
2 Jam beristirahat di kamar untuk tidur, Arya dibangunkan dengan suara nada dering panggilan telepon.
"Dasar handphone sialan! Benda ini malah mengganggu waktu istirahat ku." Dengus Kesal Arya
"Siapa yang menelpon di waktu petang seperti ini!" Lanjutnya lagi emosi
Mendapati panggilan dari ibunya di balik layar.
"Ibu? Untuk apa dia menelpon?" Arya segera bangkit dari baringnya dan duduk untuk mengangkat telepon
"Ya, Katakan!" Ujar Arya dingin pada ibunya sendiri
"Arya? Dari kemarin ibu telepon sampai beberapa kali, Tapi kau tidak mengangkat telepon ibu."
"Maaf, Dua hari kemarin aku sangat sibuk.tidak sempat untuk mengangkat telepon." Ujar Arya tetap nada dingin
"Iya. Dini mengatakan kau pergi ke luar kota."
"Apa yang ingin ibu sampaikan?" Tanya Arya tak ingin berbasa-basi
"Begini, Nak. Darwin adikmu sudah pulang sejak kemarin, Dia sudah lulus. Jika bisa apakah kau dan Dini bisa datang ke mansion. Darwin bersih keras ingin bertemu dengan kakak iparnya dari kemarin, sekaligus ibu dan ayah juga ingin membicarakan sesuatu denganmu."
"Baiklah. Dua jam lagi kami akan datang." Ujar Arya tanpa penolakan dan alasan
"Baiklah...Baiklah. Ibu senang kau menyetujui untuk datang ke mansion setelah sekian lama sejak kau pindah." Senang Bu Amira
"Apa yang harus ku bawa untuk anak curut itu?" Tanya Arya membingungkan Bu Amira
"Anak curut? Siapa? memangnya di dunia ini ada anak yang bernama curut." Pungkas Bu Amira bingung
"Siapa lagi jika bukan anak ibu yang kedua. Dia sangat mirip seperti anak curut hewan seperti tikus itu."
__ADS_1
"Oh Darwin! ibu kira siapa. Ternyata anak curut adalah panggilan sayang dari seorang kakak pada adiknya." Kekeh Bu Amira
"Tidak perlu, Arya. dengan kau dan istrimu datang ke sini sudah membuat Darwin sekaligus ibu merasa senang." Lanjut Bu Amira
"Baiklah. ibu tunggu saja sampai aku datang." Ujar Arya
"Iya. Ibu akan menunggu." Tutup telepon Bu Amira
Panggilan diakhiri~
Arya segera bangun dari ranjang dan beranjak pergi ke luar untuk menemui Dini, memberitahukan jika mereka akan pergi ke mansion menemui Bu Amira.
"Dini Sayang!! Kau di mana?" Teriak panggil Arya menuruni anak tangga
"Iya, Tuan. Anda membutuhkan sesuatu?" Ujar Dini yang sedari tadi membersihkan debu di setiap benda atau furniture yang ada
"Lain kali jika aku panggil, hilangkan dulu pikiran jika aku memanggil karena membutuhkan sesuatu, Dan sudahi pekerjaan rumah mu itu. Sampai kapan dan sampai ingin menjadi apa rumahku ini agar kau berhenti untuk melakukan pekerjaan rumah." Ujar Arya dengan lembut
"Iya, Tuan. biasanya saya tidak pernah membersihkan debu, karena kebetulan debu di rumah ini sudah lumayan banyak sehingga saya pikir agar tetap menjada kebersihan, saya harus membersihkannya." Jawab Dini
"Oh iya, Tuan. Kemarin ibu mengatakan jika kemarin adalah penyambutan untuk kepulangan adik tuan dari kelulusannya berkuliah di luar negeri. Dan sekarang anda ingin menemuinya."
"Bukan aku yang ingin menemuinya. Tapi dia yang ingin menemui dirimu."
"Saya??" Pungkas Dini terkejut
"Kau akan tahu nanti. Sekarang bersiaplah!" Ujar Arya
"Baik, Tuan. Saya akan bersiap. Sebelum itu tuan juga pasti akan bersiap, apakah saya harus menyiapkan air hangat untuk tuan mandi?"
"Tidak perlu. Aku akan sedikit bersantai terlebih dahulu karena waktunya masih cukup lama. Seorang laki-laki tidak akan berlama-lama untuk bersiap, tidak seperti wanita yang membutuhkan 3 jam bahkan lebih untuk berpergian."
__ADS_1
"Ah, Iya. Jika begitu saya akan bersiap sekarang saja, Tuan." Ujar Dini yang berpikir jika semua wanita di dunia ini tidak seperti itu
30 Menit Kemudian~
Waktu berlalu tanpa membutuhkan waktu yang lama seperti apa yang dikatakan oleh Arya pada wanita yang terlalu lama untuk bersiap. Berbeda dengan Dini yang dengan cepat sudah selesai menyiapkan penampilan dirinya sendiri. Dengan make up look yang flawless dan anti menor, pakaian yang terlihat sederhana namun, harga bukan kaleng-kaleng, rambut digerai bergelombang, dan aksesoris jam tangan wanita yang mahal merupakan berasal dari sebagian mahar yang diberikan padanya dulu. terlihat elegan dengan cincin pernikahan yang bersinar menyilau berwarna biru di jari manisnya.
Pakaian yang Dini pakai selalu tertutup, terlihat sopan dan pastinya anggun. Dia menyukai pakaian semacam Dress seperti dress yang ia kenakan saat ini, Dia memang tidak pernah memakai pakaian yang terbuka seperti terbuka di bagian dada atau bahu dan pakaian seksi lainnya yang ketat atau pendek. Hal itu yang selalu membuatnya Anggun dan Elegan, bak wanita yang terjaga kehormatannya.
"Masih satu jam lagi waktu yang tersisa masih lama. Apa yang harus aku lakukan?" Ucap Dini menjadi bingung
"Sayang!! Kau sudah siap?" Teriak Arya tiba-tiba membuyarkan kebingungan Dini
Dini gerak cepat memakai high heels warna hitamnya dan segera mengambil tas merek Dior berwarna hitam. Kali ini Dini memang seperti mengusung tema hitam untuk penampilannya.
"Iya, Tuan. Saya sudah siap." Ujar Dini seketika terkejut ketika Arya juga sudah siap mengenakkan jas hitam, celana hitam, sepatu hitam, dengan kemeja putih
"Tuan, Juga sudah Siap? Bukankah tadi mengatakan akan bersantai saja dulu karena waktunya masih lama." Lanjut bicara Dini
"Aku pikir aku harus segera bersiap. Agar waktu tidak terbuang dengan sia-sia. Lihatlah betapa sudah serasinya kita yang menggunakan pakaian senada walaupun tidak saling memberi informasi untuk warna pakaian yang akan di kenakan."
"Tuan, Juga mengusung tema hitam."
"Kita sudah seperti ingin menghadiri acara pesta yang elegan memakai warna hitam seperti ini."
Dini tertawa kecil dengan Malu dihadapan Arya.
"Kita berangkat sekarang saja menuju mall lebih dulu. mungkin tak butuh waktu sedikit untuk mencari hadiah apa yang pantas untuk Adikku. Kita belum harus berkeliling untuk mencari dan memutuskan barang apa yang harus dibeli." Ujar Arya
"Iya, Tuan. waktu berjalan tak akan terasa jika kita sudah sampai di mall. belum lagi ditambah dalam perjalanan." Ujar Dini
__ADS_1
Hanya untuk pergi ke mansion menemui orang tuanya saja, mereka berpenampilan seperti pasangan yang ingin menghadiri acara pesta atau pernikahan. Namun, berbeda dengan Dini yang melakukan hal itu karena masih mengingat akan ultimatum yang diberikan Arya dulu padanya. Bahwa dia harus berpenampilan rapi dan mahal agar orang tuanya tidak curiga.
Karena mereka sudah siap, mereka memutuskan untuk langsung pergi saja tanpa terpaku pada jadwal rencana awal. Karena walaupun Bu Amira mengatakan untuk tidak membawa apapun, tapi arya tetap saja bersih keras ingin pergi ke mall untuk membeli hadiah yang pantas diberikan diusia Darwin atas dasar kelulusannya.