
Sore Hari.
"Arsen, Apa kau besok ingin ikut dengan ibu?" Bicara Valerie
"Kemana? Apakah ibu akan pergi dari rumah ini?" Tanya Arsen
"Sepertinya begitu. Selama tinggal di sini ibu merasa tidak nyaman dengan adanya ibumu dan anaknya itu."
"Ini adalah rumah ayahku. Jika ibu ingin, Aku akan meminta mereka yang keluar saja dari sini." Ujar Arsen
"Tidak. Itu akan membuat Ayahmu yang marah pada ibu nanti. Keputusan ibu ini sudah bulat, Ibu saja yang akan keluar dari rumah ini." Alibi Valerie yang membuat Arsen terhasut
"Jika ibu akan pergi, Biarkan aku ikut bersama mu juga. Aku juga muak tinggal di sini bersama mereka."
"Apa kau yakin? Masalahnya rumah ibu tidak terlalu besar di sana dan juga ada kakek nenek mu."
"Ibu masih memiliki ayah dan ibu? Mereka juga adalah kakek nenekku, Aku juga ingin bertemu dengan mereka." Pinta Arsen
"Apa ayahmu akan setuju? Ibu takut ayahmu akan memarahi ibu dan mengatakan jika ibu sudah menghasut mu." Ujar Valerie memasang wajah lesu
"Tidak ada orang lain yang bisa menghentikan aku untuk bersama denganmu. Hanya kau di dunia ini yang bisa mengerti diriku. Dan aku tidak ingin ditinggal lagi oleh orang yang sangat ku percayai." Jelas Arsen
"Baiklah, Jika itu sudah menjadi keputusan terbesar mu. Ibu akan mengemas barang-barang mu, Ya."
"Iya." Jawab Arsen dan mereka bekerja sama untuk mengemas pakaian ke dalam koper
"Sepertinya Bibi Valerie pergi karena kesalahan ku tadi yang membuat Ibuku sampai memarahinya."
"Arsen akan pergi dengan ibunya. Itu artinya paman tampan tidak akan bertemu lagi dengan Arsen. Sama seperti diriku yang pergi dengan ibu kesini dan tidak pernah bertemu ayah lagi." Batin Ansel yang menguping pembicaraan
"Paman tampan pasti akan sangat sedih jika Arsen pergi. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus memberitahu paman tampan di kamarnya."
Ansel pun berlari dengan berencana untuk memberitahukan kepergian Arsen hari ini pada Arya.
...***...
Di Kamar Arya~
Sore menjelang malam hari. Arya dan Dini sudah berada dalam kamar berduaan, kedua pasangan ini tidak pernah mengenal waktu dan juga kondisi. Arya terus menarik Dini dalam dekapannya, semampu mungkin Dini sudah menghindar.
"Tuan, Ini masih sore. Kau ingin melakukan apa padaku. Bagaimana jika ada anak-anak yang datang membuka pintu?" Ujar Dini
"Berhentilah memanggilku dengan sebutan Tuan. Aku bukanlah atasanmu dan aku pembantuku."
"Tapi bukankah dari sejak dulu kau memintaku untuk memanggilmu dengan Tuan dan melarang ku menyebut namamu."
"Itu masa lalu. Dan jangan biarkan masa lalu menjadi saksi bisu yang masih mengganggu kita menjalani masa depan. Panggil lah dengan namaku, Sayang... Atau perlu kita membuat panggilan satu sama lain." Ujar Arya
"Tidak perlu. Aku merasa geli jika mendengar panggilan-panggilan semacam itu."
"Aku juga sangat geli. Untung saja aku memiliki istri yang sefrekuensi denganmu." Ujar Arya sambil mencubit hidung mancung Dini dan mengunyeng-ngunyeng
__ADS_1
"Jika kau geli kenapa menyarankan nama panggilan. Bagaimana jika aku menyetujuinya?"
Belum sempat menjawab, Arya dan Dini mendengar langkah sandal yang berlari menuju kamarnya.
"Paman tampann...." Panggil Ansel yang membuat Arya terperanjat dari baringnya dalam pangkuan Dini
Ansel membuka pintu kamar kedua pasangan lalu lalang begitu saja.
"A-Ansel... Ada apa, Nak? Kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Arya gugup
Untung saja Ansel tidak melihat kedekatan Dini dan juga Arya. Jika sempat ia melihat, mungkin dia akan melontarkan banyak pertanyaan dan melupakan tujuannya datang.
"Ini masalah besar. Aku ingin memberitahu paman jika Arsen dan ibunya akan pergi." Ujar Ansel dengan napas ngos-ngosan
"Pergi kemana, Nak?" Tanya Dini
"Pergi ke rumah ibunya. Bibi Valerie ingin pergi dari rumah ini, dan Arsen ingin ikut dengannya." Jelas sekali lagi
"Coba ceritakan dengan sangat jelas!" Titah Arya
"Aduhhh,,, Aku sudah menceritakannya sangat jelas tanpa berbasa-basi. Paman ini aneh, ketika aku menjelaskan panjang lebar, paman meminta intinya saja, dan sekarang malah sebaliknya. Sebaiknya paman tampan segera hentikan Arsen, atau tidak dia akan benar-benar pergi meninggalkan paman tampan."
"Kita harus menghentikan mereka." Ujar Dini yang tak tenang jadinya
Mereka terburu-buru pergi ke bawah. Dan benar saja sepuluh langkah dari pintu utama Arsen dan Valerie sedang mendorong koper mereka.
Arya gerak cepat dengan berlari di rumah yang luas itu untuk menghentikan mereka.
Arya begitu menelisik wajah putranya. Tersimpan banyak pertanyaan kemana akan perginya.
"Arsen, Kau akan pergi kemana? Mengapa kau mendorong koper milikmu?" Ucap Arya melontarkan pertanyaan saat itu juga
Arsen tidak menjawab. Dia malah menghempaskan kasar tangan ayahnya yang memegang dirinya.
Dini dan Ansel yang baru sampai di bawah, segera menghampiri mereka lebih dekat.
Setelah itu, Arsen baru ingin bicara dengan dingin.
"Ayah tidak perlu tahu. Jika ayah tahu, Ayah pasti akan mencoba menghentikan ku." Jawab Arsen demikian
"Ansel mengatakan pada ayah kau akan pergi. Kau akan pergi kemana, ini adalah rumahmu dan semua keluarga mu ada di sini." Imbuh Arya
"Ayah tidak peduli lagi padaku, bahkan sebelum keberadaan mereka ada mengganggu keluarga kita, Jauh-jauh hari saat masih kecil Ayah tidak pernah memperdulikan ku."
Arya beralih melihat Valerie. Ia tahu dalang dibalik Arsen seperti ini adalah ulahnya.
"Ini pasti kau yang membuat putraku seperti ini. Aku sangat yakin pasti kau yang menghasutnya."
Valerie hanya tersenyum menyeringai. Tanpa berkata sepatah kata pun, Ia hanya menatap Arya penuh kemenangan.
"Arsen, Kau tidak bisa pergi, Nak. Dia adalah orang lain bagi kita. Bisa saja kau jauh dari kami dan dia akan menyakiti mu. Kau harus percaya pada ayah bahwa wanita ini sangat jahat." Ucap Arya meraih putranya, Namun Arsen enggan berada bersama ayahnya
__ADS_1
Terjadi perdebatan dan saling memberikan pengertian di sore hari itu. Arsen tetap bersikeras pada keyakinannya. Ia tidak ingin mendengarkan siapapun selain Valerie.
Hingga pada akhirnya Arya turun tangan. Ia berlari ke kamarnya dan kembali membawa sesuatu untuk ditunjukkan pada Arsen.
Yang dia bawa adalah sebuah file, disc, dan koran-koran yang pernah tersebar di negara ini tujuh tahun lalu yang semuanya adalah kebenaran.
"Kau lihat ini, Ini adalah bukti nyata 7 tahun lalu jika ibumu mendapatkan ketidakadilan darinya. Valerie yang kau anggap ibu itu, dia menyiksa ibumu dengan fitnahnya yang kejam. Di sini juga terdapat masa lalu Valerie yang isinya adalah perbuatan penipuannya selama ini sampai dia dipenjara." Ujar Arya yang berusaha meyakinkan Arsen
Arsen begitu menelisik semua benda itu yang semuanya memang benar kesalahan menyorot pada Valerie.
Arsen memegang sebuah foto Valerie bersama Richo yang saat itu menjadi status istri Arya, namun artinya ia selingkuh. Foto itu dipotret saat Richo memegang tangan Valerie dan mencium tangannya setelah diberikan cincin.
Arsen pun menatap ke arah Valerie. Ia menatapnya sangat lama. Dan seolah dari tatapannya diartikan jika ia sedang mencari jawaban.
"Aku yakin anak ini tidak akan percaya. Dalam hitungan ketika, dia akan merobek foto itu, dan mengatakan pada Ayah tersayangnya ini bahwa foto itu hanyalah rekayasa." Gumam Valerie mendadak jadi seorang peramal
1
2
3
Sreakk...
Arsen merobek foto itu hingga berkeping-keping. Dia menginjak dan setelahnya menatap Arya dengan murka.
Ramalan Valerie terbukti 99,9% benar. Seharusnya ia diangkat sebagai menteri ramalan di negara ini, Agar dia bisa meramal apa yang akan terjadi kedepannya.
"Ini adalah rekayasa! Aku tidak percaya pada bukti-bukti apapun itu yang ayah berikan padaku." Tegas Arsen membuat Arya tercengang
Valerie pun kembali menyeringai puas. Kali ini dia menang kembali.
"Arsen, Kenapa kau bisa seperti ini. Yang ayah tunjukkan semua itu adalah barang asli, Ayah sama sekali tidak memalsukan apapun. Apa yang kau lihat dari Valerie, Itu baru semuanya rekayasa."
"Jika ayah mengganggap seperti itu, Itu artinya ayah juga bisa merekayasa bukti-bukti ini. Ayah kan hebat, Ayah bisa meminta bawahan Ayah untuk memalsukan semua ini. Mereka juga pasti akan menurut pada apa yang ayah minta." Ujar Arsen
Arsen tetap bersikeras akan pergi dari Arya dan ikut bersama Valerie. Sekuat tenaga Dini dan Arya menghentikan kepergian Arsen, namun usaha mereka nihil. Arsen terus berjalan keluar bersama dengan Valerie.
Hingga pada akhirnya Arya mencoba Dini agar tegar dan membiarkan Arsen berbuat sekeinginnya lebih dulu. Bukan Arya tidak peduli, Arya hanya memilih untuk membiarkan Arsen sembari mencari waktu untuk bisa membuat Arsen sadar dan kembali pada mereka.
"Kenapa kau menghentikan ku. Seharusnya kau menghentikan Arsen yang akan dibawa pergi oleh wanita jahat itu. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya, dan kita tidak bisa melakukan sesuatu?" Ujar Dini marah pada Arya
"Tenanglah! Aku berjanji besok dia akan kembali ke rumah kita lagi. Mungkin Arsen hanya akan menginap, dan setelah itu ia akan kembali."
"Kau terlalu berpikir kecil. Kau tega pada anakku, Kau ingin memisahkan aku dengannya lagi." Ucap Dini menangis
Arya hanya bisa memeluk Dini. Tangan satunya lagi sibuk menekan nomor telepon untuk menelepon bawahannya agar ia bisa mengikuti dan mengawasi Valerie yang membawa putranya pergi.
Sementara itu, Ansel hanya menyaksikan temannya itu pergi. Dia juga melihat seberapa kuat ibunya Dini menahan Arsen untuk pergi.
"Anakku?? Apa yang di maksud ibu? Apa dia menyebut Arsen adalah anaknya? Jika bukan, Aku kan anaknya berada di sini. Tapi kenapa bisa? Ibu takut jika paman tampan memisahkannya lagi dengan Arsen..." Gumam Ansel yang kebingungan mendengar pembicaraan Dini yang menangis bahkan menyebut kata yang tidak terduga membuat Ansel anaknya yang lain heran.
__ADS_1