TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 246. KUNCI EMAS DAN FILE RAHASIA


__ADS_3

“Olivia! Apa yang kau lakukan?”


“Jangan berteriak papa! Kalau aku sampai hamil anak Verrel maka semua lebih mudah bukan? Daripada rencana papa yang hanya mendekatkan aku dengan Verrel terkesan lambat. Aku selangkah lebih maju! Btw, apa dia benar-benar membatalkan semua kerjasama kita?”


“Ya! Kau tahu berapa banyak kerugian yang harus papa tanggung? Verrel bahkan tidak mau membayar biaya pinalti atas pembatalan sepihak! Papa tidak bisa mengalahkannya jika masalah ini papa bawa kejalur hukum.”


“Sudahlah, Pa. Jangan khawatirkan itu, kerugian itu tidak sebanding dengan keuntungan yang nanti aku dapat saat aku hamil anaknya! Ha ha ha ha.”


“Papa masih tidak habis pikir bagaimana kau bisa bersama Verrel semalam? Papa bertemu dengannya di perjamuan bisnis tadi malam.”


“Alaaaa…..dia kan kemana-mana naik jet pribadinya! Kapan saja dia bisa datang dan pergi! Bisa saja tadi malam dia kembali dan bertemu denganku, iyakan?”


Semoga saja itu benar! Tapi kalau sampai itu bukan anaknya Verrel, kau tanggung sendiri akibatnya!”


Disaat bersamaan diruang kerja Verrel. “Halo Jack?”


“Tuan, anak buahku sudah mendapatkan barang itu! Apa perlu saya antar ke kantor atau bertemu di markas besar?”


“Temui aku dikantor sekarang. Untuk hal sepenting itu tidak bisa ditunda.”


“Baik, Tuan. Saya datang sekarang.” ucap Jack.


Klik…


“Syukurlah mereka mendapatkan barang itu! Kita lihat sampai mana mereka mau bermain-main denganku! Harus kutuntaskan secepatnya, aku ingin hidup tenang bersama istri dan anak-anakku. Puff…..belum lagi si wanita gila itu! Tapi, kenapa dia bilang aku bersamanya dan dia sangat yakin kalau itu aku?” gumam Verrel.


“Frans, cari tahu kejadian di kelab malam yang didatangi wanita itu dan dapatkan rekaman CCTV nya sebelum keduluan orang lain.”


“Baik.” jawab Frans yang langsung melakukan perintah Verrel.

__ADS_1


Tok tok tok tok


“Masuk!”


“Selamat siang Tuan.” Jack masuk lalu menutup pintu. Wajahnya tampak cerah dan sudut bibirnya terangkat lalu dia mengeluarkan amplop kecil warna coklat. “Ini barang yang anda cari Tuan.”


“Bagus! Aku senang dengan cara kerjamu dan anak buahmu Jack! Berikan mereka bonus!”


“Baik, Tuan. Apa ada pekerjaan lain yang harus saya lakukan?”


“Heemmm…..kau suruh anak buahmu mengikuti orang ini. Pantau gerak geriknya dan laporkan padaku jika ada yang mencurigakan.” ujar Verrel menyerahkan sebuah foto pada Jack.


“Ini siapa, Tuan?”


“Dibalik foto itu ada informasinya. Dapatkan dimana keberadaannya saat ini.”


“Hem...”


Verrel membuka amplop coklat itu dan mengeluarkan sebuah kunci berlapis emas dan sebuah flashdisk. “Akhirnya aku mendapatkan benda ini setelah bertahun-tahun. Ha ha ha apa kau sebodoh itu menyimpan barang berharga seperti ini ditempat yang mudah ditemukan? Aku harus coba kunci ini supaya tahu ini kunci asli atau bukan.”


Lalu Verrel mencolokkan flashdisk ke laptopnya dan mengklik file yang ada dalam benda kecil itu. Terpampang deretan angka dan simbol-simbol yang tidak dimengerti oleh orang awam tapi Verrel cukup tahu apa itu.


Dia tersenyum menyeringai, bertahun-tahun dia mencari benda itu yang berisi pemrograman untuk meretas sistem satelit, dulu dia pernah membuatnya lalu seseorang mencuri sistem program yang dia simpan di flashdisk bahkan setelah sekian lama dia mencari tahu siapa yang mengambilnya dia tidak menemukannya.


Hingga satu saat ketika dia berada diluar negeri tanpa sengaja dia mendapat informasi bahwa seseorang memiliki sistem program itu yang sudah dimodifikasi cukup canggih. Dengan benda itu kembali ketangannya, Verrel bisa menguasai semuanya tanpa ada yang bisa mengalahkannya.


“Sebaiknya aku kerumah sakit melihat istri dan anakku. Kejadian tadi menguras emosi dan merusak moodku.” Verrel membereskan berkas diatas meja kerjanya lalu berjalan ke ruang pribadinya dan menyimpan kunci serta flashdisk ditempat yang paling aman. Dia bergegas meninggalkan kantornya beserta pengawal menuju rumah sakit.


Di Singapura.

__ADS_1


Anjloknya nilai saham SG Group yang merupakan salah satu perusahaan besar yang berpusat di Singapura menimbulkan kekisruhan dikalangan direksi dan dunia bisnis dinegeri singa itu. Stefanie yang memimpin rapat direksi terlihat dengan tatapan tajam dan wajah memerah dipenuhi emosi. “Apa-apaan ini semua? Begini cara kalian semua, saat keadaan sulit kalian cuci tangan dan menekan kami bukannya malah membantu mencari jalan keluar.”


“Tapi ini tanggung jawab kalian sebagai pemilik perusahaan. Kami sebagai pemegang saham merasa tidak puas dengan kinerja yang buruk ini. Bukannya untung malah rugi!”


“Iya benar itu! Saya tidak mau kehilangan uang dan harus menanggung kerugian!” ujar dewan direksi lainnya.


“Oh jadi begitu? Hanya rugi sekali ini kalian sudah bising? Lantas selama ini kalian merasakan keuntungan diperusahaan ini, itu semua tidak kalian ingat?” ujar Stefanie marah.


“Begini Nona Stefanie, semua proyek dibatalkan setelah harga saham anjlok! Kalau bukan kondisi perusahaan sedang terpuruk mana mungkin saham bisa anjlok begitu?”


“Para klien pun lari dan beberapa proyek yang sedang menunggu penandatanganan pun langsung dicancel begitu saja dan mereka mengalihkannya ke perusahaan lain.”


“Saham saya disini memang tidak banyak tapi itu satu-satunya sumber keuangan keluargaku. Dengan anjloknya saham perusahaan, aku terpaksa menjual sahamku. Aku tidak bisa hancur! Bagaimana aku bisa menghidupi keluargaku? Lebih baik uang penjualan saham kualihkan keperusahaan lain.” ujar salah seorang dewan direksi.


“Sudah berapa lama kalian berinvestasi diperusahaan ini? Selama ini tidak pernah ada masalah!” ujar Stefanie berusaha menahan para pemegang saham agar tidak menjual saham mereka.


“Maaf Nona! Sepertinya ini kesempatan menjual saham selagi ada yang mau membeli. Saya khawatir jika menunggu sebentar lagi perusahaan bisa bangkrut dan saham sudah tidak ada gunanya lagi. Saya cuma mau cari aman saja! Ini uangku jadi aku bebas melakukan apapun.” ucap seorang pria lagi.


Para peserta rapat dewan direksi dan pemegang sahampun semakin alot membuat Stefanie semakin emosi dan mengepalkan tangannya. Andai saja Sandy tidak bertindak gegabah semua ini tidak akan berakhir buruk.


Setelah berpikir sejenak, dia menghela napas dalam-dalam menenangkan diri.


“Baiklah. Saya harap semuanya bisa tenang dulu. Bagaimana kalau memberikan saya waktu selama sebulan untuk memulihkan perusahaan! Saya janji dalam masa itu, keadaan perusahaan akan kembali normal.”


“Dua minggu! Ya dua minggu! Sebulan itu kelamaan, segala sesuatu bisa saja terjadi selama jangka waktu itu.” ujar seorang pria paruh baya berkepala botak.


“Tidak bisa. Bapak-bapak, saya mohon berikan saya waktu satu bulan saja. Jika dalam masa itu saya gagal maka saya akan memberikan ganti rugi setimpal.” jawab Stefanie.


“Maaf Nona Stefanie, bukan kami tidak mau. Kami sudah lama bekerjasama dengan ayahmu dan tidak pernah meninggalkan perusahaan ini. Tapi saat ini kami sudah tidak punya pilihan lain, kami beri waktu dua minggu untuk anda mengembalikan keadaan.”

__ADS_1


__ADS_2