
Mengetahui menantunya yang pergi sekian lama dan sedang berada dihadapannya saat ini, membuat Bu Amira dan juga Luna senang melihatnya. Sedari tadi mereka ingin segera menghampiri Dini dan melampiaskan kerinduannya, namun karena menyaksikan pertengkaran Arsen harus mengurungkan niatnya.
Dini!
Panggil Bu Amira.
Dini pun menengok dan mendapati Bu Amira dan Luna di sampingnya.
"Ibu..." Dini menerjang Bu Amira dengan pelukan
Mereka saling berpelukan erat satu sama lain melepaskan kerinduan antar ibu mertua dan menantu yang disayangi.
"Apa kabarmu? Akhirnya kau kembali juga." Ujar Bu Amira menangis bahagia
"Setelah melihat putraku tidak menyukai ibunya, keadaanku tidak baik-baik saja." Ujarnya terisak
"Bersabarlah! Arsen hanya salah paham. Nanti dia akan mengetahui mana yang benar dan juga salah. Yang terpenting kau sudah kembali dan Dunia akan baik-baik saja sekarang." Ucap Bu Amira menguatkan
Mereka pun saling melepaskan pelukan. Dini beralih pada Luna dan memeluknya juga.
"Kau sudah kembali. Kami senang melihatmu lagi setelah sekian lama. Aku juga tidak menyangka kau adalah seorang dokter sekarang, jika aku tahu dari awal kau menghadiri kunjungan ini, mungkin akulah yang pertama kali bertemu denganmu." Ujar Luna dalam pelukan dan setelahnya melepaskan
"Menantu kesayangan ku telah kembali, Aku sangat senang sekali hari ini. Kenapa kau tidak memberitahukan keberadaan Dini sejak awal, Arya? Kalian pasti sudah saling banyak bertemu, Kan? Kau malah enak sendiri bungkam dari kami." Lontar Bu Amira sedikit marah
Arya hanya diam. Maniknya hanya menatap Dini dengan perasaan yang menyesal banyak sekali masalah yang dialami saat pertemuannya membuat hal yang tidak mengesankan untuk pertama kali bertemu dan malah menumbuhkan kebencian.
Bu Amira pun beberapa menit menghabiskan waktu bersama Dini. Dia menguatkan sembari mencari cara agar Dini percaya jika putranya Arsen akan menerima dia suatu saat nanti dengan mematahkan fitnah yang melekat dalam diri putranya itu.
***
Arya memutuskan pergi ke penjara untuk berbicara empat mata dengan Valerie. Dia sudah tahu dalang dibalik terjadinya hari ini. Tidak habis pikir Valerie masih hadir ditengah-tengah kebahagiaan yang belum sempurna dan membuatnya semakin renggang. la selalu datang setelah sekian lama hanya untuk memberikan luka pada orang lain.
"Hai! Sudah lama kita tidak bertemu. Kau datang kemari karena rindu padaku, Kan?" Sambut Valerie
"Saat tahu kau akan datang, Aku sangat senang sekali akan bertemu denganmu setelah sekian lamanya. Saat itu aku segera ingin merias diriku untuk menampilkan tampilan terbaik yang merias wajahku cantik dan memakai pakaian yang kau sukai saat kita bersama. Tapi maaf aku tidak bisa melakukan itu untukmu dan terlihat lusuh seperti ini. Mereka tidak mengizinkan ku." Ujar Valerie lagi
"Aku tidak memiliki urusan untuk berbasa-basi denganmu." Ketus Arya
"Ohoho... Arya, Arya, Kau masih saja bersikap dingin seperti ini. Sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu denganmu dan aku kira kau sudah berubah. Tapi kau terlihat masih muda dan lebih tampan... Dan menurun pada anaknya!"
"Sama seperti dirimu seekor ular yang tidak berubah kulit. Dalam penjara pun kau masih saja mengganggu ketentraman orang yang menghirup udara bebas. Apa niatmu menghasut Arsen dengan informasi yang tidak benar sampai membenci ibunya?" Ketus Arya
"Oh, Rupanya Arsen sudah bertemu dengan ibunya, Ya. Andaikan saja aku bisa menyaksikan drama kemarin, mungkin akan menjadi tontonan yang seru, bukan?"
Arya menggelengkan kepala.
"Apa yang kau inginkan agar bisa menjamin untuk kau tidak mengganggu keluarga ku lagi? Jika caramu di penjara tidak memberikan efek jera, Apa aku harus menggunakan fungsi tanganku ini sendiri untuk membunuhmu?" Kecam Arya
"Kau? Ingin membunuhku? Hahahaha... Kau bisa saja membunuh ku, dan itu keuntungan bagiku karena kau yang akan menggantikan posisiku di penjara."
"Tidak ada hukuman bagi orang yang membasmi kejahatan. Dunia akan mendukung ku untuk segera mengirim mu ke neraka, di sana mereka akan menyambut mu dengan baik karena kau salah satu penghuni yang ditunggu kehadirannya." Kata Arya
Valerie menelan salivanya berdigik ngeri mendengarkan kecamanan yang diberikan Arya padanya.
"Tarik kembali perkataan mu yang membenak dalam diri putraku. Yakinkan dia untuk mengakui ibu kandungnya." Titah Arya
"Tunggu dulu! Saat ini apakah aku tidak salah mendengar seorang pria terhormat yang berdiri dihadapan ku sedang meminta pertolongan dari wanita biasa atau hanya menunjukkan formalitas saja?"
Lalu, Berkata kembali
"Heuh... Kau salah menduga. Aku bukan meminta pertolongan padamu. Tapi aku meminta pertanggungjawaban darimu atas perbuatan mu sendiri. Sebelum akhirnya kau menyesal, lebih baik kau perbaiki kesalahanmu. Pikirkan baik-baik sebelum aku melakukan tindakan yang lebih menghancurkan hidupmu!" Ucap Arya memicingkan matanya
"Dan kau harus ingat. Kau tetap milikku, Wanita itu tidak akan pernah kembali denganmu. Jika dia ingin kembali padamu, apakah dia pergi dan datang ke Indonesia dengan membawa seorang anak dan menikah dengan adikmu? Aku tahu semuanya, kau tidak boleh beranggapan selama dipenjara aku menjadi orang kudet!" Kata Valerie memperingatkan
"Kau hanya tahu informasi yang didapat. Bukan kebenaran apa kenyataannya. Dia adalah wanitaku! Dan tidak akan merubah sisi yang melekat padanya." Ujar Arya
"Berbangga diri saja dan teguhkan pendirian mu itu. Nyatanya dia akan lebih menjauh darimu. Lebih baik kau lepaskan aku, dan kita akan menjadi keluarga yang bahagia. Toh Arsen lebih menerima diriku dibandingkan ibunya..." Ujar Valerie mendekat dan hendak menyentuh Arya
Namun, Arya menjauh.
Valerie pun teringat akan penyakit langka yang dialami Arya. Dia pun tidak habis mencari bahan untuk mencacinya.
"Oops... Aku lupa jika kau memiliki penyakit. Kau adalah pria suci yang sembarangan wanita bisa menyentuh dirimu. Tolong maafkan aku, Tuan... Aku harap wanita itu tidak ingin kembali agar kau terus menderita hidup berdampingan dengan penyakit mu yang tidak akan sembuh." Cela Valerie
"Memang tidak ada gunanya berbicara dengan wanita ular seperti dirimu. Kau hanya terus mendesis dengan omong kosong mu." Hardik Arya
Setelah kesal menghadapi Valerie yang tidak berubah keyakinan. Dia melenggang pergi menyudahi pertemuannya.
__ADS_1
"Mereka pikir aku takut padanya? Dia adalah pria yang bertekuk lutut memohon cintaku. Sekarang dia datang seolah pria yang kuat mengintimidasi lawannya. Lihat saja! Aku berhasil membuat Arsen membenci wanita itu, melalui Arsen aku akan membuatnya menderita lebih dari kehilangan seorang anak untuk selamanya." Ujar Valerie berambisi mengiringi kepergian Arya
...***...
Di Sekolah.
"Syukurlah Arsen sudah sekolah. Aku sangat khawatir memikirkan kesehatannya." Batin Dini melihat Arsen yang sudah kembali sekolah
"Arsen... Kau sudah sembuh? Akhirnya kau sudah kembali sekolah, kau tidak tahu bagaimana kami kesepian saat kau tidak sekolah." Riang Ansel sampai memeluk temannya itu
Brugh...
Ansel terjatuh ke tanah. Akibat Ansel memeluk dan ia mendorongnya.
"Ansel!!" Dini berlari menghampiri dan membantu putranya bangkit
Gino dan Ansel keanehan kenapa Arsen malah mendorongnya.
"Ansel, Kau tidak apa-apa, Nak?" Dini muncul ditengah-tengah mereka
Melihat Dini memberikan perhatian pada Ansel, Arsen sangat marah, cemburu, dan sedikit merasa bersalah telah mendorong Ansel hingga terjatuh.
"Arsen, Kenapa kau mendorong Ansel? Kau memiliki masalah dengannya?" Tanya Gino
Mereka pun tertuju padanya. Arsen tersudutkan dengan mereka yang menunggu jawaban.
Dini sangat mencemaskan Arsen. la menatapnya dengan sendu. Mata Arsen menatap manik wanita sebagai ibunya itu, Mereka saling bertatapan, kebencian melihat Dini menjalar ke otaknya.
"Arsen, Ada apa? Apa aku memiliki kesalahan?" Tanya Ansel yang tidak takut dan tetap menghampiri
Bukannya menjawab, Arsen pergi begitu saja meninggalkan mereka.
"Arsenn..." Batin Dini memanggil
Dia sangat sedih melihat Arsen sepertinya masih membenci dia dan berimbas pada Ansel.
"Kau masih membenci ibu, Nak? Kau sampai melampiaskan kemarahan pada adikmu sendiri, andai kau tahu kau adalah kakaknya, seorang kakak yang memberi perlindungan pada adiknya, apakah mungkin kau bisa menerimanya tidak seperti ibu yang kau benci."
"Tapi, Sepertinya kau akan sulit menerima dia. Pikiranmu sudah dewasa berbeda dari anak lain yang seumuran denganmu, jika kau tahu kau akan semakin membenci kami berdua." Batin Dini bersedih hati mengiringi kepergian Arsen yang terlihat marah
Mengetahui menantunya yang pergi sekian lama dan sedang berada dihadapannya saat ini, membuat Bu Amira dan juga Luna senang melihatnya. Sedari tadi mereka ingin segera menghampiri Dini dan melampiaskan kerinduannya, namun karena menyaksikan pertengkaran Arsen harus mengurungkan niatnya.
Dini!
Panggil Bu Amira.
Dini pun menengok dan mendapati Bu Amira dan Luna di sampingnya.
"Ibu..." Dini menerjang Bu Amira dengan pelukan
Mereka saling berpelukan erat satu sama lain melepaskan kerinduan antar ibu mertua dan menantu yang disayangi.
"Apa kabarmu? Akhirnya kau kembali juga." Ujar Bu Amira menangis bahagia
"Setelah melihat putraku tidak menyukai ibunya, keadaanku tidak baik-baik saja." Ujarnya terisak
"Bersabarlah! Arsen hanya salah paham. Nanti dia akan mengetahui mana yang benar dan juga salah. Yang terpenting kau sudah kembali dan Dunia akan baik-baik saja sekarang." Ucap Bu Amira menguatkan
Mereka pun saling melepaskan pelukan. Dini beralih pada Luna dan memeluknya juga.
"Kau sudah kembali. Kami senang melihatmu lagi setelah sekian lama. Aku juga tidak menyangka kau adalah seorang dokter sekarang, jika aku tahu dari awal kau menghadiri kunjungan ini, mungkin akulah yang pertama kali bertemu denganmu." Ujar Luna dalam pelukan dan setelahnya melepaskan
"Menantu kesayangan ku telah kembali, Aku sangat senang sekali hari ini. Kenapa kau tidak memberitahukan keberadaan Dini sejak awal, Arya? Kalian pasti sudah saling banyak bertemu, Kan? Kau malah enak sendiri bungkam dari kami." Lontar Bu Amira sedikit marah
Arya hanya diam. Maniknya hanya menatap Dini dengan perasaan yang menyesal banyak sekali masalah yang dialami saat pertemuannya membuat hal yang tidak mengesankan untuk pertama kali bertemu dan malah menumbuhkan kebencian.
Bu Amira pun beberapa menit menghabiskan waktu bersama Dini. Dia menguatkan sembari mencari cara agar Dini percaya jika putranya Arsen akan menerima dia suatu saat nanti dengan mematahkan fitnah yang melekat dalam diri putranya itu.
***
Arya memutuskan pergi ke penjara untuk berbicara empat mata dengan Valerie. Dia sudah tahu dalang dibalik terjadinya hari ini. Tidak habis pikir Valerie masih hadir ditengah-tengah kebahagiaan yang belum sempurna dan membuatnya semakin renggang. la selalu datang setelah sekian lama hanya untuk memberikan luka pada orang lain.
"Hai! Sudah lama kita tidak bertemu. Kau datang kemari karena rindu padaku, Kan?" Sambut Valerie
"Saat tahu kau akan datang, Aku sangat senang sekali akan bertemu denganmu setelah sekian lamanya. Saat itu aku segera ingin merias diriku untuk menampilkan tampilan terbaik yang merias wajahku cantik dan memakai pakaian yang kau sukai saat kita bersama. Tapi maaf aku tidak bisa melakukan itu untukmu dan terlihat lusuh seperti ini. Mereka tidak mengizinkan ku." Ujar Valerie lagi
"Aku tidak memiliki urusan untuk berbasa-basi denganmu." Ketus Arya
__ADS_1
"Ohoho... Arya, Arya, Kau masih saja bersikap dingin seperti ini. Sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu denganmu dan aku kira kau sudah berubah. Tapi kau terlihat masih muda dan lebih tampan... Dan menurun pada anaknya!"
"Sama seperti dirimu seekor ular yang tidak berubah kulit. Dalam penjara pun kau masih saja mengganggu ketentraman orang yang menghirup udara bebas. Apa niatmu menghasut Arsen dengan informasi yang tidak benar sampai membenci ibunya?" Ketus Arya
"Oh, Rupanya Arsen sudah bertemu dengan ibunya, Ya. Andaikan saja aku bisa menyaksikan drama kemarin, mungkin akan menjadi tontonan yang seru, bukan?"
Arya menggelengkan kepala.
"Apa yang kau inginkan agar bisa menjamin untuk kau tidak mengganggu keluarga ku lagi? Jika caramu di penjara tidak memberikan efek jera, Apa aku harus menggunakan fungsi tanganku ini sendiri untuk membunuhmu?" Kecam Arya
"Kau? Ingin membunuhku? Hahahaha... Kau bisa saja membunuh ku, dan itu keuntungan bagiku karena kau yang akan menggantikan posisiku di penjara."
"Tidak ada hukuman bagi orang yang membasmi kejahatan. Dunia akan mendukung ku untuk segera mengirim mu ke neraka, di sana mereka akan menyambut mu dengan baik karena kau salah satu penghuni yang ditunggu kehadirannya." Kata Arya
Valerie menelan salivanya berdigik ngeri mendengarkan kecamanan yang diberikan Arya padanya.
"Tarik kembali perkataan mu yang membenak dalam diri putraku. Yakinkan dia untuk mengakui ibu kandungnya." Titah Arya
"Tunggu dulu! Saat ini apakah aku tidak salah mendengar seorang pria terhormat yang berdiri dihadapan ku sedang meminta pertolongan dari wanita biasa atau hanya menunjukkan formalitas saja?"
Lalu, Berkata kembali
"Heuh... Kau salah menduga. Aku bukan meminta pertolongan padamu. Tapi aku meminta pertanggungjawaban darimu atas perbuatan mu sendiri. Sebelum akhirnya kau menyesal, lebih baik kau perbaiki kesalahanmu. Pikirkan baik-baik sebelum aku melakukan tindakan yang lebih menghancurkan hidupmu!" Ucap Arya memicingkan matanya
"Dan kau harus ingat. Kau tetap milikku, Wanita itu tidak akan pernah kembali denganmu. Jika dia ingin kembali padamu, apakah dia pergi dan datang ke Indonesia dengan membawa seorang anak dan menikah dengan adikmu? Aku tahu semuanya, kau tidak boleh beranggapan selama dipenjara aku menjadi orang kudet!" Kata Valerie memperingatkan
"Kau hanya tahu informasi yang didapat. Bukan kebenaran apa kenyataannya. Dia adalah wanitaku! Dan tidak akan merubah sisi yang melekat padanya." Ujar Arya
"Berbangga diri saja dan teguhkan pendirian mu itu. Nyatanya dia akan lebih menjauh darimu. Lebih baik kau lepaskan aku, dan kita akan menjadi keluarga yang bahagia. Toh Arsen lebih menerima diriku dibandingkan ibunya..." Ujar Valerie mendekat dan hendak menyentuh Arya
Namun, Arya menjauh.
Valerie pun teringat akan penyakit langka yang dialami Arya. Dia pun tidak habis mencari bahan untuk mencacinya.
"Oops... Aku lupa jika kau memiliki penyakit. Kau adalah pria suci yang sembarangan wanita bisa menyentuh dirimu. Tolong maafkan aku, Tuan... Aku harap wanita itu tidak ingin kembali agar kau terus menderita hidup berdampingan dengan penyakit mu yang tidak akan sembuh." Cela Valerie
"Memang tidak ada gunanya berbicara dengan wanita ular seperti dirimu. Kau hanya terus mendesis dengan omong kosong mu." Hardik Arya
Setelah kesal menghadapi Valerie yang tidak berubah keyakinan. Dia melenggang pergi menyudahi pertemuannya.
"Mereka pikir aku takut padanya? Dia adalah pria yang bertekuk lutut memohon cintaku. Sekarang dia datang seolah pria yang kuat mengintimidasi lawannya. Lihat saja! Aku berhasil membuat Arsen membenci wanita itu, melalui Arsen aku akan membuatnya menderita lebih dari kehilangan seorang anak untuk selamanya." Ujar Valerie berambisi mengiringi kepergian Arya
...***...
Di Sekolah.
"Syukurlah Arsen sudah sekolah. Aku sangat khawatir memikirkan kesehatannya." Batin Dini melihat Arsen yang sudah kembali sekolah
"Arsen... Kau sudah sembuh? Akhirnya kau sudah kembali sekolah, kau tidak tahu bagaimana kami kesepian saat kau tidak sekolah." Riang Ansel sampai memeluk temannya itu
Brugh...
Ansel terjatuh ke tanah. Akibat Ansel memeluk dan ia mendorongnya.
"Ansel!!" Dini berlari menghampiri dan membantu putranya bangkit
Gino dan Ansel keanehan kenapa Arsen malah mendorongnya.
"Ansel, Kau tidak apa-apa, Nak?" Dini muncul ditengah-tengah mereka
Melihat Dini memberikan perhatian pada Ansel, Arsen sangat marah, cemburu, dan sedikit merasa bersalah telah mendorong Ansel hingga terjatuh.
"Arsen, Kenapa kau mendorong Ansel? Kau memiliki masalah dengannya?" Tanya Gino
Mereka pun tertuju padanya. Arsen tersudutkan dengan mereka yang menunggu jawaban.
Dini sangat mencemaskan Arsen. la menatapnya dengan sendu. Mata Arsen menatap manik wanita sebagai ibunya itu, Mereka saling bertatapan, kebencian melihat Dini menjalar ke otaknya.
"Arsen, Ada apa? Apa aku memiliki kesalahan?" Tanya Ansel yang tidak takut dan tetap menghampiri
Bukannya menjawab, Arsen pergi begitu saja meninggalkan mereka.
"Arsenn..." Batin Dini memanggil
Dia sangat sedih melihat Arsen sepertinya masih membenci dia dan berimbas pada Ansel.
"Kau masih membenci ibu, Nak? Kau sampai melampiaskan kemarahan pada adikmu sendiri, andai kau tahu kau adalah kakaknya, seorang kakak yang memberi perlindungan pada adiknya, apakah mungkin kau bisa menerimanya tidak seperti ibu yang kau benci."
__ADS_1
"Tapi, Sepertinya kau akan sulit menerima dia. Pikiranmu sudah dewasa berbeda dari anak lain yang seumuran denganmu, jika kau tahu kau akan semakin membenci kami berdua." Batin Dini bersedih hati mengiringi kepergian Arsen yang terlihat marah