Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 72 - Kaulah Ibuku...


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahannya. Darwin yang tengah duduk dihadapan penghulu yang akan mengumandangkan ijab kabul. Tengah menunggu Dini yang masih melakukan persiapan.


Semua keluarga sudah datang, termasuk Bu Amira, Pak Barma dan Arsen yang baru saja menangis kehilangan putra mereka yang memutuskan untuk pergi.


Mereka tampak termenung tidak bahagia ataupun merestui Pernikahan ini. Hanya ada guratan sisa menangis di matanya yang sembab.


Di Ruang Tata Rias.


Terlihat Dini tengah memakai baju pengantinnya dan sedang duduk menatap diri di cermin yang sedang di rias. Ia tampak lesu dan tidak mengukir senyum sama sekali.


Arsen pun terlihat datang dengan gontai menghampiri ibunya.


Sontak Dini terkejut melihat putranya Arsen yang datang menemuinya. Ia pun meminta perias wajah untuk pergi meninggalkan mereka berdua sebentar.


"Arsen, Kau menghadiri pernikahan ini? Ibu pikir ayahmu dan kau enggan untuk datang." Ujar Dini mengobati kerinduannya pada Arsen


"Aku datang bersama nenek dan kakek, karena di rumah aku sendiri. Ayah tidak datang, Dia pergi!" Ujar Arsen dingin dan menatap lantai


Dini mengerutkan dahinya.


"Pergi? Kemana?" Tanya Dini bergetar


"Aku tidak akan menceritakannya padamu. Karena ternyata kau sama saja wanita yang egois. Ini semua tidak akan terjadi jika kau lebih memilih Ayahku! Ayahku sudah berubah dan memberikan segalanya padamu, tapi lagi-lagi kau menyakiti kami." Ungkap Arsen membuat Dini bingung dengan alasan putranya tiba-tiba berkata seperti itu


"Arsen, Ibu sadar diri dengan semua yang terjadi hari ini. Ibu mengaku salah, Tolong maafkan Ibu..." Kata Dini


"JANGAN MEMANGGIL MU IBU JIKA KAU TIDAK BISA MENGHENTIKAN AYAHKU..." Bentak Arsen yang refleks membuat Dini terperanjat


"Apa yang terjadi pada ayahmu? Katakan pada ibu!" Sarkas Dini mendadak jadi khawatir


"Sudah tidak ada artinya lagi. Mungkin dia sudah tidak ada di sana (Bandara). Aku mohon padamu, Tolong kembalikan ayahku! Hanya dia yang ku miliki saat ini walaupun tidak pernah menunjukkan perhatiannya. Hanya kau yang bisa mengembalikan ayah, Aku mohon IBU..."


Ibu? Kata yang terucap dari mulut Arsen mengguncang hati ibu kandungnya yang terengah menatap tak percaya.


"Arsen,,, Katakan sekali kau memanggilku apa?" Tanya Dini meneteskan air mata


"Ibu. Kau adalah ibuku, bukan? Ibu yang sudah mengandung sembilan bulan dan melahirkan ku bersusah payah. Aku boleh memanggilmu ibu, Bukan?" Ucap Arsen

__ADS_1


Tangis Dini pecah. Ia sangat terharu mendengar kata ibu yang akhirnya keluar dari mulut Arsen. Tidak ada kebahagiaan dunia yang sempurna kala orang tua memiliki seorang anak yang memanggilnya dengan sebutan Ibu saat pertama kali.


Arsen mengungkapkan rasa penyesalannya telah menyakiti hati Dini selama ini karena penolakannya.


"Hari ini aku tersadar bahwa ibuku adalah wanita yang sangat baik dan sangat menyayangi semua keluarga dan terutama anaknya, aku minta maaf karena keangkuhan ku yang telah membencimu ibu. Aku mohon maafkan aku." Ucap Arsen sambil menangkupkan kedua tangannya


Dini menangis haru mendengarkan pernyataan tersebut. Mereka saling berpelukan mendengar Arsen dengan sebutan Ibu, Dini menangis terharu ia akhirnya merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Arsen memeluk Dini dan mengungkapkan rasa sayangnya.


"Ibu senang kau memanggilku dengan sebutan Ibu. Terima kasih nak..."


"Jangan menangis! Aku tidak memberikan apapun yang berharga bagimu. Karena ini adalah hak yang harus kau dapatkan dari ku..."


"Ini sangat berharga bagi ibu. Tapi sekarang tolong katakan apa yang terjadi pada ayahmu?" Tanya Dini


"Kau akan menempuh hidup yang baru ibu. Aku tidak akan menjadi penghancur pernikahan mu dengan paman. Baru saja ayah banyak berpesan padaku, Aku hanya ingin menjadi seperti ayah yang menginspirasi diriku untuk memberikan kebahagiaan pada orang lain dan mungkin dengan hal itu akan membuat kami bahagia juga. Ijab kabul ibu akan segera di mulai, Aku akan kembali bergabung di bawah." Ujar Arsen pergi begitu saja setelah membuat Dini terdiam kebingungan


"Arsen, Katakan yang jelas apa maksud mu?" Ujar Dini yang ingin mengejar, Tapi perias kembali datang dan menahan ia untuk pergi karena wajahnya akan di rias lagi.


...***...


Dini langsung duduk di samping Darwin yang sudah lama menunggu. Saat Dini datang, Raut wajah Darwin terlihat semringah tersenyum mengembang melihat wanita yang akan menjadi istrinya akan datang.


"Pak Penghulu, Ayo silakan di mulai saja!" Ujar Darwin


"Baik. Mari jabat tangan saya..." Ucap Pak penghulu


Darwin pun menjabat tangan Pak Penghulu. Sebuah ijab sebentar lagi akan dikumandangkan.


Saat Ijab akan dikumandangkan, Seseorang datang di tengah Pernikahan yang langsungkan. Melenggang masuk dengan gagah sampai semua orang yang ada di sana mengalihkan tatapan mereka padanya dengan mengikuti arah pandang orang yang tengah menghampiri altar.


"Ayaahhh..." Suara anak kecil yang berlari kegirangan menghampiri orang yang datang itu


Ansel, Ia berlari saat melihat Arya datang secara tiba-tiba. Ia memeluk paha Arya sangat erat, karena jika badannya ia tidak akan sampai.


"Ansel, Kau tampan sekali menghadiri pernikahan ibumu dengan setelan jas ini." Ujar Arya bertekuk untuk menyeimbangi tinggi badan putranya

__ADS_1


Ansel terlihat sangat senang dan bahagia. Seolah ia terobati menemukan kembali apa yang sempat hilang dalam hidupnya.


"Sama seperti ayah yang tampan..." Jawab Ansel polos


Arya tersenyum dan mencubit lembut pipi Ansel dengan gemas.


"Kakak, Coba lihat ayah datang! Kakak mengatakan Ayah tidak akan datang karena dia pergi. Aku tidak mengerti apa itu ayah bisa pergi! Tapi kakak berbohong karena Ayah sepertinya akan menjemput aku dan ibu." Ujar Ansel


Arsen pun sama senangnya melihat Ayahnya yang saat di rumah mendorong koper untuk pergi. Kini benar tampak nyata mereka saling bertatapan dan tengah berdiri dihadapan semua orang.


Arsen pun berjalan menghampiri Arya dan Ansel yang ada bersamanya. Arsen kembali menerjang Arya dengan pelukan. Berpikir jika Arya telah berubah pikiran dan tidak akan pergi ke mana-mana.


"Ayah kembali. Itu artinya ayah tidak akan pergi. Tuhan mendengarkan doaku. Terima kasih ayah mengurungkan niat ayah..." Ucap Arsen ditelinga Arya


Arya pun memeluk kedua putranya. Ia hanya tersenyum mengartikan sebuah senyuman yang tidak dimengerti.


"Nanti kita berbicara lagi, Ya. Ayah datang untuk berbicara dengan ibu kalian." Kata Arya melepaskan pelukan


"Iya." Jawab Arsen dan Ansel bersamaan


Kini Arya bangkit setelah berbicara dengan kedua putranya. Ia dengan mantap menghampiri Dini dan Darwin yang duduk berdampingan.


Arya begitu tegar melihat MANTAN Istrinya bersanding dengan Adiknya. Tampak ia tersenyum palsu karena semua orang tahu jika ia menahan sakit.


Kini ia berdiri dihadapan Dini dengan senyum nanar. Dini senang sekali melihat MANTAN Suami, Pria yang ia cintai berada dihadapannya saat ini dan mengubah sisi kerinduannya sangat besar. Ia menatap Arya dengan sendu.


"Selamat atas pernikahan kalian yang akan dilangsungkan sebentar lagi. Maafkan saya yang datang secara tiba-tiba mengganggu acara yang dilangsungkan." Ujar Arya


Darwin hanya menatapnya tajam tidak suka. Namun, Dini menatapnya senang bisa melihat Arya ketika berbicara hanya saja sayangnya ia seperti orang asing yang berbicara formal.


"Kedatangan Saya bukan untuk menghentikan Pernikahan kalian. Tapi untuk menyampaikan sesuatu pada mantan istriku dulu." Ujar Arya


Deg!


Mantan Istri? Kata yang terdengar klise dan ingin mengubah panggilan itu dengan menghapus kata mantannya.


Beranjak Arya menghadap ke arah Dini dan seolah sedang berbicara empat mata tanpa merasa ada orang lain di sekitar.

__ADS_1


Arya menarik napas dan menghembuskannya kasar dan berat. Ia memasang senyum kaku dan bergetar.


Ingin sekali rasanya ia memeluk wanita yang sedang ada dihadapannya saat ini sembari bertanya 'Hai, Apa kabarmu?' Namun, siapa dia kali ini baginya yang hanya bisa menimbulkan fitnah.


__ADS_2