
Karena tidak bisa berdiam diri saja di kamar tanpa merasa tenang memikirkan keberadaan Dini yang tak kunjung datang.
Arya berkilas balik tidak jadi menelpon Dini. Ia malah mencari nomor ibunya dan menekan untuk menelpon.
"Hallo, Arya! Langka sekali kau menelpon ibu. Ada apa, Nak?"
"Ibu, Apa saat ini Dini bersama ibu? Katakan padanya untuk segera pulang!"
"Dini? Tidak nak. Dini tidak ada di sini."
"Ibu jangan berusaha untuk membohongiku."
"Untuk apa ibu berbohong. Dini tidak ada di sini. Sudah lama juga ibu tidak bertemu dengannya. malah rencana ibu akan datang ke rumahmu."
"Baiklah, bisakah aku meminta tolong pada ibu untuk menelpon ibu mertua menanyakan Dini."
"Iya, Ibu akan menelpon besan sekarang."
Panggilan pun di akhiri.
Arya pun menghempas handphone miliknya ke arah ranjang dan tergeletak begitu saja.
"Hah,,, Wanita itu selalu membuatku frustasi dengan perginya dia. Sudah menjadi kesalahanku membiarkan dia pergi ke luar sendirian." Pijat pelipisnya sambil satu tangan lain bertolak pinggang
Handphone Arya pun berbunyi kembali panggilan dari ibunya.
"Bagaimana ibu, Apa dia ada di sana?"
"Bu Lia pun mengatakan hal yang sama jika Dini tidak ada bersamanya."
"Memangnya Dini tidak meminta izin padamu? Mungkin dia di kamar, Coba pastikan lebih dulu. bisa saja dia sudah pulang dan kau tidak tahu."
"Akan ku pastikan." Jawab Arya tergesa-gesa
Panggilan kembali diakhiri.
Dengan cepat Arya berlari menuju kamar Dini.
Saat sampai di depan kamarnya dan membuka pintu, tidak ada siapa-siapa di sana.
Arya mencari Dini ke setiap sudut yang ada. Namun, Nihil, dia tidak ada di manapun.
"Din, kau di dalam?" Teriak Arya di depan kamar mandi
Sama sekali tidak ada jawaban.
Arya pun memutuskan untuk membuka pintu kamar mandi walaupun tahu risiko nya jika Dini ada di dalamnya. Sama seperti tadi, Dini tidak ada!
Kecemasan munafik yang melanda semakin mengganggu ketenangan hatinya. berbagai pikiran aneh muncul dalam benaknya. Ia ketakutan!
Saat mencari, Mata Arya menangkap sebuah benda asing yang berada di bawah lampu tidur tergeletak di atas meja nakas.
Dengan mengernyitkan dahi, Arya berjalan pelan ke arah sana.
Saat sampai, ia mengambilnya dengan gemetar.
"Benda apa ini? Bukankah ini sebuah tes kehamilan. Kenapa bisa ada di sini." Ucap Arya seorang CEO yang cerdas namun, tidak mengerti akan benda itu
Sempat terpikirkan hal lain yang mengarah ke sana.
Namun, Entah dari dorongan siapa. Dia membuka laci meja nakas di bawahnya.
Di sana banyak sekali selembaran kertas dan Arya mencari sesuatu di sana.
Setelah berhasil menemukan apa yang dia cari. Dia mengambil selembar kertas berasal dari rumah sakit hasil pemeriksaannya.
Dengan seksama ia membaca setiap tulisan yang ada. Dan pada akhirnya ia membaca Akhir yang penting dengan di sana tercetak hasil bahwa Dini hamil.
"Hamil??" Dengan napas menggebu-gebu Arya tidak menyangka
Ia terus memastikan dan sesekali mengerjapkan mata menyangka jika matanya bisa saja salah. Namun, tetap membaca kata yang sama.
"Jadi, dia benar sedang hamil. Aku akan menjadi seorang ayah lagi?" Entah kenapa Arya senang
__ADS_1
Secepatnya dia kembali menyimpan test pack dan kertas pemeriksaan itu di laci yang sangat tersembunyi.
Dengan berlari kencang turun ke lantai bawah. sampai membuat Valerie dan Bu Clara yang melihatnya pun heran kenapa Arya berlari seperti itu.
"Arya kau akan pergi ke mana?" Tanya Valerie
Arya menghiraukan pertanyaan Valerie dan tergesa-gesa pergi ke luar.
Saat di luar, Dia langsung menaiki mobilnya dan melakukannya kembali ke arah jalan raya.
"Ibu, Apa yang terjadi dengannya? Ibu lihat sendiri dia tidak menjawab pertanyaan ku." Sedih Valerie yang mulai menangis
"Sudah cup, cup, cup. Jangan menangis. mungkin suamimu harus kembali ke perusahaan karena hal mendadak." Ucap Bu Clara menenangkan Valerie
Di jalan~
Arya mengendarai mobilnya tak karuan. Banyak mobil dihadapannya ia dengan sekali pijakan gas menyalip kendaraan lain dengan kecepatan di luar batasnya.
Rencananya dia akan pergi menuju supermarket untuk menyusul Dini yang dia harapkan masih berada di sana walaupun ia rasa tidak mungkin karena sudah lama.
Mobil mewahnya terparkir di depan supermarket yang menjadi pusat perhatian banyak orang. Karena ia sangat terkenal, banyak sekali sepasang mata melihat dan mulut berbicara menatapnya kagum.
Dengan terburu-buru ia masuk ke dalam supermarket dan mencari keberadaan Dini di dalam. Setiap sudut sudah ia cari ke mana-mana, dan nihil tidak ada wanita yang ia cari di sana.
Para karyawan dan kasir pun kebingungan melihat kedatangan Arya di sana. mereka pikir Arya akan berbelanja, tapi saat kembali Arya malah pergi begitu saja meninggalkan supermarket.
Bagi mereka tidak masalah, malah sebuah keuntungan melihat wajah Arya dari dekat. Bahkan ada karyawan wanita yang pingsan di tempat.
"Ke mana kau pergi, Din? Aku harap kau tidak pergi jauh.mengelabui ku dengan mencari alasan akan pergi ke supermarket." Ucap Arya yang sudah kalang kabut
Meninggalkan mobilnya yang masih terparkir, Arya memutuskan untuk bertanya pada orang sekitar. seperti pedagang kaki lima, atau orang yang setiap harinya berada di sekitaran supermarket. Siapa tahu mereka melihat Dini untuk hanya sekedar lewat atau sekilas melihatnya.
"Permisi, Saya ingin bertanya. Apa anda pernah melihat wanita yang ada di foto ini pada pagi hari tadi?" Tanya Arya pada seorang pedagang pria sambil menunjukkan foto Dini yang ada dan ia simpan dalam nya
"Maaf, Tuan. Saya tidak melihatnya." Jawab pedagang pria itu
"Baik. Terima Kasih, Pak." Harapan Arya terputus
"Ke mana lagi aku harus mencari mu." Ucap Arya kalut
Namun, ia tidak menyerah. ia bertanya pada seorang pengemis yang mengkhawatirkan duduk di sisi jalan.
"Permisi, Pak. Saya ingin menanyakan seseorang pada anda, siapa tahu anda melihatnya." Bicara Arya
"Iya, Anak muda. Silakan." Jawab pengemis kakek tua itu serak dan lemah
"Apa anda pernah melihat wanita ini? dia berada di sekitaran tempat ini pada pagi hari." Tanya Arya sambil menunjukkan fotonya
Kakek pengemis itu menelisik foto yang ditunjukkan Arya. dahinya mengkerut seolah mencoba mengingat.
"Wanita ini!!" Tegun kakek itu serak
"Anda melihatnya? Anda bisa memberitahukannya pada saya! Saat ini saya sedang mencarinya." Antusias Arya
"Iya, nona ini yang datang memberikan sejumlah uang juga pada saya sambil membawa tas belanjaannya."
"Lalu, Kakek ingat, Ke arah mana dia pergi setelahnya." Tanya Arya bergetar
"Ke sana." Menunjuk ke tempat yang terlihat tak berpenghuni
Arya melihat tempat itu dengan bingung.
"Nona itu pergi ke sana. Tapi sayangnya tempat itu kosong dan sepi tak berpenghuni. Saya coba memberitahu tapi nona itu sudah jauh." Jawab kakek itu
"Kakek juga melihat mobil hitam masuk ke tempat itu di saat nona ini berada di sana. Kakek juga sekilas mendengar orang teriak meminta tolong, tapi kakek tidak bisa menghampiri karena kaki kakek sudah tidak kuat untuk berdiri dan berjalan." Jelas kakek pengemis itu lagi
Arya yang mendengar setiap perkataan Kakek itu tidak bisa lagi untuk bersikap tenang. Ia sudah berpikir kemungkinan jika Dini diculik oleh seseorang.
"Terima Kasih atas penjelasan mu, Kek. Jika kakek tidak ada di sini sebagai saksi yang melihat, mungkin aku tidak akan pernah mendapatkan informasi apapun."
"Sama-sama anak muda." Jawab kakek itu
Arya mengeluarkan dompet dan mengocek sebuah uang di dalamnya. Terdapat uang cash 5 Jt di dalamnya. Tanpa lama-lama dan berpikir, Arya mengambilnya dan memberikan sejumlah uang itu pada kakek pengemis.
__ADS_1
"Ini untuk Kakek!" Ucap Arya menyodorkan sejumlah uang
"Apa ini anak muda?" Tanya serak kakek itu
"Ini uang untuk Kakek agar bisa makan. Kakek sudah membantu diriku. Sebagai imbalannya kakek pantas mendapatkan uang ini. Ambil saja kek, kakek tidak perlu sungkan."
"Tidak perlu anak muda. Kakek ikhlas karena kakek tahu."
"Tidak apa kek. ambil saja! Saya juga ikhlas memberikannya pada, kakek." Jawab Arya
Dengan ragu dan sungkan, kakek itu akhirnya mengambil uang pemberian Arya.
"Terima Kasih anak muda, terima kasih." Ucap kakek itu menangis bersyukur
"Saya akan pergi. Saya ucapkan terima kasih pada kakek sekali lagi."
Arya pun pergi meninggalkan kakek pengemis itu yang masih terisak menangis bersujud syukur.
Sesaat setelah pergi meninggalkan kakek pengemis yang sangat berjasa. Arya sibuk berteleponan dengan Damar.
"Damar, segera cari tempat keberadaan Dini sekarang. Saat ini dia diculik. Kerahkan bawahan kita untuk segera mendatangkan penyelamatan."
"Apa Tuan, Nona Dini diculik??" Kejutnya dalam telepon
"Tidak perlu banyak berbasa-basi. Aku hanya ingin tahu di mana keberadaannya maka dari itu lacak keberadaan Dini sekarang juga. Aku akan segera datang ke perusahaan, dan aku harap saat aku datang kau sudah menemukan titik keberadaannya." Bentak Arya
"Baik, Tuan." Jawab Damar tertekan
Panggilan diakhiri.
Di perusahaan~
Orang kepercayaan Arya yakni Damar sangat sibuk dan serius melacak Dini melalui keberadaan ponselnya.
Asisten Damar menyarankan Arya untuk tenang agar membiarkan dia berkonsentrasi tanpa sebuah tekanan. Tapi Arya tidak bisa tenang.
"Bagaimana, kau sudah mendapatkan informasi baru?" Tanyanya membuat Damar kesal
"Maaf Tuan, untuk saat ini saya belum menemukan titik keberadaannya. Sistem tidak dapat meretas informasi mereka."
"Apa kemampuan ini yang kau tunjukkan di saat aku membayar mu mahal. Melacak keberadaannya saja kau tidak bisa." Bentak Arya
"Akan saya coba sekali lagi, Tuan." Ucap Damar tertekan
Damar berusaha sangat keras menggunakan kemampuan otaknya yang dipaksakan untuk lebih jenius dari sebelumnya.
Tak lama sistem berbunyi dan mendapati titik keberadaan yang sedari tadi dicari.
"Ya, Saya sudah menemukan titiknya, Tuan." Senang Damar karena Akhirnya tidak mendapatkan amarah lagi dari Arya
"Di mana?" Gesa Arya menelisik ke arah komputer
"Sistem menunjukkan bahwa Nona Dini berada di sebuah pulau yang jauh dari sini. Kemungkinan penculikan ini sudah lebih dulu direncanakan. Jika tidak mana mungkin akan sedetail ini." Jelas Damar
"Sejauh itu, kita tidak akan mampu untuk menjangkau pulau itu hanya menggunakan kendaraan darat. Beritahu Departemen helikopter untuk menjemput ku sekarang."
"Baik, Tuan." Damar kembali sibuk dengan menelpon
Setelah sebagian kecemasannya hilang karena sudah menemukan titik keberadaan Dini. Sebentar lagi ia akan menyelamatkan Dini dari penculikan. Bak seorang pahlawan, Dia berpikir sudah berjasa besar untuk menolong Dini.
Helikopter miliknya kini sudah berada di helipad perusahaannya. Dengan tergesa-gesa ia masuk dan helikopter melaju terbang segera menuju pulau itu berada.
Saat sampai, Di sana hanya terdapat rumah besar yang dijaga dengan keamanan khusus.
Pasukan penyelamatan yang dibawa Arya pun segera menangani penjaga yang berjejer ketat itu. terjadi sebuah perkelahian di luar sana, sedangkan Arya menerobos masuk untuk menyelamatkan Dini lebih cepat dan lebih mempercayakan pada bawahannya untuk menyerang di luar.
Saat di dalam rumah itu sudah terdengar suara teriakan dan tangisan. tanpa menyurutkan semangat Arya langsung terburu menuju sumber suara.
Hingga pada akhirnya...
Brakk!!
Arya menendang pintu berbahan kuat itu hanya sekali hantaman kaki yang menendang.
__ADS_1