Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
43. Kritis


__ADS_3

Flashback Off~


"Ck,,,lama sekali! aku lupa tidak membawa Tolki yang menghubungkan ke pusat helikopter pribadiku.ingin menelpon, baterai handphone ku habis, aku lupa mencharge nya.hari ini aku benar-benar sial sekali.jika aku membawanya, aku bisa meminta mereka untuk datang kemari." Ucap Arya dalam mobil


"Lagipula siapa orang itu yang menghalangi perjalanan ku. Pria itu pun lama sekali, sebenarnya dia sedang melihat apa sehingga tidak kembali lagi untuk memberikan informasi. Entah dasar apa yang membuat ku merekrut dia sebagai asisten pribadi ku." Ucap Arya mendengus kesal dari tadi dalam mobil


Sekilas mata Arya tertuju melihat teropong yang berada di belakang bagasi mobilnya.dengan cepat ia meraih teropong itu untuk mencari tahu siapa yang sedang mempersiapkan aksi bunuh diri.


"Suatu hal yang tidak disangka terdapat teropong di sini.aku bisa mencari tahu siapa orang itu menggunakan teropong ini." Ucap Arya langsung menggunakan teropong itu pada matanya dan mentujukan pandangannya pada satu titik


Terlihat dengan jelas saat teropong itu sampai pada titik yang di tuju. Arya tercengang melihat Sosok wanita yang ia kenali berdiri di atas pembatas bersiap menerjunkan diri.dia beberapa kali meyakinkan penglihatannya karena menganggap matanya sedang bersalah.


Namun, tetap saja penglihatannya masih tetap sama.


"Wanita itu...!?" Tegun Arya, yang tanpa banyak berpikir lagi membuka pintu mobil dan menutupnya keras.Lalu, berlari sangat kencang melebihi atlet lari maraton


...***...


"Bapakkk...!!" Teriak Bu Lia yang sedang menonton berita di televisi, berteriak histeris saat berita yang sedang disiarkan menyorot seorang wanita yang tergeletak sehingga menyadari jika itu adalah anaknya


Pak Malik yang sedang menghitung pendapatan nya dari hasil menjual bunga.sontak tercengang mendengar teriakan yang begitu menggema pada telinganya.


Pak Malik bergegas berlari menghampiri istrinya yang sudah menangis histeris.


"Ada apa Bu?" Ucap Pak Malik yang khawatir melihat kondisi istrinya


"Lihat itu, Pak. Lihat...!!" Ucap Bu Lia pada suaminya menunjuk arah televisi agar dapat menonton berita yang sedang disiarkan


"Info selanjutnya datang dari tempat kejadian perkara.setelah menunggu lama ambulance akhirnya datang, pada akhirnya korban di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.diberitahukan pasien akan di bawa ke RS General Zaincare." Ucap Reporter yang menjadi latar belakang suara dari berita yang disiarkan menyorot tubuh korban


"Diniii...!! Bu, Anak kita!" Ucap Pak Malik terkejut juga


"Iya, Pak itu Dini, Putri kita. Hiks...hiks..." Ucap Bu Lia Terduduk lemas


"Kita harus pergi ke rumah sakit sekarang." Ucap Pak Malik

__ADS_1


"Iya, Pak. Ayo cepat kita harus ke sana sekarang juga. ibu tidak tenang, jika belum mengetahui keadaannya sekarang." Ucap Bu Lia menangis



Saat dimasukkan ke rumah sakit, Dini dibawa ke ruang UGD.di sana ia dilakukan beberapa pemeriksaan dan penanganan yang intensif oleh dokter dan suster.


Kondisi tubuhnya sangat lemah. Hasil yang didapatkan jika Dini mengalami Delirium, delirium itu sendiri adalah penurunan kesadaran yang disebabkan oleh gangguan fungsi otak yang terjadi secara tiba-tiba.


Penderita delirium dapat mengalami gangguan dalam berpikir, berperilaku, dan tidak memperhatikan kondisi di sekitarnya. Delirium juga dapat menyebabkan gangguan emosi, seperti cemas, depresi, dan paranoid.


Kondisinya masih tidak sadarkan diri dengan tangan yang di infus dan selang oksigen yang terpasang, terbaring lemah di Ranjang.


Atas dasar permintaan Arya, Arya meminta Damar agar memasukkan Dini ke ruangan VVIP yang sudah difasilitasi lengkap oleh rumah sakit.


"Dokter bagaimana keadaan putri saya?" Ucap Pak Malik yang tergesa menghampiri dokter dengan khawatir menanyakan keadaan putrinya


"Kondisi putri bapak saat ini kritis, masih perlu dilakukan perawatan intensif agar kondisinya normal seperti semula." Ucap Dokter


"Tolong lakukan apapun agar putri saya sadarkan diri Dokter." Ucap Bu Lia


"Baik, Terima Kasih Dokter." Ucap Pak Malik


"Jika tidak ada pernyataan lagi, saya permisi." pungkas Dokter pergi


"Baik, Dokter. Terima Kasih." Ucap Bu Lia


Bukan suatu hal yang mudah bagi orang tua Dini, untuk menerima kenyataan yang amat terasa pedih.melihat kondisi putri mereka yang kritis, dan di sisi lain bagaimana mereka bisa membiayai rumah sakit besar sekaligus ruang VVIP yang menjadi tempat perawatan Dini.


"Bagaimana kita bisa membayar Rumah Sakit besar ini, pak.kita bukanlah orang kaya yang ingin melakukan apapun tanpa memikirkan uang. biaya rumah sakit ini pasti mahal, bagaimana jika setelah Dini sembuh kita tidak bisa membayar biaya tagihan di Rumah Sakit ini." Ucap Bu Lia yang menangis lemas di tempat Duduk ruang tunggu


"Bapak akan mengambil uang yang sudah kita kumpulkan untuk membayar rentenir itu nanti, Bu.walaupun uang yang kita kumpulkan untuk membayar rentenir menjadi kurang, kita akan memperjuangkan kesembuhan putri kita.ibu tenang saja, bapak akan bekerja keras." Ucap Pak Malik merangkul istrinya


"Entah apa yang membuat Dini melakukan percobaan bunuh diri seperti ini.untung saja seseorang menolong dengan menariknya turun.jika tidak, mungkin tidak ada harapan lagi bagi kita bisa melihat putri kita." Ucap Bu Lia yang tidak bisa menghentikan tangisnya


"Ibu benar. Lalu, Di mana orang yang sudah menolong Dini. dari tadi bapak tidak melihat orang itu. sekiranya kita mengucapkan terima kasih padanya karena sudah menolong putri kita." Ucap Pak Malik memfokuskan matanya melihat sekitar

__ADS_1


Tak lama kemudian setelah mendengar kabar melalui berita, Prisha dan Raina yang melakukan pencarian datang ke rumah sakit.di sana mereka menghampiri Pak Malik dan Bu Lia yang sedang sedih.


"Tante, Om, Bagaimana keadaan Dini?" Tanya Prisha


"Dokter mengatakan saat ini kondisinya kritis.sampai sekarang belum sadarkan diri." Jawab Pak Malik


"Kami turut bersedih atas musibah yang menimpa Dini." Ucap Raina


"Kalian tidak perlu khawatir, kami yakin Dini sahabat kami akan segera sembuh." Ucap Prisha


"Terima Kasih, Ya. kalian sahabat Dini yang baik." Jawab Pak Malik


"Yasudah, pak.jika Dini sudah sadarkan diri, kami akan datang untuk menemuinya.kami terpaksa harus pulang dan tidak bisa menemani karena orang tua kami meminta untuk segera pulang." Ucap Raina


"Iya, kalian pulang saja.orang tua kalian pasti sangat khawatir." Jawab Pak Malik


...***...


"Tuan, Bagaimana keadaan Dini saat ini.kenapa anda memutuskan untuk pergi setelah mengantarkannya ke rumah sakit." Ucap Damar mengemudikan mobil menuju mansion Arya


"Kenapa kau bertanya padaku? memang aku dokter yang menanganinya. Untuk apa juga kita berlama-lama berada di sana." Ucap Arya


"Tapi sekiranya kita bisa membantu mereka dengan membayar perawatan Dini selama di rumah sakit.ditambah anda meminta saya untuk memasukkan nya ke ruangan VIP." Ucap Damar


"Untuk apa kau memintaku membayar tagihan rumah sakit.aku bukanlah seorang donatur atau relawan yang membantu orang susah.biarkan saja mereka tambah menderita." Sarkas Arya tidak memiliki hati


Damar tidak ingin berdebat kepanjangan, ia menyudahi pembicaraannya dan fokus menyetir.


"Lagipula kau adalah kekasihnya.kau memberitahu ku dalam kemarahan jika kau mencintai wanita itu, bantu saja kekasihmu itu jika kau mampu." Ucap Arya


"Tapi tidak mungkin kau bisa membantu kekasihmu itu.setelah mengetahui jika dia yang bunuh diri, bukannya kau menolong malah berdiam diri.apakah itu yang dinamakan Cinta? Terpaksa aku yang menolong wanita itu." Lanjut Arya mengejek dengan terkekeh


Damar tidak menjawab Ejekan Arya padanya.


Karena terlalu malas menjelaskan pada orang yang keras kepala tidak ingin mendengar nasihat orang lain.

__ADS_1


__ADS_2