
"Luna, segera pulang! Naik taksi jika kau tidak membawa mobil. Jika saat rapat kakak masih berlangsung dan melihatmu masih bersama dengan kukang ini, Kakak akan membekukan semua kartu kredit mu!" Ancam Arya tegas
"Kakak, Aku bukan anak kecil lagi. Aku juga bukan anak kuliah yang masih mendengarkan ancaman kakak seperti dulu. Aku sudah 27 tahun dan seharusnya bebas dekat dengan laki-laki manapun. Toh aku sendiri sudah melajang sangat lama, impianku juga ingin menikah sebelum usiaku semakin bertambah." Kata Luna terkekang
"Kakak saja tidak masalah saat seusia dengan mu di umur 27 tahun belum saja menikah." Timpal Arya
"Kenyataannya karena kakak menunggu angin, bukan? Semua orang terus mempertanyakan kapan menikah? Aku juga mengalami pertanyaan itu sekarang. Sampai akhirnya kakak sendiri dijodohkan dengan Dini yang masih belia usianya. Aku juga wanita, aku ingin mencari pria yang bisa menikah denganku saat ini."
Lalu, Luna menambahkan
"Coba lihat Dini! Sejak usia 19 tahun dia sudah menikah dan tidak memikirkan apa-apa lagi. Bahkan dia juga akan memiliki anak yang ketiga." Murung Luna sepertinya lelah hidup melajang di usianya yang sudah matang untuk membentuk keluarga
"Dokter Luna, kau ingin menikah? Jika ada pria yang saat ini akan melamar mu di depan kakakmu bagaimana? Dia sendiri sudah lebih dulu tidak merestui hubungannya." Gumam Zayn kembali tersenyum sendiri
"Apa yang sedang kau tawakan, Kukang?" Cerca Arya
"Apa masalahmu, Tapir? Selain mulutmu moncong, ternyata matamu tajam juga, Ya." Ejek Zayn tak henti
"Jangan berani macam-macam denganku, Ya. Kau sendiri yang mengatakan usia kita berbeda satu tahun dan lebih tua diriku. Itu artinya kau yang muda harus menghormati ku yang sudah tua usianya."
"Kau mengakui dirimu sudah berumur rupanya. Syukurlah, tuhan menyadarkan dirimu yang so muda dan masih kuat, padahal tulang mu itu sudah rapuh. Diuntungkan saja aku masih memanggilmu dengan tapir dan bukan babi. Kedua hewan ini kan sekilas mirip."
"Stoppp... Diam... Kalian bertengkar seperti anak kecil saja. Jika Dini yang melihat tingkah kalian berdua, dia pasti akan menjewer telinga kalian. Aku sedang berbicara, kalian malah sibuk saling mengejek." Emosi Luna telinganya pening mendengarkan dua pria ini terus bertengkar
Daripada Luna bisa stress terus berlama-lama di sana, Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Arya dan Zayn dengan kesal dan sedikit menghentakkan kakinya.
Zayn pun hendak pergi mengikuti Luna, Arya pun menghadang Zayn dan memperingatkan dia untuk tidak mendekati adiknya lagi. Hal itu tidak membuat Zayn mengerti, ia menyingkirkan Arya dari hadapannya untuk tetap mengikuti Luna.
...***...
Langit sudah mendung sejak sore tadi. Hujan masih saja deras. Zayn melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena ia harus pergi secepat mungkin, ini adalah hari spesial Luna di mana usianya sudah menginjak 28 tahun dan diadakan perayaan di mansion Pratama, mungkin sekaligus merayakan status jomblonya. Zayn mendapatkan pesan masuk dari Luna yang mengundangnya untuk menghadiri perayaan ulang tahun miliknya saat siang tadi terjadi pertengkaran di cafe. Jika Arya tidak datang dan menghancurkan kebersamaan mereka, mungkin Luna sendiri ingin mengundangnya langsung.
__ADS_1
Mobil Zayn berhenti di depan mansion Pratama dan memarkirkan mobilnya di halaman luas itu. Kebetulan hujan sudah reda dan Zayn tidak perlu berlari untuk masuk ke dalam.
Luna sedang berdiri meninggalkan para tamunya melihat ke luar. Ia tampak cemas menunggu kehadiran seseorang yang sangat ia tunggu kedatangannya. Setiap tamu baik teman ataupun kerabat, Luna mengedarkan pandangannya untuk menangkap wajah seseorang.
Dalam lamunannya, Ansel dan Arsen datang bersama kedua orang tuanya dan mereka lebih dulu masuk membiarkan anaknya bersama bibinya ke tempat semua orang sudah berkumpul.
"Wahh... Bibi sangat cantik sekali malam hari ini." Pungkas Ansel memuji
"Terima Kasih Ansel, Arsen, kalian sudah datang ke acara ulang tahunku." Balas Luna ramah
"Siapa yang mengatakan tidak akan datang? Aku pasti akan datang ke acara pesta-pesta ini, banyak makanan yang bisa ku makan. Ini hadiah untuk bibi dariku dan Arsen. Kami yang menyiapkan ini berdua." Kata Ansel menyodorkan sebuah kotak hadiah yang dibungkus indah
"Wah sepertinya ini akan menjadi hadiah terindah dari kedua keponakan ku. Terima kasih ya Arsen, Ansel, Nanti bibi akan membukanya." Terima Luna mengambil hadiah itu
"Bibi berulang tahun ke usia 28, Ya." Tanya Ansel melihat lilin berangka 28 di bolu ultah Luna
"Iya..." Jawab Luna singkat
Luna pun terdiam dan malah murung terlihatnya. Perlahan senyumnya yang sempat ia ukir menyambut keponakannya itu hilang.
Arsen pun menyikut pelan adiknya.
"Ada apa kak? Kau ingin segera bibi memulai potong kuenya? Kakak sudah lapar?" Malah bertanya demikian Ansel
Arsen pun berbisik.
"Jaga bicaramu! Orang dewasa akan sensitif jika ada seseorang yang bertanya kapan dia menikah. Kau lihat bibi, gara-gara bicaramu dia terlihat jadi murung. Itu artinya dia tidak suka ada orang yang bertanya kapan menikah."
"Tapi ibu kita saja sudah menikah. Aku hanya bertanya kenapa bibi bisa belum menikah?" Bisik Ansel bertanya
"Berhenti memikirkan itu. Bibi akan segera memulai acaranya." Ajak Arsen menjauh dari Luna
__ADS_1
Luna pun menatap kedua anak kecil yang tengah berjalan dan menjauh darinya pun dengan tatapan sendu.
"Anak kecil saja bertanya kapan aku menikah. Kiranya kapan, aku juga tidak tahu kapan hari itu akan datang. Ansel, lain kali jangan bertanya itu padaku. Aku dan ibumu memang memiliki nasib yang berbeda, dia lebih beruntung dariku. Dia sudah memiliki anak, suami, sedangkan aku masih menunggu pangeran yang datang melamar ku." Lirih Luna bersedih hati
Di saat kesedihannya, terlihat Zayn yang tampan itu muncul dari kegelapan dan semakin lama menampakkan cahaya dalam jati dirinya.
Penglihatan Luna pun sedang berfantasi, Luna menatap Zayn dengan terkagum. Dalam penglihatannya, Zayn datang memakai pakaian seperti pangeran tengah tersenyum ke arahnya membawa bouqet bunga dan kotak cincin, berjalan gagah menghampirinya.
Luna pun berada dalam imajinasinya hingga ia disadarkan dengan suara barito menusuk di telinganya.
"Dokter Luna, Dokter Luna... Kau bisa mendengar ku? Hey..." Jentikkan suara Zayn menyadarkan seorang putri tidur yang tengah berimajinasinya itu
"Akk... Ya, Tu-tuan Zayn, Kau sudah ada di sini rupanya." Ucap Luna gugup dan tidak karuan gelagapnya tersipu malu
Zayn hanya mengernyitkan dahinya dengan tingkah Luna yang salah tingkah.
"Ya, dari tadi aku memanggilmu tapi tidak menjawab." Kata Zayn yang membuat Luna semakin salah tingkah
"Agh,,, Lupakan masalah itu, Kau tidak membawa cincin lamaran? Eh, maksudku kau tidak membawa hadiah?" Luna keceplosan dan dengan segera meralat kesalahannya walaupun sempat terdengar jelas oleh Zayn
"Tentu saja aku membawanya. Aku tidak mungkin datang hanya untuk menumpang makan tanpa membawa sesuatu untuk mu." Jawab Zayn dengan senyum nyengirnya
"I-iya, syukurlah kau membawa hadiah untukku. Aku sendiri tidak ingin mengundang tamu yang hanya membawa perut kosong saja. Hehe..."
"Ini hadiah untukmu. Aku mempersiapkan hadiah ini secara mendadak karena kau sendiri mengundangku terlalu sore." Kata Zayn
"Terima Kasih. Aku jadi tidak sabar membuka hadiahnya. Tapi nanti saja setelah acara ini selesai. Sekarang ikut aku ke dalam agar aku bisa memulai acaranya sekarang." Luna pun tanpa sadar menarik tangan Zayn dan menggandengnya untuk masuk
Zayn sendiri tersentak. Ia tidak bisa melepaskan ajakan Luna dengan tangan yang memegangnya ditarik pergi. Perasaan senang bermunculan dalam hati yang menggebu-gebu.
"Kau tahu? Sedari tadi setiap tamu yang datang aku menghiraukan mereka dan hanya menunggumu yang datang. orang pikir aku menyambut mereka dan padahal bukan. Hhhh..." Secara langsung Luna mengatakan kejujuran yang ia sendiri katakan tanpa sadar
__ADS_1
Zayn hanya tersenyum menatap belakang Luna. Jantung semakin berdetak saat mendengar Luna hanya menunggu dia seorang.