
2 Minggu Kemudian...
Zayn telah dinyatakan pulih oleh Dokter. Keadaannya pun terlihat sehat bugar seperti biasanya. Identitas dan juga jati diri baru yang mengungkapkan siapa dirinya membuat ia sangat senang akhirnya penyakit Amnesia yang membuatnya menderita kini telah mengingat segalanya.
Tanpa sepengetahuan Pak Antonio dan juga Ibunya, Zayn diam-diam nekat keluar rumah untuk bisa menemui Dini di rumah Arya.
Rumah Arya.
Dini membuka pintu untuk Zayn yang mengetuk pintu rumahnya. Kebetulan Arya sudah pergi bekerja, jika melihat Zayn datang tiba-tiba, Arya pasti akan cemburu dan mengusirnya.
"Tuan Zayn kau datang kemari. Bagaimana jika ayah Tuan tahu jika kau datang ke sini, dia pasti akan marah." Seraya Dini sontak melihatnya
"Tidak ada yang tahu kepergian ku kemana. Aku aman pergi mengunjungi rumah siapapun tanpa ada yang mengawasi." Kata Zayn
"Baiklah, Mari silakan masuk." Ujar Dini
Zayn pun masuk dan duduk di sofa tamu. Dini meminta Bu Shani untuk membawakan minuman kopi yang diinginkan Zayn beserta camilannya.
Lantas Dini menanyakan kedatangan apa yang membuat Zayn ke rumah suaminya. Ia menjelaskan jika Arya ada di perusahaan, namun Zayn bukan ingin bertemu Arya. Banyak sekali perbincangan yang diceritakan Zayn pada Dini. Dini pun terlihat menikmati Zayn yang bercerita dan menjadi pendengar yang baik.
"Aku sempat mencintaimu, Tapi aku mengingat jika kau adalah adik kecilku. Kakak mana yang mencintai adik perempuannya sendiri dan ingin menikahinya. Konyol! Satu kata untukku jika kau mengetahui hal ini, Din."
"Ada apa Tuan Zayn? Sepertinya hari ini kau sedang bahagia." Ujar ini keanehan melihat Zayn tertawa-tawa kecil sendiri padahal dirinya sedang tidak melucu
"Iya, Dari kemarin aku sangat senang. Akhirnya aku bisa mengetahui kebenaran mengenai dunia ini. Ini mengenai hidup dan keluarga ku." Kata Zayn
"Dan sepertinya kebenaran itu membuatmu menjadi jati diri yang baru. Itu terlihat wajahnya yang berseri dan mudah tersenyum kali ini."
"Benar sekali. Nanti keluargaku akan senang."
Walaupun tidak mengerti apa yang dikatakan Zayn. Dini menyudahi pembicaraannya dengan topik lain.
"Bagaimana dengan kehamilan mu? Sudah memasuki berapa bulan?"
"Saat ini sudah berusia 4 bulan." Jawab Dini
"Jaga kehamilan mu. Minum banyak vitamin dan susu ibu hamil agar kau kuat. Jangan lupa makan yang banyak tanpa memikirkan bagaimana jika tubuhmu akan gemuk. Bayi dan ibunya senantiasa harus sehat. Dan ya, setiap bulan kau harus kontrol ke rumah sakit untuk mengetahui bagaimana perkembangan kehamilan mu." Ucap Zayn perhatian seolah menasihati adiknya
Dini tertegun melihat sikap Zayn yang berubah signifikan tidak seperti biasanya. Biasanya Zayn selalu malu-malu bicara dengan dirinya, tapi kali ini dia sangat hangat bahkan tidak segan memberi perhatian seperti seorang kakak.
__ADS_1
"Aku adalah seorang dokter juga. sepertinya tidak perlu pergi ke rumah sakit untuk pergi kontrol." Ucap Dini sambil tertawa
"Oh iya, Aku baru ingat kau adalah seorang dokter. Dari dulu aku selalu heran, jika seorang dokter sakit apakah mereka akan pergi ke rumah sakit untuk diperiksa dokter? Tapi kan mereka Dokter. Kau bisa menjawabnya? Apa pendapatmu dari sudut pandang yang berprofesi dokter sendiri?"
Pertanyaan Zayn membuat Dini tertawa.
"Selalu pikirkan pertanyaan itu sampai Tuan Zayn hidup tenang." Malah jawab Dini bercanda
"Dokter Dini, Apa aku boleh memanggilmu dengan namamu saja?" Tanya Zayn tiba-tiba
"Tentu saja Tuan, Silakan. Dari dulu seharusnya kau tidak perlu memanggilku seperti itu."
"Begini Din, Aku sempat mendengar dari ayah ibumu jika kalian kehilangan anak pertama mereka, Itu artinya ia adalah kakak mu."
"Iya, Itu benar. Kakak ku hilang di pasar saat ikut menemani ibu berbelanja dan saat mengandungku juga. Kakak ku di culik dan tidak akan pernah kembali rasanya." Jawab Dini merenung
"Kenapa kau menganggap dia tidak akan pernah kembali?" Tanya Zayn sedih
"Buktinya sudah 27 tahun dia tidak pernah mendatangi kami. Entah dia masih hidup atau penculik itu membuatnya kehilangan nyawa, Kami tidak tahu. Aku hanya ingin bertemu dengan kakakku." Jawab Dini menunduk
"Kakak ada di sini. Sangat dekat denganmu, dan kita sering bertemu." Gumam Zayn bersedih menatap Dini nanar
"Maka apalagi, Aku akan memeluknya erat. Aku ingin berlama-lama menatap wajah kakak ku yang pastinya sangat tampan. Aku akan menagih janji yang diucapkan kakak pada kami. Kakak akan membawa kami ke rumah yang besar, Aku juga akan menagih kasih sayang yang seharusnya ku dapatkan dari seorang kakak. Ibu mengatakan dia banyak berjanji pada kami, tapi dia mengingkarinya sampai membuat kami menderita. Dia munafik, bahkan jika boleh aku membencinya."
Lalu, berkata kembali
"Kakak harus membayar janji kakak. Aku ingin bertanya padanya, kenapa pergi meninggalkan kami bahkan sangat lama sekali? Kemana saja kakak pergi, kami mencarimu?" Ujar Dini meluapkan keluh kesahnya
"KAKAK ADA DI SINI!!!"
Deg!
Spontan Dini melirik ke arah Zayn dan manik mereka bertemu saling menatap.
Dini tergelak dan menganggap Zayn sedang bergurau.
"Hhh,,, Tuan Zayn bercanda mu itu tidak lucu. Aku akui kau adalah aktor yang hebat, seharusnya kau masuk ke sebuah agensi yang bisa menaungi kemampuan akting mu." Pungkas Dini
Zayn memegang kedua bahu Dini dan menariknya berbalik agar Dini bisa menghadap ke arahnya.
__ADS_1
Zayn berbuat berani memegang Dini karena alam tahu mereka adalah adik kakak dan tidak ada penghalang seorang kakak sangat dekat dengan adiknya. Ia bukan seorang pria yang tidak memiliki hubungan darah dan akan menikahinya. Dia adalah kakaknya!
"Lihat aku! Apakah terlihat dari wajahku aku sedang mengajakmu bercanda? Aku serius, Tidak sedang bercanda." Kata Zayn benar-benar serius dan tidak melihat guratan celah untuk bergurau
Dini hanya menatapnya tidak percaya. Saat sadar jika mereka sangat dekat, Dini melepaskan tangan Zayn dari bahunya dan merasa kurang nyaman.
"Tuan Zayn, kau tahu aku wanita bersuami. Jika ada orang yang melihat akan menimbulkan fitnah." Kata Dini
"Tidak ada kata fitnah hubungan yang terjalin antara adik perempuan dan kakak laki-lakinya. Kita memiliki hubungan darah yang sama mengalir di tubuh kita." Bujuk Zayn
Dini masih tetap tidak percaya. Ia masih menganggap itu adalah hal yang mustahil. Bagaimana seorang pasiennya bisa datang menjadi kakak yang dulu tidak pernah mengenal sebatas teman yang memiliki batasan.
"Percayalah padaku. Kau adalah adik kecilku. Aku pernah mengatakan semua janji itu dan akan membayarnya padamu secepat mungkin. Aku adalah Zayn, Kakakmu yang hilang 27 tahun lalu. Waktu sudah mempertemukan kita adik, kakakmu sudah kembali!" Pungkas Zayn
"Atas kesadaran apa kau mengaku sebagai kakakku?" Tanya Dini tanpa melihat ke arah Zayn
"Atas kesadaran ingatanku pulih dan mengingat semua masa lalu yang menjadi jati diriku. Aku sudah mengingat semuanya, dan mereka yang mengaku orang tuaku adalah dalang dibalik semuanya membuatku tidak ingat pada kalian." Pungkas Zayn sambil menitikkan air mata
Dini terkejut. Sontak ia melihat ke arah Zayn dan menatapnya lekat dengan nanar. Ia tidak percaya, tapi ia menginginkan kepercayaan itu. Dini berharap jika dikatakan Zayn benar dan tidak sedang bermain-main.
"Itu tidak mungkin. Kakak ku pergi sudah sangat lama dan tidak mungkin akan kembali." Tegun Dini
"Ini mungkin. Buktinya aku ada dihadapan mu saat ini. Apa kau tidak ingin memeluk kakak mu sangat erat seperti yang kau katakan tadi?" Ujar Zayn merentangkan tangannya
Dini menatap Zayn sangat lekat sampai tak sadar mengeluarkan air mata. Logikanya menolak, dan nalurinya berkata jika Zayn adalah benar kakaknya.
"KAKAK!!"
Dini menerjang Zayn dengan pelukan erat dan banjir air mata yang membasahi di dada bidang Zayn.
Zayn pun sama halnya memeluk Dini erat, ikut menangis dan mencium pucuk rambut adiknya.
"Kemana saja? Kenapa baru ingat sekarang, Kenapa tidak ingat dari dulu dan datang pada kami? Aku selalu menantimu, Kak." Tangis Dini
"Maafkan Kakak, Kakak memang bersalah pada kalian. Jika kakak tidak bodoh dan percaya pada penculik itu, kakak pasti akan bersama kalian dari dulu hingga sekarang melindungi kalian."
Dini sangat bahagia. Seorang kakak yang hilang bertahun-tahun akhirnya telah ditemukan dan datang dengan sendirinya. Mengetahui hal ini akan membuat kebahagiaan baru di tengah keluarga mereka. Pak Malik dan juga Bu Lia adalah orang yang pasti paling akan senang mengetahui kabar ini.
Hubungan terbaik di semesta adalah hubungan kakak dan adik. Tidak ada perpisahan, tidak ada ketakjujuran, tidak ada patah hati. Sebaliknya, cinta yang luar biasa, kepedulian yang efektif, dan loyalitas yang berlebihan.
__ADS_1