
"Luna, Ayo kita pergi ke kantin jangan lupa untuk mentraktir kita." Ucap Vera merangkul Luna
"Tidak, kalian pergi saja." Ucap Luna tidak bersemangat dan lemas
"Ada apa denganmu? Apa kau sakit? Itu wajar, Menjadi duta putri memang tidak mengenakkan sama sekali. Entah apa motivasi mu untuk menjadi Duta Putri saat kuliah. Dan sekarang kau merasakan tidak enaknya menjadi mahasiswa pilihan terbaik." Tanya Felisha
"Bukan itu bodoh! Tentu saja aku senang bisa menjadi duta putri. Ada hal lain yang membuatku malas berada di mansion."
"Kenapa? kau memiliki masalah dengan ibumu atau ayahmu?" Tanya Felisha lagi
"Ya, Aku bosan pada ibu yang selalu membahas wanita itu, walaupun dia sudah pergi dari sana." Ucap Luna tanpa menimbang perkataannya
"Wanita siapa? siapa yang pergi?" Sontak Vera
Luna tersadar akan kata-katanya yang tidak sengaja dikeluarkan. Ia berusaha mengubah topik agar kedua sahabatnya tidak curiga.
"Ah, Tidak ada. Kalian ingin mengajakku ke kantin bukan. Baiklah, Ayo kita pergi, aku akan mentraktir kalian." Ucap Luna merangkul kedua sahabatnya dan pergi ke kantin
Di Kantin~
Felisha, Vera, dan Luna duduk di salah satu meja kantin yang tersedia.banyak para mahasiswa yang berdatangan menyempatkan diri untuk makan di kantin. Suasana kantin begitu ricuh ketika laki-laki mahasiswa pembuat onar berebut makanan yang disediakan kantin.
"Aku dulu...aku dulu..."
"Dasar para pria murahan! Makanan saja sampai berebut seperti itu." Hardik Luna
"Jangan seperti itu, Jika diantara salah satu pria itu adalah jodohmu memangnya kau tega menghina jodohmu itu."
"Iyuww...menjijikan. Aku tidak mungkin berjodoh dengan pria ingusan seperti mereka." Ucap Luna jijik
__ADS_1
"Oh iya, kalian masih ingat dengan wanita itu? Si Dini, Bagaimana kabar dia sekarang ya?" Ujar Vera
"Untuk apa kau bertanya kabar wanita itu. Kau ingin berteman dengannya." Tanya Felisha
"Tidak, Aku hanya ingin tahu seberapa menderitanya dia selama ini. Apakah dia mati karena kelaparan, atau dia hamil anak sugar Daddy nya. Atau mungkin dia menikah dengan kakak mu, Luna. Dia kan sudah menggoda kakakmu!" Ucap Vera
Luna tersedak saat menyantap makanannya, Dia tercengang mendengar pernyataan Vera yang bertanya padanya yang sebenarnya hal itu memang benar terjadi dan dia menyembunyikan kebenaran dari 2 sahabatnya.
Uhukk...uhukkk...
"Apa maksudmu bertanya seperti itu. Kau menuduh Keluarga ku." Marah Luna menggebrak meja tidak membiarkan yang dia sembunyikan dapat di spekulasi kan oleh orang lain
"Aku hanya beranggapan saja. Mungkin saja itu benar." Debat Vera
"Kalian tidak bisa menuduh Keluarga ku seperti itu. Kalian tahu jika kakakku tidak akan mungkin menikah dengan wanita biasa-biasa saja.kalian juga tahu wanita itu seperti apa, bukan hanya kakakku yang dia goda. dia juga sudah menggoda laki-laki lain, bisa jadi dia sudah menikah dengan sugar Daddy nya." Ucap Luna menggunakan nada cukup tinggi
"Iya, Vera. Luna ada bersama dengan keluarga nya di mansion nya itu.dia lebih tahu bagaimana kehidupan keluarganya. Jika saja kakaknya Luna menikah, mana mungkin dia akan menikahi wanita itu. Wanita itu memang sudah menggoda Tuan Arya, tapi bukan berarti dia akan menikah dengannya." Ujar Felisha menengahi
"Aku hanya ingin membicarakan wanita itu bersama kalian dengan mengejeknya bersama-sama.tapi aku malah membawa kakakmu dalam topik pembicaraan nya." Lanjut Vera lagi
"Hahh,,, Bagaimana lagi.membicarakan wanita itu tidak akan ada habisnya. Kalian jangan bicarakan wanita itu dihadapan ku, aku benar-benar muak dengannya." Ucap Luna kembali lega karena sahabatnya percaya. Jika pernyataan Vera itu benar bahwa Dini adalah kakak iparnya sekarang yang disembunyikan, entah bagaimana kedua sahabatnya mengejek dirinya
...***...
Setelah kembali dari perkumpulan sosialita bersama Bu Amira yang membawa Dini pergi. Akhirnya mereka selesai, Dini yang diantarkan pulang ke rumah Arya menggunakan Mobil yang dikendarai supir Keluarga Pratama, terparkir dengan selamat di luar rumah Arya.
Sepanjang masuk ke dalam rumah, keadaan Dini cukup kurang baik. Ia masih merenungkan perkataan Bu Amira yang tidak ingin menjelaskan asal-usul kebenarannya.
"Ya, Tentu saja. Dini ini anak pengusaha sukses di Dubai. Bisnis Ayahnya mencakup pusat perbelanjaan hingga hotel yang tersebar di berbagai negara." Kalimat itulah yang menggema dalam otaknya saat ini. Seakan-akan tidak berhenti ingin tetap terdengar oleh telinga
Saat sudah sampai di dalam rumah, Dini menghela nafas panjang karena langsung disuguhkan dengan Arya yang sedang memainkan laptopnya duduk di sofa ruang tamu. Dini menatap malas Arya, dia benar-benar frustasi dengan keadaannya saat ini.
__ADS_1
Ia berjalan melewati Arya untuk menaiki tangga dengan menghiraukan Arya yang sama berpura-pura tidak merasakan kehadiran Dini.
"Kau sudah pulang??" Tanya dingin Arya yang menggema di telinga Dini
"CEO cerdas rupanya bisa menjadi bodoh saat di rumah. Apa dia tidak paham jika aku ada di sini, itu sudah banyak membuktikan jika ini adalah aku yang sudah pulang. Memangnya aku saat ini sedang menjadi apa jika bukan ragaku, Apakah aku adalah arwahnya yang pulang ke sini.Hal ini saja harus ia tanyakan." Gumam Dini kesal sudah jelas dia ada di sana kenapa Arya masih harus bertanya Kau sudah pulang
"Kenapa? Kau kesal aku bertanya kau sudah pulang.aku tanya kau tidak menjawab." Kecam Arya menyimpan laptopnya di meja dan berdiri menghampiri Dini dengan tubuh angkuhnya
"Ah, Iya, Tuan. Saya sudah pulang." Ucap Dini menstabilkan dirinya berpura-pura meladeni permainan Arya
Arya menyilangkan tangannya di dada dan mengangguk-angguk.
"Bagaimana, Apa yang kau lakukan bersama ibu?" Tanya Arya menginterogasi
"Ibu mengajak saya ke pertemuan sosialita nya di tempat Restaurant." Jawab Dini
"Aku harap kau tidak memalukan ibuku dihadapan teman-temannya." Kecam Arya
"Tidak, Tuan." Ujar Dini
Namun, Dini sempat mendengar bisikan yang terdengar dari teman-teman ibu mertuanya yang mempermasalahkan cara makannya yang tidak bisa menggunakan pisau dan garpu saat itu. Namun, hal itu bukan semata ia tidak bisa. Itu karena keadaan tangannya yang sedang terluka sehingga dia tidak bisa menggenggamnya dengan benar.
"Baiklah, aku perintahkan padamu untuk besok pagi siapkan sarapan untukku. Lalu, ada tugas baru untukmu di perusahaan yakni menyiapkan makanan siang untuk para karyawan ku. Aku akan menyetok keperluan apa saja yang kau butuhkan selama memasak di sana. hitung-hitung untuk menghemat uangku tidak membeli makanan di Restaurant orang lain." Ujar Arya
"Tapi, saya tidak bisa memasak, Tuan. Tuan sendiri yang mengatakan jika makanan saya tidak enak." Ujar Dini
"Tidak ada penolakan! Sekali aku memerintah kau langsung turuti saja apa keinginan ku." Ucap Arya memaksa
"Baiklah, Tuan."
Untuk kesekian kalinya Arya meminta sesuatu dari Dini dengan bersembunyi dibalik kebohongan dengan kenyataannya dahulu yang menghina mati-matian masakan Dini tidaklah enak. Padahal dia sangat menyukainya...
__ADS_1