Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 19 - Diantar Ke Sekolah


__ADS_3

"Bekal makanan semuanya sudah siap. Ini untuk Tuan Darwin, ini untuk Ansel, Dan ini... Ini untuk Arsen. Betapa tidak sabarnya aku hari ini untuk bertemu dengannya." Ucap Dini di dapur


"Bertemu dengan siapa?" Tanya Bu Lia


"Ibu... Kau mengejutkanku saja." Ucap Dini terkejut


"Hhh... Maafkan ibu yang bukan bermaksud untuk mengejutkan mu." Kata Bu Lia


"Tidak apa Bu, Aku sendiri hanya sedang bercanda."


"Wajahmu terlihat bersinar dan juga bahagia hari ini. Ada apa, Hem?"


"Aku tidak mungkin mengatakan akan bertemu dengan anakku Arsen dan menceritakan segalanya apa yang terjadi kemarin. Dia pasti akan semakin melarang ku untuk dekat dengan putraku karena akan membawaku terseret pada keluarga itu." Gumam Dini


"Tidak ada Bu, Aku hanya senang karena bisa membuatkan bekal makanan untuk putraku." Jawab Dini


"Oh, itulah sebabnya kau senang akibat bisa menghadirkan isi bekal makanan yang dihias menarik seperti ini, Ya."


"Benar. Ansel sangat suka sekali dengan hiasan karakter yang ada di bekal makannya." Jawab Dini


"Apa kau tidak sekalian membuatkan bekal makanan yang dihias seperti ini untuk Tuan Darwin?" Kekeh Bu Lia


"Mana mungkin, Bu. Tuan Darwin bukanlah anak kecil lagi." Kekehnya ikut tertawa


"Bukan hanya seorang anak kecil yang menyukai bekal makanan menarik ini. orang dewasa saja pasti akan terkagum dengan kemampuan mu." Puji Bu Lia


"Ibu ini bisa saja. Aku hanya mencoba untuk menjadi seorang ibu yang baik untuk anakku saja. Kemampuan ku tidak seberapa." Jawab Dini


"Kau selalu saja merendah. Tapi, kotak makan ini ada tiga, satu untuk Ansel dan juga Tuan Darwin. satu lagi untuk siapa?" Tanya Bu Lia


"Itu untuk temannya Ansel. Ansel mengusulkan untuk membuatkan makanan yang dihias seperti dia untuk diberikan pada temannya itu." Jawab Dini


"Oh, Baguslah... Itu artinya makanan mu itu memiliki peminat dari anak kecil. Wajar saja temannya sangat menyukai kotak bekal makanan Ansel, terdapat karakter di dalamnya, selain itu rasanya pun sangat enak dan selalu sehat."


"Aku harap putraku Arsen pun sangat menyukai makanan yang ku buatkan untuk dia." Gumam Dini sambil tersenyum-senyum kecil


Bu Lia pun bahagia melihat putrinya itu memiliki kehidupan yang lebih baik sekarang. ia harap tidak ada badai yang menerjang kebahagiaannya kali ini.


"Apa ibu tahu jika Ansel sudah siap?" Tanya Dini membungkus dua kotak makanan ke dalam tasnya


"Bahkan dia sudah menunggu di luar. Dia sendiri tidak sabar menaiki mobil yang akan dikendarai ibunya." Jawab Bu Lia

__ADS_1


"Akibat terlalu serius menghias makanan ini. Aku lupa waktu untuk segera mengantarkan Ansel. tapi untung saja waktunya masih pagi dan tidak akan terlambat." Ucap Dini tergesa-gesa memasukkan kotak makan itu


"Oh iya ibu, jika Tuan Darwin sudah turun untuk berangkat bekerja. Tolong berikan kotak makan siangnya ini padanya. Aku tidak bisa memberikan langsung karena harus segera mengantarkan Ansel." Kata Dini berpesan


"Baiklah, kau tidak perlu khawatir. Segera antarkan Ansel dan jangan lupa untuk berhati-hati." Ujar Bu Lia


"Baik ibu, Aku pamit..."


Dini pun segera mengantarkan Ansel ke sekolah dengan mengendarai mobilnya sendiri. Ia berinisiatif untuk bisa mengendarai mobil agar tidak merepotkan Darwin dan menghemat uang transportasi. Berkat Darwin yang mengajarinya, tak butuh waktu lama Dini bisa mengendarai mobil dengan mahir.


Di sisi lain~


"Arsen, Apa kau sudah siap?" Tanya Arya membuka pintu kamar Arsen tanpa mengetuk lebih dulu


Arsen yang sedang memasangkan dasinya pun terhenyak dan terpaksa melirik ke sumber suara.


"Aku sedang memakai dasi." Jawab Arsen dingin


"Kau sudah sarapan?" Tanya Arya tidak seperti biasanya


"Sudah. Hanya tinggal memasang dasi dan memakai sepatu, aku akan segera berangkat." Jawabnya dingin lagi


"Baguslah. Ayah akan mengantarkan mu ke sekolah." Ujarnya


"Apa kau benar ayahku?" Tanya Arsen demikian


"Kau kira orang yang sedang berdiri di sini siapa? Kakek mu?" Ketus Arya


"Aku hanya bingung kenapa ayah belum berangkat bekerja hari ini. biasanya ayah selalu berangkat pagi ke perusahaan bahkan sebelum aku bangun. Dan sekarang mendadak ayah akan mengantarkan ku ke sekolah."


"Apa yang salah dengan hal itu? Ayah yang lain sering mengantarkan putranya ke sekolah, bukan?" Ujar Arya


"Setiap hari sambil pergi ke perusahaan. tidak seperti ayah yang tidak pernah mengantarkan anaknya." Sindir Arsen


"Kau memang benar-benar putraku yang sangat mirip sekali sifatnya denganku. Kau adalah anak kecil dan perkataan mu pedas seperti orang dewasa. Sekarang jangan banyak bicara dan segera turun, Ayah akan menunggu di mobil." Kata Arya sambil melenggang pergi


Arsen pun sebagai anaknya masih mematung melihat kepergian ayahnya itu. Dia melihat sisi lain dari Arya yang berbeda hari ini, entah apa yang sedang terjadi padanya hari ini yang akan mengantarkan dia ke sekolah. Bahkan ayahnya tidak pernah perhatian, bertanya, bahkan ia sendiri malas datang menghadiri acara yang diadakan oleh sekolah yang mengundang orang tua.


"Apa yang terjadi pada ayah hari ini? Mungkinkah Ayah membuat perjanjian dengan bibinya Gino yang akan bertemu di sekolah?" Duga Arsen demikian. mengingat pertemuannya dengan bibi Gino yang ingin bertemu dengan ayahnya


...***...

__ADS_1


"Aku akan segera masuk ke kelas. Terima Kasih sudah mengantarkan aku ke sekolah. Lain kali jika ayah melakukan ini karena tekanan dari nenek atau siapapun, tidak perlu terpaksa mengantarkan aku ke sekolah. Aku akan di jemput oleh pak Ari saja nanti siang." Ujar Arsen yang telah sampai di depan gerbang sekolahnya dan turun dari mobil


"Aku harap tidak datang terlambat. Aku yakin Dini akan datang mengantarkan temannya Arsen itu karena dia bersekolah di sini." Gumam Arya menelisik keadaan di luar yang banyak sekali siswa berdatangan dan diantarkan


"Apa temanmu itu sudah datang?" Tanya Arya ikut turun


"Sudah ku duga orang dewasa selalu meremehkan anak kecil yang dianggap tidak tahu apa-apa. Ayah pasti sedang mencari bibinya Gino dengan melontarkan pertanyaan menjebak padaku. sayangnya aku bukan anak kecil yang mudah dibohongi ayah!"


"Lain kali jika ayah ingin bertemu dengan bibinya Gino tidak perlu sampai sekolah. Di sini berisi anak kecil dan ayah tidak pantas pacaran didepan mereka." Kata Arsen demikian


Arya pun menyipitkan matanya menatap Arsen seolah elang yang akan memburu anak ayam.


"Apa yang kau katakan tadi? Mengenal bibi temanmu saja tidak, kenapa kau bisa beranggapan demikian. Ayah hanya bertanya apakah temanmu yang bernama Ansel itu sudah datang?" Tegas Arya


Arsen pun salah sangka dan terdiam sejenak.


"Kenapa ayah bertanya padaku? Ayah tahu jika aku baru saja datang. Dari mana aku bisa tahu jika Ansel sudah datang atau belum di sini. Jika sudah masuk ke dalam kelas, aku bisa saja menjawab pertanyaan ayah itu." Kata Ansel bersitegang


Terlibat pertengkaran kecil antara anak dan ayah itu.


"Sekiranya kau tahu di saat waktu menunjukkan pukul berapa temanmu selalu datang." Balas Arya bersikeras


"Bagaimana aku bisa tahu dia datang pukul berapa. Sekolah saja tidak membiarkan siswanya untuk memakai jam tangan." Debat Arsen


"Lain kali kau tidak perlu bersekolah di sini. Sekolah macam apa ini hanya memakai jam tangan saja tidak boleh."


"Bukan aku yang ingin sekolah di sini. Ayah sendiri yang mendaftarkan aku. Dan ayah sendiri yang marah-marah pada peraturan yang dibuat." Ketus Arsen


"Tck,,, Apa dia sering diantarkan oleh seorang wanita?" Tanya Arya membuat Arsen kesal


"Ya." Jawabnya malas


"Siapa wanita itu?"


"Wanita itu adalah ibunya. Dia sering diantarkan ibunya setiap hari." Jawab Arsen


"Jadi, kemarin benar pantas anak itu memanggil dia dengan ibu." Gumam Arya


"Memangnya ada keperluan apa, Ayah?" Tanya Arsen


"Aku tidak mungkin mengatakan pada Arsen jika aku ingin bertemu dengan ibunya Ansel. Dia pasti akan bertanya atas hubungan apa, dan aku tidak mungkin menjawab pada Arsen jika sebenarnya dia adalah ibu kandungnya. ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan segalanya."

__ADS_1


"Anak kecil tidak perlu tahu urusan orang dewasa." Ketus Arya


__ADS_2