
Apartemen yang ditempati oleh Frans adalah gedung apartemen mewah. Hanya penghuni yang memiliki kartu akses bisa masuk kedalam gedung itu, karena untuk memasuki lift pun harus memakai kartu akses. Setiap pintu apartemen pun memakai password yang hanya diketahui oleh penghuninya. Melissa masih menyimpan kartu akses ke apartemen Frans dan masih ingat password apartemennya sehingga dengan mudahnya dia bisa masuk ke gedung apartemen itu.
Melissa memegang gelas berisi wine ditangannya sambil tersenyum sinis menatap foto pernikahan berbingkai yang berada didinding apartemen milik Frans.
Beberapa foto prewedding menghiasi lemari rak diruang tamu dan juga ada foto berdua diatas meja kerja Frans. Melissa berjalan memperhatikan semua itu dan membanting foto-foto Frans dan Rosa. Langkahnya memasuki kamar utama dan kembali membanting foto yang berada diatas nakas. “Dasar perempuan udik! Bisa-bisanya kau menikahi tunanganku. Kini aku kembali dan takkan kubiarkan perempuan manapun berada disisi Frans.”
Dulu Melissa dan Frans bertunangan setelah menjalin hubungan selama setahun, namun dua bulan setelah pertunangan tiba-tiba Melissa pergi meninggalkan Frans.
Tiga tahun lalu Melissa meninggalkan Frans tunangannya setelah dia berkenalan dengan seorang pria tampan dan kaya raya. Saat itu Melissa terpesona oleh harta pria itu, dibandingkan dengan Frans yang hanya bekerja sebagai seorang asisten CEO, wanita itu mmeilih pergi bersama pria kenalannya dan menetap di Eropa selama tiga tahun.
Flashback on
Stokholm, Swedia. Musim dingin baru saja ditandai dengan jatuhnya salju. Disebuah rumah mewah tampak seorang pria bertubuh tinggi dan kekar sedang mencengkeram leher seorang wanita. “Berani sekali kau mencampuri urusan pribadiku, hu?”
“Lepaskan! Arrhhh…..” tubuhnya lengser dilantai setelah hentakan tangan kasar si pria bernama Evan. Wanita itu membuka mulutnya lebar berusaha mengisi paru-parunya dengan oksigen, sudut matanya meneteskan airmata.
“Kenapa kau tega padaku Evan? Aku sangat mencintaimu,”
“Ha? Cinta kau bilang? Hei….dengar ya j*lang! Kau yang memilih untuk ikut denganku, kau hanya mainan yang tak berarti bagiku! Cuih….”
“Kau jahat Evan! Kau yang merayuku hingga aku meninggalkan tunanganku demi kau! Sekarang kau mencampakkanku demi wanita lain!” teriak Melissa meraung.
“Aku sudah bosan bermain-main denganmu. Sekarang kau bisa pergi atau kembali pada tunanganmu, itupun kalau dia masih sudi menerima perempuan murahan sepertimu.”
__ADS_1
“Kurang ajar!” Melissa bangkit dan hendak menampar Evan, kemarahannya sudah tak terbendung dan sakit hati melihat Evan yang tiap hari bermesraan dan bercumbu degan wanita lain didepan Melissa, bahkan dengan sengaja dia memaksa Melissa melihatnya bercumbu.
Plak!
“Ah…..” Bruk! Tubuh Melissa terjatuh setelah menghantam ujung meja. Evan menamparnya keras, sudut bibirnya mengeluarkan darah. Tangan Melissa memegang dadanya yang terasa sangat sakit.
“Keluar! Keluar kau dari rumahku!” tangan Evan menarik tangan Melissa dan menyeretnya keluar dari rumahnya. Udara dingin dan tanah yang ditutupi salju membuat pakaian Melissa basah. Seorang pelayan membawa koper berisi barang-barang Melissa dan memberikannya pada Evan. “Ini semua barang-barang nona Melissa,”
Pluk!
Evan melemparkan koper itu kearah Melissa lalu masuk kedalam rumahnya dan mengunci pintu.
Melissa meraung meratapi dirinya yang dibuang oleh Evan, selama tiga tahun dia tinggal bersama Evan dirumah mewahnya. Selama dua tahun dia menikmati kemewahan sebagai kekasih Evan yang dikenal memiliki banyak teman wanita. Satu tahun terakhir, Evan merasa bosan dengan Melissa yang dianggapnya tidak menarik lagi setelah pria itu mendapatkan mainan baru seorang wanita muda yang mampu memuaskannya dan penurut. Sangat berbeda dengan Melissa yang suka mengatur dan angkuh setelah menjadi kekasih Evan.
Melissa menyesap wine di gelas yang berada ditangannya sambil tersenyum sinis dan meraih bingkai foto lalu mencampakkannya. “Huh! Perempuan udik tak pantas bersanding dengan Frans. Kini saatnya aku merebut kembali apa yang seharusnya jadi milikku. Evan sudah mencampakkanku, kupastikan Frans masuk dalam genggamanku.” wajah wanita cantik itu menyeringai. Terdengar suara bel berdenting, Melissa memutar bola matanya dengan malas dan berjalan menuju pintu lalu membukanya. Empat orang sekuriti gedung berdiri didepannya dengan tatapan tak bersahabat.
“Ya, mau apa kalian disini!” bentak Melissa.
“Kami diperintahkan oleh Tuan Frans untuk mengusir anda dari sini karena sudah menyerobot masuk ke apartemennya tanpa ijin dan membuat keributan.”
“Cuih! Dasar manusia tidak tahu malu! Aku ini tunangan Frans, seenaknya kalian mau mengusirku dari sini. Frans tidak akan pernah mengusirku!”
“Maaf, kami tidak mengenal siapa anda. Kami hanya tahu Tuan Frans sudah menikah dan kami mengenal Nyonya Rosa sebagai istrinya. Lebih baik anda pergi dari sini sebelum kami memanggil polisi.”
__ADS_1
“Tidak mau! Ini rumahku, kalian tidak bisa memaksaku pergi.” ujar Melissa hendak menutup pintu namun dengan cepat salah satu dari mereka menahan pintu dengan tangannya. Karena mereka sudah mendapat perintah dari Frans untuk menggiring wanita itu dari sana, tanpa rasa takut keempat petugas keamanan itu mendorong pintu membuat Melissa terejermbab ke lantai.
“Brengsek! Berani-beraninya kalian berbuat kasar padaku, huh!”
Dua orang petugas keamanan menarik tangan Melissa untuk berdiri dan menyeretnya keluar dari apartemen Frans.
“Lepaskan! Lepaskan aku, bajingan. Berani sekali kalian berlaku kasar padaku!” bentaknya.
“Kami terpaksa nona. Anda menolak untuk angkat kaki dari apartemen Tuan Frans dan kami diperintahkan untuk menyeret anda keluar dari sini.” sementara satu petugas keamanan menutup pintu dan menonaktifkan password apartemen Frans. Melissa sempat melihat itu dan matanya melotot.
“Apa yang kau lakukan!” teriaknya.
“Sesuai perintah Tuan Frans untuk menonaktifkan password, sehingga tidak ada siapapun yang bisa masuk ke apartemennya.”
Mendengar itu Melissa tambah gusar dan meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman petugas keamanan itu. Mereka berhasil membawanya masuk kedalam lift, begitu tiba dilantai bawah petugas keamanan menarik Melissa keluar dan mendorongnya keluar dari pintu masuk gedung apartemen itu. “Pergi! Jangan pernah berani datang kesini lagi, wajah anda akan kami letak di monitor itu sebagai peringatan bahwa anda sudah di blacklist tidak boleh menginjakkan kaki diarea sini lagi.” kata kepala keamanan yang sedari tadi sudah menunggu didepan pintu masuk.
“Kurang ajar! Awas kalian semua akan kubalas! Lihat saja nanti,” ujar Melissa kesal lalu pergi meninggalkan gedung apartemen itu.
“Kalian semua dengarkan baik-baik! Jangan pernah ada yang mengijinkan wanita tadi masuk ke gedung ini. Jika ada yang berani membantunya masuk kesini, maka akan menerima hukuman berat dari Tuan Frans. Kalian harus ingat bahwa Tuan Frans adalah asisten pribadi Tuan Verrel dan gedung ini adalah miliknya, jadi kalian pastikan kejadian seperti tadi tidak akan terulang lagi.” ucap kepala keamanan “Tampilkan wajah wanita itu di monitor sebagai tanda bahwa dia di blacklist agar semua staf dan penghuni gedung ini tahu.”
“Baiklah, Pak Wito.” jawab semua staff serempak.
__ADS_1