Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
122. Menagih Cucu


__ADS_3

Sebelum Arya pulang, dia mendapat pesan yang membuatnya emosi dari Bu Amira.


[Arya, Bisakah kau datang ke mansion hari ini. Ayah mu yang memintanya!]


Arya sepertinya kecewa dengan Bu Amira yang ingin menurut begitu saja dengan semua yang dikatakan Pak Barma "Kenapa ibu selalu menuruti apa yang ayah katakan? Dia tahu sendiri jika ayah egois." Gerutunya


"Karena dulunya aku selalu menjadi anak buronan ayah, dan sekarang Darwin datang menggantikan posisiku, otomatis dia lebih sayang padanya. Untuk apa pula dia memintaku untuk datang menemuinya, Bukankah Darwin sudah pulang."


"Tapi Dia sama sekali tidak menghargai perasaanku? Dia selalu memaksakan kehendaknya."


[Akan ku usahakan] Jawab pesan Arya pada ibunya


*


*


*


Tok! Tok! Tok!


Ceklek!


Ternyata Bu Amira yang membuka pintu utama "Arya! Ayo masuk, Nak!"


Pak Barma yang mendengar nama Arya segara keluar dari kamar dan meminta Arya untuk berbicara santai dengannya di ruang tamu.


Arya menatap berkas-berkas yang menjadi pusat perhatiannya saat datang yang menumpuk di meja ruang tamu tersebut "Ayah lihat sendiri kan? Darwin sama sekali tidak bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Berkas yang penting, Dia simpan di mana saja."


Pak Barma juga menjadi kesal dibuatnya yang baru saja datang sudah membuat onar.


"Hhh... Darwin sering kerja lembur dan mengerjakannya di sini. Wajar saja jika dia kelelahan dan tidak sempat membereskannya kembali. Ingin di rapikan, Takut ada berkas yang tidak kami tahu dan hilang."


"Lihat! Betapa bangganya dia dan selalu membela anak kesayangannya itu!" Gumam Arya mendengus


Pak Barma terdiam sebentar sambil berpikir, lalu menatap Arya dengan lembut.


"Bagi ayah kau sudah seperti anak ayah yang segala pertama, tapi maafkan ayah jika selama ini ayah tidak berlaku adil padamu." Ujar Pak Barma tiba-tiba

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba ayah berbicara seperti ini? Apa ayah akan melontarkan permintaan ayah kembali saat ini." Ujar Arya sudah menduga


"Bukan begitu!" Pak Barma merasa tersinggung


"Jika ada yang ingin dikatakan, Cepatlah! Aku tidak memiliki banyak waktu untuk mendengarkan bicara santai ayah."


Lalu, tatapan Pak Barma kini menjadi tajam pada anaknya itu "Kenapa Dini belum hamil juga? Padahal ayah sangat menginginkan cucu dari kalian."


"Tck, Sudah ku duga!" Sombong Arya


Arya menjadi salah tingkah dibuatnya. Bagaimana bisa hamil? Dia tidak pernah sekalipun menyentuh Dini dan baru saja kemarin dia menyentuh wanita yang menjadi istrinya itu, walaupun dengan paksaan yang menyiksa. Dia memang lelaki normal yang pastinya ada saatnya dia bergairah saat melihat Dini yang memakai piyama tidur di sampingnya, mereka hanya dihalangi satu guling saja. Tapi Arya selalu ingat pesan dari Valerie yang mengingatkannya harus selalu ingat pada janjinya itu untuk menikahinya dan tidak akan berlaku baik pada Dini.


"Mungkin belum saatnya dia mengandung untuk memberikan cucu pada ayah." Jawab Arya


"Hmm ya, kapan-kapan kau bawa istrimu itu ke dokter kandungan, mungkin saja ada masalah pada rahimnya atau ada masalah yang serius yang tidak kita ketahui." Usul Pak Barma mengira


Arya menangguk patuh "Tidak, Aku tidak akan membawa dia ke rumah sakit. Kalian tidak perlu khawatir dan percayakan padaku jika keinginan kalian akan segera terwujudkan."


"Apa itu sebabnya karena kau tidak pernah menyentuh istrimu?" Tanya Pak Barma


Arya hanya diam dan sudah membuat Pak Barma ambigu untuk mudah dipahami.


"Kemarin kau sangat bangga menyebut Dini adalah istrimu dihadapan kami, adikmu, dan semua orang di sini. Ibu harap hubungan kalian memang bahagia seperti terlihatnya." Sahut Bu Amira


"Ayah juga sudah membicarakan hal ini bersama ibumu. Kalian sudah hampir ingin satu tahun menikah, tapi kenapa belum memberi kami kabar akan kehamilan Dini. Padahal kami sangat menantikan kabar itu." Ujar Pak Barma


"Iya, Arya. Keluarga Pratama sedang menunggu pewaris mereka. Jika tidak terlalu terburu-buru, Dini memang usianya masih muda dan kapan saja ia bisa hamil, tapi kau sudah berumur sudah sepantasnya ada yang memanggil dengan sebutan Ayah." Ujar Bu Amira


"Kami juga sudah tua dan sangat ingin menggendong cucu. Saat bertemu dengan teman-teman ayah, mereka datang dengan menggendong cucu-cucu mereka."


"Akan ku usahakan di tahun ini juga impian kalian terwujud. Agar beberapa bulan ke depan kalian bisa menggendongnya."


"Ayah ingin diusia pernikahan yang menginjak satu tahun, kiranya dua bulan lagi, kehamilan Dini merupakan hadiah terindah untuk kalian dan kami semua."


"Kalian berdoa saja. Aku akan mencoba program hamil dengannya agar lebih cepat dari yang kalian targetkan."


"Hah (Menghela napas panjang) Ayah senang kau juga ternyata sangat antusias dan menantikan keturunanmu. Setelah menjadi seorang Ayah, akan ada perubahan yang timbul dalam dirimu." Kata Pak Barma memberitahu

__ADS_1


"Lalu, Bagaimana dengan Dini sendiri? Apa kalian selalu berbincang mengenai anak?" Tanya Bu Amira


"Y-ya, Dia selalu bertanya kapan aku akan hamil untuk memberikan keturunan bagi keluarga Pratama." Ujar Arya tidak begitu yakin terdengarnya karena memang berbohong


"Sepertinya Dini sangat tertekan akan sikap kita yang selalu membahas keturunan.mungkin karena dia seorang wanita dan sepatutnya memberikan seorang anak. Jadi, dia seperti menganggap bukan wanita seutuhnya." Kata Bu Amira


"itulah sebabnya kau harus menjadi orang yang andil dalam masalah ini Arya, Peranmu sangat penting dalam sebuah rumah tangga. Semua tidak akan terwujud jika bukan kau yang mengambil alih semuanya." Nasihat Pak Barma


Arya cukup bisa di nasihati, terbukti dia mendengar setiap perkataan yang masuk ke telinganya.


"Mereka terus saja membahas cucu. Aku pikir satu kali saja tidak membuat dia langsung hamil, Bukan? Baru saja kemarin, Aku harus melakukannya beberapa kali lagi." Gumam Arya berspekulasi


"Ibu jadi tidak sabar mendengar kehamilan Dini, setelah itu ia melahirkan dan kami bisa menggendongnya. Ibu pikir semoga anak Arya nanti mirip dengan ibunya,,,hhhh. Supaya sifat dingin yang ada pada ayahnya tidak turun pada anaknya nanti." Ujar Bu Amira sedikit mencela Arya


Pak Barma pun sefrekuensi dengan Bu Amira, ia ikut tertawa bersama Bu Amira. Sedangkan Arya tersinggung dan tertekan dibuatnya.


_________________πŸ•Œ________________


Marhaban Ya Ramadhan 1443 H


Tak terasa, waktu berjalan dengan cepat dan kita masih bisa dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan. Kehadiran bulan tersebut tentunya telah dinanti-nanti oleh seluruh umat Muslim.


Bulan Ramadhan adalah bulan di mana umat Islam diwajibkan melaksanakan puasa dengan menahan haus dan juga lapar selama 1 bulan lamanya.


Pada bulan tersebut, juga terdapat malam yang mulia, lebih baik dari seribu malam, yaitu malam Lailatul Qadar.


Oleh karena itu, kita sebagai hamba harus mengucapkan rasa syukur karena telah dipertemukan kembali dengan bulan mulia ini.


Sesuai dengan ketetapan yang sudah ada, bahwa Bulan Ramadhan 1443 H jatuh pada 1 Ramadhan lebih tepatnya hari Ahad, 3 April 2022. Pada hari ini adalah hari kedua di mana kita sebagai umat Islam sedang menunaikan ibadah puasa.


Setahun tak terasa berlalu, Ramadan pun telah kembali. Semoga bulan suci ini segala yang dilakukan menjadi amal kebaikan dan ladang pahala. Semoga di bulan Ramadan kali ini kita semua tetap diberikan kesehatan, panjang umur, dan sisa waktu yang bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, dan orang lain.


Saya selaku Author ingin mengucapkan, Selamat datang bulan suci Ramadan 1443 H.


Marhaban Ya Ramadhan, Selamat menunaikan ibadah puasa bagi kita semua.πŸ™πŸ€—


Takabbal-Allahu Minna Wa Minkum Salihal A’maal🀲🀲

__ADS_1


Semoga kalian yang menjalankan ibadah puasa kali ini menjalankannya dengan semangat, diberi kekuatan, kelancaran, dan kemudahan untuk bisa menahan rasa lapar, dahaga, dan hawa nafsu yang melanda hingga tuntas sampai waktu berbuka dan hari kemenangan nanti.πŸ€²πŸ™


__ADS_2