klien."
"............"
"Hey, Aku serius! Klien ku seorang yang diajak kerjasama. Kau jangan mengira aku sibuk dengan percintaan."
"............"
"Hemm...Baiklah. Kau ini sangat memaksa."
"............"
"Tidak. Aku akan pulang dulu ke mansion orang tuaku saja."
"............"
"Baik, Tuan ku!" Ejeknya
Sambungan dimatikan, membuat Darwin menghela napas beratnya.
"Hahh,,, Aku harus segera berkemas. Padahal ada banyak waktu yang ingin ku habiskan bersama Dini di sini. Rencana tidak sesuai dengan ekspektasi, Orang itu tidak mendukung ku dalam hal ini. Jika seperti ini untuk apa aku datang jauh-jauh ke Kanada." Gerutu Darwin
Ketika Darwin mulai berkemas, memasukan barang-barangnya dalam koper.pergerakannya terhenti ketika menemukan selembar foto bersama Dini yang di ambil saat jalan-jalan kemarin bersama Dini. Dia mengambilnya dan menatapnya dengan tersenyum.
Selembar kertas foto yang terdapat dua bagian foto yang berbeda.
Foto bagian pertama, di saat di mana Dini yang tertawa bahagia dan ia memotretnya sengaja memfoto diam-diam. Dan foto kedua, foto dirinya bersama Dini yang berlatar membelakangi pantai. Kali ini sangat berkesan baginya, dan menjadi kenangan terindah.
"Aku tidak menyangka kita bisa sedekat ini. Semoga ini awal baik untuk kita berdua ke depannya. Aku tidak akan melepaskan mu!" Gumamnya dengan senyuman yang masih memancar di bibirnya. setelahnya, kembali meletakkan lembaran foto itu dalam dompetnya.
Kembali membereskan barang-barangnya, tidak lupa dompet yang kali ini sangat berharga dan bernilai tinggi dari apapun yang ia miliki dan akan selalu dibawanya kemana pun.
Sementara di hotel tempat Dini menginap. Dini sedang menikmati harinya di bathtub.setelah kepergian Arya dua jam lalu yang Dini yakini bahwa suaminya itu pasti sedang berjalan-jalan dengan istri keduanya, Dini ingin menyegarkan tubuhnya dengan berendam, yang langsung di suguhkan keindahan kota dari atas. Bagaimana tidak indah, jika luasnya kota ini bisa di nikmati secara langsung dari lantai 32.
BRAK!!
Dini berjingkat terkejut ketika pintu kamar mandi terbuka tiba-tiba dengan kasar. menyilangkan kedua tangan menutupi bagian atas tubuhnya begitu tahu siapa yang mendobrak paksa membuka pintu.
"A-apa yang kau lakukan?!!" Tanya Dini terkejut
"Mandi!!" Jawab Arya dingin
__ADS_1
Tanpa segan, ia melepas satu persatu pakaian bagian atas. Dini meneguk ludahnya setengah panik ketika terpampang jelas tubuh sixpack Arya, meski hanya bagian punggung yang terlihat, karena posisi Arya yang berdiri membelakanginya.
"YA!!YA!! Kenapa kau lepas pakaianmu di sini?!! Kau kan bisa menungguku selesai terlebih dahulu."
"Kita pulang pukul 03.00 dini hari besok. mempersingkat waktu, kita harus segera berkemas. aku akan mandi dengan shower, kau bisa lanjutkan mandi mu. tetap di tempatmu sampai aku selesai, kecuali jika ingin melihat tubuh telanjang ku kembali."
Memasuki ruangan kaca yang terisi shower. Dan Dini masih berdiam diri berendam di bathub dengan waspada takut jika Arya yang ternyata diam-diam mengintip.
"Pulang pukul 03.00? Kenapa mendadak sekali?" Cetus Dini
Arya sempat ingin menoleh.
"Ja-jangan mengintip!! atau aku akan teriak." Panik Dini saat Arya melirik
"Tck,,, Untuk apa juga kau menutupi tubuhmu itu? Toh aku sudah melihat semua tubuh polos mu, Bahkan aku masih ingat dan terbayang akan tubuhmu itu. Jika kau ingin, kita bisa melakukannya di sini sambil mandi bersama."
Perkataan Arya membuat pipi Dini memerah.
Mengetahui jalan pikir Dini, dan paham saat melihat wajahnya yang memerah tidak menjawab. Arya mulai membersihkan tubuhnya kembali, tanpa sehelai kain di tubuhnya. menghiraukan Dini yang masih misuh-misuh mengumpat waspada dengan jantung berdebar.
"Aku tidak memiliki banyak waktu untuk berada di negara orang. di negaraku sendiri aku sangat sibuk, aku tidak ingin berlama-lama karena akan mempengaruhi pekerjaan ku." Ucap Arya sambil mengusap memakai sabun pada tubuhnya
"Baiklah. Padahal aku tidak sempat membelikan oleh-oleh untuk ayah, ibu, bapak dan ibuku."
"Valerie dan aku sudah membelinya untuk mereka. Kau jangan pikir untuk menguras uangku. ingin membelikan oleh-oleh, uang saja kau tidak punya." Ejek Arya
"Dasar! Apa gunanya batasan kaca jika masih transparan. Aish, pria sialan, tak sabaran." Umpat Dini berbicara kecil. Namun, tetap saja bisa terdengar oleh Arya. Dan dia tersenyum menyungging mendengar Dini mendumal
Indonesia~
Waktu berlibur begitu sangat singkat untuk dirasakan bersantai menikmati keindahan negara lain yang dijadikan sebagai tempat berlibur.
pada hari ini Arya, Dini dan Valerie sudah tiba di Indonesia setelah kembali dari Kanada.
"Hey Kakak!!" Teriak panggil seseorang
Mereka bertiga spontan menoleh. Dini terkejut melihat siapa yang setengah berlari menghampiri mereka dengan semangat.
"Kalian juga sudah pulang rupanya. kenapa mendadak sekali?"
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanya Arya pura-pura tidak tahu, padahal ia tahu jika Darwin kemarin berada di Kanada bahkan dia melihat Darwin mengantarkan Dini pulang ke hotel
"Aku baru kembali dari Kanada, Ada urusan bisnis di sana. Kemarin aku bertemu dengan kakak ipar saat dia tersesat. aku tidak tahu jika kalian berlibur ke Kanada juga. Jika tahu kalian akan pulang hari ini, kita bisa pulang bersama-sama." Jelas Darwin
"Apa kau yakin mengurus bisnis mu? Atas dasar apa kau datang ke Kanada?" Interogasi Arya
"Benar, kakak. Aku datang karena mendapatkan klien dari negara itu. Dia mengatakan akan segera mengunjungi Indonesia untuk menjalin kerjasama membuat produk yang berbahan bunga di perusahaan kita agar penjualan di negaranya bisa dikenalkan di negara kita." Ujar Darwin entah benar atau tidak
__ADS_1
Arya mengangguk mengiyakan. kemudian pandangannya beralih pada Dini.
"Kau pulanglah bersama adikku! Aku memiliki keperluan lain bersama Valerie." Bicara Arya pada Dini
"Kakak, jangan gila. kalian baru saja sampai, dan kau langsung ingin melanjutkan keperluan lain?! Sampai meninggalkan Dini? Kenapa kakak tidak membawanya saja bersama kalian? dengan begitu nanti kalian bisa pulang bersama. kau tidak kasihan dengan Dini?!!" Ujar Darwin
"Kenapa jadi kau yang marah? istriku saja tidak keberatan. Bahkan dia senang bisa pulang bersamamu, Iya kan istriku?"
"I-iya, tidak apa, aku akan pulang dengan Tuan Darwin saja jika tuan memiliki keperluan." Jawab Dini memaksa tersenyum. meski dirinya tahu, suaminya tidak akan benar-benar memiliki keperluan
Kecurigaan Arya pun semakin meningkat, Iya sudah membuat jebakan dan berhasil membuat mangsanya masuk.
"Baiklah. kalau begitu kami pergi. Ayo kakak ipar!!" Kata Darwin
"Tuan, Aku duluan." Ujar Dini terdengar sumbang
"Hemm... Kalian hati-hati." Jawab Arya dingin
Menatap kepergian istri dan adiknya yang semakin menjauh.lantas dirinya ikut pergi mengambil arah lain bersama Valerie.
Arya setengah berlari menghampiri mobil terparkir yang sudah menunggunya.
Dalam perjalanan menghampiri mobil, Arya dan Valerie berbincang.
"Apa kau yakin memberikan wanita itu dengan adikmu?" Tanya Valerie
"Aku bukan memberikannya. Aku hanya ingin tahu sejauh mana sepasang kekasih gelap itu melangkah."
"Kau yakin istrimu akan langsung pulang?"
"Apa maksudmu sayang?"
"Bagaimana jika dia tidak langsung pulang, dan malah berkesempatan keluar dengan pria lain?"
"Akuku bahkan tidak perduli. sudah, jangan memikirkan dia. ingin kemana kita sekarang?"
"Emm kita makan ditempat favorit kita saja. kebetulan kita belum memakan apapun sejak keberangkatan kita untuk pulang, sudah lama juga kita tidak ke sana."
"Ide bagus. Ayo!"
Arya menggandeng tangan Valerie memasuki mobil yang dipesannya, memberi tahu tempat tujuan pada supir, dan mobil melaju.
Di sisi lain~
"Dini, kita mampir makan dulu ya. Aku yakin belum ada makanan yang masuk ke perutmu." Bicara Darwin sambil melajukan mobil pada Dini yang akan diantar pulang
"Tidak perlu, Tuan. kita langsung pulang saja. aku juga tidak lapar." Ujar Dini terlihat murung
"Aku tidak suka penolakan Dini. Kau harus jaga kesehatan dan makan teratur. jika kau sakit ku yakin tidak akan ada yang memperdulikan mu di rumah itu."
__ADS_1
"Baiklah Tuan, Aku menurut saja." Jawab Dini