
“Naomi minta ikut bersama Nyonya, Nathan dan babysitter menunggu dimobil bersama pengawal dan supir. Tapi setelah sekian lama mereka tidak juga kembali lalu pengawal mengecek ke toilet tapi tidak ada siapa-siapa disana! Mereka sudah mengecek cctv dan melihat ada yang membawa nyonya dan Naomi keluar dari rumah sakit. Sepertinya mereka dalam keadaan tidak sadarkan diri saat dibawa keluar dari toilet!” Frans menjelaskan sesuai dengan laporan pengawal.
“Apa sudah dilaporkan ke pihak berwajib?”
“Sudah Tuan dan saat ini mereka juga sedang memeriksa rumah sakit. Saya sudah minta Jack dan anak buahnya untuk melacak.” ujar Frans.
“Siapa yang menculiknya? Apa sudah tahu?” tanya Verrel semakin panik.
“Mereka berhasil melacak mobil yang membawa Nyonya adalah sebuah mobil van, kemudian mereka memindahkan Nyonya ke mobil lain. Dan----mobil itu milik Olivia!”
‘Kurang ajar! Apa maunya perempuan gila itu?’ maki Verrel didalam hatinya. Selama beberapa hari ini situasi sudah tenang, apa dia merencanakan ini semua sejak beberapa hari lalu?’
“Siapkan mobil! Hubungi Olivia untuk menemuiku!” perintahnya dengan wajah tegang. Lalu dia bergegas keluar dari ruangannya namun baru saja beberapa langkah, Verrel berhenti dan dia terlihat ragu untuk melanjutkan langkahnya. ‘Bukankah ini semua aneh?’
“Hubungi Bara dan perintahkan dia untuk menjaga Nathan dan ketiga anakku dengan baik.”
“Baik, Tuan.”
“Cari dimana keberadaan Olivia sekarang! Dan temukan lokasi dimana dia menyekap istri dan anakku!” perintah Verrel. Wajah tegangnya memerah menahan amarah, tidak ada seorangpun yang bisa menyentuh istri dan anaknya jika tidak ingin mati.
“Tuan! Sebaiknya tenang dulu, biarkan orang-orang kita yang mengurus masalah ini.”
“Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk tenang? Istri dan anakku hilang, Frans!”
Frans pun tak bisa berkata-kata lagi, laporan yang hendak didiskusikan bersama Verrel pun hanya dia letakkan diatas meja kerja Verrel lalu Frans menyibukkan diri menghubungi orang-orang suruhannya.
Kabar tentang Olivia menyuruh seseorang menculik Deandra pun sampai ketelinga Luke yang baru saja mendapat informasi dari orang suruhannya. “Apa? Dia menculik istri dan anak Verrel?” wajah Luke menegang, mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun lalu yang menewaskan calon istrinya. “Perempuan gila itu!”
“Apa Tuan ada perintah?”
“Aku harus menyelamatkan wanita itu dan anaknya! Olivia tidak boleh membunuh orang lagi!” ujar Luke menatap orang kepercayaannya itu. “
__ADS_1
“Kenapa Tuan?”
“Apakah menurutmu tindakanku ini wajar jika tiba-tiba aku menghubungi Olivia dan berniat menolong wanita dan anaknya yang tidak aku kenal sama sekali?” Luke menatap pria itu.
“Memang sedikit tidak wajar Tuan. Olivia adalah wanita licik!”
“Nahm itu yang terlintas dipikiranku saat ini. Aku khawatir dia akan membunuh kedua orang itu. Menurutmu sebaiknya apa yang harus aku lakukan? Setidaknya aku bisa menolong menyelamatkan kedua orang itu tanpa melibatkan diriku diantara konflik Olivia dan Verrel?”
“Sebaiknya, anda mendatanginya dan berpura-pura Tuan. Bukankah semua kartu as Olivia ada ditangan Tuan? Mungkin dengan cara itu Tuan bisa mendapatkan informasi keberadaan orang yang diculik Olivia dan mengirimkannya ke Tuan Verrel. Dengan begitu Tuan tidak terlibat apa-apa.”
“Ya, kau benar! Kalau begitu biar aku bertemu secara alami saja dengan Olivia.”
“Baik, Tuan.”
“Kau juga bantu cari keberadaan mereka dan laporkan padaku segera! Olivia itu orangnya nekat! Pasti dia sengaja menculik istri dan anak Verrel karena dia mengincar pria itu. Sama persis dengan yang dia lakukan padaku dulu. Tapi aku tidak akan membiarkannya mengulangi perbuatan jahatnya!”
“Baik, Tuan. Anda akan segera mendapatkan laporannya. Saya permisi.”
“Syukurlah dia ada dirumah. Bagus! Aku tidak perlu menunda lagi. Perempuan ini bukan licik tapi bodoh dan gegabah!” ujar Luke tersenyum sinis. Seorang pelayan membukakan pintu lalu Luke masuk dan langsung duduk di sofa diruang tamu. Firasat Luke benar karena dia mendengar suara Olivia yang baru saja keluar dari kamarnya.
“Siapa tamunya?”
Luke berdiri lalu membalikkan tubuhnya menghadap Olivia yang sontak terkejut melihat pria itu.
“Darimana kau tahu rumahku?” tanya Olivia menatap wajah pria yang dulu dicintainya itu.
“Olivia! Bukankah seharusnya kau bertanya kabarku dulu? Sekian lama kita tidak bertemu.”
“Mau apa kau datang kesini?” tanya Olivia sinis.
“Kau tidak menawarkanku minuman? Dimana tata kramamu Olivia? Ups….aku lupa kalau kau memang tidak punya itu sejak dulu.” ujar Luke mencibir pada wanita itu.
__ADS_1
“Aku tidak punya waktu melayani orang sepertimu bajingan! Kau menjebakku dan seenaknya kau datang kerumahku tanpa merasa bersalah? Huh?”
“Kau pantas mendapatkannya Olivia! Apa kau sudah memeriksakan diri ke dokter? Siapa tahu kau hamil anak preman-preman itu! Ha ha ha ha…..”
“Kurang ajar kau Luke!” Olivia berusaha meraih vas bunga namun Luke lebih cepat menggenggam pergelangan tangan wanita itu dengan kencang.
“Dengarkan baik-baik ******! Kau pikir kau siapa, ha? Kau sudah tidak punya apa-apa sekarang! Papamu sudah bangkrut! Kau pikir kau masih punya simpanan? Semua sudah diblokir! Apa kau belum memeriksa asetmu yang kau sembunyikan?”
“Apa maumu Luke? Kenapa kau lakukan ini padaku?”
“Masih belum sadar, heh? Mata ganti mata, nyawa ganti nyawa. Tapi sebelum aku mengambil nyawamu aku mau bermain sedikit permainan denganmu supaya kau merasakan apa yang Eva rasakan dulu!” ujar Luke penuh kemarahan.
Wajah Olivia pucat pasi melihat kemarahan dimata pria itu. Dia tersadar sejenak bahwa kali ini dia tidak akan bisa lepas lagi, Luke menemukannya dan sudah memulai permainannya. “Kau masih memata-mataiku?” Olivia balik bertanya. Tersirat nada tak senang dalam suaranya.
“Tidak juga! Aku hanya kebetulan ada urusan di Jakarta dan tak sengaja melihatmu. Sepertinya keberuntungan masih berpihak padaku saat aku tak sengaja melewati kompleks ini dan melihatmu lagi. Tapi jangan lupa Olivia, apa yang kau perbuat akan dibalaskan!”
“Memangnya apa yang ku perbuat?”
“Aku tahu kau baru saja berkomplot dengan seseorang untuk melakukan penculikan!”
“Apa maksudmu?”
“Kau paham betul apa maksudku, Olivia Lee! Kau selalu pikir kalau kau itu wanita pintar. Tapi---kau wanita paling bodoh dan kejam yang pernah aku lihat! Dimana kau sembunyikan wanita itu dan anaknya?” tanya Luke tanpa basa basi lagi.
“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Wanita siapa? Anak siapa?”
“Baiklah. Kalau kau tidak mau mengatakannya, bagaimana jika videomu bersenang-senang dengan beberapa preman aku sebarkan, hem?” Luke memicingkan matanya, kedua tangannya masih menahan kedua lengan Olivia dan menguncinya sehingga wanita itu tidak bisa bergerak. “Ada asap pasti ada api. Lagipula kau sekarang sudah kekurangan uang jadi kau berpikir menculik istri dan anak orang kaya agar dapat uang tebusan yang besar, iyakan?”
Tubuh Olivia bergetar hebat, hatinya bergemuruh karena dia mulai merasa ketakutan. Secepat inikah dia ketahuan? Tapi kenapa harus pria ini yang muncul dan membongkar semuanya?
“Kau salah besar! Ini bukan soal uang tapi harga diri! Verrel memutuskan kontrak dengan perusahaan papa dan kami harus menanggung semua akibatnya. Dia juga menghina harga diriku!”
__ADS_1
“Ha ha ha ha ha…..harga diri katamu? Sejak kapan kau punya harga diri, heh?”