Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
178. Tinjuan Di Perut


__ADS_3

Kini hari sudah menjelang esok hari dan paginya.


Seperti biasa mereka selalu mengawali sarapan sebelum menjalankan aktivitas.


Mereka sedang berada duduk di kursi meja makan.



(Contoh)


"Bagaimana bayiku di dalam, Apa dia senang berada dalam perut ibunya?" Sentuh Arya meletakkan tangan kanannya di perut Valerie yang sudah membesar


"Sepertinya tidak, ia sudah ingin keluar untuk bertemu dengan ayahnya." Kekeh Valerie diakhir


Melihat kedua pasang suami istri yang harmonis di depannya saat ini membuat Dini sedikit cemburu dan ingin mendapatkan perhatian dari suaminya juga. Namun, Apa daya, Dia tidak akan pernah mendapatkan cinta yang sama seperti Valerie dari Arya.


Seolah sengaja, Valerie semakin menjadi-jadi untuk memanasi Dini dengan kepedulian Arya.


Arya yang sibuk mengelus perut Valerie, terkejut saat Valerie teriak kesakitan.


"Akghhh..." Ringis Valerie berpura-pura


"Valerie, Ada apa? Kau baik-baik saja?" Terlihat dari wajahnya Arya sangat khawatir


"Arya, Apa kau tidak merasakannya?" Ucap Valerie


"Apa aku sudah menyakiti perutmu?" Ucap Arya semakin khawatir


"Bukan, Coba rasakan. Bayi kita menendang!" Ucap Valerie


"Benarkah??" Arya dengan sarkas kembali meletakkan tangannya di perut Valerie dan dengan itu ia merasakan tendangan dan gerinjalan bayi yang terhantar dari perut Valerie


"Bagaimana, Kau sudah merasakannya?" Tanya Valerie memastikan


"Iya, Aku tidak menyangka jika bayi kita sudah aktif di dalam."


"Itu karena elusan tangan ayahnya yang membuat bayi kita senang. Dia merespon sentuhan Ayahnya." Ucap Valerie dengan berbicara yang selalu melirik ke arah Dini sekilas


Dini yang memahaminya pun tak banyak mengambil pusing.


"Apa kau ingin segera bertemu dengan Ayah? Ayah juga ingin segera bertemu denganmu." Bicara Arya yang berkomunikasi dengan bayinya melalui perut Valerie


Dini yang merasa tersudutkan memilih pergi daripada harus melihat yang didapat orang lain ia sangat menginginkannya juga.


"Andai aku Nona Valerie, mungkin aku akan menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini." Lirih Dini saat berada di dapur


"Ibu harap kau tidak haus kasih sayang seperti ibumu ini yang melihat ayahmu perhatian dengan wanita lain. Dia adalah kakakmu, kalian akan bermain bersama nanti jika sudah lahir." Bicara Dini sambil mengelus perutnya


"Kau tidak perlu bersedih, nak. Sejak 2 hari kemarin ayahmu ada bersama dengan kita. Hanya saja harga diri ibu sudah hilang dihadapan ayahmu akibat kekonyolan ibu 2 hari ini. Entah akibat karena mengidam atau apa, ibu pun tidak mengerti."


"Sedang apa wanita itu? Dia berbicara sendiri sambil mengelus perutnya. Dasar wanita gila!" Cela Bu Clara yang memergoki Dini di dapur dengan mengintipnya saat lewat


"Tunggu, tunggu, Apa itu karena dia cemburu melihat Arya dan Valerie tadi? Sampai dia mengkhayal menjadi seorang ibu hamil juga, hahahaha...Dasar wanita gila." Sangka Bu Clara lagi


"Heh,,, Sedang apa kau di sini? Bukannya bekerja kau malah sibuk berbicara sendiri. Apa yang kau lakukan dengan perutmu itu, kau ingin ya seperti Valerie yang sedang hamil. kau tidak akan bisa mengandung karena suamimu tidak pernah menyentuhmu, perutmu saja kosong, memangnya jika kau hamil berisi apa, bayi jin?" Hardik Bu Clara


Dini hanya diam karena tidak ingin menanggapi, akan sulit baginya untuk merespon orang bodoh yang so tahu.

__ADS_1


"Coba aku lihat!" Paksa Bu Clara meraih Dini dengan cengkraman kuat dengan maksud menghina perutnya


Dini merasa tergunjang-ganjing dengan Bu Clara yang terus memutarkan untuk menelisik tubuhnya.


Tanpa sedikitpun disangka, Bu Clara sudah membuat kesalahan yang fatal. Dengan sekali tinjuan, Dia sudah memberikan lontaran meninju pada perut Dini sangat keras.


Akkkkhhh....


Teriak Dini yang menggema di dapur itu dan tidak ada satupun yang peduli dengan teriakannya, Bahkan pelayan atau Bu Shani pun tak mendengar teriakan kerasnya karena mereka sedang berada di halaman belakang.


Tinjuan itu sangat sakit dirasakannya, ia harus sampai memegang kuat perutnya.


"Dasar wanita lemah! Begitu saja kau sudah kesakitan." Ucap Bu Clara tanpa berdosa pergi meninggalkan Dini yang berjuang melawan nyeri


Sekiranya Bu Clara sudah menjauh dan menghilang.


Rasa sakitnya masih saja menerka-nerka. Perasaannya bercampur aduk, antara sakit dan khawatir.


"Bayiku! Siapapun tolong selamatkan bayiku." Ucap Dini terdengar meringis


Di sisi lain~


Arya yang sedang sarapan bersama Valerie dan sekilas mendengar teriakan dari dapur langsung menghentikan makannya.


"Arya, Ada apa? Ayo lanjutkan makannya!" Ujar Valerie


"Sebentar." Jawab singkat Arya dan tergesa-gesa dengan cepat pergi ke arah dapur


"Kemana perginya dia?" Valerie pun menyudahi sarapannya dan mengikuti Arya. Dia benar-benar tidak mendengar suara teriakan apapun padahal cukup keras


Saat sudah sampai di dapur. Arya mendapati Dini yang sudah meringkuk kesakitan memegang perutnya. Ia tercekat dan syok dibuatnya. Arya langsung berhamburan lari menghampiri Dini.


"Din, Apa yang terjadi denganmu?" Cemas Arya melanda dihadapan Valerie


"Tuan, Perutku!" Lirih Dini


"Ada apa dengan perutmu, hah? Katakan dengan jelas!" Bentak Arya karena khawatir terjadi sesuatu pada kehamilan Dini


"Perutku sangat sakit!" Jawabnya masih meringis


"Apa? Aku akan membawa mu ke Dokter." Ujar Arya langsung menggendong Dini ala bridal style


Membuat Valerie yang berada di sana dilanda api cemburu dan kemarahan.


"Arya, kau akan pergi kemana? Tetap di sini dan jangan pedulikan dia." Bentak Valerie


"Tidak Valerie, Ini menyangkut keselamatan nyawa seseorang." Jawabnya tetap melenggang pergi keluar


"Apa maksud dari nyawa seseorang? memangnya wanita itu sedang sekarat sampai dia mengkhawatirkannya seperti itu." Geram Valerie


"Aryaaa!" Valerie mengejar untuk menghentikan suaminya


Bu Clara yang masih terlihat di sana menghampiri Valerie untuk menghentikan kejarannya juga.


"Valerie, kau ini sedang hamil malah berlari seperti ini."


"Ibu, Tolong hentikan Arya! Dia malah menggendong wanita itu dan mengkhawatirkannya. Dia bahkan meninggalkan aku di sini." Ucap Valerie

__ADS_1


"Valerie, biarkan saja mereka pergi. saat mereka kembali, kau bisa melampiaskan amarahmu padanya."


"Aku tidak tahu kenapa dia bisa sepeduli itu." Sedihnya


"Dan ibu merasakan kejanggalan." Cetus Bu Clara


"Apa?" Tanya Valerie penasaran


"Apa kau tidak melihat bagaimana wanita itu kesakitan tadi? Ibu sendiri mengaku jika dia seperti itu sebab ulah ibu yang meninju perutnya. melihat dia kesakitan, ibu curiga jika ada yang disembunyikan oleh mereka pada kita, jika bukan karena satu hal, dia tidak akan mungkin sampai sesakit itu." Ujar Bu Clara


"Tapi apa yang sedang disembunyikan?"


"Ibu akan menyelidikinya lebih dalam. kau tidak perlu khawatir kita akan mendapatkan informasi secepat mungkin." Ujar Bu Clara berencana


...***...


Dalam mobil dan perjalanan menuju rumah sakit.


"Akkhhh... Perutku!" Ringis Dini yang meronta-ronta sampai menangis


Arya yang selalu mendengar teriakan meringis Dini pun tak henti membuat kecemasannya meningkat di kala sedang mengendarai mobilnya.


"Aku mohon bertahanlah! Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit." Ucap Arya


"Tuan, perutku sakit, Aku takut terjadi sesuatu pada bayiku. aku mohon selamatkan dia, Arrgh..."


"Bersabarlah, tidak akan terjadi sesuatu padanya." Kata Arya memberikan pengertian


Saat itu juga Arya melajukan mobilnya dengan mengebut. Saat sampai ditengah jalan raya yang ramai dengan kendaraan sampai ia tidak bisa menyalip. Dari samping bersamaan, ada pengendara lain yang mengganggu perjalanannya sampai hampir saja bertabrakan.


"Sial!" Emosi Arya menghentikan mobilnya. dan memaki pengendara mobil itu


"Apa kau tidak bisa mengendarai mobil mu ini, hah? Jika kau tidak bisa mengendarai dengan benar, mampu lah membuat jalan sendiri untuk mobil murahan mu ini agar bebas sesuka hati menjalankannya. kau hampir saja menabrak mobilku yang didalamnya ada istriku yang harus segera di bawa ke rumah sakit. Jika sampai terjadi sesuatu padanya, aku akan mencari mu sampai penghujung dunia." Maki Arya


"Maaf Tuan, Saya benar-benar tidak sengaja. saya bertindak ceroboh." Awal niat ingin memaki pengendara yang beradu duel dengannya, nyalinya menjadi ciut saat mengetahui jika tandingannya ternyata Arya


Dengan kesal Arya kembali masuk dan mengendarai mobilnya.


Dini masih saja kesakitan dan tak henti menangisi rasa sakitnya.


Setelah sampai di rumah sakit dan memasuki ruang observasi, di sana Dini mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan sehingga membuatnya tak merasakan sakit lagi.


"Sebenarnya apa yang terjadi sampai nona Dini bisa seperti ini?" Tanya Dokter pada mereka


Arya yang tidak tahu menahu bingung menjawabnya.


"Sa-saya pun tidak mengerti apa yang terjadi. Saat sedang diam, tiba-tiba saja perut saya mengalami hal ini." Jawab Dini terbata menyembunyikan kebenaran


Dokter itu pun berpikir keras.


"Ini masalah yang rumit padahal saya mengira jika anda mendapatkan benturan yang keras pada perut anda sama seperti kasus yang sering terjadi. Perut nona Dini mengalami guncangan yang hebat sampai membuatnya kram dengan kontraksi palsu. Untung saja kehamilannya ini sangat kuat, sehingga tidak terjadi sesuatu pada ibu maupun janinnya. hanya bentuk respon dari guncangan itu. Saya sarankan untuk lain kali berhati-hati jangan sampai hal ini terulang kembali. Karena bisa saja suatu saat nanti posisinya tidak akan sama seperti ini. Anda bisa saja kehilangan janin anda!" Jelas Dokter


"Apa kau sedang tidak berbohong denganku? Dari dua hari kemarin tingkah laku mu aneh dan ceroboh. Bisa saja yang dikatakan Dokter benar karena ia lebih tahu tentang kasus kesehatan ini, dan kau sedang bermain umpat denganku." Kata Arya


"Mohon untuk tidak bertanya seperti itu, Tuan. Terkadang Dokter bisa saja salah mendiagnosa akibat ketidaksesuaian dengan data yang didapatkan dari pasiennya." Bela Dokter itu


Arya yang sempat marah karena khawatir, tidak lagi menginterogasi Dini yang terlihat ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2