
2 Bulan Kemudian...
"Perceraian adalah permainan yang dimainkan oleh pengacara." - Arya
Selama 2 bulan yang hampir 3 bulan proses persidangan cerai lebih cepat selesai dibandingkan tahapan perceraian umumnya yang bisa berlangsung selama 4 hingga 6 bulan. Kini Arya dan Dini resmi bercerai yang menyandang status baru sebagai mantan suami istri. Namun, mereka masih memiliki tanggung jawab sebagai orang tua yang senantiasa selalu ada untuk anak mereka.
Selesai resmi bercerai, tidak ada yang bertegur sapa satu sama lain dari keduanya. Mereka keluar tanpa bicara dari gedung pengadilan. Bukan memiliki dendam ataupun saling membenci, Hanya ada komitmen untuk melupakan kenangan satu sama lain agar tidak ada yang mengganggu pikiran dan hati menjalani kehidupan yang baru.
Satu hal yang paling ditakutkan dalam sebuah hubungan pernikahan adalah perceraian. Tak ada pasangan suami istri yang ingin bercerai. Sebelum melangsungkan pernikahan, keinginan untuk hidup bersama selamanya, menjadi tujuan yang ingin digapai berdua.
Pernikahan, layaknya hubungan yang lain, seperti pacaran maupun pertemanan, merupakan usaha terus menerus dari dua pihak untuk menjaga kelanggengan hubungan tersebut.
Namun, faktor yang dialami mereka berbeda. Mereka seolah berjuang memberikan kebahagiaan mereka masing-masing hanya untuk orang lain.
Jika orang lain tidak memberikan masalah. Mereka tidak akan menyentuh yang namanya perceraian.
Sehingga dengan begitu, Darwin sendiri tidak bisa melangsungkan pernikahan yang ia inginkan esok harinya setelah Dini kembali ke rumahnya. Karena ia sendiri masih menjadi istri orang lain sebelum perceraian itu selesai, dan pada akhirnya menunda pernikahannya.
Darwin seolah menari di atas penderitaan orang lain. Karena setelah Dini bercerai hari ini, 1 minggu ke depan ia akan melangsungkan pernikahan bersama Dini. Dengan waktu yang tidak akan terasa cepat itu, Dini akan menyandang status baru.
...***...
1 Minggu Kemudian...
Perjalanan waktu yang tidak terasa. Membuat kedua insan tengah berbahagia menyambut hari pernikahan mereka. Seharusnya begitu. Tapi tidak dengan satu pasangan yang sedang mengalami mimpi buruk harus mengorbankan kebahagiaan saat ia sendiri merasa bahagia bersama pria lain.
Di Rumah Arya
Seorang pria yang telah mengorbankan kebahagiaannya sendiri, Kini sedang menuruni anak tangga dan tengah mendorong koper besar miliknya. Ia tampak rapi tidak seperti akan pergi ke kantor dan seolah akan pergi jauh dengan setelan jas blazer panjang.
__ADS_1
(Contoh)
Keluarganya yang melihat, bertanya apa yang akan ia lakukan dengan mendorong koper itu.
"Arya, Apa yang kau lakukan dengan koper itu? Akan kau apakan dengannya? Kau akan pergi ke luar kota untuk pekerjaan mu?" Lontar pertanyaan Bu Amira
"Bahkan bukan luar kota yang akan ku kunjungi. Melainkan luar negara yang akan menjadi tempat singgah untuk menenangkan kehidupan ini." Jawab Arya berteka-teki dan tidak dapat dimengerti orang
"Apa maksudmu? Katakan dengan jelas!" Pinta Bu Amira sedikit membentak
"Aku akan pergi Ibu. Aku tidak akan tinggal di negara ini lagi. Negara ini sudah banyak memberiku pelajaran dan luka yang tidak bisa ku lupakan. Hanya di sini, aku tidak akan pernah maju terus saja mengingat seseorang yang terus membayangi ku bahkan hari ini ia akan menikah."
"Kau pergi? Ke mana?" Pekik Bu Amira
"Ke suatu negara, Yang tidak akan mengingatkan ku lagi tentang dirinya. Toh ia sendiri akan pulang ke negara yang dulu menaungi mereka dan alasan mengapa mereka kembali ke negara ini."
"Itu tidak mungkin! Kau pergi tanpa memikirkan bagaimana Arsen akan sendiri di sini. Dia hanya memiliki mu satu-satunya setelah ibunya sendiri memilih meninggalkan dia lagi." Ujar Bu Amira marah
"Baiklah, Kau bisa pergi. Tapi hanya sebentar, Bukan? Dan tidak lama kau akan kembali lagi?" Ucap Bu Amira berusaha tetap tenang
"Untuk selamanya. Kepergian ku kali ini ke negara orang untuk tinggal selamanya dan tidak akan pernah kembali sampai takdir memanggil ku mati di sana." Ujar Arya
"Omong kosong! Kau terus berbicara mengarang saja tanpa berpikir. Bagaimana mungkin kau akan meninggalkan kami di sini sendirian setelah keluarga kita sendiri perlahan memecah menjadi beberapa bagian." Marah Pak Barma yang ikut menimpal
"Tidak ada banyak waktu untuk tetap di sini. Aku titipkan Arsen pada kalian berdua. Rawat ia menjadi anak yang membanggakan, tanamkan ia dengan pendidikan dan nilai kehidupan yang memadai. Katakan ayahnya pergi dan ketika dewasa nanti hingga ia sukses, Dia boleh datang mengunjungi ku yang sudah tua renta." Kata Arya
"Ayah akan pergi ke mana?" Tanya Arsen yang baru muncul dan langsung menghampiri ayahnya yang tengah bersiap akan pergi
Arya pun menatap jagoan masa depannya tengah berlari menuruni anak tangga tergesa-gesa dan tersirat wajah yang sedih.
"Setelah ibu dan adikku pergi. Ayah akan pergi juga meninggalkan aku? Kenapa? Kenapa semua orang meninggalkan ku begitu saja? Apa kalian tidak menginginkan ku berada di sini? Baiklah, maka aku saja yang akan pergi. Aku sadar jika aku anak yang nakal, aku tidak bisa menghargai orang lain." Berkaca-kaca Arsen
__ADS_1
Arya bertekuk menyeimbangkan tinggi badan putranya dan memegang kedua bahu, menatap manik dengan perasaan mendalam.
"Arsen kau tidak boleh berbicara seperti itu. Ayah pergi hanya untuk meninggalkan kehidupan yang tidak adil. Ayah akan tetap selalu bersama Arsen sampai kapanpun. Satu pesan ayah, Arsen harus tumbuh menjadi pria yang taat dan bijaksana. Dengan bijaksana kau akan membentuk pribadi yang mencakup segalanya dalam dirimu. Jangan meniru ayah yang tidak menghargai cinta seorang wanita, hingga pada akhirnya nanti kau akan menyesal seumur hidup." Pesan Arya
Arsen hanya menatap dalam wajah Ayah yang sedang memberi pesan pada dirinya.
"Isilah banyak menanamkan nilai-nilai kehidupan yang baik. Dunia itu penuh dengan misteri jika kau tidak pernah mengetahui apa alasan di setiap waktu yang terjadi."
"Satu kalimat yang perlu diingat seorang ayah adalah anak laki-lakinya pasti akan meneladani tindakannya, bukan nasihatnya. Ayah perlu menunjukkan ciri-ciri yang baik kepada anak lelakinya, sekaligus menjadikan dirinya sebagai teladan."
"Ketika kau terlahir ke dunia, betapa bersyukurnya ayah atas semua karunia yang tuhan berikan. Ini adalah ucapan yang belum kau dengar saat lahir ke dunia ini, Selamat datang di dunia, jagoanku!"
"Ayah sebisa mungkin akan mengajarimu banyak hal. Sebagai sosok laki-laki yang kuat dan tangguh. Ayah mencintai jagoan kecil yang kelak akan menjadi penerang banyak orang."
"Kau akan terus bertumbuh dan mengerti tentang kehidupan. Jadilah pria yang baik, dan jadilah pria yang bertanggung jawab dengan semua yang kau lakukan."
"Arsen, maafkan ayah jika selama ini kurang memperhatikanmu. Ayah sebetulnya sangat memperhatikanmu, hanya saja caranya berbeda dari ibu. Kau juga mungkin akan berdebat karena kau sendiri belum lama ini mendapatkan perhatian darinya yang kini menghilang lagi. Maafkan kami berdua yang tidak bisa menjadi orang tua yang baik untukmu..."
"Setiap orang memiliki masa lalu nak, jangan permasalahkan masa lalunya. Lihatlah bagaimana dia sekarang karena tak ada manusia sempurna."
"Maafkan ayah karena tidak bisa seperti ayah teman-temanmu, tapi ayah berjanji untuk memberimu segala yang terbaik yang bisa ayah berikan sebelum ayah 'pergi'. Ayah sudah menitipkan sebuah dokumen pada Damar, dia akan datang memberikannya padamu nanti."
"Berdoalah untuk hari esok, tenangkan pikiranmu hari ini, semoga esok semua urusanmu lancar nak. Ini sudah saatnya ayah pergi. Jaga dirimu selalu, jangan benci ayah, dan temui ayah ketika kau sudah dewasa nanti..."
Arya menangis. Ini adalah seumur hidupnya ia kembali menangis dengan linangan air mata harus mengalah pada jalan kehidupan. Menyakiti jagoan kecilnya yang menjadi korban traumatis keegoisan...
"TIDAAKKK... SEKALI SAJA AYAH KATAKAN AKAN PERGI KE MANA! AYAH BERBOHONG MEMINTAKU MENEMUI AYAH, JIKA AYAH SENDIRI TIDAK MEMBERITAHUKAN KEBERADAAN AYAH. JANGAANN PERGIII...!!" Teriak Arsen menangis histeris meminta dilepaskan dari tarikan Pak Barma dan Bu Amira yang menahannya untuk menghentikan ayahnya yang akan pergi
Bu Amira dan Pak Barma ikut menangis tanpa bersuara. Mereka memeluk cucu mereka dengan erat yang terus memberontak ingin menghentikan ayahnya.
"Ayah mengajarkan tentang pengorbanan, Ibu mengajarkan tentang ketulusan." - Arsen
__ADS_1
"Cinta seorang ayah memang tak terlihat, karena memang ayah tak pandai menunjukannya. Aku baru mengerti tentang hal itu." - Arsen