Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 23 - Terulang Kembali


__ADS_3

Di Mansion Pratama~


Pada waktu yang sudah menunjukkan 18.00 WIB.


"Arsen, Tadi pagi kau dibekali makan dari Bu Ashna? Apa yang nenek siapkan itu tidak cukup? Jika begitu besok nenek akan menyiapkan bekal dengan porsi yang banyak." Tanya Bu Amira yang akan pergi ke dapur untuk membantu menyiapkan makam malam dan tidak sengaja bertemu Arsen dengan turun sambil menenteng dua buah kotak makan


"Tidak." Jawab Arsen singkat dan dingin


"Oh, Pasti Bu Shani yang terlanjur membuatkannya untuk mu, Ya. Dan untuk menghargai kerja keras mereka kau membawa kedua bekalnya ke sekolah." Ucap Bu Amira yang menduga


"Tidak." Jawab singkat Arsen lagi


"Lalu, Kau membeli kotak makan baru?" Tanyanya lagi


"Tidak." Jawabnya lagi


"Ayolah cucuku, jelaskan semuanya pada nenek! Nenek merasa heran. Padahal nenek ingat tadi pagi hanya menyiapkan satu bekal makan." Kata Bu Amira greget mendapatkan respon yang selalu dingin dari cucunya


"Bekal makanan ini diberikan oleh ibu temanku. sudah beberapa kali dia membuatkan makanan dan memberikan bekal makan ini padaku seperti saat ini. Aku membawa pulang untuk ditunjukkan pada nenek." Jelas Arsen


"Owh,,, Coba nenek lihat." Ambilnya dan langsung dibuka



"Indah sekali... makanannya dihias sedemikian rupa sampai berbentuk bagus seperti ini." Kagum Bu Amira menyukainya juga


"Ibunya sering membuatkan bekal makanan seperti itu setiap hari dengan berbentuk yang berbeda-beda." Kata Arsen memberitahu


"Rasanya pun terlihat sangat enak. Kau sudah mencobanya, Kenapa dibawa pulang? Apa karena kau malu diperlakukan seperti anak kecil yang menyukai kartun? Dan karena tidak ingin terlihat dewasa kau menerimanya saja sebatas menghargai?"


"Sama seperti nenek yang memujinya dengan indah. Aku merasa tidak tega memakan makanan yang dibuat dengan karya seni seperti ini. Ibunya pasti membuatnya dengan susah payah dan kami sebagai anak malah menghancurkan apa yang sudah dibuat." Ujar Arsen


"Ini tidaklah sulit bagi seorang ibu yang hebat. seorang ibu selalu membuat cara bagaimana anaknya berselera untuk makan agar tidak sakit. Jika tidak dimakan, lalu apa yang akan kau lakukan dengan makanan ini, hum? Padahal ini sudah menjelang malam dan bisa saja basi. Menghargai kerja keras seseorang bukanlah dengan cara mendiaminya.contoh saja hal ini, dengan cara kau tidak ingin memakannya, bentuk itu bukanlah rasa menghargai tapi dengan cara kau harus memakannya." Ucap Bu Amira memberikan pengertian


"Entahlah Nenek, Aku hanya menjadi teringat akan ibuku yang andai saja ada di sini dan membuatkan bekal makan untukku setiap hari seperti ini. merasakan apa yang dirasakan anak yang lain bersama ibunya, aku merasa hal itu terjadi juga padaku, Aku menganggap dia seperti ibuku yang sedang berdiri dan memberi pesan pada anaknya sebelum masuk sekolah." Ingat Arsen pada pertemuannya dengan Dini pertama kalinya waktu itu


"Kau pasti sangat merindukan ibumu?" Sedih Bu Amira


"Tidak tahu. Aku bingung harus merindukan ibuku bagaimana. pernah bertemu atau tahu dirinya pun tidak, bagaimana aku memiliki perasaan seperti itu padanya sejak kecil aku dirawat oleh Nenek."

__ADS_1


"Kasihan sekali cucuku... Nenek tahu kau sangat menantikan ibumu. Nenek tahu kau pasti sedih dan iri melihat anak lain bersama ibunya. Kau sedih dan kau rindu, namun kau sendiri tidak bisa mengekspresikan perasaan mu harus mengadu pada siapa." Sedih Bu Amira bergumam


Arsen pun kembali pergi menaiki tangga menuju kamarnya. Ia meninggalkan kotak makan itu bersama neneknya yang diharapkan akan dimakan saat waktu makan malam nanti.


"Apa itu Bu?" Tanya Arya yang sudah pulang dan membersihkan diri


"Ini adalah bekal Arsen yang diberikan oleh orang tua temannya." Jawab Bu Amira yang mencoba menghangatkan makanan itu dalam microwave


"Sebuah nasi bento yang sangat kreatif. Nasi bekal unik yang menggugah selera." Puji Arya


"Ibu temannya pasti bukanlah seorang ibu yang sembarangan. ia pasti sangat cerdas merawat anaknya." Kata Bu Amira


"Arsen memiliki teman yang selalu bersama dengannya yakni Gino dan juga teman baru dari sekolah pindahan luar negeri, Ansel."


"Lalu, Apa yang membuatnya berbeda?" Tanya


"Ibunya..." Tegas Arya


"Mungkinkah Dini yang memberikan ini untuk Arsen. Itu artinya kedekatan mereka terjalin sangat dekat, dia sudah mengetahui keberadaan Arsen, dan apakah ia melakukan ini setelah mengetahui jika Arsen adalah anaknya. Dan Arsen sendiri sudah bertemu dengan ibunya." Gumam Arya dengan jantung yang menggebu senang


"Apakah ibu tahu siapa orang tua yang memberikan makanan ini untuknya?" Tanya Arya


"Boleh aku mencicipinya?"


Bu Amira malah terkekeh.


"Sebentar lagi makan malam akan siap dan bersabarlah menunggu jika kau sangat lapar. kau seperti anak kecil saja Arya." Pungkasnya


"Tapi ini bukan makanan penunjang yang hanya dikhususkan untuk anak kecil atau makanan lain khusus bayi. Makanan ini dibuat untuk semacam untuk orang dewasa, hanya saja dibentuk seperti karakter." Kata Arya yang menunjukkan pikiran logisnya


"Ibu tidak yakin jika kau akan benar-benar mencicipi makanan ini. Ansel baru saja berpesan untuk tidak ada siapapun yang memakannya."


"Hanya satu suap dan setelah itu selesai." Keras kepalanya


Suapan pertama sudah masuk ke dalam mulut dan sedang dikunyah. Sensasi makanan yang dirasa sangatlah lezat dapat menggugah lidah untuk terus memakannya.


Saat merasakan makanan itu, seketika Arya terhenti dan meneliti setiap inti cita rasa yang ada bercampur menjadi makanan yang lezat.


la tidak asing merasakan makanan itu. Rasanya begitu familiar dengan seseorang yang sering membuatkan makanan.

__ADS_1


Restaurant? Catering? sepertinya bukan. Ciri khas rasa masakannya sama persis seperti yang sering Dini buatkan. Cita rasa masakan yang lezat dan selalu menggugah selera makannya menjadi lahap.


Untuk beberapa tahun setelah sekian lama Arya bisa merasakan bagaimana masakan istrinya itu.


Tanpa sadar dan tanpa diketahui oleh Bu Amira yang sibuk membantu di dapur. Arya sudah memakan sebagian makanan milik Arsen itu.


Arsen datang dan tiba-tiba berteriak pada ayahnya.


"Kenapa jadi Ayah yang memakan makanan ku?" Teriak Arsen menghampiri


Bu Amira bersama yang lain sedang sibuk di dapur pun melirik ke arah ruang makan.


"Apa yang terjadi di sana? Arsen berteriak pada Arya?" Pungkas Bu Amira terkejut dan menghampiri mereka


Arya tertegun menatap makanan yang tanpa ia sendiri sadari telah menghabiskan sebagiannya.


"Arsen ada apa, kenapa berteriak pada ayahmu?" Datang Bu Amira langsung bertanya


"Kenapa nenek memberikan makanan ku pada ayah? bukankah aku sudah menitipkannya pada Nenek."


Bu Amira menatap kotak makan itu yang ternyata sebagiannya sudah habis. lalu, menatap tidak percaya pada Arya.


"Arsen, Ayah benar-benar tidak sadar sampai menikmati makanan ini." Klarifikasi Arya


"Arrghhh... Ayah menghancurkan segalanya." Sentak Arsen


"Arsen sayang, Itu hanya sebuah makanan. Nenek sudah memasak dan kita akan makan bersama-sama." Bujuk Bu Amira


Arsen tidak bisa dibujuk ataupun dirayu lagi. la marah barang miliknya diambil oleh orang lain.


Melihat temperamental Arsen saat ini membuat Arya seolah sedang bercermin pada dirinya sendiri.


Saat ini memorinya teringat pada kejadian di masa lalu yang di mana hal serupa terjadi saat Arya marah pada ayahnya hanya karena makanan yang dimasakkan Dini di makan habis.


Saat itu juga Arya sangat marah tidak bisa dikendalikan sampai berujung pada pertengkaran.


"Jangan memarahi dia. Kau harus tahu jika Arsen saat ini sama seperti mu dulu. Hadapi dia dengan tenang, bukan dengan emosi." Bicara Bu Amira mengingat kejadian persis ini di masa lalu yang masih membenak


Arya terdiam membisu tidak bisa berkutik dan hanya menatap sayu pada lantai.

__ADS_1


"Lihatlah putra kita Dini. Sihir apa yang kau pergunakan pada makanan yang kau buat. Dulu aku marah pada ayahku juga hanya karena masakan mu, dan sekarang putramu sendiri marah pada ayahnya. Kau tidak sadar betapa istimewanya dirimu dalam hidup kami."


__ADS_2