
"Baru saja suaminya pergi dan sekarang istrinya yang datang." Ucap Bu Amira melihat Dini turun
"Tuan, Sudah pergi? Aku terlalu lama di kamar mandi sampai melupakan kewajiban ku padanya." Sesalnya merasa bersalah untuk kedua kalinya
"Kau tidak perlu khawatir di sini banyak pelayan jadi, kau tidak perlu melayaninya." Jawab Bu Amira
"Ibu, Aku akan berangkat sekarang." Teriak Luna menuruni tangga berpakaian tertutup dan menggendong tas ransel kuliahnya
"Kau yakin akan kembali berkuliah secepat ini, Luna?"
"Aku yakin, Kakakku sudah memotivasi diriku untuk tidak takut. Aku memiliki kakak yang hebat dan untuk apa aku takut padanya. sewaktu-waktu kakak bisa saja menghancurkan pria itu." Jawab Luna kembali ceria
"Ibu senang melihat Luna ibu sudah kembali." Usap pipi Luna dengan lembut
"Aku senang kau mudah bangkit dari keterpurukan mu, Luna. Dan kembali berkuliah melupakan rasa sakit." Ujar Dini tak segan berbicara dengan Luna
Luna pun kembali berwajah masam. Namun, matanya menatap Dini lirih.
"Aku akan berangkat sekarang." Ucap Luna pelan dan langsung pergi setelah berpamitan
Dini pun sudah terbiasa tidak mendapatkan jawaban atau respon dari Luna. Ia bersikap biasa dan tidak mengambil hati.
...***...
Di toilet~
Luna sedang berada di sana untuk menuntaskan keperluannya yang ingin membernarkan make up di toilet.
Setelah merasa tampilannya sangat baik, Luna pun keluar dari dalam toilet. Namun, jantungnya dibuat berdetak begitu cepat saat melihat wajah yang tengah menunggunya di depan pintu toilet.
"Mel-Melvin..." Ucap Luna sedikit terbata
"Wah, Luna ku sayang rupanya sudah berani untuk masuk kuliah kembali. Ke mana saja kau kemarin? Apa karena permainan kita kemarin membuatmu melayang sampai kau tidak bisa melupakannya?" Melvin datang untuk mencela Luna dan mengganggu ketenangannya
"Pelankan suara mu itu. Atau aku akan berteriak karena kau sudah berada di toilet wanita." Gertak Luna
"Teriak saja... Jika video dan ancamanku itu tidak membuatmu takut sama sekali."
Melvin menyentuh bibir Luna dan menarik tipis bibirnya ke samping. "Apa kau yakin benar-benar tidak mengerti, hem?" Melvin mendekatkan tubuhnya. Hingga jaraknya dan Luna kini hanya beberapa jengkal saja
"Melvin, lepaskan aku!" Berontak Luna
"Sekali ini lagi. Setelah itu aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Aku candu dengan bibirmu ini." Terus Melvin mendekatkan kepalanya
"Melvin, Aku mohon berhenti. Kau bisa saja dipenjara dengan kasus pelecehan seksual."
Melvin menulikan telinganya.
__ADS_1
"Le-paskan a-aku..." Luna memberontak. Berusaha melepas cengkraman tangan Melvin
"Jangan pernah sesekali kau mengancam diriku!" Melvin tertawa hambar sambil tangan mencekik leher Luna
Matanya berkaca-kaca dan tak bisa membendung air matanya lagi.
"Luna??" Terbata seseorang
Bug!
Seseorang memukul Melvin dari belakang menggunakan tasnya. Lalu, ia menarik Melvin dari Luna agar terlepas.
Bak seorang pahlawan yang membawa tameng, Ia menjadi penghalang untuk Luna.
"Dasar pria biadab, Kau!" Bentaknya
"Hey, Pelayan Luna ada di sini? Dia datang menjadi seorang pahlawan menyelamatkan majikannya. Apa ini bagian dari rencananya agar mendapatkan tambahan gaji?" Cela Melvin
Yang dimaksud Melvin adalah Dini. Dia datang entah bagaimana dan melindungi Luna dari Melvin yang ingin mencoba kesarkasannya lagi di toilet.
Dari belakang Luna bersembunyi ketakutan dari balik tubuh Dini.
"Dari awal aku sudah menduga jika kau bukanlah pria baik-baik. Dan sekarang dugaan ku terbukti jika kau pantas untuk disebut pria biadab yang tak berpendidikan."
"Seorang pelayan yang dulunya merupakan kupu-kupu malam, saat ini sedang berada di hadapanku membela kebenaran mengenai pelecehan. Apa anda lupa nona, jika anda juga sama seperti diriku yang memperkosa orang lain. Hanya saja kau menggoda kakaknya, dan aku menggoda adiknya. Sesama komunitas aku pikir tidak pantas membela seperti ini." Jelas Melvin yang mengetahui skandal Dini dulu yang diceritakan sendiri oleh Luna saat itu
Pagi itu, Dini pergi ke universitas Luna untuk mengantar kotak makan siang yang diperintahkan oleh Bu Amira. Saat sampai ia mencari Luna yang tidak terdapat di dalam kelas, ia mencari tahu keberadaan Luna melalui Vera temannya Luna yang mengatakan ada di toilet walaupun mendapatkan respon dengan tidak baik.
Saat berada di toilet wanita tiba-tiba ia mendapati Luna dan Melvin yang sedang mencoba melecehkannya Kembali.
Dini terkejut, ia kemudian pergi menghampiri mereka untuk menolong Luna dan terjadi saling serang dengan perkataan sampai Dini mengutuk melvin.
Luna yang tidak jadi untuk berkuliah kini dibawa pulang oleh Dini karena kondisinya yang tidak memungkinkan.
Mentalnya Kembali menurun dan membuatnya murung kembali.
Dini dengan berinisiatif agar bisa ditindaklanjuti menelepon Arya dengan memberitahukan segalanya yang terjadi pada Luna saat ini.
Dalam keadaan marah yang berkabung dalam dirinya kali ini. Arya memutuskan datang ke universitas Luna.
Di sana ia disambut baik oleh para jabatan universitas dan mahasiswa yang antusias sekaligus heran apa kedatangan bak tamu terpandang itu.
Dalam keadaan mengamuk, Arya menendang pintu kelas fakultas Bisnis yang di ambil Melvin. Di mana saat itu kegiatan pembelajaran sedang dilangsungkan sampai membuat mahasiswa di dalamnya histeris akibat keterkejutan yang besar.
Brakk!
Dosen yang sedang melangsungkan pengajaran nya pun sama terkejutnya karena sedang asyik menjelaskan, tiba-tiba suara pintu mendobrak dengan keras.
__ADS_1
"Siapa yang bernama Melvin di kelas ini?" Nada tinggi Arya
Dengan ketakutan, mendengar nama Melvin yang merupakan teman sekelas mereka. Semua mata tertuju melirik ke arah Melvin yang bersikap santai dalam duduknya.
Dengan santainya Melvin mengancungkan tangan.
Dari sana amarah Arya kembali bergejolak, ia menghampiri Melvin dan menarik kerah bajunya membawa dia pergi ke luar.
Jauh sekali Arya membawa Melvin pergi sampai berada di lapangan yang luas. Kegiatan belajar yang sedang berlangsung di universitas itu terganggu, semua mahasiswa berhamburan menuju lapangan melihat mereka berdua.
Arya tak segan menendang tepat di perut Melvin sampai terpental.
Dalam keadaan lemah, Arya mulai berkata padanya.
"Aku adalah Arya, Kakak Luna yang sudah kau lecehkan itu." Gertak Arya dengan pelan di telinga Melvin
Melvin yang kesakitan memegang perutnya yang ngilu sampai tak bisa melawan.
"Jika sekali lagi kau berani melakukan kebejatan mu itu pada adikku. Tak segan aku akan menggolok lehermu ini dan memberikan kepalamu sebagai santapan harimau." Ancamnya
"Aku peringatkan padamu! jika kau masih ingin hidup bebas, jangan bermain-main dengan kakaknya. Kami keluarga Pratama tidak akan diam jika ada satu anggota keluarga kami mendapatkan perlakuan buruk dari orang lain."
"Aku bisa lebih buruk dari ini. Karena hanya saja kau masih muda dan memiliki waktu yang masih panjang, Aku biarkan kau bebas tapi dalam pengawasanku."
"Aku tidak akan membiarkan adik bodoh mu itu lepas dari genggaman ku!" Ucap Melvin terbata akibat sakit
Bugh!
Kesabaran Arya di uji oleh anak tengil. Ia kembali tak segan meninjunya kembali.
Keadaan kondisi Melvin kini sudah babak belur.
Arrrggghhh....
"Aku akan melakukan apa yang kau katakan tapi dengan satu syarat." Ucap Melvin
"Baiklah, Apa syarat yang kau pinta?" Setuju Arya
"Berikan aku uang sebesar 10 Milyar. Setelah kau setuju, Aku tidak akan mengganggu adikmu lagi." Lantangnya berkata
Arya menarik bibirnya tipis ke samping.
"Heuh,,, Dari awal aku sudah menduga jalan pikir orang seperti dirimu yang ujung-ujungnya hanya ingin memeras harta kami. Mungkin bagimu sejumlah uang itu sangat besar, Tapi bagiku tidak ada harganya. Asalkan kau menepati janji, Aku akan memberikan uang itu." Jawab Arya tanpa merasa terbebani sampai tidak berpikir lama ataupun basa-basi
Akhirnya tanpa penyesalan dari dalam diri Melvin, ia senang akan mendapatkan sejumlah uang yang besar itu. Ia berhasil mendapatkan uang dalam jumlah besar hanya dengan memeras keluarga Pratama. Setelah mendapatkan uang itu, Ia akan hidup berfoya-foya.
Untungnya wanita yang dia peras adalah Luna yang berasal dari keluarga crazy rich itu bahkan tidak pantas disebut kaya. Jika saja wanita desa yang dijebaknya dan mengalami hal yang serupa seperti Luna. Bisa saja Keluarga wanita itu menjual organ tubuhnya sendiri untuk menebus keselamatan putri mereka.
__ADS_1