Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 15 - Mengenalnya


__ADS_3

Di luar perusahaan~


"Ansel, ibu sudah membelikan hamburger ini untukmu. Sebaiknya kita segera pulang karena nen..." Dini yang ingin menyebut nenek pun terhenti akibat Ansel yang tidak ada di kursi saat ia sendiri benar-benar memastikan jika Ansel duduk di sana


"Ansel?? Kemana perginya Ansel? Aku tidak mungkin salah meninggalkan dia di sini. Aku benar-benar ingat Ansel duduk di sini." Cemas Dini


"Ansel? Kau di mana, nak?" Teriak Dini


la melihat-lihat sekitar dengan mencari siapa tahu jika ia salah kursi. Namun, di sana tidak ada kursi yang dapat ditemui selain berada dihadapannya. Dirinya malah semakin menduga jika Ansel pergi ataupun di culik.


"Tidak, tidak mungkin. Ansel?? Kau di mana, Nak. ibu sudah membeli hamburger yang kau inginkan." Teriak Dini


Dini berlari mencari ke sana kemari untuk mendapatkan putranya yang hilang.


Saking kalang kabutnya ia, Dini sampai menjatuhkan hamburger itu begitu saja. Dan frustasi Ansel benar-benar hilang.


"Permisi tuan, saya ingin bertanya apakah anda melihat anak kecil sekitaran sini? Dia masih memakai pakaian sekolah. Ini, ini adalah fotonya." Tanya Dini tergesa-gesa mengeluarkan handphone miliknya dan menunjukkan foto Ansel


"Maaf Nona, Saya tidak melihatnya." Jawab Tuan itu membuat Dini semakin bersedih


"Baiklah. Terima Kasih, Tuan..." Ujar Dini melanjutkan bertanya pada yang lain


"Maaf nyonya, Apakah anda melihat anak kecil sekitaran sini? Dia masih memakai seragam dan sedang duduk di kursi itu. Ini adalah fotonya." Ucap Dini mengulang hal yang sama


Nyonya itu melihat foto yang ditunjukkan oleh Dini.


"Tidak, saya tidak melihat anak ini karena saya baru ada di sini sekitar 5 menit lalu." Jawab nyonya itu mengecewakan


"Baiklah. Terima Kasih, maaf sudah mengganggu waktu anda." Ujar Dini


Dini pun terus menanyai hal yang sama pada semua orang yang ada di sana. sudah 15 menit ia menanyakan pada orang apakah melihat Ansel atau tidak, dan rata-rata jawaban dari orang yang Dini tanyakan 100 persen menjawab "Tidak melihatnya!"


"Ansel, Kemana kau pergi? Tolong jangan sampai ternyata kau diculik dan tidak bisa menemukan mu. ibu tidak bisa kehilangan mu." Ucap Dini bersedih dan sedang bimbang


Dini tetap tidak menyerah untuk bertanya pada orang lain mencari keberadaan putranya.


"Permisi Pak!" Dini menghampiri salah satu penjaga keamanan di sebuah gedung yang ada di sana


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" Tanya Penjaga keamanan itu


"Emm... Saya ingin bertanya sesuatu pada anda. Apakah anda melihat anak kecil yang ada dalam foto ini? Dia masih memakai seragam sekolahnya." Tanya Dini


Sangat lama petugas keamanan itu menelisik foto yang ditunjukkan oleh Dini.


"Agh,,, Iya, Saya melihatnya!" Jawab petugas keamanan itu yang membuat harapan Dini kembali bangkit dan senang


"Bapak melihatnya? Bisakah diberi tahu pada saya, saya adalah ibunya dan sedang mencari dia." Ucap Dini


"Tentu saja, Anak anda masuk ke dalam perusahaan ini. Ia mengatakan ingin menemui ayahnya, jadi saya beri izin." Jawab petugas itu

__ADS_1


"Ayahnya?? Baiklah. Terima kasih ya, Pak. Anda benar-benar sudah membantu saya." Ujar Dini yang sempat kebingungan awalnya


"Sama-sama." Jawab petugas itu ramah


Dini pun pergi masuk ke dalam perusahaan itu. Saat sudah berada di lobby, ia terdiam dan menelisik sekitar untuk mencari keberadaan Ansel.


"Di mana dia??" Tanya Dini pada dirinya sendiri


Dan tiba saatnya mata Dini membidik Ansel yang sedang berjalan bersama dua karyawan yang membawa ia pergi dengan jarak yang sudah jauh.


Dini pun langsung berlari untuk menghampiri Ansel.


"Ansel...!!"


Sambil berlari, ia berteriak memanggil nama Ansel agar menoleh ke belakang. Namun, karena lobby itu luas dan suara teriakan Dini sepertinya tidak dapat di dengar membuat Ansel terus berjalan mengikuti karyawan itu.


Brakk


"Maaf, maaf,,, Saya harus berlari untuk mengejar putra saya yang dibawa oleh mereka." Mohon maaf Dini atas ia yang tidak sengaja menabrak karyawan saat ia berlari


Karyawan itu tidak bisa diperlakukan seperti itu. ia malah marah-marah dan mendumal pada Dini.


Namun, Dini tidak memiliki banyak waktu untuk mendengarkan amarah dari karyawan itu. ia terus berlari dan hal itulah yang membuat karyawan marah.


Kembali dalam ruangan Arya.


"Oh, lya, Aku ingat! Kau adalah ayahnya temanku Arsen, Bukan? Paman tampan yang datang ke sekolah saat itu!" Ujar Ansel


"Paman, kau sangat tampan sekali rupanya saat dilihat dari dekat. Dulu aku ingin sekali menyapa paman, tapi sepertinya saat itu paman tampan sangat sibuk." Ujar Ansel yang berlari menghampiri Arya yang duduk di singgasananya


Manik Arya saling bertemu memunculkan perasaan hangat saat Ansel berada di dekatnya.


"Matanya sangat jelas mirip sekali dengan Arsen dari dekat... Warna mata itu mirip sekali dengan istriku... Melihat matanya seperti dia yang ada dihadapan ku saat ini. Wanita yang bertahun-tahun menjadi bayangku." Gumam Arya kebingungan jadinya


"Kau adalah temannya Arsen?" Lirih Arya


"Iya. Kami baru saja berteman. Mungkin sekitar 2 Minggu, karena awalnya aku bersekolah di Swiss, Ayah dan ibuku tinggal di sana dan kami pindah kesini." Ucap Ansel menjelaskan


"Lalu, siapa yang ingin kau temui di sini?" Tanya Arya


"Ayah ku! Apakah paman tampan kenal dengan ayahku?" Tanya Ansel khas suara anak kecil


"Aku tidak tahu siapa ayahmu." Jawab Arya


"Maafkan kami Presdir, Kami benar-benar sudah salah mengira. Saya pikir dia adalah Tuan muda karena wajahnya terlihat sangat mirip." Ujar karyawan 2


"Yang dikatakan olehnya benar. Anak ini memang sekilas mirip dengan Arsen. Wajah dan gaya bicaranya mengingatkan aku pada seseorang..." Gumam Arya


"Kalian berdua sangat aneh. membawa anak kecil yang sudah jelas ia sendiri sedang mencari ayahnya. mungkin dia adalah anak karyawan di sini, antarkan dia ke ruangan karyawan, agar dia bisa mencari ayahnya di sana." Kata Arya

__ADS_1


"Baik Presdir, Mohon maafkan kami." Ujar mereka merasa bersalah dan mengajak Ansel untuk pergi


"Agh,,, Tunggu sebentar." Henti Ansel yang membuat semua bingung


"Paman tampan, maafkan aku sudah memanggilmu seperti itu. Dari tadi orang-orang memanggilmu dengan sebutan Presdir, tapi aku tidak tahu apa Presdir itu. ibu juga sering memanggil orang yang tidak dikenal dengan sebutan Tuan. dan aku malah memanggil mu dengan paman tampan, aku bersalah!" Ucap Ansel jadi menundukkan kepalanya merasa bersalah


"Tidak masalah, aku sangat suka anak lucu seperti mu memanggilku dengan sebutan itu. Kau adalah temannya Arsen, bukan? itu tandanya kita saling kenal." Ucap Arya


"Benarkah? Jadi, aku bisa menyebutmu dengan paman tampan?" Senang Ansel mendongakkan kepalanya lagi


"Tentu saja!" Jawab Arya


"Yeay! Terima Kasih paman tampan. Kau baik sekali." Puji Ansel


"Siapa nama mu?" Tanya Arya


"Ansel!" Jawab Ansel


"Dan nama ayahmu? Kedua bibi ini akan membawamu pada ayahmu, mungkin jika kau memberitahu nama ayahmu, kami akan mengantarkan mu padanya." Pungkas Arya


"Nama Ayahku Dar..." Terhenti


Namun, Sebelum Ansel mengatakannya...


Seseorang datang menerobos masuk dan langsung memeluk Ansel.


"Ansel!! Kenapa kau pergi sendirian, hah? Ibu sudah melarang mu jangan kemana-mana dan tetap di sana sampai ibu kembali, Bukan? Kenapa kau mengingkari janji mu dan bisa ada di sini?" Tanya Dini dengan kekhawatiran yang melanda bertanya banyak pada Ansel


"Ibu, Aku mencari ayah... Ayah ada di sini tapi kedua bibi ini malah membawaku pada paman tampan." Jawab Ansel


"Ini bukanlah perusahaan ayahmu, Nak. Ayahmu pasti tidak akan ada di sini. Ibu sangat khawatir mencari mu kemana-mana. Tapi syukurlah kau bisa ibu temukan..." Ujar Dini membanjiri Ansel dengan kecupan


"Maaf Ibu, Aku sudah membuat ibu sangat khawatir mencari ku. Aku benar-benar anak nakal yang tidak mendengar perkataan ibu." Pungkas Ansel merasa bersalah


"Tidak, jangan berkata seperti itu. Ansel adalah anak yang penurut. Ibu hanya berpesan kau tidak boleh melakukan hal seperti ini lagi nanti, Ya." Kata Dini dengan memeluk kembali Ansel sangat erat


Fenomena yang saat ini terjadi, dan tanpa melihat sekitar dengan semua pasang mata yang ada di sana sedang menyaksikan mereka berdua.


Mata Arya tidak bisa berpaling. Tatapannya terpaku pada wajah yang selalu menghiasi hari-harinya selama tujuh tahun ini. Sebuah wajah yang sangat ia benci dan juga di rindukannya. Tubuh Arya gemetar. Dia tidak bisa mengontrol mimik wajahnya. Raut keterkejutan sangat terlihat jelas di mata orang yang melihatnya. Dia mengenal satu wajah di sana yang baru datang, sangat mengenalnya!!


Tap


Tap


Tap


Suara sepatu yang beradu berjalan gusar menghampiri mereka dengan tatapan yang nanar. Sosok seorang wanita yang dikenali olehnya yang kini tengah berjalan ke arahnya.


Pria itu berdiri dihadapannya dan mematung menatap wanita itu.

__ADS_1


Saat sibuk sedang memeluk anaknya dengan memejamkan mata. Akibat merasakan suasana mencekam jika seseorang datang dan sedang berdiri di hadapannya. Dini perlahan membuka mata dan melihat dari bawah sebuah sepatu dengan pemiliknya yang sedang berdiri dihadapannya.


Dini mengangkat kepalanya untuk melihat siapa pria yang berdiri dihadapannya itu dengan gemetar dan suasana dingin yang menyeruak pada tubuhnya.


__ADS_2