
Sampai tak terasa, kini Dini sudah kembali di rumah milik Antonio, Pulau yang mengurungnya. Pikirnya ia sudah berada di kamar miliknya, selama ini hanya bermimpi buruk dari tidurnya dan melihat Arya berada di sampingnya. Namun, semuanya tidak ada perubahan, ia berkali-kali terbangun di neraka yang sama.
Lucas yang langsung datang saat Dini terbangun. Naik dan membuka pintu kamar Dini terbaring. Bukan untuk memapah Dini yang masih lemas, tapi untuk menyeret wanita itu keluar dari kamar.
Apalagi drama yang akan dia lakukan?
Sesampainya di bawah, terlihat seorang pria yang tak asing dan tak bukan anak buah Lucas yang diperintahkan menjaga pintu depan sekitar pulau itu.
"Tuan, tolong maafkan saya, karena sudah lalai dalam menjaga wanita ini," Ucap anak buah itu memohon dengan raut wajahnya yang penuh kekhawatiran.
"Kau memang tidak becus!" Hardik Lucas sambil menyerahkan Dini dengan kasar pada anak buah itu, membuat ia berada di posisi yang sama bersama anak buah yang sedang meminta pengampunan, Dini semakin terisak. Kini ketakutannya bukan hanya sekedar siksaan yang ia dapatkan, tapi juga hukuman untuk orang-orang yang bertugas menjaga dirinya.
Plakk!
Lucas menampar pipi mulus milik anak buahnya, membuat pria itu mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya yang pecah, akibat tamparan Lucas yang sangat kerasa.
"Maafkan aku," Ucap Dini yang kini merasa sangat bersalah dan iba pada anak buah yang salah jalan, namun ia adalah korban kesarkasan Antonio.
"Tidak nona, ini memang salah saya," Ucap anak buah itu ternyata baik hati
Dini sangat terkejut saat menyaksikan hal itu, ia tak habis pikir dengan Antonio dan Lucas yang sangat kejam menindas anak buah yang tidak berdaya. Ternyata, Anak buah Lucas dan Antonio bukan di pihak yang sama! Mereka juga tak segan membenci Antonio. Namun, hanya karena demi nyawa agar tak melayang, mereka menjadi pengikut setianya.
"Siapa yang tadi menjaga gerbang utama di depan? Cepat maju!" Geram Lucas dengan tatapan yang sudah di penuhi kabut amarah. Hingga dua orang bertubuh kekar maju untuk mengakui kesalahannya.
"Maafkan saya tuan, saya sudah ceroboh untuk menjaga wanita ini," Ucap sosok ketua anak buah. Lucas yang melihat ketua itu maju ke hadapannya sambil menunduk, langsung memberi bogeman mentah.
Bugh! Bugh! Bugh!
__ADS_1
Aargh!
Lucas memukul perut ketua hingga pria itu meringis kesakitan. Sungguh Dini menyesali perbuatannya, karena sangat berdampak buruk bagi orang-orang di sekitarnya.
"Lucas, hentikan, ini semua salahku!" Ucap Dini mencoba menghentikan semuanya. Namun, pria itu sama sekali tidak menggubrisnya, seolah ucapan Dini hanya angin lalu.
Betapa terkejutnya Dini, saat melihat Lucas mengeluarkan senjata api dari saku celananya. Sedangkan mereka, hanya menunduk tanpa mengeluarkan sepatah katapun, karena takut dan tidak berani melawan. Bahkan pemandangan itu sudah biasa bagi Dini sekarang. Melihat sebuah pistol yang terus keluar dari saku celana Lucas.
Dorr! Dorr! Dorr! Dorr!
Lucas menembaki dua orang yang bertugas menjaga gerbang belakang dapur, hingga dua orang tersebut langsung meregang nyawa di tempat.
Arrgghh!
Dini kembali berteriak mendengar suara tembakan itu terus menerus sampai membuatnya trauma saat menyaksikan langsung kematian dua orang yang tadi menjaga gerbang utama tersebut.
Benar-benar tidak memiliki hati! Dia membunuh anak buah yang tidak berdaya. Seakan dia Tuhan, sangat angkuh, menganggap bahwa nyawa seseorang ada di tangannya. Semoga suatu saat nanti ia merasakan tembakan sesuai jumlah peluru yang sudah ia lepaskan untuk membunuh banyak orang.
Di sisi lain, sirat terkabar mendengar ultimatum pengadilan yang sudah diputuskan untuk menghukum perbuatan Arya telah keluar. Pengadilan memberikan sanksi yang berat walaupun Arya tidak bersalah, malah masyarakat mendukung jika Arya pembela kebenaran. Pihak Antonio menyerang dengan mengatakan bahwa kejahatan tidak bisa bersembunyi di balik penyelamatan memberantas orang jahat. Hukum tetap tumpul ke atas runcing ke bawah. Tidak ada keadilan bagi Arya. Pengadilan masih menyatakan perbuatan ketidakmanusiaan telah membunuh secara sepihak. Inilah yang dinamakan maling teriak maling!
Dalam Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau KUHP ditegaskan bahwa "Barang siapa dengan siapa dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun."
Hasil persidangan, Arya divonis 15 tahun penjara!
15 tahun. Kedua angka yang saling berdampingan bukan satu ataupun lima, lima belas yang menjadi hukumannya mendekam di penjara dingin jauh dari keluarga, tak bisa menghirup udara segar, adalah kurun waktu yang sangat lama. Bagaimana bisa ia menjalani harinya selama 15 tahun tanpa melakukan apapun.
Di usianya yang menginjak 35 tahun dan 15 tahun berlalu ia terbebas di usia 50 tahun, apakah masih bisa dikenali Keluarga dari sekian banyak segi perubahan tubuh yang pasti akan dialami. Melihat sang anak yang masih kecil, dan istri yang tidak bersamanya, lebih baik ia dihukum mati sekalian!
__ADS_1
Kabar Arya di penjara 15 tahun pun sudah didengar sampai ke telinga Dini. Hatinya sangat hancur mendengar hukuman yang bukan main. Apakah mereka bisa bertahan saling berjauhan dengan jarak yang tidak akan sampai?
...****************...
2 Minggu Kemudian...
Setelah beberapa lama kemudian, Dini masih bertahan seolah nyaman tinggal di pulau terpencil itu. Dini yang masih terus menyalahkan dirinya sendiri, kini terus menangis, dan hanya bisa menangis. Dini sepertinya terkena depresi sedang.
Di sisi lain, di sebuah ruangan gelap. Tampak seorang pria yang tengah terkekeh saat mendengar sebuah rekaman dari kamar Dini. Ya, Antonio sangat menikmati percakapan Lucas dan Dini yang sambil menangis, Betapa kejamnya Lucas melebihi dia sudah menyiksa istri musuhnya itu. Apalagi saat wanita itu tengah meminta pertolongan terus menerus agar dibebaskan di tengah rasa khawatirnya.
"Haha,,, Bisa-bisanya asisten ku lebih kejam dari tuannya. Lihat saja itu Arya, betapa menderitanya istrimu bersama denganku saat ini. Apa kau akan menangis? Oh tentu ya, kau pasti menangis melihat istrimu tersiksa." Ucap Antonio sambil tertawa lepas dengan memejamkan matanya
Namun, tiba-tiba saja lampu menyala, karena kedatangan seseorang yang ingin melaporkan informasi pada tuannya.
"Selamat siang, Tuan." Sapa seorang pria yang tak lain adalah Lucas
"Hm, katakan," Ucap Antonio tanpa basa-basi
"Saya sudah membawa wanita itu ke mansion, Tuan. Sesuai keinginannya, saya berhasil membawa dia ke kota, namun bukan membawanya ke Mansion Pratama untuk dikembalikan. Saya juga ingin melaporkan, kita bisa segera menyelesaikan target balas dendam kita selanjutnya secepat mungkin, karena sudah ada yang memprediksi jika pria itu berhasil tak berdaya dihadapan istrinya." Ucap Lucas panjang lebar
"Hemm,,, Sangat bagus. Bawa wanita itu kehadapan suaminya di penjara. Biarkan dia melihat apa yang akan terjadi di sana. Dia pasti sangat senang bukan, bisa bertemu dengan suaminya." Ucap Antonio angkuh
"Saya rasa kali ini tidak akan menjadi tontonan yang membosankan. Saya harap Tuan bisa datang menyaksikan langsung ketidakberdayaan musuh Tuan itu kali ini." Ucap Lucas dengan wajah smirknya
"Hmm, keluarlah," Ucap Antonio pelan
"Baik Tuan, saya pamit undur diri," Ucap Lucas yang segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Ia akan segera membawa Dini ke penjara untuk bertemu Arya.
__ADS_1