Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
184. Ultimatum


__ADS_3

"Kakak ada apa? Apa yang terjadi Bu Shani?" Ucap Luna baru saja kembali dan terkejut melihat Dini yang menangis


"Ini karena nyonya Valerie, Non." Jawab Bu Shani gugup


"Kak Valerie sudah pulang rupanya. Apa yang dia lakukan sampai kakak ipar ku menangis?" Tanya Luna


"Emm... Luna, Kita bicarakan saja di kamarku ya." Kata Dini menangis nya yang mulai reda


"Baiklah, Terutama ada hal penting yang ingin aku sampaikan juga padamu kakak ipar." Ucap Luna


Dini pun bangkit dan segera menuju kamar bersama Luna.


Mereka pun duduk di sofa setelah sampai di kamar Dini.


"Ada apa kakak? Kenapa kakak menangis, apa kau tidak akan menceritakannya padaku?" Ucap Luna


"Sebenarnya selama ini aku sudah membohongi kalian. Keputusan yang aku ambil ini ternyata salah karena sama saja akhirnya terbongkar juga." Jelas Dini


"Memangnya apa yang kau sembunyikan kakak?" Tanya Luna menjadi penasaran


"Tolong jangan marah padaku. Aku sedang hamil!" Ucap Dini yang memberitahu kehamilannya karena sudah percuma jika ia menyembunyikannya lagi toh semua orang sudah tahu


Bukannya marah atau kecewa, Luna semringah menatap tak percaya yang merupakan teman menjadi kakak iparnya.


"Kakak benar-benar tidak sedang bercanda?" Ucap Luna masih tak percaya


"Aku tidak tahu apa kau percaya atau tidak. Tapi itulah keadaan saat ini, Aku sedang hamil." Ujar Dini


"Itulah sebabnya kak Valerie marah?"


"Iya, dia sudah menduga dan mencoba memastikan. Dan saat dugaannya benar, dia sangat marah." Kata Dini


"Aahhh... Kakak ipar. Aku sangat senang mendengar kehamilanmu, itu tandanya kakakku sangat hebat, dan aku akan segera menjadi bibi. Aku jadi tidak sabar bertemu dengan keponakanku." Peluk Luna senang


"Apa kau tidak akan membedakan anakku dengan keponakanmu yang lain?" Tanya Dini jadi sedih


"Memangnya dengan keponakan siapa lagi. Akan ada satu keponakan yang lahir, bukan?"


"Nona Valerie, dia juga akan memberikan keponakan untukmu." Ucap Dini


"Dia bukan keponakanku. Aku hanya akan mendapatkan keponakan dari rahimmu saja. Ini yang ingin aku sampaikan padamu kak."


Dini memasang telinga dengan terbuka siapa untuk mendengarkan Luna.


"Tadi saat aku keluar, aku melihat mobil ka Valerie di lampu merah, karena penasaran aku ikuti dia, dan mobilnya berhenti di suatu Restaurant. Dan hal yang paling mengejutkan adalah dia pergi bersama dengan Tuan Richo yang merupakan klien kak Arya, mereka masuk ke dalam sambil berpegangan tangan. Aku pun mengikutinya sampai ke dalam, dan mendengar pembicaraan mereka jika Kak Valerie sebenarnya bukan mengandung anak kak Arya, tapi mengandung anak Tuan Richo itu." Kata Luna menjelaskan


"Apa? Tuan Richo dan Nona Valerie memiliki hubungan yang sedekat itu. Dia sedang mengandung anak Tuan Richo!" Terkejut Dini tak menyangka


"Iya, Kakak. Itulah sebabnya aku sendiri tak percaya jika dia sudah membohongi kita semua bahkan kak Arya sendiri. Aku harus memberitahu kak Arya secepat mungkin." Ujar Luna


"Tidak Luna, itu akan sulit karena Tuan tidak akan percaya begitu saja. kita harus menyertakannya dengan sebuah bukti. Apa kau memiliki buktinya?"

__ADS_1


"Owh,,, Ya Tuhan, Aku lupa tidak merekam pembicaraan mereka. Akibat terlalu marah otakku tidak bekerja dengan baik. Kau bodoh Luna!" Ucap Luna memarahi dirinya sendiri


"Tidak apa, yang terpenting kita sudah mengetahui kebenarannya. Kita akan berjalan untuk mencari bukti sebanyak mungkin dan membongkar rahasianya."


"Aku akan bekerja dengan baik dalam hal ini. Akan ku buat dia pergi dari rumah ini agar kakakku tidak menderita bersamanya. Aku membutuhkan dukungan dan bantuan mu, kak."


"Kita akan saling bekerja sama dalam kebenaran." Ucap Dini setelahnya saling berpelukan


...***...


Masih berada di kamar Dini.


"Hey kau, Tunggu di sana dan jangan berani melangkahkan kakimu." Valerie berteriak


Tiba saja dia datang ke kamar Dini setelah sudah lama Luna keluar. Dini yang ingin beranjak dari sofa menuju ranjangnya hanya bisa diam bersiap-siap untuk menanggapi kedatangan Valerie.


"Ada apa? Apa tak cukup bagimu selalu menindasku? Kebenaran apa lagi yang kau inginkan dariku?" Ucap Dini


"Hey, kenapa jadi kau yang marah? Aku datang secara baik-baik untuk membuat sebuah kesepakatan." Ujar Valerie


"Katakan saja dan tidak perlu bertele-tele." Ujar Dini


"Kau bisa saja tetap mengandung anak mu itu dan melahirkannya. Tapi dengan satu syarat, kau harus menyetujui kontrak hamil ini." Valerie memberikan sebuah map hitam yang isinya berisi beberapa lembar kertas dengan tulisan bercetak hitam


"Kontrak hamil? Apa maksudnya ini?" Tanya Dini mengambilnya


"Baca saja. Aku harap kau tidak sedang berpura-pura tidak bisa membaca." Celanya


Dan yang paling menonjol adalah,


"A-aku harus memberikan anak ku saat lahir kepada anda dan setelah itu harus pergi." Tegun Dini


"Yap, itu benar. Ternyata kau pintar, tidak seperti apa yang ku kira. Sudah jelas di sana tertulis, jika kau tidak ingin menggugurkan kandungan mu, kau bisa melahirkannya.tapi setelah melahirkan, kau harus pergi dari sini tanpa membawa anakmu."


Lalu menambahkan,


"Ingat! Perjanjian ini hanya diketahui antara kau dan aku." Lanjutnya


"Tidak, Aku tidak akan menyetujui kontrak ini. Aku adalah ibunya, dan tidak akan meninggalkan dia begitu saja." Ucap Dini melemparkan kertas ultimatum yang berpoin-poin itu sehingga berterbangan di udara



(Contoh)


"Baiklah, belum apa-apa kau sudah menolaknya. Pikirkan baik-baik sebelum kau menyesal karena ini hanya memiliki satu kesempatan dan kau tidak akan mendapatkannya lain waktu." Kata Valerie menanggapinya dengan santai karena dia merasa paling menang


"Aku pun tahu rahasiamu, dan akan membuktikannya pada Tuan jika kau yang pantas keluar dari rumah ini. Semua orang di sini suci, hanya kau dan ibumu yang mengubah kesucian rumah ini." Hardik Dini


"Beraninya kau! Apa yang kau tahu dariku, hah? Kau hanya wanita bodoh yang tidak tahu apa-apa." Bentak Valerie


"Aku tahu jika kau sedang mengandung anak Tuan Richo. Itu artinya kau selama ini berbohong dan bukan sedang mengandung anak Tuan." Jelas Dini

__ADS_1


Membuat Valerie terkena mental sampai ia diam saja dan tak berkutik lagi.


"Kenapa dia bisa tahu? Apa dia selama ini selalu mengikuti kemana pun aku dan Richo pergi? Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Aku harus berhati-hati dengan wanita ini." Gumam Valerie yang terancam


"Jaga mulut omong kosong mu itu! Tanpa ada bukti kau sudah memfitnah diriku." Kata Valerie


"Kita lihat saja. Perlahan-lahan semua kebusukan mu akan segera terbongkar. Seharusnya kau berterima kasih padaku saat ini, karena aku tidak mengatakan ini pada tuan sebab belum memiliki bukti, jadi nikmati saja hidup mewah mu di sini sebelum aku membongkar rahasiamu. dan kita lihat aku atau kau yang akan keluar dari rumah ini!" Tantang Dini


"Heuh,,, Coba saja buktikan. Aku tidak akan takut denganmu karena kau sudah memfitnahku." Ucap Valerie


Lalu menambahkan,


"Sekarang simpan perjanjian ini karena sewaktu-waktu kau akan mengalah dan membutuhkan ultimatum ini. Aku tidak akan mungkin menyimpan apalagi mengetiknya untuk kebebasan mu." Ujar Valerie yang tak ingin kalah


"Bagaimana jika aku tidak menyetujuinya?"


"Ya, Maka kau harus menggugurkannya." Ujar Valerie


"Ak-aku tidak bisa. Ja-jangan memaksaku untuk melakukannya..." Dini memeluk perutnya dengan erat. Berusaha melindungi janinnya.


"Bila bayi itu ada, maka hubunganmu dengannya juga akan tetap berakhir. Gugurkan segera!!"


"Aku tidak bisa. Tolong jangan memaksaku untuk melakukannya..." Dini mulai berurai air mata, tatapan matanya penuh dengan permohonan


"Bila Kau tidak bersedia melakukannya, maka kami yang akan melakukannya. Ibu, pegang tangannya."


"Baik Valerie." Bu Clara berjalan ke arah Dini dan langsung memegang tangannya


Ia memelintir tangan Dini kebelakang. Sehingga membuat Dini kesulitan untuk memberontak.


"Ap-apa yang kalian lakukan?" Dini menangis


Tubuhnya meronta-ronta tak berdaya. Tenaga Bu Clara lebih kuat di bandingkan dirinya, sehingga dia tidak bisa berbuat banyak.


"Kauu tidak ingin menggugurkan kandunganmu. Maka Kami yang akan memaksamu. Buka mulutmu!!" Bu Clara mendekat dan memaksa untuk membuka mulut Din


Di tangannya terdapat obat penggugur kandungan dengan dosis kuat.


"Ti-tidak...Uhmppp!!" Dini menutup mulutnya rapat-rapat. Air mata tampak mengalir deras di matanya. Hati dan tubuhnya begitu sakit. Mengapa dia di perlakukan tidak adil seperti ini? Mengapa dia begitu lemah dan tidak bisa melawan? Adakah seseorang yang akan menolongnya? Adakah seseorang yang akan peduli pada mereka? Jawabannya adalah tidak!! Yang bisa menyelematkannya, hanyalah dirinya sendiri bukan orang lain.


"Kenapa kalian setega itu ingin menyingkirkan seorang bayi yang belum saja melihat dunia ini?" Kata Dini


"Aku tidak setega itu, malah aku membantu anakmu untuk keluar dari kesusahan hidup yang akan ia alami ketika lahir nanti. Aku sudah menjamin jika hidupnya akan menderita." Ujar Valerie


Valerie menambahkan,


"Baiklah, Aku memberimu kesempatan. Aku akan menunggu keputusanmu sampai kapanpun. Anggap saja ini adalah bantuan dariku agar kau bisa keluar dari keterbelengguan mu dengan Arya." Kata Valerie dan setelahnya pergi meninggalkan Dini


Dini menatap selembaran kertas yang penuh dengan perjanjian berat itu dengan sendu. Bagaimana mungkin dia meninggalkan anaknya setelah melahirkannya nanti.


Di sisi lain ia berpikir sebaiknya memang harus ia yang pergi daripada anaknya harus pergi sebelum kelahirannya.

__ADS_1


__ADS_2