
Setelah ia dihina dihadapan semua orang oleh Valerie, itu tidak menjadi masalah baginya. Karena sudah terbiasa dan mereka malu untuk mengakui Dini. Ia ikhlas dan menerima lapang dada.
Hinaan itu tak henti begitu saja. perjalanan koridor untuk pulang masih ada orang yang tidak segan menyinggung perasaan Dini.
"Iya, aku mengenalnya. Bukankah dia bintang s**s itu." Membicarakannya
"Diuntungkan Keluarga Luna sangat baik masih ingin memberikan dia tempat walaupun sudah menggoda pewaris Keluarganya." Ikutnya membicarakan
Bosan mendengar ocehan orang lain yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir.
Dipersimpangan koridor, seseorang bersembunyi dan menunggu Dini sampai bertepatan dengan mereka. Saat mewanti-wanti jika Dini sudah berada di dekatnya. Seseorang itu menarik Dini ke samping kala dia sedang berjalan.
Otomatis Dini terkejut dan terbawa tarikan seseorang.
Spontan mereka saling berpandangan tidak menyangka dengan mata berkaca-kaca.
"Din, Apa benar ini kau??" Ucap Raina tak percaya adalah teman Dini dulu
Dini hanya diam mematung menatap kedua sahabatnya dengan sendu.
"Diniii... Kau pergi ke mana saja? Kenapa baru terlihat?" Peluk Raina langsung
Kilas balik Kedua sahabatnya yang saat hebohnya skandal palsu yang terjadi padanya, di mana mereka yang tidak peduli sampai memutuskan hubungan pertemanan. Membuat Dini termenung kala perubahan sikap yang ditunjukkan sahabatnya itu kini kembali berbeda.
"Iya, Din. kau tidak tahu bagaimana rindunya kami ingin bertemu denganmu sampai selalu memikirkan keberadaan mu yang hilang seolah di telan bumi." Pungkas Prisha
"Apa kalian tidak marah atau jijik padaku?" Tegun Dini
Raina yang syok mendengar pernyataan Dini, Langsung terdiam sejenak menatap Dini rupanya masih mengingat jika mereka tidak memperdulikannya saat itu.
"Ternyata kau masih berpikiran seperti itu pada kami. Kami akui memang kami yang salah. Sebagai sahabat kami tidak membantu dan percaya padamu saat itu. Tolong maafkan aku..." Sesal Raina
__ADS_1
"Aku juga tolong maafkan aku, Din..." Sesal Prisha juga
"Melihat kalian saat ini aku menjadi terharu dan teringat kebersamaan ku bersama kalian." Sedih Dini
"Aku rindu padamu, Din." Peluk Raina dan Prisha di setiap samping kiri dan kanan
"Aku juga rindu kalian. Itulah sebabnya aku datang ke sini." Tangis bahagia Dini
"Aku semakin pangling melihat wajahmu yang semakin cantik." Mulai Prisha memuji
Raina pun salah fokus dengan perut Dini yang membuncit kala merasakan saat memeluk Dini.
"Kau semakin gemuk saja. Terlihat dari perut mu yang membuncit." Cetus Raina
Mereka tidak tahu jika sebenarnya Dini sedang hamil. Hal itu membuat senyum Dini menyusut.
Lalu, mereka juga salah fokus kembali dengan cincin safir biru yang melingkar di jari manis tangan kanannya.
"Apa yang kalian maksud? Tidak mungkin aku sudah menikah." Ucap Dini gugup
"Iya Prisha, kau ini ada-ada saja. mana mungkin Dini sudah menikah." Sambar Raina
"Iya, Cincin ini hanya cincin biasa. Harganya tidak seberapa.ini aku beli sebagai simpanan saja sewaktu-waktu ada kebutuhan mendesak." Jelas Dini
Tanpa disadari, ada seseorang yang mengintip interaksi mereka. Melihat dan mendengar mereka membahas cincin pernikahan yang dimiliki Dini itu membuat hatinya memanas terbakar api cemburu.
"Kau memiliki handphone. Aku ingin sekali mendapatkan Nomor telepon mu agar kita bisa saling berkomunikasi." Pinta Raina
"Iya, Din. kita bisa saling menghubungi agar persahabatan kita tidak putus. Saat kejadian waktu lalu kau pasti langsung mengganti nomor handphone mu." Kata Prisha juga
"Ada, catat saja nomor ku 08....." Dini menyebutkan satu persatu nomor teleponnya yang langsung di simpan oleh temannya
__ADS_1
Seorang dosen di universitas itu tak sengaja lewat dan melihat seseorang yang ia anggap tak asing.
"Dini? Kau Dini, Kan? Kau ada di sini?" Ujar Pak dosen terkejut
"Pak. Iya kebetulan saya datang." Jawab Dini menyapa
"Sudah lama kami tidak mendengar kabarmu. saat datang kau membuat universitas ini heboh. Andai saja kau masih mahasiswa di sini, mungkin kau akan menjadi mahasiswa berprestasi dan selalu membuat universitas kita tersorot. andai kau tahu jika saat ini tidak ada mahasiswa yang bisa seperti mu, kami merindukan Dini menjadi mahasiswa kebanggaan kami." Ujar Pak Dosen
Mendengar pernyataan Dosen padanya, Dini sangat sungkan dan merasa kikuk.
"Jika boleh, kau bisa kembali ke universitas ini melanjutkan pendidikan mu tanpa harus mengulang semester. Kau lanjutkan saja langsung semester 5 ini." Tawaran dari Pak Dosen
"Iya, Din. Apa yang dikatakan Pak Dosen benar. Kau bisa melanjutkan pendidikan mu dan kita bisa berkumpul lagi." Antusias Raina dan Prisha
Semua orang tidak tahu jika kehidupannya saat ini sudah berbeda. Akan sulit bagi Dini untuk mempertimbangkan segalanya walaupun dia sangat ingin.
"Sepertinya itu akan sulit bagi saya saat ini, Pak." Jawab Dini membuat kedua temannya murung
"Yah, kenapa, Din?" Keluh Prisha
"Pertama saya tidak akan mungkin melanjutkan pendidikan langsung ke semester 5. Saya sudah tertinggal banyak pelajaran, untuk menjadi seorang dokter mana mungkin tidak mendapatkan pengetahuan sepenuhnya." Jelas Dini
"Bapak percaya kau pasti bisa. Bapak juga tahu bahwa kau adalah anak yang tidak bisa dikatakan pintar, tapi kau adalah anak yang jenius. Bapak yakin kau bisa mengejar pelajaran yang tertinggal." Ujar Pak Dosen
Ia sangat ini menerima tawaran yang di berikan dosen padanya dan dia juga sangat yakin. Tapi dia berusaha membuang jauh-jauh keinginannya itu dan menolak tawaran dari dosennya.
Masalah hidupnya kini tak semudah orang bayangkan, orang lain tidak tahu dan hanya dia sendiri yang merasakan kesakitannya.
Hal itu membuat orang lain menyayangkan keputusan yang Dini ambil. Padahal mereka berpikir apa sulitnya menerima tawaran itu dan dia bisa menggapai cita-cita nya.
Namun, Kini cita-cita menjadi seorang dokter bukanlah hal utama yang ingin dia gapai. Dia hanya ingin keluar dari keterbelengguan ini dan segera bisa menggapai cita-cita yang tertunda tanpa ada yang menghalangi jalannya.
__ADS_1