
Pak Antonio tidak membiarkan Zayn untuk membantu Dini yang terjatuh ke lantai. Saat Zayn hendak menghampiri, Pak Antonio menarik jas Zayn yang membuatnya tertarik ke belakang dengan tarikan kuat itu membuat tangan Pak Antonio terlepas hingga Zayn terdorong ke belakang dan kepalanya menghantam dinding sangat keras.
Kali ini posisi berbalik, Bukan Dini yang harus ditolong melainkan Zayn yang membutuhkan pertolongan. Dari kepalanya mengeluarkan darah segar yang menelusuri wajahnya.
Kepala Zayn berputar hebat, rasa pusing yang menyerang ia memegang kepalanya kuat-kuat hingga pada akhirnya ia tumbang tidak sadarkan diri.
Semua orang berlarian menghampiri Zayn dengan kekhawatiran tingkat tinggi. Selaku ayahnya, Pak Antonio hanya diam berdiri tidak berkutik di saat orang lain sibuk mendekati Zayn. Terlintas dari wajah yang sudah berkerut ia merasa bersalah dan khawatir.
Bu Lia menggotong Zayn bersama Pak Malik untuk dimasukkan ke mobil dan dibawa ke rumah sakit.
Saat dibawa ke rumah sakit, tidak berselang lama, Dokter menangani Zayn.
Semua ikut sedih atas kejadian yang menimpa Zayn. Setelah dipastikan Pak Antonio bersama istrinya menyusul, Dini beserta orang tuanya pergi untuk pulang.
Seperti ikatan antar seorang ibu dan anak kandung, Bu Lia merasakan kekhawatiran yang mendalam. Ia heran mengapa bisa secemas ini padahal tidak ada yang perlu dikhawatirkan melainkan jika ia anaknya.
Bu Lia kerap menolak untuk pulang dan memutuskan lebih baik menunggu kabar dari dokter bersama Pak Antonio dan juga istrinya. Percuma, itu akan sulit karena Pak Antonio tidaklah sebaik yang dikira. Mereka tahu jika ia melarang Zayn dekat dengan keluarga mereka tanpa tahu alasannya membencinya.
Mengetahui jika Pak Antonio sepertinya akan menindas, Bu Lia pun terpaksa untuk pulang.
Satu jam kepergian mereka, Keluarga bahagia Zayn yang tidak sadarkan diri akhirnya tersadar dan ia melihat bayangan jelas dalam memori otaknya.
"Ibu, buatkan kue lapis untukku akan ku bagi juga pada temanku yang lain. Rasanya sangat enak, Aku sampai ketagihan memakannya."
"Iya Zayn, nanti akan ibu buatkan untukmu, Ya. Tapi tidak sekarang, saat ini ibu merasa tidak enak badan."
"Ibu sakit? Apa karena adik kecil?"
__ADS_1
"Sepertinya begitu. Ibu hamil sering merasakan gejala seperti ini. Maafkan ibu, Ya."
"Tidak Masalah Bu. Aku akan pergi bermain saja. Buatkan nanti jika ibu sudah sembuh."
Kilasan memori muncul kembali.
"Ibu, Kapan adik kecil akan lahir? Aku ingin segera melindunginya."
"Satu bulan lagi kita akan bertemu dengan dia. Kau senang?"
"Iya, Aku sangat senang. Saat lahir nanti, kau tidak perlu khawatir menghadapi dunia ini. Aku kakakmu Zayn akan selalu menjagamu adik kecil. Cepatlah lahir, Kakak akan menyanyangi mu lebih dari ibu dan bapak. Saat besar nanti aku juga yang akan membawamu dan orang tua kita ke rumah yang besar. Kau tidak perlu bekerja seperti ayah dan kakak di kebun nanti. Adik kecil hanya perlu sekolah dan biarkan kakak yang membayar biaya sekolah mu itu nanti."
Kilasan memori berganti.
"Nak, Kau ingin mainan? Mainan ini hanya ada satu di dunia ini dan tidak sembarangan anak memilikinya."
"Tidak paman, Aku tidak menyukai mainan. Lagi pula aku tidak mempunyai uang untuk membelinya."
"100 juta? Itu sangat banyak. Tapi kenapa paman membelinya jika diberikan pada orang lain, lalu memintanya di jual."
"Hahaha,,, Kau anak pintar. Kau anak yang baik jadi paman ingin memberikannya untukmu. Paman sering melihatmu membantu ayah dan ibu bekerja. Anak baik pantas mendapatkan hadiah ini."
"Di mana mainan 100 juta itu?"
"Masuklah ke mobil lebih dulu, paman akan memberikannya padamu di sana."
Anak kecil itu masuk, dan tidak sesuai dengan perkataan dan janji pria itu, tidak ada mainan di sana. Pintu mobil di tutup rapat, dan mobil pun melaju membawanya pergi.
__ADS_1
"Tidak ada mainan di sini. Kalian siapa? Ibu, mereka membawaku. Tolong aku dari mereka."
"Hentikan mobilnya paman! Aku ingin kembali pada ibuku."
Seorang ibu dari anak itu kelimpungan mencari anaknya yang dibawa ke pasar dan menghilang. Ia melihat seorang anak sempat masuk ke dalam mobil hitam berisi pria bertopeng dan berteriak saat mobil itu melaju.
"Zayn,,, Zaynn... Kalian ingin membawa putraku kemana. Penculik... Penculik... Mereka menculik putraku."
Dan yang mengejutkan, ingatan itu muncul di saat ia tidak ingat jati dirinya.
"Ini adalah rumah mu. Dan kami adalah ayah ibumu!"
Tiba-tiba Zayn berteriak histeris memanggil nama Ibu hingga mengejutkan. Ayah dan ibunya pun mendekati Zayn dan Zayn menatap Pak Antonio dengan sorot mata tajam penuh kebencian.
"Tidak. Tidak untuk hari ini. Mereka orang jahat. jika mereka tahu, mereka akan menyakiti Keluarga ku." Gumam Zayn mengontrol emosinya hingga stabil
"Zayn, kau sudah sadarkan diri. Ada apa Nak, kenapa kau berteriak?" Tanya Ibunya
Zayn pun tersenyum kecut agar tidak membuat kedua makhluk itu curiga.
"Agh,,, Haha... Kenapa aku berteriak? Maafkan aku ibu, aku tidak sadar jika berteriak. Aku berteriak memanggil Ibu." Ucap Zayn terbata
"Ibu ada di sini. Apa yang kau perlukan?" Peluk ibunya dengan penuh kasih sayang
"Maksudku Ibu, tapi bukan Ibu dirimu!!" Gumam Zayn menggertak dalam hati
"A-aku meminta ibu tetap bersamaku. Aku ingat yang membuat seperti ini adalah ayah." Kata Zayn
__ADS_1
"Maafkan ayah ya, Nak. Ibu sangat sedih mendengar mu masuk rumah sakit karena ayah."
"Jika bukan karena istriku yang ku cintai ternyata sangat menyayangimu seperti anak yang lahir dari rahimnya, Dari dulu aku sudah membuatmu jadi pengemis. Hanya karena dia tidak bisa memiliki anak, kau yang ku jadikan tumbal untuk menjadi anaknya. Sampai kapanpun kami tidak akan pernah membuatmu mengingat siapa jati dirimu sebenarnya. Jika kau berani macam-macam sampai membuat istriku depresi lagi, Keluarga mu akan habis ditanganku." Gumam Pak Antonio