
"Ibuuu, coba lihat ini! Aku mendapatkan nilai 95 dari Bu guru dan sekolah baru." Ucap Ansel yang baru pulang dan dijemput oleh Nek Arini dan juga Bu Lia
"Wah anak ibu ini sangat hebat, selalu mendapatkan nilai tinggi dari pelajaran matematika nya." Kata Dini yang memberi apresiasi agar Ansel selalu semangat
"Aku juga ingin melihatkan nya pada ayah. Ayahhh..." Panggil anak kecil itu berlari menghampiri Ayahnya
"Karena dia mendapatkan nilai yang besar, dia jadi lupa kenapa ibunya yang tidak menjemputnya, jika dia ingat mungkin saat pulang akan langsung marah pada ibunya. Andai guru selalu memberikan soal dan nilainya, mungkin Dini tidak akan mendapatkan amarah dari Ansel yang tidak menjemputnya." Ujar Nek Arini membuat ketiganya terkekeh
"Arsen, hati-hati jangan berlari dengan kencang, Nanti kau akan terjatuh, nak." Ujar Darwin
"Tidak akan ayah. Aku ingin memperlihatkan sesuatu pada ayah di sekolah baru tadi."
"Apa itu? ayah jadi tidak sabar." Ucap Darwin
"Ini!" Menunjukkan buku pelajaran saat belajar tadi mengisi soal yang sudah diberi nilai
"Anak ayah ini sangat cerdas sekali, di usia masih tujuh tahun dan kelas dua sudah diajarkan dan memahami bilangan pecahan."
"Memangnya harus diusia berapa aku bisa mengerjakan soal ini, Ayah?"
"Tidak ada Nak, Zaman ayah bersekolah, ayah sama sekali tidak menyukai pelajaran matematika."
"Ada apa dengan matematika? Matematika sangat mudah dan menyenangkan ayah." Ucap Ansel
"Mungkin itu bagi sebagian orang yang sangat jenius seperti dirimu. Tapi bagi ayah, matematika bisa membuat kepala ayah pusing." Ujar Darwin
"Jika pusing ayah bisa minum obat saja! Pasti pusing nya reda dan ayah bisa mendapatkan nilai matematika yang bagus." Lugu Ansel
"Hhh... Tapi pusing ini berbeda. Walaupun ayah sudah meminum obat, tetap saja ayah tidak bisa mengerjakan soal matematika yang sulit saat sekolah menengah." Katanya
"Aneh! Apa ada yang salah dengan obatnya? Seharusnya ayah bertanya pada ibu, ibu pasti akan memberi obat yang lain." Ujarnya
__ADS_1
"Sepertinya kesalahan bukan terletak pada obatnya, Ansel. Tapi otak ayah mu saja yang bermasalah." Timpal Dini yang keluar dari arah dapur
"Hhh... Otak Ayah harus dioperasi agar pintar, hhh..." Kekehnya membuat Darwin geleng-geleng kepala
Karena kedua pihak sedang mengejeknya.
"Tapi Ayah, nilai temanku lebih besar dari nilai yang kudapatkan ayah. Tadi di sekolah dia sangat cepat sekali mengerjakannya dan mendapatkan nilai 100, sedangkan aku dan teman lain tertinggal sangat lama."
"Wah,,, Siapa anak itu? la pasti berasal dari keluarga yang tidak biasa. mereka pasti sangat bangga padanya." Ujar Darwin
"Namanya Arsen! Aku dan satu temannya Gino sudah menjadi teman sekarang. Mereka sangat baik sekali padaku, walaupun Arsen sangat unik."
"Ini bagaimana?" Tanya Dini
"Dia sangat dingin dan tidak pernah terlihat tersenyum, Bu. Bahkan saat teman lain berkenalan denganku, dia malah tidak karena dia cuek sekali. Gino selalu menyebutnya kulkas, hhh..." Kata Ansel berbagi cerita
Perkataan Ansel membuat Dini teringat pada seseorang yaitu Arya yang dikenal sangat dingin, cuek, datar tanpa ekspresi itu. Dan sepertinya dia masih tetap seperti itu! Apalagi mengingat jika Arya saat itu mencintainya, melihat Dini pergi, akan membuat dirinya semakin dingin dan cuek yang sangat parah!
"Baiklah, Jadilah teman yang baik untuk mereka, Ya? Jangan sampai dalam sebuah pertemanan kalian bertengkar." Nasihat Darwin
"Arsen, kau baru pulang sekolah. Ayo kita makan lebih dulu, ibu sudah memasakkan makanan kesukaan mu untuk makan siang hari ini." Ujar Dini yang keluar dari arah dapur
"Iya Ibu, aku sedang bertanya pada ayah kenapa tidak menyukai matematika, Apa ibu juga tidak, sama seperti ayah?"
"Ibu juga sangat menyukainya. Nanti kita bisa belajar bersama-sama, Ya. Tapi tidak perlu mengajak ayah mu, karena dia tidak akan mengerti." Ujar Dini tertawa kecil
"Iya ibu, apa siang ini ibu juga membuat sandwich?"
"Kau ingin sandwich di siang hari?" Tanya Dini
"Tidak, tapi aku ingin memberikannya pada teman ku besok. Kasihan dia Bu, dia tidak tinggal bersama ibunya dan hanya tinggal dengan ayah dan anggota lainnya, dia tidak pernah dibuatkan bekal oleh ibunya karena tidak tahu di mana dan selalu sendiri di rumah karena ayahnya selalu sibuk juga."
__ADS_1
"Kasihan sekali! Ibu akan menyiapkan banyak sandwich untuk mu dan teman mu itu besok hari, ya."
"Benarkah?"
"lya." Jawab Dini
"Buatkan makanan yang lain juga yang dihias untuk besok, Bu. Teman ku sangat menyukainya bekal yang berkarakter ibu buatkan itu. Ibu seperti seorang seniman..." Ujarnya
"hhh... Kau lucu sekali. Banyak bicara, dan bicara mu itu seperti orang dewasa, dari mana kau mengetahui kata seniman."
"Dari ayah, kemarin ayah mendapatkan seorang yang bisa menggambar. Dan saat bertanya siapa orang itu, ayah menjawab seorang seniman. Apakah setiap orang yang bisa menggambar disebut seniman. Ibu pun seharusnya bukan seorang Dokter, tapi seniman karena bisa menghias di bekal makanan ku."
"Sudah jangan terlalu banyak berbicara. Sekarang kau harus makan siang lebih dulu, ya." Kata Dini
"Ibu, temanku Gino di sekolah mengatakan memiliki seorang kakak. Apa itu kakak, Bu? Aku hanya tahu adik saja." Tanya Ansel di sela makannya
"Kakak adalah seorang anak pertama dari ayah dan juga ibunya yang bisa menjadi saudara dan juga teman bagi adiknya."
"Jadi, jika aku memiliki seorang adik, maka aku disebut sebagai kakak?" Tanya Ansel
"Iya, itu kau pintar!" Pungkas Dini
"Apa aku juga akan menjadi seorang kakak dan memiliki seorang adik, Bu?" Tanya Ansel
"Itu bisa saja jika ibu melahirkan seorang anak kembali, maka kau akan menjadi seorang kakak."
"Yeay,,, Kapan aku memiliki adik? Aku ingin sekali memiliki adik laki-laki agar bisa ku ajak untuk bermain robot." Kata Ansel
"Sekarang kau habiskan dulu makanan mu, Ya. Tidak baik berbicara di saat sedang makan."
Dini pun langsung terdiam dan termenung.
__ADS_1
"Iya, bahkan kau adalah seorang adik bagi kakak mu, Ansel. Kau bukan hanya akan memiliki peran kakak jika memiliki seorang adik, tapi kau adalah seorang adik baginya. Kau pasti sangat senang karena memiliki seorang kakak untukmu sebagai peran adik yang kau dapatkan saat ini. KARENA KALIAN TERLAHIR KEMBAR..." Gumam Dini berkata