TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 99. MENJALANKAN RENCANA


__ADS_3

“Terimakasih atas kepercayaan  anda, Tuan,” ucap Rico kepada klien yang baru saja menandatangani surat kontrak kerjasama dengan Baratha Tbk.


“Sama-sama, Tuan. Anda sangat berbakat dalam merancang desain yang unik dan sangat menarik,” balas pria bersetelan formal itu. “Saya ingat dulu anda bekerja di Ceyhan Group, bukan? Kenapa bukan anda yang dipilih sebagai pimpinan padahal anda sangat berbakat.”


Rico tersenyum tanpa membalas perkataan klien tersebut. Ia bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangan kliennya sebelum mereka berpisah.


“Semoga anda bisa membuat desain lain yang menarik dan berbeda, Tuan Rico. Saya yakin dengan kepemimpinan anda Baratha Tbk akan semakin berjaya.”


“Terimakasih, Tuan. Anda terlalu melebih-lebihkan.” kata Rico.


“Kita lihat saja nanti mungkin dalam setahun kedepan, yang penting anda selalu optimis.”


Keduanya pun berjabat tangan sebelum berpisah dan masuk kedalam mobil masing-masing. Namun saat Rico mau menjalankan mobilnya meninggalkan restoran itu, matanya tak sengaja melihat sepasang suami istri yang ia kenali berjalan keluar dari restoran yang sama. Keduanya bergandengan tangan mesra, terlihat sang wanita memegang sebuket bunga mawar merah dan tangan satunya menggelayut dilengan pria itu.


Rahangnya mengeras, hatinya terasa sakit dan perih seperti tersayat-sayat. Ia mengeratkan gengfaman tangannya dikemudi dan matanya terus menatap kearah Deandra dan Verrel yang tertawa lepas memasuki mobil mewah mereka. Tak lama mobil itu pun melaju, karena penasaran Rico mengikuti mobil itu dari belakang dengan tetap menjaga jarak. Setelah dua puluh menit, terlihat mobil yang dinaiki Verrel pun mengarah kesebuah butik ternama.


Rico menghentikan mobilnya di seberang jalan sambil terus memandang pasangan suami istri itu. Verrel memboyong Deandra masuk kedalam butik. Terlihat Deandra melingkatkan tangan dileher suaminya yang menggendongnya masuk kedalam butik. Pandangan Rico nanar dipenuhi amarah dan setetes airmata jatuh dipipinya.


'Sakit sekali rasanya melihatmu tertawa bersamanya. Harusnya tawa itu untukku. Aku akan dapatkan kau kembali, sayang.' Setelah itu Rico menjalankan mobilnya kembali pergi dari sana. Dia sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi. "Aku harus melakukan secepatnya, aku sudah tak bisa menunggu lebih lama lagi." ucapnya.


Pikirannya yang kacau membuatnya mengendarai mobil tanpa tujuan yang jelas. Hingga akhirnya dia sampai didepan kampus tempat dimana dulu Deandra kuliah. Matanya memandang nanar kearah gedung itu, semua kenangan yang pernah ada disana terbayang kembali. Dulu, dia selalu menjemput Deandra sepulang kuliah jika dia tak sibuk dikantor. Rico memejamkan mata membayangkan wajah cantik Deandra yang tertawa bersama Verrel.

__ADS_1


...*...


Disebuah apartemen mewah, Iva yang baru selesai merapikan kamarnya teringat saat suaminya menyebutkan sebuah nama. Hatinya sangat teriris setiap kali Rico menyebutkan nama wanita itu.


"Begitu cintanya kau pada wanita itu, kak? Sampai-sampai saat bersamaku pun kau selalu menyebut namanya."


Iva berdiri dan berjalan menuju pintu lalu keluar dari kamarnya. Rasa penasarannya ingin mencari tahu siapa wanita yang dicintai oleh suaminya itu. Iva sangat mencintai Rico dan rasa cinta itu telah membutakannya bahwa Rico tak akan pernah mencintainya.


Dia berdiri didepan pintu ruang kerja Rico, kedua tangannya mengepal berusaha memutuskan untuk masuk atau tidak. Setelah beberapa saat dia akhirnya memutuskan masuk keruang kerja itu. 'Mungkin aku bisa menemukan sesuatu, mungkin petunjuk tentang wanita itu.' ucapnya lirih.


Setelah menutup pintu dibelakangnya, Iva mengedarkan pandangan sekeliling ruangan. Bingung mau mulai darimana. Akhirnya dia memutuskan mengecek meja kerja Rico. Dia mulai memeriksa laci meja, lemari dan buku-buku yang ada disana. Berharap bisa menemukan foto atau apapun itu yang bisa jadi petunjuknya. Namun setelah sekian lamamencari, dia tak menemukan apapun disana.


"Dimana dia menyimpan foto wanita itu?"


"Apa yang kau lakukan diruang kerjaku?" bentak Rico dengan suara meninggi. Iva merasa seluruh tubuhnya bergetar hebat karena tertangkap basah. Dia tak menyangka jika suaminya pulang secepat itu.


"A--aku mencari buku. Aku lupa dimana menaruhnya tempo hari," ucapnya asal dengan suara bergetar.


"Hmm....jangan bohong! Kenapa kau tidak tanya padaku ha? Aku bisa mencari sendiri didalam!"


"Maaf kak. Maafkan aku kalau aku masuk tanpa ijin." kata Iva ketakutan sambil memejamkan mata.

__ADS_1


Rico menangkap tangan Iva dan menariknya menuju kekamar mereka. Dengan kasar Rico mengangkat tubuh istrinya dan melemparkannya keatas ranjang. Iva sangat terkejut dan merintih saat tubuhnya jatuh diatas ranjang.


"Puaskan aku! Itu hukumanmu! Bukankah itu yang kau mau ha?" kata Rico sembari melepaskan pakaiannya satu persatu. Iva menatap nanar tubuh polos suaminya, tangan Rico menarik baju Iva dan merobeknya. "Ingat ya! Kau yang menginginkan pernikahan ini. Saat kekasihku kembali maka kau harus pergi, tapi jika kau tak mau pergi dari hidupku maka kau harus mau menerima kehadirannya. Kau akan jadi yang kedua!"


"Satu lagi. Aku tidak peduli akan kekayaan keluargamu karena bagiku kekasihku lebih penting dan berharga. Jangan kau coba-coba menghalangiku atau kau akan kuhancurkan!" setelah mengatakan itu, Rico menyerang istrinya. Menggigit bibir dan tubuh Iva dengan liar dan buas.


Iva yang menghiba memohon pada Rico untuk berhenti, tak dihiraukannya. Dia mencumbui istrinya dengan kasar dan menyiksa wanita itu. 'Akan kupakai kau untuk pelampiasanku sampai kekasihku kembali. Kau cantik dan tubuhmu mulus, sayang sekali kalau kusia-siakan. Tapi takkan kuberikan kau kesempatan untuk merusak semua rencanaku. Aku akan habisi semua orang yang menghalangiku.' monolog Rico dihatinya.


Puas bermain-main dengan tubuh istrinya, Rico melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia menyeringai aneh, tak lama dia keluar dari kamar mandi mendapati istrinya sudah duduk ditepi ranjang dengan wajah menunduk.


Sekujur tubuhnya terasa sakit akibat perbuatan Rico yang kasar. Sudut bibirnya pecah dan sedikit berdarah akibat digigit Rico. Penampakan wanita itu sungguh menggenaskan. Iva berdiri sambil menutupi tubuhnya dengan selimut, melangkah masuk ke kamar mandi. Rico mendengus lalu keluar dari kamar itu.


Tak berapa lama ponselnya berbunyi. Ada panggilan masuk dari mamanya, dengan malas dia menjawab panggilan itu.


"Halo, Ma."


"Dimana istrimu? Daritadi mama hubungi tapi ponselnya tidak aktif. Apa Iva baik-baik saja?" tanya Andini yang khawatir.


"Iya, ma. Istriku baik-baik, dia sedang dikamar mandi."


"Oh begitu. Mama cuma mau bilang supaya kalian datang ketumah mama dan menginap beberapa hari disini." Andini yang bersemangat ingin menyatukan putra dan menantunya itu.

__ADS_1


"Tidak bisa, ma. Aku tinggal disini saja, biar kami lebih tenang. Bukankah kalian menginginkan kami cepat punya keturunan?" kata Rico memberi alasan logis. Dia enggan jika harus kembali kerumah orangtuanya.


"Jangan membantah! Besok kau bawa istrimu kesini. Sekalian barang-barang keperluan kalian. Mama tidak mau dengar alasan apapun." Andini dengan marah memutuskan panggilan. 'Dasar anak bodoh! Kalau kau punya keturunan maka posisimu di perusahaan Baratha aman!'


__ADS_2