TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 101. MAKAN MALAM ROMANTIS


__ADS_3

“Gaun-gaun ini?" Deandra tak mampu meneruskan kalimatnya karena takjub dengan deretan sepuluh gaun yang terpajang di manekin didalam kamaranya.  Seumur hidupnya ia tak pernah sekalipun berani bermimpi melihat secara langsung apalagi bisa memakai dan memilikinya.  Namun sekarang semua gaun branded itu terpampang didepannya.


“Ini semua dari butik yang mengirimkan saat nyonya sedang berada dikamar mandi. Ukurannya juga sudah disesuaikan khusus untuk nyonya,” kata Yuna menjelaskan. Terlihat gaun-gaun itu memang agak longgar disesuaikan dengan bentuk badannya yang sedang hamil.  Deandra terkesima. ‘Berapa lama aku berada dikamar mandi sehingga gaun-gaun ini sudah sampai disini?’


“Mari nyonya. Anda bisa memilih salah satu dan saya akan memanggil MUA untuk merias anda.”


Deg!


“Apakah ini tidak terlalu berlebihan Bibi Yuna?” tanya Deandra sambil membalikkan tubuhnya. “Aku hanya makan malam, bukan pergi ke pesta.”


“Ini perintah Tuan, nyonya.  Anda bisa menanyakan langsung kepada Tuan.” jawab yuna dengan tersenyum.


“Dimana suamiku?”


“Tuan ada dikamar sebelah sedang bersiap-siap.”


“Tunggu. Aku akan menemui suamiku dulu.” Tanpa menunggu jawaban Yuna, Deandra pun keluar hanya dengan memakai kimono.


Sesampainya dikamar sebelah, kamar yang dulu adalah bekas kamarnya, deandra menghela napas.  Jujur ia sangat gugup bertemu dengan Verrel setelah kejadian diruang kerja tempo hari. “Tenang….tenang. Semuanya akan baik-baik saja. Jangan gugup, dia suamimu.” Gumamnya berusaha menenangkan diri lalu mendorong pintu warna keemasan itu dan masuk kedalam.

__ADS_1


Ia mengedarkan pandangannya namun tak melihat keberadaan Verrel diseluruh ruangan.  Kedua kakinya menuju kamar mandi, terlihat pintu kamar mandi tidak tertutup, ada celah yang terbuka.  Terdengar dengan jelas oleh Deandra suara Verrel yang mendesah menyebut namanya.  Terdorong oleh rasa penasaran ia mendorong pintu itu.


Betapa terkejutnya Deandra saat menangkap pemandangan sensual suaminya, tubuhnya membeku dengan mata membulat.  Tiba-tiba Verrel berbalik dan memandang wanita yang dicintainya berdiri didepan pintu, Verrel tersenyum namun Deandra merasa riwayatnya tamat.  Suaminya mendapatinya berdiri termangu disana, tanpa disadarinya Verrel sudah berdiri dihadapannya dan menarik tubuhnya merapat. Perlahan kimono yang dipakainya terlepas.  Deandra larut dalam ciuman liar suaminya.


...*...


Verrel tak henti-hentinya memberikan elusan lembut ditangan Deandra yang berada dalam genggamannya. Pria itu tak membiarkan sang istri jauh dari jangkauannya. Jelas saja, deandra yang mengenakan gaun malam dengan punggung terbuka dengan belahan dada rendah yang membuat payudara montok itu nampak mempesona.  Ditambah belahan bagian bawah gaun hingga ke paha membuat Verrel tak mampu berpaling sedikitpun. Apalagi wanita itu sedang hamil, aura kecantikannya semakin memancar.


Gaun yang saat ini dikenakan Deandra adalah pilihan Verrel. Karena Deandra kebingungan memilih gaun yang sudah disiapkan Verrel. Akibatnya kini Verrel yang tergoda dengan keindahan maha karya Tuhan yang ia miliki selamanya itu. Ugh! Andaikan saja tidak ada sesuatu yang menghalangi, pasti rencana makan malam ini tidak akan terlaksana.  Mereka mungkin berakhir ditempat yang sama seperti malam-malam sebelumnya.


“Kita hampir sampai sayang,” bisik Verrel dengan lembut seraya mengecup daun telinga Deandra. Hal itu membuat sesuatu dibawah sana bergejolak.


“Hati-hati sayang,” Verrel memperlakukan Deandra layaknya seorang ratu yang harus dilindungi dan dihormati. Mendapat perlakuan yang sangat manis dari Verrel membuat Deandra tak bisa menyembunyikan rona merah diwajahnya, bias warna itu menambah kecantikan Deandra yang membuat Verrel harus menahan napas berkali-kali.


Tanpa peringatan Verrel menlingkarkan tangannya dengan posesif dipinggang deandra. Seolah ia tak ingin memberi celah diantara mereka. “Jangan jauh-jauh dariku, sayang.”


Deandra menggangguk setelah sekian lama diam tak menanggapi perhatian dari sang suami. Dia merasa melayang terbang kelangit ketujuh mendapat perlakuan lembut dan manis dari suaminya. Mereka melangkah menuju gedung mewah dan masuk kedalam lift. Sesampainya dilantai teratas sebuah gedung yang sudah dipersiapkan sejak sore tadi, kembali Deandra dibuat tercekat saat menginjakkan kaki disana.


Satu buket mawar merah segar yang dirangkai sedemikian rupa menyambut kedatangannya.  Ditambah alunan musik yang menambah suasana malam itu menjadi berbeda. Deandra tak menolak saat Verrel membimbing langkahnya menuju kursi yang telah disediakan.  Sentuhan hangat tangan Verrel pun memberikan debaran riuh didalam dadanya.  Tubuhnya berdesir, setiap kali Verrel menyentuhnya, tubuh Deandra bereaksi. Verrel menuntun Deandra kemeja yang sudah disiapkan untuk mereka, tatanan meja yang indah membuat Deandra terkesima. Verrel menarik kursi untuk istrinya, setelah memastikan istrinya duduk dengan baik, dia pun melangkah keseberang meja.

__ADS_1


Kemudian Verrel duduk ditempatnya lalu menuangkan red wine digelasnya dan menuangkan minuman tak beralkohol kegelas deandra. Mengingat istrinya yang sedang hamil, dia memilih fuit punch untuknya.


“Minumlah, itu fruit punch, aman untukmu,” ucap Verrel tanpa mengalihkan tatapan matanya dari deandra.  Dia mengawasi setiap gerak sang istri yang selalu meggoda matanya.  Termasuk saat Deandra menyesap minumannya.  Gerakan elegan Deandra membuat Verrel mengertakkan rahang. 'Semakin hari kau semakin cantik sayang.'


“Bahkan saat menyesap minuman pun kau sangat menggairahkan,” geram Verrel. ‘Kenapa kau semakin membuatku bergairah sejak kau hamil?’ geram Verrel dalam hati. Keberadaan deandra cukup mengganggu dan membuat kewarasannya terkikis.  Apalagi istrinya itu sering sekali menggodanya sekarang. Terlebih saat Verrel sedang marah ataupun moodnya sedang tak baik, Deandra sangat mengetahui bagaimana menenangkan suaminya dan membuat suasana hatinya cepat membaik.


Tak lama, hidangan makanan tersaji.  Verrel mengangkat gelas untuk bersulang memulai malam ini. Mereka menyantap makanan spesial yang sengaja dipesan oleh Verrel khusus untuk istri tercintanya.


“Bagaimana sayang? Kau suka dengan makanannya atau suasananya?” bertanya pada Deandra yang sudah menghabiskan makanan dipiringnya.


Deandra mengelap bibirnya dengan tisu sebelum meremasnya dan membuang keatas piring. “Aku suka semuanya. Aku tidak menyangka kau menyiapkan ini semua untukku." kata Deandra tersenyum manis, dia merasa bahagia karena perlakuan istimewa yang diterimanya dari Verrel.


Seulas senyum Verrel mengembang. “Syukurlah kalau begitu.” desahnya lega.Dia sempat takut jika istrinya tak bisa menikmati mengingat gerakannya begitu kaku.


“Kau menyiapkannya dengan baik dan kau tahu apa yang kusuka.” Setelah mengatakannya wajahnya merona dan ia tak mampu memandang Verrel. Sekilas ide terbersit untuk membuat istrinya semakin terpesona dan kagum.  Verrel beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Deandra.  Mengulurkan satu tangan seraya membungkukkan bada “Maukah kau berdansa denganku, sayang?”


Deandra merasa seluruh tulangnya lemas, entah kenapa semua perlakuan Verrel membuatnya merasa semua syaraf ditubuhnya melebur. Dimulai saat dirumah sampai makan malam romantis mereka dan didalam mobil saat mengantarkan mereka pulang pergi.


Tak henti-hentinya sikap manis dan lembut Verrel padanya. Istri mana yang tak meleleh mendapat perlakuan istimewa dari suami. Mereka berdansa, Verrel melungkarkan tangannya di pinggang Deandra. Mempererat tubuh mereka seakan tak ingin ada jarak yang memisahkan. Deandra yang hanyut dalam alunan musik yang indah, menjatuhkan kepalanya kedada bidang sang suami. Sedikit terhalang karena perutnya yang membuncit. Verrel hanya bisa tersenyum melihat tingkah manja istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2