Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 34 - Sakitnya Arsen


__ADS_3

Setelah siang hari ia menemui Valerie dalam penjara. Ia diantarkan oleh Shasa yang tidak ada satupun yang tahu mengenai kehadirannya mengantarkan pulang Arsen.


Saat Arsen kembali pulang, keluarga yang sudah mengkhawatirkan dia begitu tampak lesu dan tidak bergairah menghiraukan keluarganya. perasaannya hancur dan tidak ada satupun yang ia percaya selain yang dikatakan Valerie yang terus berputar dalam kepalanya.


Mereka bersyukur Arsen dapat pulang dengan selamat setelah dilaporkan hilang entah kemana dari kabar Pak Ari yang menjemputnya. mereka mencari kemana-mana, namun tidak ada yang tahu.


Keluarga pun sangat heran kenapa Arsen bisa menghilang dan pulang dengan siapa sampai ia kembali tampak memendam kesedihan seperti itu.


Dalam kamar, Arsen mengunci pintu dari dalam. la tidak ingin ditanyai ataupun bertemu dengan keluarganya.


"Ini semua karena ayah. Ayah sudah mempenjarakan ibu Valerie yang tidak salah hanya demi wanita yang ayah cintai." Kata Arsen yang merenung dalam kamar


"Aku tahu ibu Valerie bukanlah ibu yang sudah melahirkan ku. Dia sendiri orang jujur yang mengatakannya langsung padaku tanpa ada yang ditutupinya."


"Dia adalah seorang ibu di dunia ini yang jahat dan juga munafik. Dia tidak pantas untuk menjadi ibuku."


"Aku tidak peduli seberapa banyak mereka menjelaskan padaku mengenai ibuku nanti. mereka juga tidak pernah mengatakannya sejak dari awal, itulah yang tidak membedakan dari kalian yang sama saja seperti pembohong. Orang tua Devan pun mengetahui jika ibuku adalah seorang yang jahat, tapi mereka tidak kenal siapa yang jahat sebenarnya."


Hingga malam Arsen tidak pernah keluar dari kamarnya. Ia mengurung diri dalam kamar sekuat apapun orang di rumah mencobanya meyakinkan untuk keluar hanya sekedar makan.


Waktu berlalu semakin petang. Keluarga di rumah semakin khawatir mengenai keadaannya dalam kamar yang tidak ingin mengeluarkan diri.


Arya mencoba mengetuk pintu kamar Arsen dengan mencoba meyakinkannya. Namun, tidak satu pun sumber suara ataupun sahutan yang terdengar dari dalam.


Berinisiatif Arya mendobrak pintu yang terkunci dari dalam.


Dengan satu kali dobrakan akhirnya pintu terbuka. Mendapati Arsen yang meringkuk di atas ranjangnya dan tertutup selimut tebal.


Bu Amira pun yang sangat khawatir dari sejak siang menghampiri cucunya saat pintu berhasil terbuka. Saat ingin memeluk, Bu Amira merasakan tubuh Arsen sangat panas. Hal itu mencuat spekulasi jika Arsen demam.


"Arsen... Tubuhmu sangat panas." Ujar Bu Amira meletakkan telapak tangan di dahi Arsen


"Kenapa Bu?" Tanya Arya


"Arya, Tubuh Arsen sangat panas!" Beritahu Bu Amira dengan cemas


Dengan gerak cepat Arya menghampiri putranya dan menyentuh kening Arsen untuk mengecek suhu tubuhnya.


Setelah dipastikan pernyataan Bu Amira benar, Arya membawa Arsen menuju rumah sakit dan kebetulan Luna masih sibuk di sana.

__ADS_1


Sampai di rumah sakit, Arsen langsung diperiksa oleh Luna. Arsen mengalami hipertermia yang menyebabkannya typus, Luna pun mengupayakan untuk di rawat inap.


...***...


Di sekolah.


Dini mengantarkan Ansel dan seperti biasa ia selalu menemui Arsen. Namun, Untuk hari ini ia menunggu sedari tadi dan sama sekali tidak mendapati Arsen. Bahkan Gino pun sebagai teman dekatnya tidak tahu apa yang terjadi pada Arsen yang tidak sekolah hari ini. Arsen sedang sakit dan di rawat inap!


"Kemana hari ini Arsen yang tidak sekolah? Apa Arsen baik-baik saja di mansion itu? Tidak biasanya dia tidak datang sekolah seperti ini. Jika pun terlambat, tapi ini sudah siang sekali." Tanya Dini kebingungan. dia pun pergi dan melajukan mobilnya


Tibanya di rumah sakit yang menaungi dia sebagai dokter. Seorang dokter sekaligus pemilik rumah sakit itu mengajak Dini mengikuti kunjungan supervisi ke salah satu rumah sakit yang tak kalah difasilitasi alat kesehatan yang canggih dan pelayanan terbaik.


Tanpa basa-basi dan permintaan atasannya ini tidak bisa digugat, Dini selalu menuruti permintaan yang diberikan padanya. Walaupun enggan, namun atasannya selalu memaksa.


Di rumah sakit milik Luna.


"Apa Arsen sudah sadarkan diri? Ini sudah dari sejak malam dia belum tersadar." Tanya Arya


"Belum. Kakak tenang saja Arsen pasti akan bangun nanti. Sekarang kakak tidak perlu khawatir dan silakan untuk pergi ke perusahaan. Ada aku dan ibu yang menjaga Arsen." Ucap Luna


"Benar Arya. Kau tidak perlu khawatir. Ibu akan tetap di sini bersama Luna. Tapi sepertinya Luns juga harus mengikuti kegiatan lain. Ada kunjungan supervisi dari rumah sakit lain ke rumah sakit, Bukan?" Ucap Bu Amira


"Oh baiklah..." Paham Bu Amira


Arya tidak setuju. Dia memutuskan untuk tidak pergi ke perusahaan dan memberikan tanggung jawabnya sehari pada Asisten Damsr. Dia tetap menjaga Arsen yang masih belum terbangun. Demi mencoba menjadi seorang ayah yang baik.


Kunjungan supervisi yang dilakukan Dini bersama dokter lain pun telah dilakukan yang memakan waktu kurang lebih 3 jam lamanya. Banyak sekali observasi yang mereka dapat dan dapat dijadikan evaluasi.


Setelah 3 jam, kegiatan mereka telah selesai dan pada akhirnya akan pulang. Namun, sebelum sampai di luar rumah sakit, Dini melewati salah satu ruang inap yang membuat langkahnya terhenti dan lirikannya tertuju menatap ruangan itu.


Perasaannya ingin terus menariknya agar masuk ke dalam. Ia tidak tahu apa yang menyebabkannya seperti itu. hatinya menjadi gundah dan tidak tenang.


Perlahan ia mengikuti kata hatinya untuk masuk ke dalam. Tertinggal sendiri dengan rombongan yang lain.


Saat masuk matanya mendapati Arsen yang terbaring lemah tertidur dengan infus yang terpasang.


Dini mulai sadar apa penyebab Arsen tidak sekolah hari ini. Ternyata dia sedang sakit!


Perasaan seorang ibu mana yang tidak tega melihat anaknya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.

__ADS_1


"Arsen, apa yang menyebabkan mu sakit seperti ini, Nak? Ternyata kau sakit yang menyebabkan mu tidak sekolah. Apa yang terjadi?" Hampiri nya dengan cemas


"Ayo bangunlah sekarang. Ibu ada di sini bersamamu." Ujar Dini yang menangis dengan menggenggam erat tangan Arsen


"Sejak dari kapan kau sakit seperti ini? Kenapa tidak ada yang memberitahuku." Ucap Dini yang lupa akan kesadaran tidak ada yang mungkin memberitahunya


Hal itu ia lontarkan akibat kekhawatiran yang mendalam melihat putranya ada di rumah sakit.


"Melihatmu sakit seperti ini membuat rasa bersalah ibu yang pergi semakin sakit hati. Ibu tidak bisa membayangkan bagaimana keadaanmu yang sakit dan ibu tidak ada bersamamu untuk merawat mu." Kata Dini


"Maafkan ibu yang egois sudah pergi meninggalkan mu di sini sendiri yang lebih memilih membawa adikmu bersama ibu." Ujar Dini


"Ibu tahu kau sangat menginginkan kasih sayang dari ibumu. Ibu berjanji akan mengatakannya setelah kau bangun bahwa aku adalah ibumu. Kau pasti akan senang, Bukan? Maka dari itu bangunlah sekarang! Cepatlah sembuh agar ibu tidak mengkhawatirkan mu." Terusnya berbicara pada Arsen yang diharapkan segera bangun


Melihat pergerakan dari tangan Arsen, Dini menyangka Arsen akan segera bangun. Terlihat juga darinya yang perlahan membuka mata.


"Arsen..." Panggil Dini


Dengan pandangan yang lemah dan samar Arsen membuka matanya sayu melihat seseorang yang berada di sampingnya.


Dengan pandangan dan pikiran yang sedang belum stabil, Arsen masih mencerna kondisi yang ada.


Sekiranya ia sudah sadar dan kembali stabil pada pikirannya sendiri, Arsen beraut wajah berbeda dan juga menampilkan tatapan tajam tidak suka pada Dini.


"Akhirnya kau sadar juga, Arsen." Ucap Dini senang putranya tersadar


"Syukurlah kau sudah terbangun. Sehingga ibu tidak mengkhawatirkan mu lagi." Tanpa sadar Dini telah menyebutnya sebagai ibu


Arsen meremang, tubuhnya bergetar hebat memuncak kan emosinya sangat besar saat mendapati Dini berada dihadapannya.


Arsen terlihat meraih selang infus yang ingin ia lepaskan.


"Arsen, Apa yang kau lakukan? Kau masih sakit dan tidak boleh melepaskan selang infus mu." Ujar Dini


Tanpa mendengarkan, Arsen bangkit dari tidurnya dan dengan amarah ia mendorong Dini sekuat tenaga yang terus berbicara dan menunjukkan perhatian padanya yang tidak disukai olehnya.


Di seusia kecil Arsen yang masih kecil dan postur tubuh yang kecil. Dia berhasil mendorong Dini sampai terpental ke belakang.


"KAU BUKAN IBUKUU...!" Suara Arsen yang berteriak menggema di seisi ruangan itu

__ADS_1


__ADS_2