
Rico menghela napas panjang lalu tangannya meraih lengan deandra dan membalikkanya. “Apa yang kau--” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Rico merenggut bibirnya dengan paksa. Rico yang memang tak punya kesabaran sedikitpun ******* kasar bibir Deandra yang terus meronta. Rasa manis bibir itu membuat Rico tak ingin melepaskannya.
Rico mengunci semua pergerakan deandra yang meronta-ronta, ia naik keatas ranjang dan menekan tubuh wanita itu yang masih lemah karena Deandra terus menolak. Setelah sekian lama meronta, Deandra kehabisan tenaga, Rico pun menindihnya, membuat Deandra merasa pengap karena perutnya yang buncit. Rico bagaikan kerasukan setan tak mempedulikan Deandra yang meringis kesakitan.
Rico tak mau kehilangan kesempatan hari ini untuk meluapkan semua kerinduan yang membelit hatinya. Rico seakan lupa akan status mereka yang sama-sama terikat tali perkawinan dengan orang lain. Rasa cinta yang meluap-luap menutup logikanya. Yang diinginkannya hanya melampiaskan semua kerinduannya pada wanita yang berada dibawah tubuhnya itu. Bahkan Rico tak peduli dengan kondisi Deandra yang sedang mengandung dan perutnya membuncit. Dia sudah kehilangan akal sehatnya.
Rico yang hanya ingin merebut Deandra kembali, akan melakukan apapun demi mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa memikirkan perasaan orang lain. Satu tangannya meremas gundukan didada Deandra, membuat wanita itu mendelikkan kedua matanya karena terkejut dengan sikap kurang ajar Rico padanya. Deandra tak berdaya, ia tak bertenaga untuk melawan Rico yang lebih kuat. Wanita yang tak berdaya itu pun akhirnya menangis dengan bibur terkunci. Ia berusaha terus menahan sekuat tenaga saat Rico berusaha untuk terus mendesak ingin memasuki mulutnya
Dalam situasi rapuh dan keadaan yang terdesak itu, hanya satu nama yang ia gumamkan dengan harapan bisa menolongnya. “Verrel! Verrel ku sayang.”
Rico yang terkejut mendengar nama pria yang sangat dibencinya keluar dari bibir Deandra membuatnya semakin marah, ia menggigit bibir ranum itu dengan buas, Deandra tetap tak mau membuka mulutnya, ia merasakan sakit disudut bibirnya, ia tahu pasti bibirnya terluka akibat gigitan Rico. Ia merasa semakin sesak karena berat tubuh Rico yang menindih perutnya, sekuat tenaga ia kembali meronta agar tubuh Rico bergeser,
Tangan Rico menarik kasar baju yang dipakai oleh Deandra hingga robek, hingga memperlihatkan dua gundukan montok yang mulus, membuat pandangan matanya nanar. Ia menggeram dan membayangkan Verrel yang sudah menikmati setiap inci dari tubuh kekasihnya itu, ia merasa tak rela dan merasa ia lebih berhak atas tubuh itu. Dengan tangisan terisak Deandra menjerit menyebut nama suaminya “Verrel! Verrel! Tolong aku sayang. Aku mencintaimu! Aku sangat mencintaimu Verrel!”
Mendengar itu Rico tersentak kaget. Ia malah semakin buas memasukkan tangannya kedalam baju Deandra dan menyentuh area intimnya. Tak rela diperlakukan seperti itu, Deandra menatapnya dengan penuh kebencian “Apa yang kau lakukan bajingan?”
“Aku kekasihmu sayang! Pria itu yang bajingan telah merebutmu dariku!”
“Diam kau! Aku tak sudi kau sentuh bajingan!” napas deandra terengah-engah. “Aku mencintai Verrel! Kau dengar? Verrel bahkan tak pernah melecehkanku seperti yang kau lakukan sekarang!”
“Kau salah sayang! Dia sengaja menjebakmu agar menikah dengannya. Dia hanya ingin membalaskan dendamnya padaku. Pria brengsek itu hanya memperalatmu.”
“DIAM! Kau yang brengsek! Apa kau tidak lihat kalau aku mencintainya huh? Kau tidak lihat aku mengandung anaknya? AKU HANYA MENCINTAI SUAMIKU!”
Kata-kata yang diucapkan deandra semakin membuat Rico bersemangat ingin menaklukkan wanita itu, mau tidak mau...suka tidak suka. Rico ingin wanita itu tunduk padanya dan hanya jadi miliknya. ‘Sebagaimana kakakku memaksamu untuk menikahinya, akupun akan melakukan hal yang sama, sayang.’ monolognya dalam hati. "Ternyata kau lebih suka kalau aku kasar, huh? Buka pahamu!"
__ADS_1
“Verreeeelllll.”
“Berhenti menyebut namanya. Dia tidak akan pernah datang menolongmu. Kau hanya milikku, sayang. Akan kuberikan segalanya untukmu. Aku juga bisa memberimu kenikmatan yang lebih kalau kau ikuti perintahku!”
“Apa maksudmu? Sampai kapanku aku tak sudi bersama bajingan sepertimu!” Deandra menatap Rico dengan penuh kebencian. Rico menatap mata indah itu, sudah tidak ada binar-binar cinta disana yang ada hanya kebencian dan dendam. "Apa yang dilakukan si brengsek itu hingga kau membenciku, ha?"
“Bukankah dia sudah mati dalam kecelakaan pesawat itu? Kini hanya ada aku yang menjagamu.” ujar Rico dengan senyum tipis.
“Darimana kau tahu kalau suamiku sudah meninggal? Verrelku masih hidup! Suamiku masih hidup!”
“Ssssttt…..diamlah sayang. Aku yang akan menjagamu. Aku janji akan merawat anakmu, aku tak peduli jika anak itu adalah anak kakakku.”
“Kau sudah gila! Kau tidak waras lagi! Lepaskan aku!” Deandra berusaha menarik napas dalam-dalam. Rico semakin membabi buat menciumi leher mulus wanita itu. Deandra merasa sangat jijik melihat pria yang dulu pernah dia cintai. Dia tak menyangka jika Rico senekat itu.
“Dengarkan baik-baik. Jika memang suamiku tak kembali lagi, aku bersumpah tidak akan pernah mencintai laki-laki lain. Aku tidak sudi kembali padamu! Kau laki-laki brengsek! Aku lebih baik mati ketimbang hidup bersamamu! Menyesal aku dulu pernah mencintaimu. Ternyata kau seorang bajingan brengsek!”
“Tuan Rico! Apa yang anda lakukan?” teriak Yuna kencang. Matanya nanar melihat perlakuan Rico pada majikannya. Ia merasa menyesal telah pergi keluar, saat dia kembali dia bahkan tidak melihat kedua penjaga didepan ruangan. Rico yang terkejut akan kehadiran Yuna langsung lompat dari tempat tidur dan berlari menuju pintu. Dia membuka pintu dengan kasar lalu membantingnya. Yuna meletakkan plastik berisi makanan diatas meja lalu lari sambil berteriak-teriak meminta tolong.
Mendadak perawat pun berlari mendekati ruangan Deandra “Ada apa?” tanya perawat pada.
“Satpam tangkap orang itu? Dimana semua sekuriti rumah sakit ini?” kata Yuna panik. Seorang sekuriti yang mengejar Rico yang lari melalui tangga darurat melihat pria itu berlari kencang menuju area parkir. “Cepat tangkap orang itu!” teriaknya pada sekuriti lain yang berada dipintu depan. Namun Rico sudah berhasil masuk kedalam mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan area rumah sakit itu.
SIAL! SIAL! SIAL!
Sedikit lagi…..tinggal sedikit lagi aku sudah memasukimu, sayang. ****! Kenapa gagal? Kenapa kau menolakku? Apa hebatnya laki-laki brengsek itu hingga kau menolakku? Ia menggeram dan mengeratkan pegangannya dikemudi mobil. Raut wajahnya menyeringai dan memancarkan emosi. “Bibirmu manis, sayang. Apa pria itu mencium bibirmu setiap saat? ARGGGGGG…..membayangkan itu saja membuat Rico semakin marah. Dia tidak berhasil melampiaskan kerinduannya dengan mencumbu Deandra.
__ADS_1
...*...
“Nyonya! Anda tidak apa-apa?”
“Huaaa…..dia menyentuhku Bibi Yuna. Aku kotor….pria brengsek itu menyentuhku. Apa yang harus kukatakan pada suamiku nanti?” Deandra histeris dan menangis mengingat apa yang barus saja dia alami.
“Maafkan saya, nyonya. Ini semua salahku. Tidak seharusnya saya meninggalkan nyonya.”
“Ini bukan salahmu Bibi Yuna. Pria brengsek itu mau memperkosaku.”
“Tapi kemana para pengawal yang menjaga diluar?” gumam Yuna heran.
Yuna merogoh sakunya lalu mengeluarkan ponsel. Ia pun menghubungi Yahya.
“Halo, Yuna ada apa?”
“I—ini Tu—tuan. Tadi Tuan Rico datang.”
“Apa? Apa yang terjadi?”
“Tadi saya keluar mau membeli makanan untuk nyonya. Tapi sesampainya saya diruangan, saya melihat Tuan Rico menindih nyonya..” kata Yuna dengan sangat hati-hati.
“Kurang ajar! Kemana para pengawal?”
“Sa-saya tidak tahu, Tuan. Saat saya kembali tidak ada seorangpun disini.” kata Yuna menjelaskan. Padahal sebelum pergi dia sudah berpesan pada dua pengawal yang berjaga dipintu ruangan agar tetap disana. Mendengar penjelasan Yuna, membuat Yahya sangat marah. "Bajingan! Aku yang akan menghabisimu dengan tanganku sendiri."
__ADS_1