
Satu setengah jam kemudian, Andini sampai disebuah rumah sederhana dengan pekarangan yang luas dan cukup asri. Sudah lama dia tidak datang kerumah itu, bertahun-tahun. Tampak sepi, pintu gerbang tertutup rapat. Andini mencoba mendorong pintu gerbang, ternyata tak dikunci. Dia membuka gerbang dan masuk. Dia celingak celinguk mengedarkan pandangan sekeliling rumah, kemudian mengetuk pintu. Setelah ketukan beberapa kali terdengar suara seseorang dari dalam “Masuk.”
Dengan perlahan dia membuka pintu dan masuk setelah menutup pintu itu kembali. Dia tidak melihat seorangpun diruang tamu. Namun suara itu terdengar lagi “Kau tahu aku ada dimana, langsung saja kesini,”
Meskipun dengan berat hati untuk datang kesana, tapi dia tak ada pilihan lain. Ini satu-satunya jalan keluar yang bisa dia tempuh. Kakinya melangkah melewati ruang tamu, lalu menuju sebuah pintu kayu lebar, menghela napas sebentar lalu tangannya membuka pintu dan masuk keruangan itu. Sebuah ruangan dengan pencahayaan yang temaram, kembali dia menatap sekeliling, tidak ada yang berubah, pikirnya.
Didalam ruangan terdapat sebuah meja kerja didekat jendela besar. Bisa dilihat interior ruangan itu antik seperti jaman belanda. Ya, rumah itu memang rumah tua peninggalan jaman Belanda. Rumah dengan ukuran luas, dari luar terlihat bangunannya cukup sederhana namun didalam rumah interiornya cukup mewah. Perabotannya pun terbilang antik, dengan desain viktorian khas eropa. Didalam ruang itu ada pintu lain yang terhubung kesebuah kamar tidur yang menghadap ke halaman samping.
“Sudah puas kau melihat-lihat?”
“Apa kabarmu?” tanya Andini. Terdengar suara tawa menyeringai mendengar pertanyaan Andini.
“Kenapa kau tertarik dengan kabarku? Sejak kapan kau mau tahu kabarku?”
“Jangan bicara seperti itu. Aku sungguh peduli padamu,”
“Ha….ha…..ha…...ha..kau becanda? Yang kau pedulikan cuma uang. Apakah kau sudah lupa itu Andini?”
“Tidak sepenuhnya benar. Aku juga peduli pada orang lain.” jawabnya ketus. ‘Sepertinya kedatanganku kesini sia-sia saja, dia hanya membuatku marah dan menghinaku. Tak seharusnya aku datang tapi cuma dia yang kini bisa membantuku dan selalu membantuku, ucapnya dalam hati.
“Dunia kiamat jika kau peduli pada orang lain. Dari dulu sampai kapanpun, yang kau pedulikan hanya dirimu saja. Lihatlah sudah sekian lama, kau bahkan tak mengunjungiku, apalagi bertanya kabarku. Tiba-tiba kau muncul macam hantu, malah bertanya kabarku.”
“Kau tahu situasiku sebagai istri Amran. Aku selalu sibuk dengan kegiatan sosial dan ikut suamiku dalam perjalanan bisnis.”
*Visual Andini....ibunya Rico. Gimana cucok kan muka pelakor 😁😁😁
__ADS_1
*Yang dibawah....Nih author bagi visualnya AYU PRASTITA
Ibunya Tuan Verrel. Kelihatan wanita elegan dan berkelas 😊😊👍
“Sepertinya kau sangat menikmati hidupmu selama bertahun-tahun. Kau sangat senang menyandang status sebagai istri dari Amran Ceyhan meskipun kau tak pernah diakui keluarganya. Kenapa kau sekarang menemuiku?”
“Aku butuh bantuanmu.”
“Ha...ha….ha….sudah kuduga. Kau hanya akan mengingatku saat kau butuh bantuan. Setelah kau dapatkan semua keinginanmu, kau pun menghilang. Apakah begitu caramu berterima kasih, Andini?”
“Lantas apa maumu? Aku sudah memberimu uang yang banyak. Kau mau apalagi dariku?”
“Kenapa kau masih bertanya apa yang ku mau, bukankah kau tahu apa yang ku mau darimu, Andini?”
“Kau gila! Tidak akan kuberikan! Katakan saja berapa uang yang kau minta,akan kuberikan,”
Kembali tawa menyeringai pria itu terdengar menggema bahkan terdengar lebih menakutkan dari sebelumnya.
“Uang? Kau pikir aku butuh uang? Aku punya banyak uang dan saat ini aku tidak butuh uangmu, Andini. Berikan aku sesuatu selain uang sebagai imbalan.”
Tubuh Andini bergetar, kegilaan apa yang akan diminta pria ini, pikirnya. Lebih baik aku pergi saja daripada aku tidak bisa keluar dengan aman dari sini.
__ADS_1
“Permisi. Sepertinya kedatanganku kesini sia-sia saja, senang bertemu denganmu. Aku akan mencari orang lain untuk membantuku,” ucapnya seraya bangkit dari duduknya. Namun saat dia mencapai pintu dan hendak membukanya. Suara pria itu mengejutkannya kembali dan membuat tubuhnya membeku ditempat.
“Hanya aku yang bisa membantumu, Andini. Apakah kau tidak takut jika aku membongkar rahasiamu? Ha..ha...ha...ha. Kau tidak punya pilihan selain menerima tawaranku.” pria itu berjalan mendekati Andini. Mendadak wanita yang biasanya sangat angkuh itu bergidik ketakutan. Hawa panas memenuhi ruangan itu, tangan besar pria itu menyibak rambut Andini dan bibirnya mendekat ketelinganya berbisik “Siapapun yang masuk kerumahku, tidak akan pernah bisa keluar begitu saja. Kau tahu itu kan? Silahkan kau pergi dari sini jika kau pikir kau bisa. Aku belum mendapatkan apa yang ku mau darimu, Andini.”
Hembusan napas ditengkuknya membuat Andini semakin bergidik, seakan nyawanya sudah berada diujung tanduk. ‘Sial! Bodoh kau Andini, kau masuk kekandang singa dan berharap bisa keluar begitu saja. Kenapa aku sampai lupa betapa berbahayanya pria itu? Kaki ini malah dengan entengnya melangkah memasuki rumah singa kelaparan ini. Andini memejamkan matanya sambil menghirup udara mengisi paru-parunya yang terasa sesak. Dia harus membuat keputusan sekarang sebelum pria itu marah dan dia takkan keluar dari sini. “Baiklah. Katakan apa maumu.”
Mendadak pria itu merengkuh pinggang Andini. “Puaskan aku seperti yang biasa kau lakukan dulu.” seringai licik itu menghiasi wajah pria itu.
Tanpa menunggu persetujuan Andini, pria itu menarik lengan Andini masuk ke ruanga lain diruang kerja itu. Sebuah ruangan dengan ranjang king size, pria itu mendorong tubuh Andini ke ranjang. “Jangan melawan, turuti perintahku maka aku akan membuatnya mudah bagimu.” ucap pria itu lalu mengikat kedua tangan Andini telentang ke atas ranjang.
Mata wanita itu terbelalak, dia tahu persis apa yang akan dilakukan pria itu padanya. Menyiksanya hingga dia mendapatkan kepuasannya. Ya, pria itu pernah menjadi langganan Andini semasa mudanya sebelum dia bertemu Amran. Andini adalah selimut malam pria yang masih terlihat gagah di usianya yang sudah setengah abad, jangan tanya tentang kemampuannya di ranjang, hanya Andini yang tahu betapa mengerikannya pria itu.
Seperti yang sudah diperkirakan Andini, pria bernama Rian Cordino itu mulai merobek pakaiannya hingga tubuhnya polos, tanpa aba-aba dia mencumbunya dengan kasar membuat Andini berteriak kesakitan. “Ahh….kau masih sama seperti dulu Andini.” dia terus menghajar wanita itu tanpa ampun, melepas ikatan tangan Andini lalu membalikkan tubuhnya dan kembali menghajar wanita itu dari belakang. Teriakan dan ******* Andini tak dihiraukan pria buas itu.
Ada pancaran amarah, benci dan dendam dimata pria itu. Seringai licik tak lepas dari wajahnya. “Hmm….apakah kau menikmatinya, sayang? Seperti dulu, kau selalu datang padaku memintanya.” Andini tak menjawab, perlahan dia menikmati permainan Rian, pria yang dulu selalu dia rindukan sentuhannya. Tapi Rian bukan pria sekaya Amran, itu alasan Andini meninggalkannya. Andini lebih tertarik pada uang, soal kenikmatan dia bisa mencarinya diluar.
“Memohonlah, Andini. Seperti dulu atau kau akan lebih tersiksa.”
Mendadak pria itu melepaskan diri lalu mengambil ikat pinggang dan menyabetkan ke punggung Andini. Teriakan Andini yang terkejut, seharusnya dia sudah perkirakan itu terjadi, karena pria itu menyukai kekerasan di ranjang, sama seperti Andini dimasa muda dulu. “Memohonlah.”
“Berikan padaku, Rian. Aku menginginkannya,” akhirnya dia memohon. Rian menyeringai. Menarik laci nakas dan mengeluarkan sesuatu dari dalam. Jarum suntik! Menyuntikkan cairan itu ketubuh Andini. Pria itupun melanjutkan aktivitas yang tadi terhenti, kini Andini beringas begitu cairan itu memasuki pembuluh darahnya, dia dengan buas melayani pria itu.
* Hai para readers terkasih....like, comment ya disetiap bab 🤗🤗
__ADS_1
*Bantu vote, bagi hadiah juga boleh biar author tambah semangat lagi
Terimakasih....Luv you all! 😘😘😘