Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
131. Kanada


__ADS_3

Hari ini ketiganya menghabiskan waktu di pantai Bora-Bora yang menjadi tempat destinasi liburan mereka. Terlihat Arya dan Valerie bersenang-senang dengan air, bermain pasir, kejar-kejaran, dan sekarang mereka sedang tertawa bercanda dari dalam air laut dengan saling berpelukan. Bukan mereka bertiga, tapi hanya sepasang suami istri yang saling mencintai. Dan Dini hanya duduk berdiam diri di tepi pantai dengan memerhatikan suaminya bermesraan dengan wanita lain. bukan keinginan gadis itu untuk tidak ingin beranjak dari sana, melainkan keinginan suaminya yang memaksanya dengan keras untuk tidak merusak moment romantis dirinya dan istri kedua.


Alhasil Arya menyuruh dengan paksa Dini untuk berdiam diri duduk di teduhan bawah pohon kelapa, tidak boleh kemana-mana, karena jika mereka terpisah, Arya juga yang akan dipersulit untuk menemukan Dini di luasnya pulau ini, dan dia tidak ingin dibuat repot serta membuang waktunya yang berharga dengan istri tercinta.


Dini beranjak pergi ketika pandangannya menatap suaminya dan wanita itu saling memeluk dan bercumbu. Dini kembali memegang dadanya yang terasa sesak, dengan mata berkaca-kaca.dia memutuskan kembali ke kamarnya, tidak peduli harus menuruti perintah suaminya sebelumnya.biarkanlah suaminya menghabisi waktu berdua dengan istri tercinta.


Malam tiba.


Seseorang membuka pintu kamarnya. Dini menghampiri suaminya yang baru saja menutup pintu.


"Tuan! kau sudah selesai jalan-jalannya?" Tetap memberikan senyum manis pada suaminya


"Kenapa kau kembali lebih dulu?!" Tanya Arya berbalik bertanya


"Emm,,, aku..."


"Kau Cemburu?!" Tanya Arya


"T-tidak..." Jawabnya dengan menunduk, tidak berani menatap suaminya yang juga menatapnya tajam


Arya mencengkeram kedua bahu Dini, membuat Dini ingin tak ingin harus menengadahkan wajah menatap Arya.


"Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak memakai perasaan di sini. Dulu kau menyatakan cintamu padaku, dan dengan itu kau tidak berhak cemburu atas apa yang ku lakukan dengan istriku. hilangkan pikiranmu tentang aku dan kau, karena aku dan kau tak akan pernah menjadi kita. jadi, tahu dirilah sampai mana batasan mu berada. jika kau mencintaiku, buang jauh-jauh perasaan itu, karena aku tidak akan pernah mencintaimu." Melepas kasar cengkeramannya, membuat Dini terhenyak mundur beberapa langkah


"Bereskan pakaianmu.malam ini kita berangkat ke Kanada." Pinta Arya


"Kanada? untuk apa kita ke sana? Kita baru saja dua hari di sini."


"Tidak perlu banyak tanya. lakukan saja! kita berangkat pukul 10 malam."


"Bukankah voucher kita di sini selama seminggu? lalu bagaiman..."


"Kau ingin tetap di sini, silakan. Itu lebih baik untukku." Potong bicara Dini


Dini menatap kepergian suaminya. memperhatikan suaminya meraih koper di atas lemari, lalu mengambil pakaian dan memasukkannya dalam koper. sesaat kemudian, Dini mengikuti apa yang Arya lakukan dengan membereskan barang-barangnya dalam koper.


Tok! tok! tok!


Pergerakan keduanya terhenti oleh ketukan pintu. Arya yang tersadar lebih dulu, beranjak membuka pintu.


"Sayang! ada apa kau kemari?" Tanya Arya pada Valerie yang datang


"Apa kau sibuk?"


"Tidak. kenapa, hum?"


"Bantu aku membereskan barang-barang ku. Aku kelelahan, aku takut ini tidak baik bagi anakku." Rengek Valerie


"Baiklah. Ayo! kita ke kamarmu." Jawa Arya


Dari dalam, Dini menatap suaminya memeluk bahu Valerie dan keluar dari kamar tanpa berpamitan padanya.


Kanada~



"Apa kau yakin tidak ingin sekamar denganku? kau akan sekamar dengan dia?" Tanya Valerie tiba-tiba


Arya mengikuti arah pandang Valerie yang melirik singkat pada Dini yang berdiri di dekat resepsionis.


"Sayang. kamarnya hanya tersisa dua, aku tidak ingin ambil risiko jika kita sekamar, sedangkan kita pasangan yang tidak direstui. Ada mata-mata yang mengintai pergerakan ku saat di bora-bora. Aku takut jika mereka mengikuti ku sampai sini, mereka adalah suruhan ibuku. untuk itu aku memutuskan untuk pergi ke Kanada saja." Jelas Arya


Valerie mengangguk lesu, dan kembali menatap Arya.


"Iya sayang...aku hanya mencintaimu. Ayo! kita harus ke kamar."


Dan ketiganya segera pergi menuju kamar masing-masing.


Dini memandang kamar yang mereka masuki tanpa ekspresi. seakan tahu isi pikiran istrinya, Arya segera menyahut.


"Hanya tersisa satu kamar untuk 2 orang, dan satu kamar untuk 1 orang. ingin tak ingin, kita harus sekamar, kecuali jika kau ingin tidur di jalanan." Ucap Arya


"Kenapa kau tidak menempati kamar ini dengan istrimu. bukankah itu lebih bagus untuk kalian."


"Aku tidak ingin mengambil risiko sekamar dengannya, mengingat jika aku sedang diintai. Dan bisa saja ibuku juga mengirim mata-mata di sini, ibuku juga hanya tahu jika aku pergi hanya denganmu. Akan lebih aman bagiku jika mereka tahu aku hanya berdua denganmu. jika kau tidak suka sekamar denganku, kau bisa pergi mencari hotel lain."


Dini menyeret kopernya untuk masuk lebih dalam dengan senyum manis yang terpatri di bibirnya.


"Tidak. aku akan mengikuti ke mana suamiku pergi. bukankah kau sendiri yang memesan kamar ini untuk kita."


"Terserah!!" Malas Arya menanggapi Dini yang sudah mulai berani


Arya melangkah mendahului Dini, dengan koper yang diseretnya kasar.

__ADS_1


Dini menatap suaminya yang mendahuluinya tanpa mengatakan apapun. Dia tersenyum tipis ketika melihat suaminya merebahkan tubuhnya disofa.segera diletakkannya koper disamping lemari, mengambil beberapa pakaian dan memasuki kamar mandi.


20 menit kemudian. setelah menyelesaikan ritual mandi, Dini dengan segelas teh hangat di tangannya menghampiri suaminya yang terlelap di kursi sofa. membangunkannya perlahan, hingga suaminya membuka mata.


"Tuan!! Aku membuatkan mu teh hangat. minumlah selagi masih hangat. lalu, pergilah mandi! aku sudah menyiapkan air hangat untukmu." Ujar Dini


"Hemm..." Mengambil teh dari tangan Dini, dan meminumnya sampai tandas. meletakkan kembali gelas pada meja, lalu pergi memasuki kamar mandi


"Aku harus membereskan barang-barang itu sebelum Tuan selesai mandi."


Dini mulai bergerak membereskan dan menata isi koper pada tempatnya.


Di Indonesia~


Perusahaan Darwin.


"Ada apa kau kemari? kau tak ada pekerjaan juga?" Tanya Fariz sedang di ruang biliard di sela waktu luang pekerjaannya


"Aku bosan di ruangan ku." Jawab Darwin


"Fariz, kau tidak ingin mengajakku jalan-jalan?" Lanjut Darwin


"Aku sibuk. pergilah sendiri."


"Mentang-mentang kau sudah aku anggap sahabat. Kau menjadi lupa diri pada atasanmu sendiri." Kesal Darwin


"Ck. untuk apa aku memiliki sekretaris dan assisten jika di sela pekerjaan begini saja aku mengerjakan sendiri." Lanjut Darwin


"Jika kau bisa mengerjakannya sendiri, kenapa harus merepotkan orang lain. lagipula mereka sudah ada tugas masing-masing." Jawab Fariz


"Kau memiliki tugas, karena aku yang menugaskannya padamu." Debat Darwin


"Terserah kau saja, Tuan."


"Aku pergi."


Tanpa mendengar jawaban, Darwin keluar dari ruang bola biliard.


"YAK!! Atasanku itu benar-benar tidak tahu waktu. Aku jadi kalah." Pekik Fariz kesal


Geleng-geleng kepala melihat Darwin pergi. lalu melanjutkan kembali permainannya.


Hari ini ketiganya menghabiskan waktu di pantai Bora-Bora yang menjadi tempat destinasi liburan mereka. Terlihat Arya dan Valerie bersenang-senang dengan air, bermain pasir, kejar-kejaran, dan sekarang mereka sedang tertawa bercanda dari dalam air laut dengan saling berpelukan. Bukan mereka bertiga, tapi hanya sepasang suami istri yang saling mencintai. Dan Dini hanya duduk berdiam diri di tepi pantai dengan memerhatikan suaminya bermesraan dengan wanita lain. bukan keinginan gadis itu untuk tidak ingin beranjak dari sana, melainkan keinginan suaminya yang memaksanya dengan keras untuk tidak merusak moment romantis dirinya dan istri kedua.


Alhasil Arya menyuruh dengan paksa Dini untuk berdiam diri duduk di teduhan bawah pohon kelapa, tidak boleh kemana-mana, karena jika mereka terpisah, Arya juga yang akan dipersulit untuk menemukan Dini di luasnya pulau ini, dan dia tidak ingin dibuat repot serta membuang waktunya yang berharga dengan istri tercinta.


Dini beranjak pergi ketika pandangannya menatap suaminya dan wanita itu saling memeluk dan bercumbu. Dini kembali memegang dadanya yang terasa sesak, dengan mata berkaca-kaca.dia memutuskan kembali ke kamarnya, tidak peduli harus menuruti perintah suaminya sebelumnya.biarkanlah suaminya menghabisi waktu berdua dengan istri tercinta.


Malam tiba.


Seseorang membuka pintu kamarnya. Dini menghampiri suaminya yang baru saja menutup pintu.


"Tuan! kau sudah selesai jalan-jalannya?" Tetap memberikan senyum manis pada suaminya


"Kenapa kau kembali lebih dulu?!" Tanya Arya berbalik bertanya


"Emm,,, aku..."


"Kau Cemburu?!" Tanya Arya


"T-tidak..." Jawabnya dengan menunduk, tidak berani menatap suaminya yang juga menatapnya tajam


Arya mencengkeram kedua bahu Dini, membuat Dini ingin tak ingin harus menengadahkan wajah menatap Arya.


"Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak memakai perasaan di sini. Dulu kau menyatakan cintamu padaku, dan dengan itu kau tidak berhak cemburu atas apa yang ku lakukan dengan istriku. hilangkan pikiranmu tentang aku dan kau, karena aku dan kau tak akan pernah menjadi kita. jadi, tahu dirilah sampai mana batasan mu berada. jika kau mencintaiku, buang jauh-jauh perasaan itu, karena aku tidak akan pernah mencintaimu." Melepas kasar cengkeramannya, membuat Dini terhenyak mundur beberapa langkah


"Bereskan pakaianmu.malam ini kita berangkat ke Kanada." Pinta Arya


"Kanada? untuk apa kita ke sana? Kita baru saja dua hari di sini."


"Tidak perlu banyak tanya. lakukan saja! kita berangkat pukul 10 malam."


"Bukankah voucher kita di sini selama seminggu? lalu bagaiman..."


"Kau ingin tetap di sini, silakan. Itu lebih baik untukku." Potong bicara Dini


Dini menatap kepergian suaminya. memperhatikan suaminya meraih koper di atas lemari, lalu mengambil pakaian dan memasukkannya dalam koper. sesaat kemudian, Dini mengikuti apa yang Arya lakukan dengan membereskan barang-barangnya dalam koper.


Tok! tok! tok!


Pergerakan keduanya terhenti oleh ketukan pintu. Arya yang tersadar lebih dulu, beranjak membuka pintu.


"Sayang! ada apa kau kemari?" Tanya Arya pada Valerie yang datang

__ADS_1


"Apa kau sibuk?"


"Tidak. kenapa, hum?"


"Bantu aku membereskan barang-barang ku. Aku kelelahan, aku takut ini tidak baik bagi anakku." Rengek Valerie


"Baiklah. Ayo! kita ke kamarmu." Jawa Arya


Dari dalam, Dini menatap suaminya memeluk bahu Valerie dan keluar dari kamar tanpa berpamitan padanya.


Kanada~



"Apa kau yakin tidak ingin sekamar denganku? kau akan sekamar dengan dia?" Tanya Valerie tiba-tiba


Arya mengikuti arah pandang Valerie yang melirik singkat pada Dini yang berdiri di dekat resepsionis.


"Sayang. kamarnya hanya tersisa dua, aku tidak ingin ambil risiko jika kita sekamar, sedangkan kita pasangan yang tidak direstui. Ada mata-mata yang mengintai pergerakan ku saat di bora-bora. Aku takut jika mereka mengikuti ku sampai sini, mereka adalah suruhan ibuku. untuk itu aku memutuskan untuk pergi ke Kanada saja." Jelas Arya


Valerie mengangguk lesu, dan kembali menatap Arya.


"Iya sayang...aku hanya mencintaimu. Ayo! kita harus ke kamar."


Dan ketiganya segera pergi menuju kamar masing-masing.


Dini memandang kamar yang mereka masuki tanpa ekspresi. seakan tahu isi pikiran istrinya, Arya segera menyahut.


"Hanya tersisa satu kamar untuk 2 orang, dan satu kamar untuk 1 orang. ingin tak ingin, kita harus sekamar, kecuali jika kau ingin tidur di jalanan." Ucap Arya


"Kenapa kau tidak menempati kamar ini dengan istrimu. bukankah itu lebih bagus untuk kalian."


"Aku tidak ingin mengambil risiko sekamar dengannya, mengingat jika aku sedang diintai. Dan bisa saja ibuku juga mengirim mata-mata di sini, ibuku juga hanya tahu jika aku pergi hanya denganmu. Akan lebih aman bagiku jika mereka tahu aku hanya berdua denganmu. jika kau tidak suka sekamar denganku, kau bisa pergi mencari hotel lain."


Dini menyeret kopernya untuk masuk lebih dalam dengan senyum manis yang terpatri di bibirnya.


"Tidak. aku akan mengikuti ke mana suamiku pergi. bukankah kau sendiri yang memesan kamar ini untuk kita."


"Terserah!!" Malas Arya menanggapi Dini yang sudah mulai berani


Arya melangkah mendahului Dini, dengan koper yang diseretnya kasar.


Dini menatap suaminya yang mendahuluinya tanpa mengatakan apapun. Dia tersenyum tipis ketika melihat suaminya merebahkan tubuhnya disofa.segera diletakkannya koper disamping lemari, mengambil beberapa pakaian dan memasuki kamar mandi.


20 menit kemudian. setelah menyelesaikan ritual mandi, Dini dengan segelas teh hangat di tangannya menghampiri suaminya yang terlelap di kursi sofa. membangunkannya perlahan, hingga suaminya membuka mata.


"Tuan!! Aku membuatkan mu teh hangat. minumlah selagi masih hangat. lalu, pergilah mandi! aku sudah menyiapkan air hangat untukmu." Ujar Dini


"Hemm..." Mengambil teh dari tangan Dini, dan meminumnya sampai tandas. meletakkan kembali gelas pada meja, lalu pergi memasuki kamar mandi


"Aku harus membereskan barang-barang itu sebelum Tuan selesai mandi."


Dini mulai bergerak membereskan dan menata isi koper pada tempatnya.


Di Indonesia~


Perusahaan Darwin.


"Ada apa kau kemari? kau tak ada pekerjaan juga?" Tanya Fariz sedang di ruang biliard di sela waktu luang pekerjaannya


"Aku bosan di ruangan ku." Jawab Darwin


"Fariz, kau tidak ingin mengajakku jalan-jalan?" Lanjut Darwin


"Aku sibuk. pergilah sendiri."


"Mentang-mentang kau sudah aku anggap sahabat. Kau menjadi lupa diri pada atasanmu sendiri." Kesal Darwin


"Ck. untuk apa aku memiliki sekretaris dan assisten jika di sela pekerjaan begini saja aku mengerjakan sendiri." Lanjut Darwin


"Jika kau bisa mengerjakannya sendiri, kenapa harus merepotkan orang lain. lagipula mereka sudah ada tugas masing-masing." Jawab Fariz


"Kau memiliki tugas, karena aku yang menugaskannya padamu." Debat Darwin


"Terserah kau saja, Tuan."


"Aku pergi."


Tanpa mendengar jawaban, Darwin keluar dari ruang bola biliard.


"YAK!! Atasanku itu benar-benar tidak tahu waktu. Aku jadi kalah." Pekik Fariz kesal


Geleng-geleng kepala melihat Darwin pergi. lalu melanjutkan kembali permainannya.

__ADS_1


__ADS_2