Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
143. Pria Asing


__ADS_3

Sebuah kamar besar dan bergaya barat modern. Bercat putih dan penuh dengan furnitur mahal.


Karpet permadani yang cantik, lantai marmer putih mengkilat dan meja dandan dengan banyak set kosmetik dan skin care kelas dunia.


Kasur besar yang empuk dengan bantal bulu angsa, seorang wanita cantik tidur lelap di atasnya dengan mata yang masih tertutup oleh kain, diikat oleh tambang dan mulut yang masih disumpal. Wanita itu adalah Dini.


Tubuhnya yang idealis sangat cocok memakai gaun putih sedikit transparan dengan belahan paha terlihat. Tidak tahu sejak kapan dan siapa yang menggantikan pakaian Dini menjadi lebih seksi bukan style nya. Bibir mungil dan merah muda membuat dia seperti ratu yang sedang tidur di sebuah kastil besar.


Tak menunggu lama, kedua mata Dini mulai bergerak. Membuka perlahan pandangan yang kabur, runyam dan masih gelap karena tertutup.


Dini perlahan bangkit dan merasakan kepalanya yang sangat sakit Dini sedikit linglung dan masih belum paham dengan apa yang sekarang dia lihat.


Dini kira kini berada disebuah kamar besar yang asing baginya. ia masih bingung di mana sebenarnya ini? Tempat apa ini?


Dini mencoba berdiri beranjak dari atas kasur walaupun dalam keadaan gelap, sayang nya tubuh itu masih lemah dan terlalu lemah. Tubuhnya tersungkur ke bawah lantai.


"Tuan..." Lirih Dini dalam gumamnya memanggil suaminya yang terdengar tidak jelas dengan suara pelan dan serak


Tidak ada respon dari suaminya. Kemanakah suaminya pergi?


Emmpphh...emmph...


Mencoba untuk menimbulkan suara. Namun, tetap saja ruangan itu tetap kosong dan sunyi.


Dini dengan sekuat tenaga bangkit untuk berdiri. Sayang tubuhnya dibuat lumpuh.


Tak ada cara lain, Dini mencoba untuk mengesot entah pergi ke mana arahnya.


Setelah mencoba beberapa jarak menggeserkan tubuhnya di atas lantai. Tiba tiba tubuhnya tertahan dan tidak bisa bergerak. Seperti ada sesuatu yang menghalanginya.


Dini mencoba untuk menggeserkan tubuhnya, namun badannya seperti ada yang mengikat.


Dini lalu mulai tersadar dan merasakan. Dibalik gaun putihnya yang panjang dan seksi, kakinya yang kecil itu ternyata sedang di ikat oleh rantai.

__ADS_1


Bukan rantai biasa, sebuah rantai yang dikunci secara digital. Rantai itu di ikatkan pada salah satu tiang kasur.


Dini begitu terkejut dan tidak percaya akan yang dia rasakan saat ini. Apa yang sedang ia rasakan saja baginya adalah penjara, bagaimana jika dia bisa melihatnya. Kenapa tubuhnya harus di rantai seperti ini?


Dini mulai menangis dan menjerit-jerit. Dia terlihat sangat takut dengan ruangan asing dan rantai di kaki nya.


"Tolooooong lepaskan aku...toloong." Teriaknya panik dalam hati, namun percuma karena tidak akan ada yang mendengar suaranya


Dini menangis kesetanan dan sejadi jadinya, berharap ini hanyalah mimpi buruk.


Sekeras apapun, Dini akhirnya menyerah. Tangis dan ketakutan nya kini mulai reda. Matanya memerah dan sembab. Helaian rambut yang tadinya tergerai indah kini menjadi berantakan.


Tubuhnya tergeletak lunglai. Tidak bisa berpikir dengan jernih, semua isi kepala nya kini kacau.


Akhirnya, pintu kamar terbuka. Di sana, sosok seorang pria itu berjalan dengan langkah kaki yang menakutkan.


Pria itu, ya dialah pelaku keji yang telah menculik Dini saat ini. Dua orang berpakaian serba hitam dengan salah satu pemimpin diantara mereka yang sangat tampan, tinggi, dan bermata dingin dan sewaktu-waktu bisa berubah.


Tap...Tap...Tap...


Dini menyadari pria itu datang dan berdiri tepat di depannya.


Merasakan pria itu mendekat, Ternyata ia sedang mengambil kain yang menyumpal Dini. Hingga pada akhirnya ia bisa bernapas lega dan berbicara.


"Kau, Siapa kau? Kenapa berani membawaku ke sini." Ujar Dini mendongakkan kepala walaupun sia-sia karena tertutup hanya bisa memfungsikan kembali mulutnya


Pria itu tidak menjawab sekalipun. Masih menatap lurus dengan beku.


"Hah,,, baru kali ini aku bertemu orang yang menyamar sepertimu. Apa saat ini kau sedang memakai tuxedo mengganti pakaian serba hitam mu itu?" Bicara Dini


"Siapa kau...? Apa keuntungan mu dengan menculik ku? Apa kau pesaing bisnis, Dan ingin aku memberikan dampak besar pada perusahaan mu? Aku bukanlah orang yang tepat karena aku hanya manusia biasa. hahahahaha,,,tidak,,,tidak itu mustahil. Tidak ada seorang pembisnis yang menculik orang seperti ini. Lalu, anda siapa, Hah?!" Bentak Dini dengan tajam. Seluruh perkataan nya kini membuat darah nya naik


Pria itu menghampiri Dini yang masih duduk dan terikat oleh rantai. Pria misterius dengan sentuhan tajam dan menusuk mulai mencium bibir Dini dengan paksa.

__ADS_1


Empph...


Tidak tahu akan ada yang menyerang, refleks tidak bisa mengelak dan memberontak untuk menjauh dan menghindar. Sayangnya, kekuatan tubuh pria itu tidak bisa mengalahkan gerakan Dini yang lemah dan malah semakin menarik lebih dalam sambil memegang tengkuknya.


Pria itu terus memaksa Dini, sampai ia dibuat menangis. Bibirnya kini mulai basah oleh air mata yang jatuh.


Sungguh, Kini dirinya sangat sakit hati mendapatkan ciuman yang seharusnya tidak dilakukan. Ia tidak tahu siapa pria yang menciumnya saat ini. Hatinya hancur berkeping-keping kala tidak bisa menjaga diri sampai mendapatkan ciuman bibir dari pria lain.


"Cukup. Aku katakan cukup, berhenti!" Ronta Dini berteriak saat ciuman itu longgar


Pria itu berhenti mencium Dini. Dilihatnya air mata yang menampung membasahi kain penutup mata.


"Tolong... kali ini saja. Biarkan aku pergi dari sini. Tolong jangan berbuat apapun padaku. Kau harus tahu jika aku sudah memiliki suami, dan saat ini aku juga sedang mengandung anaknya...Hiks...Hiks..."


Pria itu menghela napas dan terdengar kasar.


"Makanlah dulu, aku tidak ingin kau mati kelaparan." Suara pria itu terdengar tidak asing oleh Dini


"Aku hanya ingin pulang. Keluarga ku pasti mencari ku saat ini. Aku mohon..." Rengek


Pria itu bangkit dan segera mendorong kereta makanan berisi steak dan wine yang terlihat menggoda.


Dini tertawa, merasakan jika pria itu pergi menjauh dari pandangannya.


"Aku lebih baik mati daripada harus bertemu dan melihat siapa penculik ku." Balas Dini dengan teriak


"Kau mati maka anakmu akan mati." Cetusnya dengan suara yang sangat tidak asing terdengar lagi


Dini mendadak histeris mendengar ucapan pria yang seakan mengancamnya seperti itu. Dini mulai bergerak, mencoba melepaskan tambang yang mengikat tangannya.Tapi kita semua tahu. Itu adalah usaha yang sia sia.


Pria asing, begitu keji dan menakutkan. Tak ada belas kasih pada wanita itu. Hanya menatap diam tidak berkutik. Melihat Dini kini hancur berkeping keping.


Dia malah berusaha untuk menyuapi makan pada Dini. Namun, selalu gagal untuk ditolak dengan kasar dengan menyembur makanan yang sudah masuk itu hampir mengenai wajah pria itu.

__ADS_1


Namun, pria itu tidak menyerah. Dia terus mencoba dan mencoba walaupun hasilnya tetap sama dengan Dini yang terus mengeluarkan makanan itu dari mulutnya.


Dengan sabar dan telaten dengan sedikit ancaman, membuat Dini termenung dan akhirnya bersedia untuk memakan steak itu.


__ADS_2