
“Selamat siang, nona.”
“Ehmm...mau apa?”
“Ini, aku bawakan makan siang untukmu,”
Gadis itu menghentikan aktivitasnya dan membalikkan tubuh menatap pria didepannya yang bersetelan jas warna biru dongker. Pria yang selalu mengganggunya dan berdebat dengannya. Tapi akhir-akhir ini, sikap pria itu mulai sedikit berubah.
“Apakah makanan itu sudah kau bubuh racun?”
“Tepat sekali! Aku membubuhkan racun cinta yang mematikan,” jawabnya.
“Cihh…..pede amat om mesum!!!”
“Huss…..berani sekali kau memanggilku seperti itu. Ingat ya, ini kantor! Aku adalah atasanmu jadi kau harus menurut dan ikuti perintahku!”
“Oh ya? Wow…..takuttttt. Sejak kapan om om mesum jadi atasanku?”
“Sejak kau ada dibawahku,”
“Dasar mesum!” teriak Rosa.
“Eh….siapa yang mesum? Atas dasar apa kau menuduhku mesum?” tanya Frans menatap Rosa tajam dan menghunjam.
“Itu tadi, bilang ‘sejak kau ada dibawahku’ …...kata-katamu saja sudah mesum,”
“Kau saja yang mesum, masa kalimat itu kau bilang mesum. Bukankah kau bawahanku?”
Menyadari kesalahannya, Rosa terdiam membeku. ‘Aduh, kenapa aku jadi menafsirkan kalimatnya jadi mesum? Aku memang bawahannya, aduh Rosa kenapa kau mempermalukan dirimu sendiri?
“Kenapa diam? Baru sadar ya kalau kau itu yang mesum?” Rasain kau cewek jutek, seenaknya menuduhku mesum. Aku ingin lihat reaksimu setelah ini, gumam Frans dalam hati.
“Eh, tidak apa-apa. Aku permisi dulu mau ke toilet,”
“Ha...ha...ha...ha...toilet basah. Hati-hati jangan sampai tambah basah,” kata Frans terkekeh.
“Isss….gak jelas!” gerutu Rosa berlari kearah toilet.
Frans menlangkah kearah toilet dan berdiri didepan pintu, tak lama pintu terbuka dan Rosa terkejut dan hampir jatuh. Tangan Frans dengan cepat menangkap pinggang Rosa dan memeluknya. Rosa yang termangu tak tahu harus berbuat apa, berada dalam pelukan sang asisten tampan yang menjengkelkan. ‘Kenapa jantungku berdebar kencang? Aduh, ternyata om mesum ini ganteng juga ya.’
Keduanya saling memandang, memindai wajah didepannya. Cup! Frans mencium bibir tipis gadis itu lalu melepaskan tubuh Rosa begitu saja. Untung tangan Rosa dengan cepat menyandar di dinding sehingga dia tak jatuh.
__ADS_1
“Kurang ajar! Berani-beraninya mencuri ciuman pertamaku!” teriak Rosa kesal. Tanpa sadar tangannya menyentuh bibirnya yang tadi dicium Frans. ‘Lembut sekali bibir pria itu. Aihhhh….kenapa aku jadi berpikiran aneh?
“Terimakasih ya. Aku jadi yang pertama. Hmmm…..bibirmu not bad.” ucap Frans tersenyum lalu pergi dari sana. Dia merasa puas mengerjai Rosa hari ini. “Manis juga bibir si jutek itu….ha...ha...ha...pasti dia kesal.’
“Sial! Sial! Benar-benar sial….awas kau! Akan kubalas kau, Frans! Seenaknya kau menciumku,” Rosa menhentak-hentakkan kakinya dilantai saking kesalnya.
...*...
“Kak, biar aku bersihkan lukanya dan membubuh obat,” kata Iva pada Rico yang terbaring diranjang. Sudah beberapa hari dia tidak keluar rumah, kondisinya masih belum membaik.
“Tidak usah sok baik dan perhatian. Aku tidak akan pernah mengganggapmu,”
“Saya mengerti kak. Tapi luka kakak harus diobati kalau tidak, nanti bisa infeksi.”
“Ya...terserah!” balas Rico ketus. “Cepat kerjakan! Aku mau istirahat.”
“Baiklah kak.” Iva membersihkan luka-luka di wajah dan tubuh suaminya lalu mengoleskan obat. Meskipun hatinya terasa perih, namun dia tidak bisa berbuat banyak. Dia bahkan tak bisa keluar dari rumah itu. Rico pasti akan menghukumnya dan Iva tahu bagaimana kejam dan kasarnya Rico karena dia sudah pernah merasakan kekasaran suaminya saat menghukumnya.
Meskipun sakit, dia berusaha menjalaninya. Ini adalah konsekuensi yang dia terima karena sudah mencintai Rico dan ternyata pria itu berperilaku sangat buruk.
Andini mengetuk pintu, tanpa menunggu jawaban dia langsung membuka pintu dan masuk. Menatap tajam pada putra kesayangannya dan menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Dia berjalan mendekat keranjang dan duduk ditepi ranjang. Dengan isyarat, dia menyuruh Iva keluar dari sana. Iva yang mengerti langsung meninggalkan kamar dan menutup pintu.
“Kalau mama datang kesini mau memaki, lakukan saja.” kata Rico.
“Justru aku sudah berpikir, Ma.”
“Kau taruh dimana otakmu ha? Kau mau memperkosa perempuan itu? Dia istri Verrel dan sedang hamil! Kau sudah gila?”
“Saat mama merebut papa dari mama ayu , apa mama juga berpikir? Papa sudah punya istri dan anak.” balas Rico. Dia benar-benar sudah kehilangan kewarasannya.
“Berani sekali kau bicara seperti itu pada mama!” Andini emosi mendengar ucapan putranya. Dia sama sekali tidak membayangkan tindakan nekat Rico.
“Aku belum kalah. Hanya menunggu waktu yang tepat.” kata Rico enteng.
“Mama tidak mau tahu. Kau harus punya anak dengan Iva! Pakai otakmu dengan benar. Lebih baik kau buat Iva hamil dan rebut harta kekayaan keluarga Baratha! Itu jauh lebih aman daripada kau terus-terusan mengejar perempuan itu.”
“Sampai kapanpun aku tidak akan menyerah, ma. Apapun yang kuinginkan harus kudapatkan! Dan aku menginginkan kekasihku. Meskipun dia menolakku tapi aku akan mengambilnya.”
“Cukup! Mama sudah tidak mau dengar lagi. Kau lihat akibat perbuatanmu, rumah kita diawasi terus menerus. Sampai kapanpun mama tidak akan menerima perempuan itu jadi menantuku.”
“Mama….mama. Verrel sudah tidak ada. Begitu aku mendapatkan kekasihku, maka semua harta keluarga Ceyhan akan berada ditanganku. Bukankah dia mengandung anaknya Verrel?”
__ADS_1
Mendengar ucapan putranya, mata Andini membelalak, benar juga kata Rico. Bagaimanapun juga pasti bayi itu yang bakal jadi pewaris keluarga Ceyhan, itu berarti jika Rico menikahi perempuan itu maka otomatis Rico memiliki kuasa penuh. Wah….ini ide cemerlang. Soal Iva bisa diatur toh dia sangat mencintai Rico.
“Kenapa mama diam? Apakah sudah sadar kalau ucapanku benar?”
“He..he...kau memang anak mama yang pintar. Lakukanlah apa yang menurutmu baik.”
Andini mengelus kepala putranya lalu bangkit dan keluar dari kamar itu dengan wajah menyeringai licik. “Aku tahu apa yang harus kulakukan.” gumamnya.
“Papa….sedang apa?” tanya Andini melihat wajah suaminya yang ditekuk.
“Anak itu semakin tidak sopan dan kurang ajar.”
“Tenang, Pa. Apa yang dilakukan Rico itu sudah benar. Harusnya papa dengar dulu penjelasan Rico. Mama yakin papa juga akan mendukungnya.” Andini duduk dipangkuan suaminya dan mencium bibir pria itu. Dia tahu betul cara melembutkan Amran dengan cumbuan dan rayuannya. Dan cara itu selalu ampuh untuk mendapatkan semua keinginannya. Amran yang terbuai dengan sentuhan dan cumbuan Andini, mendadak melunak dan membalas ciuman istri kesayangannya itu. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, dia selalu menuruti keinginan Andini.
“Katakan apa yang mama inginkan?” tanya Rico dengan nada datar dan dingin. Dia merasa jengah menghadapi mamanya.
“Papa jangan memarahi Rico. Ada alasan yang tepat kenapa Rico senekat itu.” kata Andini.
“Maksudnya?”
“Kita bicara dikamar saja ya pa. Lebih nyaman kalau dikamar,” tangan Andini menuntun suaminya menuju kamar. ‘Begitu mudahnya mengendalikanmu. Setelah kau kupuaskan, aku jamin kau akan mendukung Rico. Bagaimanapun, ucapan Rico benar. Gumamnya.
__ADS_1