
Deandra bangkit dan berjalan menuju pintu, kedua pengawal membukakan pintu ruang VIP itu, Deandra menoleh ke arah Iva, “Mungkin rasa sakit dan kesepian itu akan datang tapi hanya sebentar. Seiring berjalannya waktu akan hilang dan kau akan terbiasa tanpa kehadirannya.” Lalu Deandra pergi meninggalkan tempat itu. Didalam mobil, dia menghela napas dalam-dalam. “Pak, langsung kerumah saja ya.” kata Deandra pada supir pribadinya.
“Baik, Nyonya.”
‘Ada juga perempuan sebodoh itu ya? Punya suami brengsek tapi masih juga membelanya, padahal dia berasal dari keluarga kaya, dia juga cantik dan berpendidikan. Kayak tidak ada laki-laki lain saja didunia ini. Ck..ck...ck.’
Tiba dirumah, senyumnya melebar. Ayu dan Verrel menyambutnya “Mama!” teriaknya memeluk Ayu “Kapan mama sampai? Kenapa tidak kabarin Dea kalau mama pulang?”
“Sengaja mau bikin kejutan sayang. Mama pulang karena sebentar lagi cucu mama mau lahir.” kata Ayu mengelus perut buncit menantunya. Verrel mengecup kening istrinya dan memeluknya.
“Apa kau baik-baik saja, sayang? Dia tidak menyakitimu?”
“Siapa yang mau menyakiti mantuku?” tanya Ayu.
“Tidak siapa-siapa, ma. Ayo kita duduk disana.” Verrel memeluk pinggang istrinya dari samping dan membawanya duduk di sofa diruang keluarga.
“Aku baik-baik saja. Aku menolak permintaannya.”
“Terus, dia bilang apa?”
“Ya, begitulah. Dia memohon dan memohon tapi aku jelaskan padanya, aku takkan melepaskan si brengsek itu. Dia bahkan tak tahu sama sekali jika suaminya yang membayar orang untuk membunuh kedua pengawalku.”
“Kalian bicara apa? Apa ada yang bisa beritahu mama, ada apa ini?”
“Ini, ma. Istri si brengsek itu...anak perempuan murahan itu tadi ketemu dengan istriku. Dia meminta istriku untuk membantu agar hukumannya bsia diringankan, alasannya karena dia sedang mengandung dan membutuhkan suaminya.” kata Verrel menjelaskan.
“Enak saja! Tidak bisa. Mereka pikir bisa seenaknya berbuat dan hukumannya ringan?” kata Ayu kesal, ini saatnya mereka semua menerima balasan perbuatannya, gumamnya pelan.
“Makanya Dea tolak, ma. Aku beri dia nasehat panjang lebar supaya otaknya bisa berpikir jernih. Dia memikirkan tak sanggup jauh dari suaminya, lantas bagaimana dengan keluarga dari kedua pengawalku yang meninggal itu? Selamanya anaknya yang masih kecil takkan pernah melihat ayahnya lagi. Si brengsek itu harus membayar semua perbuatannya. Minggu depan sidang terakhir, pengadilan akan memutuskan hukumannya.”
“Kau tak perlu hadir di pengadilan, sayang. Biarkan pengacara dan Frans yang akan mengurusnya.” ucap Verrel “Kau harus siap-siap, kapan saja kau bisa melahirkan. Ingat ya kata dokter kemarin, kau harus siap sedia.”
“Hmmm….iya. Tapi kau jangan kemana-mana ya. Temani aku dirumah.” kata Deandra dengan suara manja dan tangannya yang mengelus dada bidang suaminya. Kalau sudah begini, Verrel selalu hanya bisa menahan napas karena bagaimanapun dia tak bisa berbuat apa-apa. Anaknya bisa lahir kapan saja, sudah sembilan kandungan Deandra.
“Oh iya. Rumah sepi, opa kemana tidak keliatan dari tadi?” tanya Deandra.
“Papa Yahya dan Papa Viktor tadi pergi, katanya mau kumpul sama temannya main golf.”
“Oh…..begitu.” suara Deandra terdengar lirih, tangannya memegang perutnya. Dia merasa sedikit tak nyaman. Tiba-tiba Deandra berteriak kesakitan “Arhhhh.”
“Sayang! Kenapa sayang? Apa kamu mau melahirkan?” teriak Verrel panik. Ayu memegang tangan Deandra “Kita kerumah sakit sekarang. Perutmu kram ya?” tanya Ayu yang dijawab Deandra dengan anggukan.
__ADS_1
“Verrel cepat gendong istrimu. Kita kerumah sakit sekarang. Istrimu kontraksi.”
“Yuna! Yuna!” Verrel berteriak memanggil kepala pelayan itu yang berlari mendekat.
“Saya, Tuan. Nyonya kenapa?” matanya membeliak melihat Deandra kesakitan.
“Suruh supir siapkan mobil, istriku mau melahirkan.”
Suasana panik dirumah utama, Verrel menggendong tubuh istrinya dan mendudukkannya didalam mobil. Ayu pun ikut duduk disamping menantunya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang macet.
“Halo, Tuan Besar.”
“Ya, ada apa Yuna? Apa semua baik-baik saja dirumah?” tanya Yahya pada Yuna yang menghubunginya.
“Itu Tuan. Nyonya barusan dilarikan kerumah sakit. Tuan Verrel dan Nyonya Besar yang membawanya.”
“Kenapa dengan cucu mantuku?” tanya Yahya. Viktor yang berdiri disamping Yahya langsung menguping dengan wajah cemas, khawatir jika cucunya kenapa-napa.
“Sepertinya Nyonya Verrel mau melahirkan, Tuan.”
“Apa? Melahirkan? Ya sudah. Kami langsung ke rumah sakit sekarang.”
“Maaf, semuanya. Kami harus pergi kerumah sakit sekarang. Cucuku mau melahirkan.” ucap Viktor mengemasi peralatan golfnya.
Viktor dan Yahya penuh semangat menuju ke rumah sakit. Sementara di rumah sakit, kepanikan terjadi karena Deandra masih berteriak kesakitan dan memukul Verrel dengan kuat.
“Sayang, tenang sayang. Ini kita sudah dirumah sakit. Jangan pukul aku, sakit!” kata Verrel meringis.
“Sakit! Sakit sekali.”
Deandra yang sudah berbaring di brangkar dibawa masuk kedalam ruang pemeriksaan. Nampak Dokter Romeo datang tergesa-gesa. “Sudah mau melahirkan ya?” tanyanya.
“Kau suruh dokter perempuan yang menangani istriku.” perintah Verrel.
Tak lama seorang dokter perempuan masuk keruang pemeriksaan, Verrel dan Ayu menunggu diluar. Tampak dua pria tua baru saja keluar drai lift dan berjalan mendekati Verrel.
“Bagaimana? Sudah melahirkan?” tanya mereka serempak.
“Belum Opa. Lagi diperiksa didalam. Kita tunggu saja, tadi istriku teriak kesakitan.”
“Verrel, mulai sekarang kau tak usah ke kantor. Urus saja istrimu dirumah. Urusan perusahaan biar kami berdua yang ambil alih.” kata Yahya, Viktor menggangguk setuju.
__ADS_1
“Baiklah, Opa. Aku janji akan menjaga dan mengurus istri dan anakku dengan baik.”
“Nah, begitu baru laki-laki sejati.” Yahya menepuk bahu cucu kesayangannya itu.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka, Dokter Rika keluar. “Bagaimana dokter?”
“Nyonya Deandra mengalami kontraksi, Tuan. Hal ini biasa terjadi menjelang kelahiran. Saya sudah berikan obat pereda sakit dan Nyonya sedang istirahat. Saya sarankan agar Nyonya menginap disini. Menurut prediksi saya, Nyonya akan melahirkan kapan saja, bisa hari ini atau besok karena memang sudah waktunya.”
“Baiklah, dokter. Lakukan yang terbaik untuk istri saya. Apa saya boleh menemui istri saya?”
“Kami akan pindahkan Nyonya keruang perawatan, Tuan bisa menemui Nyonya disana. Kalau begitu saya pamit, Tuan.”
Deandra melenguh diatas ranjang rumah sakit. Dia sudah dipindahkan keruang VVIP. “Hai, sayang kau sudah bangun? Apakah masih sakit, hm?”
“Tidak, tapi pinggang dan punggungku rasanya pegal sekali.” kata Deandra.
“Mama, Opa juga disini?”
“Iya, sayang. Kami langsung kesini. Tadi Yuna menghubungi Opa katanya kau melahirkan.”
“Ah! Apa kata dokter tadi?”
“Kau akan menginap disini, sayang. Karena waktunya sudah dekat.”
“Kapan?”
“Kapan saja. Supaya tidak bolak balik, jadi kau menginap disini. Aku akan menemanimu.”
“Euhhh…..” dia menggeliat karena merasa punggungnya pegal.
“Mau aku usap-usap punggungmu?” tanya Verrel, Deandra menggangguk manja.
Verrel naik keatas ranjang dan berbaring disamping istrinya sambil mengusap punggungnya. “Bagaimana? Sudah merasa enakan?”
“Jangan berhenti Verrel. Enak sekali elusanmu,” ucapnya manja. Perlahan rasa pegalnya hilang tapi dia tak mau Verrel menghentikan gerakan tangannya.
“Tidurlah. Aku temani disini.”
“Kalau melihat kalian seperti ini, Opa bahagia sekali.” kata Viktor dan Yahya menatap wajah cucunya yang perlahan memejamkan mata, kenyamanan sentuhan tangan suaminya membuatnya tertidur pulas.
__ADS_1