
Setelah Nek Arini dibawa menuju rumah sakit dan mendapatkan pemeriksaan. Dokter mengatakan, penyebab Nenek Arini pingsan karena kelelahan dan banyak pikiran.
"Nenek pingsan karena terlalu banyak pikiran dan terlalu lelah. Nenek harus dirawat di rumah sakit." Ucap Dokter yang di sana ditemani oleh Bu Amira
"Ibu tidak perlu dirawat di rumah sakit, izinkan untuk istirahat di rumah saja." Tolak Nek Arini
Lalu berkata,
"Aku akan beristirahat saja di rumah." Kata Nenek Arini
Di luar ruangan Nenek Arini, Dokter mengatakan kondisinya.
"Nyonya, kondisi Bu Arini jauh lebih buruk dari pada yang saya katakan di dalam. Nenek terlihat tertekan bukan hanya stres tetapi juga karena kurang tidur." Ucap Dokter
"Nutrisinya tidak tercukupi dengan benar, hal itu tidak boleh dipandang remeh melihat usia nenek sekarang ini." lanjutnya
"Aku mengerti apa yang harus dilakukan, tapi ibu tidak bisa mengontrol emosinya karena Arya datang membawa masalah." Ucap Bu Amira
"Ibu mungkin sudah menyembunyikan kesedihannya, tapi rasa sakitnya terlihat sangat jelas." Timpal Bu Alma
Kemudian, setelah menjelaskan dokter pergi.
"Ibu pun tidak ingin dirawat. Dia meminta dokter untuk mengizinkannya istirahat di rumah saja. Tapi Dokter tidak menjawab karena ia tahu kondisinya bagaimana. Ibu tidak mungkin nekat." Ucap Bu Amira
"Lalu, Apa keputusan kakak?" Tanya Bu Alma
"Ibu tidak akan pulang. Dia akan dirawat di sini sampai membaik. Kita tidak ingin mengambil risiko." Ucapnya
Hal itu pun disetujui oleh Bu Alma.
Dari sana pun Bu Alma memutuskan untuk pulang lebih dulu. sehingga di rumah sakit hanya ada Dini dan Bu Amira yang menemaninya. Sesampai di rumah, Keluarganya pun informasi dengan merasa cemas.
"Keadaan ibu kurang membaik." Kata Bu Alma sesampainya di sana
Pak Barma dan para menantunya merasa sedih. Mereka masih menyalahkan perkataan Arya yang membuat alasan Nenek Arini jatuh sakit.
"Dia sudah sangat mempermalukan ku." Sontak Pak Barma yang mulai menasehatinya lagi
"Kau harus menyadari apa yang kau lakukan hari ini, jika sesuatu terjadi pada nenek mu maka kami tidak akan memaafkan mu." Ujar Pak Barma pada Arya
Arya hanya diam termenung.
Di rumah sakit~
Nenek Arini tak kuat hati menahan rasa sakitnya. Semua berawal dari Arya yang mengikuti Dini untuk pergi ke Singapore. Jika saja ia tidak ikut, mungkin kondisinya akan baik kala Dini yang datang.
Tanpa basa-basi melihat Nek Arini yang melamun, Dini dan Bu Amira langsung masuk ke dalam ruangan.
"Aku tahu apa yang sudah menganggu pikiranmu nenek, kau pasti marah kepadaku karena aku mengatakan pembelaan pada Tuan dan Nona Valerie." Ucap Dini
"Apa yang kau lakukan saat itu benar, Karena kau orang yang jujur dan senantiasa mengatakan kebenaran. Tuhan akan segera menghilangkan apa yang menghantui dirimu. Aku sudah bersumpah untuk membahagiakan mu." Ucap Nek Arini
"Sesudah kau bercerai dengan Arya nanti, kau akan melupakan semua rasa sakit mu." Katanya
Dini melakukan sesuatu untuk membuat pikiran Nek Arini tenang. ia tahu jika neneknya mengatakan hal itu dalam keadaan marah.
"Saat ini aku tidak bisa bercerai dengannya." Kata Dini membuat Nek Arini menatap intens
"Berapa lagi rasa sakit yang ingin kau alami, Apa rasa sakit mu itu tidak cukup menggerogoti tubuhmu, Hum?" Sedikit tinggi nada suaranya
"Nenek jangan marah. Jika nenek marah, Cicit nenek akan ketakutan saat digendong nanti." Sambil senyumnya
"Aku tidak akan mengakui anak wanita itu. Kau tadi melihat sendiri bagaimana dia berbicara dengan nenek." Ingatnya menganggap Dini membicarakan Valerie
"Aku bukan membicarakan Nona Valerie, Nek." Tekannya menyangkal
"Apa ibu sungguh tidak mengerti maksud dari perkataan Dini? Dia sedang memberi clue pada ibu." Ujar Bu Amira
"Aku sudah tua, otak ku tak bisa berpikir sebagaimana mestinya." Ujar Nek Arini
"Tapi bukan berarti ibu akan melupakan cicit mu." Bicara Bu Amira senang
Nek Arini menatap Dini sangat lekat untuk mencari jawaban.
Dini meraih tangan Nek Arini dan meletakkan tangannya di perut Dini. di sana Nek Arini merasakan ada yang berdetak dalam perut Dini.
Ia langsung menatap Dini tak percaya. Seolah bertanya meminta jawaban.
Dini dengan senyum manisnya mengangguk.
"Benar yang dimaksud itu, Amira?" Tanya Nek Arini pada Bu Amira untuk semakin meyakinkan
"Iya, Ibu. Ibu akan mendapatkan seorang cicit, Dini sedang hamil saat ini." Ucapnya
Nek Arini kembali menatap Dini dengan intens.
Mata mereka berdua bertemu dengan berkaca-kaca.
"Akhirnyaaa...Ibu senang sekali." Serang Nek langsung memeluk Dini setelah percaya jika Dini hamil
Betapa senangnya seorang Nek Arini saat ini yang tak terbendung walaupun dia sebagai wanita hamil dulu pernah sudah melahirkan seorang anak, mendapatkan cucu, bahkan saat ini akan mendapatkan cicit.
Sekilas ia mencium perut Dini itu.
"Berapa bulan usia kehamilannya? Kau pasti sudah tahu lebih dulu tentang hal ini dari lama." Nek Arini yang kesal dengan Bu Amira tidak memberitahukan kehamilan Dini dari sejak awal
"Sekitar 15 Minggu." Jawab Bu Amira
"Itu tandanya sudah akan menginjak 4 bulan! Selama itu kau menyembunyikan kehamilan Dini dariku." Kesal Nek Arini sampai mencubit pinggang Bu Amira
"Aww... ibu, Ini sakit! Kenapa ibu malah mencubit ku." Ujar Bu Amira tak tersinggung malah tertawa kecil
"Itu hukuman bagimu karena tidak memberitahu aku." Jawabnya
__ADS_1
"Kami pun baru mengetahui kehamilan Dini di usianya yang sudah menginjak 2 bulan. Tidak ada satupun yang mengetahui Kehamilannya. Bahkan ibu hamil ini tidak menyadarinya." Kata Bu Amira
Dini pun menyesal kala ia sendiri tidak tahu sedang hamil.
"Tidak Apa, Yang terbaik adalah kau akan melahirkan pewaris bagi keluarga kami selanjutnya." Baik Nek Arini senyum pada cucu menantunya
"Kenapa tidak mencubit Dini juga? Dia juga salah tidak memberitahu neneknya." Lontar Bu Amira
"Kau ini sudah kehilangan otakmu, Ya? Dia sedang hamil dan ibu hamil perlu di sayang bukan kekerasan. Jangan dengarkan ibu mertuamu itu, Din. Nenek senang mendengar kabar ini. Sepertinya juga nenek sudah langsung sehat, kau memang menantu yang membawa kebahagiaan." Kata Nek Arini
"Sepertinya aku anak ibu yang dihempaskan eh menantuku sendiri akan kasih sayangnya."
"Kau sudah berumur dan bukan anak kecil lagi yang perlu aku suapi makannya." katanya
Dini dibuat geleng-geleng kepala melihat nenek dan ibu mertuanya berdebat.
"Apa semua orang tahu tentang kehamilan ini?" Tanya Nek Arini
"Tidak. Belum ada yang mengetahui kehamilan Dini lebih dari kami." Jawab Bu Amira
"Begitupun dengan Arya?" Tanyanya
"Iya, Suaminya sendiri sama sekali tidak mengetahui kehamilan istrinya. Karena kami sengaja dan sepakat untuk tidak memberitahu agar tidak terjadi sesuatu yang dapat membahayakan mereka berdua." Jawab Bu Amira
"Ibu setuju keputusan ini, Kalian sudah mengambil langkah yang benar. Setelah Arya tahu jika Dini sedang hamil bisa saja dia bertindak jahat untuk melukai anaknya sendiri." Duga Bu Amira
"Dugaan kalian semua salah. Kalian tidak tahu bagaimana sebenarnya tuan sudah mengetahui kehamilanku. Kalian belum memahami kepribadian tuan saja sehingga menganggapnya orang yang jahat. andai aku bisa mengatakan sesuatu pada kalian jika sebenarnya tuan sangat memperlakukan bayinya dengan baik. Tapi aku yakin kalian tidak akan percaya..." Gumam Dini
"Sebenarnya ibu sangat menyayangi cucuku Arya. Dia adalah cucuku yang sangat ibu sayangi melebihi cucuku lainnya. Bukan sebab tidak berlaku adil, hanya saja sejak kecil Arya selalu mendapatkan penekanan dari suamimu yang aku khawatirkan mempengaruhi psikisnya. Jadi, aku pikir harus ada dorongan orang yang baik senantiasa mendukungnya. Tapi tetap saja suamimu itu selalu menuntutnya, hingga akhirnya apa yang aku khawatirkan terjadi." Kata Nek Arini
Menambahkan perkataan,
"Saat ini aku masih menyayangi Arya lebih dari yang lain. Dia tetap menjadi cucuku nomor satu yang paling aku sayangi, Tapi dia sudah membuat neneknya kecewa dengan melakukan hubungan gelap sampai wanitanya hamil di luar nikah dikala dia sudah menikah."
"Dan berkat dia juga, Arya sudah membuat Dini hamil untuk memberikan pewaris pada kita. Jika Arya tidak melakukannya, aku tidak akan sebahagia ini. Cucuku sangat hebat..." Meski kecewa dan emosi, tetap saja Nek Arini menyayangi cucunya itu
Dini yang mendengar pun tersentuh.
"Nenek tahu jika Arya tidak mungkin melakukannya padamu saat itu karena cinta dan kelembutan. Tapi dia pasti melakukannya dengan kekerasan dan dalam emosinya. Tidak apa, yang terpenting benihnya subur dan sudah tumbuh dalam perutmu... hehhe..." Ucap Nek Arini
__________________🕌__________________
Satu bulan penuh kita berpuasa.
Ramadhan telah usai mari menyambut hari yang fitri dengan saling memaafkan. Gema takbir telah dikumandangkan adalah tanda kita akan menyambut hari kemenangan.
Kalimat yang terucap bisa menggores luka lebih dalam daripada sebuah pukulan. Di hari yang suci, tiada dengki yang boleh merasuki.
Taqabbalallaahu minnaa wa minkum taqabbal yaa kariim, wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidin wal faaiziin wal maqbuulin kullu ‘aamin wa antum bi khair. Mohon maaf lahir batin, Semoga Allah mensucikan kembali kita selaku umat yang luput dari kesalahan.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022 M/ 1 Syawal 1443 H
Setelah Nek Arini dibawa menuju rumah sakit dan mendapatkan pemeriksaan. Dokter mengatakan, penyebab Nenek Arini pingsan karena kelelahan dan banyak pikiran.
"Nenek pingsan karena terlalu banyak pikiran dan terlalu lelah. Nenek harus dirawat di rumah sakit." Ucap Dokter yang di sana ditemani oleh Bu Amira
"Ibu tidak perlu dirawat di rumah sakit, izinkan untuk istirahat di rumah saja." Tolak Nek Arini
Lalu berkata,
"Aku akan beristirahat saja di rumah." Kata Nenek Arini
Di luar ruangan Nenek Arini, Dokter mengatakan kondisinya.
"Nyonya, kondisi Bu Arini jauh lebih buruk dari pada yang saya katakan di dalam. Nenek terlihat tertekan bukan hanya stres tetapi juga karena kurang tidur." Ucap Dokter
"Nutrisinya tidak tercukupi dengan benar, hal itu tidak boleh dipandang remeh melihat usia nenek sekarang ini." lanjutnya
"Aku mengerti apa yang harus dilakukan, tapi ibu tidak bisa mengontrol emosinya karena Arya datang membawa masalah." Ucap Bu Amira
"Ibu mungkin sudah menyembunyikan kesedihannya, tapi rasa sakitnya terlihat sangat jelas." Timpal Bu Alma
Kemudian, setelah menjelaskan dokter pergi.
"Ibu pun tidak ingin dirawat. Dia meminta dokter untuk mengizinkannya istirahat di rumah saja. Tapi Dokter tidak menjawab karena ia tahu kondisinya bagaimana. Ibu tidak mungkin nekat." Ucap Bu Amira
"Lalu, Apa keputusan kakak?" Tanya Bu Alma
"Ibu tidak akan pulang. Dia akan dirawat di sini sampai membaik. Kita tidak ingin mengambil risiko." Ucapnya
Hal itu pun disetujui oleh Bu Alma.
Dari sana pun Bu Alma memutuskan untuk pulang lebih dulu. sehingga di rumah sakit hanya ada Dini dan Bu Amira yang menemaninya. Sesampai di rumah, Keluarganya pun informasi dengan merasa cemas.
"Keadaan ibu kurang membaik." Kata Bu Alma sesampainya di sana
Pak Barma dan para menantunya merasa sedih. Mereka masih menyalahkan perkataan Arya yang membuat alasan Nenek Arini jatuh sakit.
"Dia sudah sangat mempermalukan ku." Sontak Pak Barma yang mulai menasehatinya lagi
"Kau harus menyadari apa yang kau lakukan hari ini, jika sesuatu terjadi pada nenek mu maka kami tidak akan memaafkan mu." Ujar Pak Barma pada Arya
Arya hanya diam termenung.
Di rumah sakit~
Nenek Arini tak kuat hati menahan rasa sakitnya. Semua berawal dari Arya yang mengikuti Dini untuk pergi ke Singapore. Jika saja ia tidak ikut, mungkin kondisinya akan baik kala Dini yang datang.
Tanpa basa-basi melihat Nek Arini yang melamun, Dini dan Bu Amira langsung masuk ke dalam ruangan.
"Aku tahu apa yang sudah menganggu pikiranmu nenek, kau pasti marah kepadaku karena aku mengatakan pembelaan pada Tuan dan Nona Valerie." Ucap Dini
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan saat itu benar, Karena kau orang yang jujur dan senantiasa mengatakan kebenaran. Tuhan akan segera menghilangkan apa yang menghantui dirimu. Aku sudah bersumpah untuk membahagiakan mu." Ucap Nek Arini
"Sesudah kau bercerai dengan Arya nanti, kau akan melupakan semua rasa sakit mu." Katanya
Dini melakukan sesuatu untuk membuat pikiran Nek Arini tenang. ia tahu jika neneknya mengatakan hal itu dalam keadaan marah.
"Saat ini aku tidak bisa bercerai dengannya." Kata Dini membuat Nek Arini menatap intens
"Berapa lagi rasa sakit yang ingin kau alami, Apa rasa sakit mu itu tidak cukup menggerogoti tubuhmu, Hum?" Sedikit tinggi nada suaranya
"Nenek jangan marah. Jika nenek marah, Cicit nenek akan ketakutan saat digendong nanti." Sambil senyumnya
"Aku tidak akan mengakui anak wanita itu. Kau tadi melihat sendiri bagaimana dia berbicara dengan nenek." Ingatnya menganggap Dini membicarakan Valerie
"Aku bukan membicarakan Nona Valerie, Nek." Tekannya menyangkal
"Apa ibu sungguh tidak mengerti maksud dari perkataan Dini? Dia sedang memberi clue pada ibu." Ujar Bu Amira
"Aku sudah tua, otak ku tak bisa berpikir sebagaimana mestinya." Ujar Nek Arini
"Tapi bukan berarti ibu akan melupakan cicit mu." Bicara Bu Amira senang
Nek Arini menatap Dini sangat lekat untuk mencari jawaban.
Dini meraih tangan Nek Arini dan meletakkan tangannya di perut Dini. di sana Nek Arini merasakan ada yang berdetak dalam perut Dini.
Ia langsung menatap Dini tak percaya. Seolah bertanya meminta jawaban.
Dini dengan senyum manisnya mengangguk.
"Benar yang dimaksud itu, Amira?" Tanya Nek Arini pada Bu Amira untuk semakin meyakinkan
"Iya, Ibu. Ibu akan mendapatkan seorang cicit, Dini sedang hamil saat ini." Ucapnya
Nek Arini kembali menatap Dini dengan intens.
Mata mereka berdua bertemu dengan berkaca-kaca.
"Akhirnyaaa...Ibu senang sekali." Serang Nek langsung memeluk Dini setelah percaya jika Dini hamil
Betapa senangnya seorang Nek Arini saat ini yang tak terbendung walaupun dia sebagai wanita hamil dulu pernah sudah melahirkan seorang anak, mendapatkan cucu, bahkan saat ini akan mendapatkan cicit.
Sekilas ia mencium perut Dini itu.
"Berapa bulan usia kehamilannya? Kau pasti sudah tahu lebih dulu tentang hal ini dari lama." Nek Arini yang kesal dengan Bu Amira tidak memberitahukan kehamilan Dini dari sejak awal
"Sekitar 15 Minggu." Jawab Bu Amira
"Itu tandanya sudah akan menginjak 4 bulan! Selama itu kau menyembunyikan kehamilan Dini dariku." Kesal Nek Arini sampai mencubit pinggang Bu Amira
"Aww... ibu, Ini sakit! Kenapa ibu malah mencubit ku." Ujar Bu Amira tak tersinggung malah tertawa kecil
"Itu hukuman bagimu karena tidak memberitahu aku." Jawabnya
"Kami pun baru mengetahui kehamilan Dini di usianya yang sudah menginjak 2 bulan. Tidak ada satupun yang mengetahui Kehamilannya. Bahkan ibu hamil ini tidak menyadarinya." Kata Bu Amira
Dini pun menyesal kala ia sendiri tidak tahu sedang hamil.
"Tidak Apa, Yang terbaik adalah kau akan melahirkan pewaris bagi keluarga kami selanjutnya." Baik Nek Arini senyum pada cucu menantunya
"Kenapa tidak mencubit Dini juga? Dia juga salah tidak memberitahu neneknya." Lontar Bu Amira
"Kau ini sudah kehilangan otakmu, Ya? Dia sedang hamil dan ibu hamil perlu di sayang bukan kekerasan. Jangan dengarkan ibu mertuamu itu, Din. Nenek senang mendengar kabar ini. Sepertinya juga nenek sudah langsung sehat, kau memang menantu yang membawa kebahagiaan." Kata Nek Arini
"Sepertinya aku anak ibu yang dihempaskan eh menantuku sendiri akan kasih sayangnya."
"Kau sudah berumur dan bukan anak kecil lagi yang perlu aku suapi makannya." katanya
Dini dibuat geleng-geleng kepala melihat nenek dan ibu mertuanya berdebat.
"Apa semua orang tahu tentang kehamilan ini?" Tanya Nek Arini
"Tidak. Belum ada yang mengetahui kehamilan Dini lebih dari kami." Jawab Bu Amira
"Begitupun dengan Arya?" Tanyanya
"Iya, Suaminya sendiri sama sekali tidak mengetahui kehamilan istrinya. Karena kami sengaja dan sepakat untuk tidak memberitahu agar tidak terjadi sesuatu yang dapat membahayakan mereka berdua." Jawab Bu Amira
"Ibu setuju keputusan ini, Kalian sudah mengambil langkah yang benar. Setelah Arya tahu jika Dini sedang hamil bisa saja dia bertindak jahat untuk melukai anaknya sendiri." Duga Bu Amira
"Dugaan kalian semua salah. Kalian tidak tahu bagaimana sebenarnya tuan sudah mengetahui kehamilanku. Kalian belum memahami kepribadian tuan saja sehingga menganggapnya orang yang jahat. andai aku bisa mengatakan sesuatu pada kalian jika sebenarnya tuan sangat memperlakukan bayinya dengan baik. Tapi aku yakin kalian tidak akan percaya..." Gumam Dini
"Sebenarnya ibu sangat menyayangi cucuku Arya. Dia adalah cucuku yang sangat ibu sayangi melebihi cucuku lainnya. Bukan sebab tidak berlaku adil, hanya saja sejak kecil Arya selalu mendapatkan penekanan dari suamimu yang aku khawatirkan mempengaruhi psikisnya. Jadi, aku pikir harus ada dorongan orang yang baik senantiasa mendukungnya. Tapi tetap saja suamimu itu selalu menuntutnya, hingga akhirnya apa yang aku khawatirkan terjadi." Kata Nek Arini
Menambahkan perkataan,
"Saat ini aku masih menyayangi Arya lebih dari yang lain. Dia tetap menjadi cucuku nomor satu yang paling aku sayangi, Tapi dia sudah membuat neneknya kecewa dengan melakukan hubungan gelap sampai wanitanya hamil di luar nikah dikala dia sudah menikah."
"Dan berkat dia juga, Arya sudah membuat Dini hamil untuk memberikan pewaris pada kita. Jika Arya tidak melakukannya, aku tidak akan sebahagia ini. Cucuku sangat hebat..." Meski kecewa dan emosi, tetap saja Nek Arini menyayangi cucunya itu
Dini yang mendengar pun tersentuh.
"Nenek tahu jika Arya tidak mungkin melakukannya padamu saat itu karena cinta dan kelembutan. Tapi dia pasti melakukannya dengan kekerasan dan dalam emosinya. Tidak apa, yang terpenting benihnya subur dan sudah tumbuh dalam perutmu... hehhe..." Ucap Nek Arini
__________________🕌__________________
Satu bulan penuh kita berpuasa.
Ramadhan telah usai mari menyambut hari yang fitri dengan saling memaafkan. Gema takbir telah dikumandangkan adalah tanda kita akan menyambut hari kemenangan.
Kalimat yang terucap bisa menggores luka lebih dalam daripada sebuah pukulan. Di hari yang suci, tiada dengki yang boleh merasuki.
Taqabbalallaahu minnaa wa minkum taqabbal yaa kariim, wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidin wal faaiziin wal maqbuulin kullu ‘aamin wa antum bi khair. Mohon maaf lahir batin, Semoga Allah mensucikan kembali kita selaku umat yang luput dari kesalahan.
__ADS_1
Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022 M/ 1 Syawal 1443 H