
Semua mendengarkan penjelasan Verrel dengan seksama sambil mengangguk-angguk. “Semoga saja si Olivia itu segera tertangkap. Begitu licinnya dia sehingga tidak ada yang tahu dimana dia bersembunyi.” ujar Deandra. ‘Wanita jahat itu tidak pantas menikmati udara bebas, seharusnya dia mendekam di penjara untuk jangka waktu yang lama,’ lanjutnya dalam hati.
“Aku juga berharap begitu,” sahut Verrel. “Kasihan mamanya yang sudah tua itu tinggal sendirian. Tempo hari sempat dirawat dirumah sakit karena syok mendengar berita anaknya buron dan suaminya sudah masuk penjara.” lanjut Verrel lagi.
“Apakah Olivia anak satu-satunya?”
“Benar! Karena itulah dia sudah terbiasa dimanja dan mendapatkan apapun yang dia inginkan sejak kecil. Yang membuatnya tidak bisa terima penolakan!” ujar Verrel.
“Miris betul nasib Celia, padahal setahuku dia wanita yang baik. Suami di penjara, putri satu-satunya jadi buronan polisi, perusahaannya bangkrut sementara hartanya disita. Entah dimana dia sekarang berada. Kasihan sekali…...dihari tuanya harus melewati semua tragedi itu sekaligus,” papar Yahya.
Deandra menghela napas panjang lalu menghempaskannya dengan kuat, ‘Hidup ini memang penuh ironi,’ desisnya didalam hati. ‘Dulu hidupku juga mengenaskan, dijual pada Verrel tapi untungnya dia menikahiku dan sekarang hidupku sangat bahagia punya suami yang baik dan menyayangiku dan anak-anak yang lucu dan mengemaskan. Semoga bisa selamanya seperti ini ya Tuhan!’
...*******...
Malam semakin larut, jalanan pun sepi. Orang-orang sudah terlelap diperaduan begitu juga Verrel dan Deandra yang tertidur pulas saling berpelukan diranjang mewahnya. Wajah mereka tampak tenang, Naomi tidak berada disana malam ini seperti biasanya. Malam ini Naomi tidur dirumah Ayu karena sore tadi Ayu datang dan entah kenapa Naomi mau ikut menginap dirumah Omanya.
Verrel terbangun dari tidurnya dan merasakan dadanya terasa hangat oleh pancaran hawa tubuh istrinya yang menempel. Senyumnya mengembang seketika lalu mencium pucuk kepala istrinya itu penuh cinta.
“Good night sayangku” bisik Verrel disertai senyum haru. Semakin hari semakin besar rasa cinta dan sayangnya pada Deandra. Wanita itu bergumam lirih seolah mendengar perkataan Verrel, dengan mata tetap terpejam ia tersenyum.
Wajah cantik Deandra tampak kelelahan setelah pergumulan panas mereka, malam ini mereka sudah melakukannya berkali-kali dengan aman dan nyaman tanpa gangguan Naomi si monster kecil yang suka mengganggu. Verrel mengelus pipi mulus istrinya sambil tersenyum mengingat kembali semua perjalanan hidup yang sudah mereka tempuh.
Disaat Verrel hanyut dalam pikirannya, tiba-tiba ponselnya diatas nakas bergetar. Ada panggilan dari nomor yang tidak dikenal, Verrel melirik jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu pagi, siapa yang meneleponnya jam segini?
__ADS_1
Seperti biasanya Verrel mengabaikan panggilan itu, dia memang tidak pernah mau menerima panggilan telepon dari nomor tak dikenal. Namun kali ini panggilan itu terus berulang masuk hingga beberapa kali.
Verrel berdecak, tapi dia pun berpikir mungkin ada hal penting kalau tidak kenapa sampai menelepon berulang-ulang? Dia berdiri dari ranjang dan berjalan menjauh menuju balkon agar tidak mengganggu tidur Deandra. Dengan enggan dia menjawab panggilan itu.
“Siapa ini?” tanya Verrel ketus.
“Halo Verrel! Bagaimana kabarmu? Apakah kau masih suka mencari wanita-wanita diluaran sana untuk melampiaskan nafsumu selama istrimu dalam masa idahnya? Aku bisa membantumu.”
Verrel tersentak, ekspresinya langsung menegang saat mengenali suara orang yang menghubunginya. ‘Berani sekali orang ini! Mencari mati ya?’ pikirnya.
“Olivia?” desis Verrel dengan nada tidak percaya.
“Wah wah…..ternyata kau masih ingat dengan mantan rekan bisnismu ini. Kukira kau akan melupakanku dengan mudahnya hihihi.” kata Olivia dengan nada mengejek.
Verrel menggertakkan rahang dengan emosi, jika wanita itu ada didepannya saat mungkin mungkin Verrel sudah mematahkan leher perempuan itu.
“Tidak perlu repot mengurusi ibuku, dia juga begitu karena ulahnya sendiri!” balas Olivia ketus.
“Terserah kau saja! Aku hanya mengingatkan karena kau sudah tersesat terlalu jauh. Kalau kau menyerahkan diri pada polisi mungkin kau akan mendapatkan keringanan.”
“Tidak usah peduli pada hidupku! Urus saja istri dan anakmu itu! Kirim banyak pengawal untuk menjaga istri dan anakmu! Ingat ya Verrel, aku akan membalasmu dan membuat istri serta anakmu jadi gembel! Aku akan membuatmu bangkrut!” ancam Olivia langsung menutup panggilan itu.
“Sial! Berani sekali ****** itu mengancamku. Heh! Tidak semudah itu membuatku bangkrut! Kalaupun aku bangkrut, istriku juga kaya raya. Untungnya tidak ada yang tahu perusahaan mana saja yang dimiliki istriku jadi semuanya aman dari gangguan musuh.”
__ADS_1
Dengan hati yang panas sambil menggertakkan rahang, dia menyalin nomor telepon yang digunakan Olivia itu lalu mengirimkannya pada Jack disertai perintah untuk melacak lokasi nomor telepon itu. Namun baru saja pesan itu terkirim, tiba-tiba Verrel menerima panggilan dari Frans, asisten pribadinya.
‘Kenapa semua orang menghubungiku malam-malam?’ pikirnya geram.
“Ya Frans ada apa? Apa ada masalah sampai kau lupa ini jam berapa?” tanya Verrel.
“Maaf Tuan! Saya tahu ini sudah lewat tengah malam. Tapi saya mau menyampaikan berita bagus, Tuan. Tadi Sersan Fahrezi mengabari saya, lima menit yang lalu Olivia datang ke kantor polisi menyerahkan diri.”
Verrel terperangah, baru saja dia menerima telepon ancaman dari Olivia bagaimana mungkin dia sudah menyerahkan diri, apakah dia menelepon dari kantor polisi? Olivia mati-matian kabur saat akan ditangkap tapi sekarang justru datang dan menyerahkan diri atas keinginannya sendiri, rasanya sulit dipercaya. Pasti ada sesuatu yang direncanakan oleh wanita licik itu.
“Frans! Malam ini istirahat saja. Kau bisa mencari tahu besok pagi informasi lengkapnya. Aku masih sulit mempercayai yang terjadi. Wanita itu pasti sedang merencanakan sesuatu,” perintah Verrel.
“Baik Tuan. Saya akan memeriksanya langsung ke kantor polisi besok pagi.” jawab Frans.
Verrel menutup panggilan telepon itu dengan tatapan menerawang.
Kepalanya sibuk memikirkan berbagai pertanyaan, apa yang sedang direncanakan Olivia. Namun betapa pun kerasnya dia berpikir, Verrel tidak mendapatkan petunjuk sedikitpun ia hanya bisa menghela napas berkali-kali. Dia beranjak kembali ke kamar, menutup pintu balkon dan menguncinya lalu merebahkan tubuhnya disamping Deandra. Lalu matanya terpejam dan tertidur, melupakan semua yang baru saja terjadi.
Keesokan harinya.
Dreeetttt dreeettttt dreeettttttt
Ponsel Verrel bergetar beberapa saat setelah dia menyelesaikan urusan dikamar mandi. Dengan hanya mengenakan handuk melilit dipinggang dia berjalan menuju ke walk in closet untuk mengambil pakaian yang sudah diletakkan Deandra diatas sofa kecil disana. Ternyata ada pesan masuk dari Jack.
__ADS_1
[Tuan, anak buahku berhasil menemukan alamat Olivia dan lelaki yang membantunya itu. Kami melacak nomor telepon yang Tuan kirimkan. Kami sedang menuju kesana untuk menangkap mereka.]
‘Tunggu dulu, bukankah selama ini ada orang yang membantu Olivia? Ini sangat aneh, kenapa hanya Olivia sendiri menyerahkan diri begitu mudahnya?’ pikir Verrel.