Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 07 - Pergi Ke Indonesia


__ADS_3

"Jadi ayah akan pergi?" Ucap Ansel yang sudah berada di belakang mereka, menyusul ke taman


Darwin pun harus menengok ke belakang dan melepaskan genggaman dari tangan Dini.


"Ansel, kau ada di sini?" Ucap Darwin yang terhenyak


"Tidak perlu bertanya padaku. Ayah akan pergi ke mana? Kenapa ibu mengatakan akan tetap disini, tapi ayah akan pergi?"


"Ansel, Ayah tidak akan pergi kemana-mana, dia pergi seperti biasa untuk bekerja." Ujar Dini yang menghampiri


"Bohong! Ibu dan Ayah bohong. Aku ingin ikut dengan Ayah." Rengek nya


"Dengarkan ibu, kita tidak bisa pergi bersama ayah karena kau harus sekolah. jika kita ikut, bagaimana dengan sekolah mu?" Ujar Dini


"Aku tidak ingin sekolah, aku hanya ingin ikut dengan ayah. Ayah, aku mohon ajak aku juga pergi bersama ayah." Ujar Ansel menangis


Sulit memang rasanya bagi keduanya untuk saling meninggalkan dan pergi jauh tanpa bisa bertemu. Ansel sangat dekat dengan ayahnya, seorang anak tidak akan mungkin bisa ditinggal jauh oleh kedua orang tua mereka.


"Kita tidak bisa pergi ke Indonesia, Nak!" Kata Dini membujuk


"Memangnya ada apa dengan Indonesia, Bu? Kenapa kita tidak ikut bersama ayah ke sana? Bukankah ayah dan ibu juga lahir di sana?"


"Kau tidak akan tahu bagaimana kehidupan ibumu ini di sana dulu Ansel. Jika kita berada di sana, ibu tidak bisa menerima jika takdir bisa saja mempertemukan kita dengan keluarga yang lain di sana." Gumam Dini


Darwin pun berpikiran yang sama. ia melihat Dini dengan nanar, ia tahu isi hati dan pikiran yang menjadi kebimbangannya saat ini.


"Ansel, Ayah tidak akan lama berada di sana. Kau harus fokus sekolah. jika kau ikut, bagaimana dengan teman-teman mu di sini? Mereka pasti sedih kehilangan satu temannya." Ucap Darwin yang mengambil alih untuk memberi pengertian


"Aku bisa bersekolah di sana dan mendapatkan teman yang baru." Ujar Ansel


"Lalu, bagaimana dengan ibu yang harus bekerja di rumah sakit?" Timpal Darwin


"Buatkan saja rumah sakit di Indonesia dan ibu masih tetap bisa bekerja. Ayah kan memiliki banyak uang. Sebenarnya aku tidak ingin ibu harus bekerja, aku ingin ibu diam di rumah dan merawat ku sepenuhnya." Ujar Ansel murung


Tidak mungkin bagi Dini saat ini harus mengorbankan profesi yang sudah ditekuni dari salah satu cita-citanya yang ia tahan banting untuk berjuang. sudah memiliki seorang anak, akan terasa sulit jika harus membagi waktu dengan segala prioritas yang ada.


"Itu tidaklah mungkin karena kita tidak akan tinggal selamanya di sana. Sudah ayah beritahu jika ayah tidak akan lama. lebih baik Ansel di sini bersama ibu dan sekolah bersamanya, Ya?" Kata Darwin


"Sekali tidak tetap tidak! Aku hanya ingin pergi ke Indonesia bersama dengan ayah!!" Keras kepala Ansel


Darwin dan Dini semakin bingung.


"Bagaimana ini Din? Ansel tidak bisa diyakinkan begitu saja, Dia terus ingin ikut denganku ke negara itu. Semua keputusan berada di tanganmu." Ujar Darwin


Dengan menarik napas panjang setelah berpikir sejenak, Dini berharap ini adalah keputusan yang tepat.


"Berat untuk mengatakan ini. Tapi aku tidak mungkin membiarkan Ansel menjalani hidup di sini sendirian tanpamu. aku hanya berdoa agar tidak ada yang terjadi pada hidupku di sana, Aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia! Ikut ke sana bersama denganmu!" Lirih Dini dengan gemetar

__ADS_1


Keputusan besar sudah di ambil dan Darwin menerima keputusan Dini demi keinginan Ansel. Walaupun tidak ingin rasanya ia menyeret Dini kembali ke negara itu.


Darwin pun berharap Dini akan baik-baik saja sambil tak luput dari memberikan keamanan ketat yang akan ia berikan untuk menjaga Dini selama di sana.


Setelah memberitahukan akan kembalinya mereka ke Indonesia pada keluarga. Dengan berat hati Nek Arini, Bu Lia dan Pak Malik, harus mengikuti mereka kemana pun pergi. Karena tidak mungkin mereka akan berada di negara orang dengan tujuan yang tidak jelas melihat Darwin dan Dini akan ke Indonesia.


Waktu malam, Dini dan Darwin mengemas pakaian dan barang-barang mereka masing-masing ke dalam koper.


Setelah selesai mengemas barang-barangnya terutama Dini yang mengemas barang Ansel. Ia malam-malam mendapatkan panggilan dari seseorang yang hanya nomor saja.


Ditakutkan penting, Dini pun menjawab telepon itu.


"Halo! Kau benar Dokter Dini?" Ucap seseorang yang terdengar


"Iya Benar, Ini siapa, Ya?" Tanya Dini


"Satu hari bertemu dan kita banyak berbincang. anda sudah lupa dengan suara saya."


"Maaf, saya benar-benar tidak kenal." Jawab Dini


"Saya Zayn, pasien yang anda periksa tadi pagi." Ucap Zayn yang menelepon


"Agh, iya, maafkan saya tidak mengenal suara anda karena terdengar berbeda di telepon. Ada apa Tuan Zayn menelepon malam-malam?" Tanya Dini


"Apa saya mengganggu waktu dan bahkan anda sudah tidur?" Ucap Zayn


"Tidak, kebetulan saya belum tidur, Handphone berdering dengan nama tidak dikenal saya langsung mengangkatnya." Jelas Dini


"Tidak, Tuan Zayn. Sungguh tidak menggangu, jika anda membutuhkan sesuatu, katakan saja!" Pungkas Dini tidak merasa keberatan


"Baiklah, sebenarnya saya ingin memberi kabar pada anda."


"Ya, Katakan saja!"


"Saya ingin mengatakan jika sepertinya saya tidak bisa melanjutkan pengobatan ini."


Lalu, berkata lagi


"Karena saya ditugaskan untuk pergi ke negara lain dalam jangka waktu yang panjang." Ucap Zayn


"Emm... Tuan Zayn, sepertinya saya juga tidak bisa menjadi dokter pribadi anda. Saya memiliki urusan lain di suatu negara dan tidak mungkin bisa melakukan pengobatan pada anda karena saya akan tinggal lama di sana, dan kita pun akan sulit untuk saling bertemu."


Mereka pun saling tertegun.


"Kenapa alasan kita sangat sama? Ke negara mana Tuan akan pergi?" Tanya Zayn


"Indonesia! Dan anda sendiri?" Tanya Dini

__ADS_1


"Eh,,, Saya pun akan pergi ke Indonesia. Kenapa negara tujuan kita begitu sama. Itu artinya kita tetap bisa saling terhubung satu sama lain, saya bisa menjalani pengobatan bersama dengan anda di Indonesia nanti." Ucap Zayn


"Agh,,, lya benar. Awalnya saya sangat khawatir dan mengucapkan rasa penyesalan karena tidak bisa membantu anda. Tapi secara tidak sadar, hubungan kita masih tetap bisa berjalan." Ujar Dini jadi senang


"Jadi, sepertinya ucapan tadi akan ditarik. Apakah kita bisa saling bertukar informasi agar dapat berkonsultasi denganmu." Ujar Zayn


"Iya. Tentu Saja, Tuan. Jika anda memang tetap ingin berkonsultasi dengan saya, jika ingin bersama dokter lain di Indonesia, itu tak jadi masalah." Ujar Dini


"Jangan begitu. Hanya ada satu dokter yang seperti sudah cocok dengan ku. akan sulit bagiku untuk mencari dokter yang bisa membantu diriku."


"Terima Kasih atas kepercayaan anda pada saya, Tuan." Ujar Dini


"Baiklah, karena ini sudah malam, sekali lagi mohon maaf saya menelepon malam-malam. Saya akan tutup teleponnya dan besok tolong untuk memberi keberadaan mu di Indonesia."


"Baik Tuan, Akan saya kirim berbagai informasi untuk menjalankan pengobatan ini pada anda."


Panggilan pun diakhiri.


Tanpa di sangka, sosok seorang pria tengah berdiri bersedekap di depan pintu menatap tajam ke arah Dini.


"Tuan Darwin, kau mengejutkan ku saja. Ada apa, apa tuan membutuhkan sesuatu?" Ucap Dini dengan ramah dan tidak mengartikan tatapan tajam Darwin


"Siapa yang menelepon malam-malam begini? Pria atau Wanita?" Tanya Darwin menginterogasi sambil menghampiri


"Seorang Pria!" Jawab Dini dengan santai


Tanpa ia tahu jika ada hati yang sedang memanas.


"Apa yang kalian diskusikan? Apa tadi arti dari hubungan kita yang berlanjut? Apa dia tidak tahu ini sudah malam dan seharusnya istirahat?" Ucap Darwin meremang


"Memangnya kenapa, Apa salahnya hubungan pasien dengan dokternya? Dia adalah pasien yang memiliki diagnosa berat, dia mengatakan bagaimana ingin berkonsultasi denganku di saat aku sendiri akan pergi ke Indonesia. Tapi ternyata dia akan pergi ke Indonesia juga." Ucap Dini


"Pria itu tidak waras, Ya? Hanya demi dia dapat diperiksa olehmu, dia sampai ingin menyusul mu ke Indonesia."


"Dia pergi ke sana karena sebuah pekerjaan. Aku sudah membuat kesepakatan ini dari awal dengan membantu dia keluar dari penyakit yang diderita. Kebetulan kita berada di negara yang sama, hubungan kita masih tetap berlanjut!" Kata Dini


"Aku lebih baik membatalkan kontrak proyek itu, dan kita tidak jadi pergi ke Indonesia. Simpan kembali barang-barang yang sudah dikemas!" Ujar Darwin yang cemberut


"Apa Tuan cemburu aku dekat dengan pria lain?" Sengaja Dini malah memancing emosi


"Pria mana yang senang melihat wanitanya akrab dengan pria lain." Ujar Darwin


"Tuan Darwin terlalu berlebihan. kau tahu sendiri jika aku wanita setia, mana mungkin aku akan mudah berdekatan dengan pria lain. anggap saja ini adalah hubungan kerja sama, aku membantu pasienku keluar dari masalah kesehatannya." Bujuk Dini


"Kau benar-benar tidak sedang mengerjai ku?"


"Tidak. harus berapa kali aku katakan agar kau percaya padaku?"

__ADS_1


"Baiklah, maafkan aku yang sudah berprasangka buruk padamu." Minta maaf Darwin


Pertikaian mereka pun berakhir. Darwin yang meremang akibat cemburu, mulai mereda.


__ADS_2