Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
Extra Part


__ADS_3

Tiga tahun setelah kejadian tersebut...


Flashback off~


Arya kini telah berusia 42 Tahun. Pribadi yang masih tetap berkharisma dan daya tariknya tidak luntur. Tetap tampan, gagah, tinggi, dan dingin itu. Usianya yang sudah berkepala empat tak menjadikan dia untuk tua, Arya masih terlihat seperti usia 27 tahun yang masih kuat dan muda.


Arya tengah berada di sebuah restoran bersama Asistennya Damar beserta ketiga anaknya. Membawa anak kecil sudah tumbuh berusia 5 tahun yang cantik jelita, aktif dan ceria itu membuat kepala mabuk kepayang pusing tujuh keliling akan tingkahnya yang tidak bisa diam.


Keberadaan mereka menjadi sorotan semua orang. Bagaimana tidak, 5 tahun lalu mereka menggemparkan publik karena seorang CEO hebat terlibat pembunuhan yang divonis 15 tahun penjara namun, hanya bertahan 2 tahun lebih dan setelahnya dibebaskan. Hal itu tidak di sangka menjadi korban kekejaman sang mafia yang memporak-porandakan adu domba.


Kini sang mafia itu sendiri tertangkap dan berhasil di penjarakan dengan vonis pengasingan di penjara kelam selama seumur hidupnya. Penjara di tengah hutan, dikelilingi hewan buas, gelap, berdebu, bau tanah dan tanaman, hanya jeruji besi yang menemani. Ini menjadi tingkat penjara yang paling kejam di sana bagi yang berbuat kejahatan tak wajar. Namun, semuanya sudah terlambat mendapatkan pengasingan sekalipun, keadaan dunia sudah banyak berubah.


"Kau tumbuh menjadi seorang pria yang tak berhati melebihi ku. Kau hidup untuk membalaskan dendam mu padaku, tapi kau membalasnya pada semua keluarga ku hingga mereka satu persatu meninggal. Hingga kini istriku menjadi korbannya. Kau berpikir dengan membuat istriku meninggal, Aku akan lebih terpuruk karena dia adalah separuh jiwa dan napas ku. Dan itu benar, Ucapan selamat untukmu karena berhasil membalaskan dendam mu padaku."


"Kini istriku telah pergi dan aku tidak bisa melihat raganya. Sedangkan istrimu, dia masih ada di dunia ini dalam rupa sakit jiwa, tapi kau masih bisa melihat raganya. Kau akan datang jika merindukannya. Sedangkan aku, mengadu pada siapa jika aku merindukannya!"


Itulah ucapan Arya saat Lucas dan Antonio berhasil tertangkap polisi. Di dalam kamarnya, ia menyalakan televisi yang menjadi teman kesendiriannya mengurung dalam kamar yang kebetulan menyiarkan kabar mafia kejam tertangkap.


Kasus kepergian istrinya, Dini, juga menjadi perhatian. Keluarga mereka menjadi lebih terkenal dari segala penjuru. Namun, Arya tidak peduli karena saat ini ada yang lebih penting dibandingkan mendengarkan perkataan orang lain, dan ketenaran, yaitu mendengarkan apa kata hatinya.


"Kau sudah berani bebas menatap dunia lagi hari ini. Kau juga sudah mampu melihat dan mendatangi makam istrimu." Ucap Asisten Damar membuka pembicaraan


"Ya, aku tahu." Jawab Arya selalu dingin dan tambah dingin


"Kau masih ingin bertahan dalam kesendirian? Beranikan lah dirimu untuk menjalani dunia seperti biasanya. Menganggap semua baru terlahir dan berjalan tanpa merasa ada masa lalu yang menghantui mu."


"Ya, Tentu saja."


"Apa kau masih memiliki perasaan yang sama setelah tiga tahun berlalu?"


Arya tidak menjawab. Dia hanya menghembuskan napas dengan kesal. Entah harus bagaimana lagi ia menatap dunia ini, ia masih kerap belum bisa melupakan kepergian istrinya. Untuk pertama kalinya lagi keluar, dunia terasa banyak perubahan dan perbedaan.


"Aku hanya berusaha untuk menerima kenyataan ini."


Damar menunduk dan memainkan kedua tangannya karena bingung harus bersikap bagaimana. Arya masih terlihat seperti biasanya, tatapan angkuh tidak pernah pudar dari bola matanya yang indah, rahang yang masih kuat, tubuh gagah, masih saja menyatu dalam dirinya walaupun tampak sedih, kehilangan dan hampa.


Arya tersenyum kaku. Lagipula garis hidup mereka memang sudah seperti ini. Dini dan Arya yang selalu berkata bahwa mereka tidak akan berpisah seperti bunga mawar dengan akarnya yang saling menghidupkan. Semesta kini memutar balik keadaan, Nyatanya akar itu mematikan bunganya sendiri.


...***...


Arya beserta keluarganya sudah berkumpul di halaman mansion. Ada keluarga yang berasal dari Singapore, Nek Arini, Bu Alma, beberapa sepupu yang sudah memiliki anak masing-masing dan sedang tumbuh manis-manisnya. Usia mereka tak jauh dari anak perempuan Arya yang masih kecil.


Arya tengah berjalan menghampiri putri kecilnya, Aleena, Aleena yang bernama lengkap Aleena Syaheera Pratama, pengambilan dari pribadi Dini yang menggambarkan sosoknya memiliki arti berharga terkumpul menjadi satu dalam nama 'Aleena' dan marga keluarganya 'Pratama' yang selalu ia sematkan di belakang namanya.


"Aleena." Panggil Arya membawakan boneka kesayangannya

__ADS_1


"Ay...yah..."


"Mari, Ayah membawa boneka kesayangan mu. Sepertinya kau melupakannya, Ya. Padahal kau tidak pernah melepaskan boneka ini dari tanganmu." Ucap Arya


Aleena berlari menghampiri Arya, berlari kecil tergopoh-gopoh langkahnya yang lucu.


"Beka... Nilik Ibu..."


"Ya, boneka ini milik ibu." Ujar Arya tersenyum gemas memperjelas agar orang lain dapat mengerti


Ansel sendiri sampai terpingkal melihat tingkah adiknya.


"Ansel, kau pasti terhibur melihat gaya bicara adikmu, Dia memang sangat lucu, bukan? Wajar saja karena adikmu ini usianya masih kecil. Jaga baik-baik adik perempuan mu, Ya. Jadilah kakak yang baik untuknya." Nasihat Arya pada Ansel


Ansel, Kini sudah beranjak remaja bersama kembarannya Arsen, mereka sudah berusia 13 tahun dan menduduki sekolah menengah pertama bergengsi di kotanya. Wajahnya sangat tampan mirip seperti ayahnya yang rupawan. Di sekolah terkadang mereka dijadikan idola para wanita yang sudah timbul pubertas di usia remajanya. Mereka juga tumbuh menjadi anak berbakti, berbakat, baik dan cerdas, tak khayal mereka selalu mengukir prestasi di sekolah dan menjadi kebanggaan sekolah. Pihak sekolah bahkan sangat senang menerima siswa cerdas seperti mereka apalagi mereka keturunan Pratama, pastinya tidak akan menyesal sampai kapanpun.


"Iya ayah adik kecil sangat lucu sekali. Tentu saja Ayah, aku pasti akan menjaga adik perempuan ku." Jawab Ansel, kali ini gaya bicaranya sudah lebih dewasa seperti kembarannya


"Tata Ancel, Ayo belmain..." Mengoceh anak perempuan kecil itu mengajak kakaknya bermain lagi


"Bermainlah, Ayah akan menemui Arsen... Sedari tadi ayah tidak melihatnya bersama kita."


Ansel mengangguk sebagai jawaban. Ia menuntun Aleena adiknya untuk mengajaknya bermain lagi.


"Lihat, Ansel dan Aleena sangat lucu sekali. Ansel sudah bisa menjadi kakak yang baik untuknya. Melihat mereka aku jadi teringat Darwin dan Luna, mereka persis seperti itu." Ucap Bu Amira


"Iya, Kau benar Alma. Tak seharusnya aku membahas masa lalu, kita fokus saja merawat cucu-cucu kita tumbuh." Balas Bu Amira, menyesal selalu membahas masa lalu yang tidak pernah hilang dari memorinya


Melihat semua keluarga sedang berkumpul di halaman, Arya tidak mendapati satu putranya di tengah-tengah mereka. Arsen, ia berada dalam kamarnya mengurung diri sendirian. Arya pun berinisiatif untuk menemui putranya itu.


"Arsen, kenapa tidak ikut berkumpul dengan kami. Di luar semua orang sedang bermain, sepupumu juga ada di sini dan mereka tidak akan tinggal di Singapore, semua orang akan tinggal di sini dan membuat mansion kita ramai agar kau tidak kesepian lagi. Tapi kau malah mengurung diri sendirian di kamar, Ansel sendiri tengah mengajak Aleena bermain bersama yang lainnya, Kau harus melihat bagaimana lucunya adik perempuan mu itu." Ucap Arya terus menerus


Arsen sedang membelakangi ayahnya. Dari belakang Arya melihat putranya itu tengah menangis dan mengusap air matanya.


"Kau menangis? Ada apa nak? Kau merindukan ibumu?" Menghampiri Arya masuk ke dalam kamar Arsen yang tengah sendirian menangis memeluk bingkai ibunya


"Ya, aku merindukan ibuku, Ayah. Apa yang sedang ibu lakukan di sana padahal semua keluarga sudah berkumpul di sini? Kenapa waktu terasa terhenti berjalan lambat saat begitu ibu meninggalkan kita." Tangis Arsen pecah mengadu pada ayahnya


Arya sendiri tak kuasa menahan tangisnya. Ia berair mata sambil memeluk putranya.


"Semua orang sangat kehilangan ibumu. Sama seperti ayah yang tidak bisa hidup tanpa ibumu, tapi apa berusaha melawannya bertahun-tahun. Maafkan ayah sudah menjauhkan kalian darinya. Ayah pikir dengan membuatnya pergi, ibu akan damai dan tidak akan pernah merasakan penderitaan lagi." Ujar Arya


"Ibu sudah banyak menderita. Mungkinkah ini giliran kita yang menderita karena telah mempermainkan hidup ibu?"


"Bisa saja begitu. Ini balasan dari setiap yang ayah tanam, lalu tuai dengan sendirinya. Tak ada cara lain untuk menghentikan penderitaannya. Dan pada akhirnya kita merasakan derita yang jauh lebih pedih dari penderitaan yang ibumu rasakan."

__ADS_1


"Apakah ayah bisa hidup tanpa ibu?" Tanya Arsen demikian


"Tidak bisa Arsen, ayah tidak bisa hidup tanpanya. Ayah ingin sekali membunuh ayah sendiri untuk menyusulnya." Tangis Arya pun pecah saat Arsen bertanya demikian


"Jangan ayah! Jangan pergi. Bagaimana ayah bisa pergi meninggalkan kami. Cukup kami kehilangan ibu, dan jangan Ayah. Hanya ayah orang tuaku yang dimiliki kami saat ini."


"Ayah tidak akan melakukannya. Ayah tahu ibu akan marah jika melakukan hal itu hanya demi dirinya dan meninggalkan kalian di sini. Kau dan adikmu adalah penyemangat hidup ayah sekarang. Ayo sama-sama kita menjalani masa depan ini tanpa ibu, ya. Buktikan padanya jika kita bisa." Ucap Arya terus berlinang air mata


"Iya, ibu harus tahu jika aku adalah anak yang kuat. Aku dan ayah bisa hidup tanpa ibu." Ujar Arsen menangis tersedu-sedu


Mereka saling berpelukan.


Ini adalah pertama kalinya Arsen menangis. Tangisan pertamanya sangat menyayat hati sang ayah sampai ikut merasakan sakit. Arsen dikenal tak pernah mengeluarkan air matanya, sesedih dan seterluka apapun dan saat ini kehilangan ibu membuat air mata itu mengalir deras.


Sebeharga itu sosok wanita dan ibu bagi semua orang di Dunia ini. Maka janganlah sia-siakan mereka, selagi mereka masih ada mungkin kau akan menganggap dunia ini ada dalam genggaman mu, kau tidak akan berpikir ia pergi jauh meninggalkan mu, namun saat ia pergi kau akan melihat bagaimana dunia beserta isinya itu terlepas terbang dan Kau hanya akan menyesal seumur hidupmu. Ketika sudah tiada, kau baru merasa bahwa kehadirannya yang berharga!


...***...


Suatu hari semua keluarga sudah terbiasa dengan keadaan. Mereka sudah bisa bersenda gurau, tersenyum dan tertawa.


"Kalian tahu apa yang dilakukan cucu perempuan ku yang nakal ini. Pagi hari tadi, dia meminta neneknya untuk membuatkan susu, aku pikir untuk diminumnya sendiri, tapi dia pergi keluar dan aku lihat malah menyiramkannya ke tanah."


Semua keluarga tertawa.


"Memangnya apa yang sedang dilakukan Aleena membuang susu itu? Apa dia menyuruh rumput untuk meminum susu. Hhhh..." Ujar Jihan, istri sepupu Arya


"Dia mengatakan sedang bereksperimen. Aku sendiri tidak tahu apa yang dia maksud." Ujar Bu Amira lagi


"Ti-dak nenek, A-ji-na hanya menyikuti tata Ancel yang membluang susunya, tata juga cedang berekpelimen, Ajina juga inyin melihat plelangi... caat itu susu tata Ansel keluar pelangi, tapi tidlak teljadi caat A-ji-na melakukannya." Ucap Anak kecil itu berusaha mengatakan argumennya


"Namanya sendiri Aleena ia sebut menjadi Ajina. Uhh... Keponakan ku ini sangat lucu sekali." Ucap Jihan gemas


Semua orang tidak henti tertawa mendengarkan Aleena yang terus berusaha mengoceh itu.


Arya tersenyum kecil menatap putrinya yang sedang dipangkuan Bu Amira. Arya duduk di sofa berkumpul di ruang keluarga dengan tangannya menyilang di dada.


"Kau lihat itu Dini, putri kita sudah tumbuh menjadi anak pintar. Dia tumbuh aktif yang terkadang membuat ku pusing dengan tingkah polahnya. Sekarang dia sudah bisa berbicara dan berdebat dengan orang lain. Kau pasti sudah melihat semuanya di atas dan pasti kau tersenyum melihat putrimu. Andai kau ada di sini berkumpul bersama kami, mungkin kau yang akan sering tertawa, mencubit pipi anak perempuan mu sangat menggemaskan ini. Si kembar pun sudah tumbuh remaja dan menjadi idola di sekolahnya, mengukir banyak prestasi membuatku bangga pada mereka. Aku ucapkan terima kasih karena sudah melahirkan anak yang istimewa untuk ku, Anak yang lahir dari rahim mu tidak akan mengecewakan ku, kau meninggalkan kenangan yang sangat berharga untukku lebih dari segalanya." Batin Arya menyayangkan


"Hari ini, Ayah bisa memeluk dan melihat tawa mu. Namun Hari itu, Ayah melepaskan pelukan ibumu bersama kesedihannya."


"Aleena, Hari itu akan datang. Bagaimana seorang wanita jatuh cinta pada pujaan hatinya. Kau adalah putriku satu-satunya, suatu hari kau akan berdiri di sana, dan memakai gaun yang cantik seperti ibu di hari pernikahan mu sendiri. Sampai saat itu tiba, ayah akan menunjukkan padamu pria seperti apa yang pantas untukmu. Ayah janji akan selalu percaya padamu. Ayah akan mendukung semua mimpimu. Tak peduli seberapa besar mimpimu itu, Ayah akan selalu menggenggam tanganmu dan berjalan di samping mu. Kau tidak akan pernah sendiri karena kau selalu memiliki Ayah." Batin Arya berkata sembari melihat lekat manik dan wajah putrinya dari lubuk yang mendalam


Seorang wanita malaikat kecil, Aleena yang merasakan pelukan dan kasih sayang seorang ibu hanya selama dua tahun dan setelahnya ditinggalkan pergi selamanya. Ia yang masih kecil dan mungkin tidak akan ingat bahkan tidak tahu bagaimana belaian ibu selama dua tahun itu, ketika besar ia hanya bisa mendengar cerita dari orang lain yang menceritakan bagaimana sosok yang menjadi ibunya itu. Kini ia adalah permata berharga yang menjadi kekuatan bagi ayahnya, harus ia jaga sebagai tanggung jawab yang besar.


Sudah lama Keluarga Pratama menantikan moment ini, bisa berkumpul di ruang keluarga, menikmati perbincangan dan tertawa bersama. Namun, semuanya masih terasa ada yang kurang menatap sofa kosong yang seharusnya terisi.

__ADS_1


Keluarga dari Singapore menjadi pelengkap Mansion Pratama. Untuk selamanya mereka memutuskan berpindah ke Indonesia untuk tinggal di sana. Muda dan menua bersama di Mansion itu. Mansion tidak akan terasa sepi lagi karena banyak anak-anak yang akan menghiasi. Mereka akan tumbuh menjadi calon penerus.


Anak-anak merasa senang, Tapi tak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki ibu dengan hari-hari hingga dewasa dan takdir mulai membuat mereka untuk berdiri di kedua kaki sendiri dan bisa melihat hari tuanya.


__ADS_2