
Dirumah sakit, Deandra yang terbaring di brankar dilarikan keruang pemeriksaan untuk mendapatkan pertolongan. Dokter Romeo terlihat berjalan tergesa-gesa dan cemas.
Bagaimana tidak cemas jika wanita itu adalah istri Tuan Verrel? Jika sesuatu yang buruk terjadi pada sang nyonya, sudah dipastikan semua orang akan kena hukuman kejam dari sang tuan besar. Ayu beserta kedua pelayan pribadi Deandra menunggu diluar ruangan dengan gelisah.
Ayu yang sudah mencoba menghubungi ponsel Verrel namun ponselnya tidak aktif. Frans yang dihubungi sedang meeting dengan klien dan memberitahu jika Verrel sedang keluar bersama klien meninjau proyek baru.
Setengah jam, dokter belum keluar juga. Ayu semakin cemas. Dari kejauhan terlihat langkah tegas tergesa-gesa seorang pria tua berjalan kearah Ayu. “Bagaimana keadaan cucu mantuku?” tanyanya pada Ayu.
“Masih diperiksa dokter, Pa.” jawab Ayu, airmatanya menetes. Khawatir, sangat khawatir pada kondisi menantu dan calon cucunya. “Ini semua salah Ayu, Pa. Tidak seharusnya Ayu biarkan dia pergi tanpa aku,” isaknya.
“Sudahlah, jangan menangis. Kita doakan semua baik-baik saja.”
Tak berselang lama, pintu ruangan terbuka dan Dokter Romeo keluar bersama seorang perawat.
“Bagaimana keadaannya? Bayinya bagaimana?”
“Tuan, Nyonya….kondisi ibu dan bayinya baik-baik saja. Hanya ada benturan keras dikepalanya, namun tidak berakibat fatal, tidak ada keretakan. Dia masih belum sadarkan diri karena obat biusnya dosis tinggi tapi sudah saya berikan obat penetralisir agar pengaruh biusnya cepat hilang.” kata dokter romeo menjelaskan.
“Kami akan pindahkan nyonya ke ruangan. Setelah itu baru dia bisa dijenguk. Saat dia siuman nanti saya harap untuk menjaganya jangan sampai dia tertekan. Saya khawatir nyonya mengalami syok.”
“Baiklah. Terimakasih.”
“Kalau boleh tahu, dimana Verrel?” tanya Romeo yang sedari tadi tidak melihat keberadaannya.
“Dia sedang diluar kota, sebentar lagi pasti datang.” ucap ayu berbohong. Dia sendiri pun tak tahu ada dimana putranya itu.
“Ohh….begitu.” jawab romeo. ‘Semoga dia memang berada diluar kota, bukan sedang bersenang-senang dengan wanita sewaan.’ pikir dokter romeo. Dia kenal Verrel sejak kecil,dia tahu bagaimana kelakuan sahabat masa kecilnya itu. Apalagi saat ini Deandra sedang hamil. Bisa saja Verrel kembali pada kebiasaan lamanya. Begitulah pikiran-pikiran memenuhi pikirannya.
...*...
“Maaf, Tuan.” kata pengawal yang sedang bersama Verrel.
“Ya, ada apa?”
“Ada telepon dari rumah sakit.”
“Rumah sakit? Ada apa?”
__ADS_1
“Nyonya Besar menghubungi saya katanya Nyonya pingsan dan sedang dirawat dirumah sakit. Tadi berusaha menelepon tuan tapi tidak tersambung.” kata pengawal itu menjelaskan. Mendadak wajah Verrel pucat dan langsung berjalan dengan cepat lebih tepatnya setengah berlari menuju mobil sportnya.
Melajukan mobilnya kencang diikuti mobil pengawal dibelakang. Saking paniknya dan mengendara mobil dengan laju, tak lama dia sampai didepan rumah sakit. Dengan berlari dia masuk kedalam rumah sakit mencari istrinya.
...**...
“Kenapa kamu senekat itu?” tanya seorang pria pada wanita cantik yang baru keluar dari kamar mandi. Dengan santai dia melepaskan handuk yang melilit tubuhnya, terlihat tubuh polos mempesona. Senyum menyeringai disudut bibirnya sambil melangkah kearah ranjang dimana seorang pria bertubuh polos berbaring sedangkan kedua tangannya menopang kepalanya.
“Aku hanya ingin melihat reaksi perempuan itu.” jawabnya sembari naik keatas ranjang.
“Bagaimana kalau kau tadi tertangkap pengawalnya?”
“Well, hanya dua pengawal disana. Aku bisa atasi, kau tahu itu?” tangannya meraba-raba tubuh polos pria itu dan perlahan dia duduk diatas perut laki-laki yang kini nampak mulai bergairah.
“Lagipula, aku hanya ingin bermain-main dulu dengannya. Biarkan perempuan itu membenci suaminya lalu aku akan masuk lebih dalam dan menghancurkan mereka.”
“Kau sudah gila! Kau bilang kau hanya ingin menghancurkannya. Kenapa sekarang kau bilang mau masuk dalam hidupnya?” tanya pria itu kesal. ‘Apa maumu sebenarnya Karina? Apakah kau berencana ingin kembali pada Verrel? Gumam pria itu dalam hati.
“Ada apa denganmu? Kenapa kau selalu mau tahu semua rencanaku? Kau ikuti saja rencana yang sudah ku rancang dan jangan banyak tanya. Kau mencintaiku bukan?” kata wanita itu sambil menggerakkan tubuhnya diatas tubuh pria itu.
Pria bernama Oscar itu langsung memejamkan mata menikmati gerakan erotis wanita yang dicintainya itu. Ia pun lupa apa yang ingin ia katakan pada wanita bernama Karina Anastasya itu. Karina selalu tahu bagaimana membungkam oscar, merayunya dengan tubuh moleknya.
Dia benar-benar penguasa ranjang. Beruntung sekali perempuan itu bisa menikmati malam-malamnya bersama Verrel. Hamil? Bukankah dia hamil? Ha...ha….ha….lihat saja nanti apa Verrel mampu mengendalikan diri selama perempuan itu hamil. Dia pasti akan mencari wanita sewaan lagi. Benaknya dipenuhi berbagai rencana bagaimana bisa mendekat pada Verrel tanpa diketahui.
...**...
Tuan Yahya dan Ayu sedang berada di kafetaria, kedua orang tua itu belum sempat makan siang. Terlihat wajah ayu yang murung, masih menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.
"Sudahlah Ayu, habiskan makanmu lalu kita kembali kekamar Deandra." kata Yahya.
"Iya, pa. Aku hanya masih merasa bersalah."
"Sudahlah. Deandra juga baik-baik saja. Ini bukan salahmu tapi salah Verrel. Seharusnya dia mengirim lebih banyak pengawal untuk istrinya."
...*...
“Nyonya,” berulang kali Tami memanggil Deandra dan menepuk-nepuk pipinya namun wanita itu tak merespon. Bagaimana Tami?” terselip nada panik dan khawatir pada kedua pelayan.
__ADS_1
Alya berlari keluar ruangan memanggil dokter. Nampak kepanikan diwajah kedua orang itu.
“Nyonya pingsan lagi.” kata Alya saat dokter tiba. Kedua pelayan itu disuruh menunggu diluar oleh dokter yang memeriksa Deandra.
“Sebaiknya kita menghubungi Tuan Besar. Biar aku temui Tuan dan nyonya di kafetaria,” kata Alya memberi saran pada Tami. Alya segera pergi menuju ke kafetaria yang berada dilantai dasar.
Tami merogoh ponselnya dan menghubungi pengawal yang saat ini bersama Tuan Verrel.
“Halo.”
“Tolong beritahukan pada Tuan Besar, Nyonya pingsan.”
“Kami sudah dirumah sakit.” jawab pengawal itu.
“Tolong cepat datang sekarang.”
“Baiklah. Tetap disana jangan kemana-mana.”
Tangan gadis itu bergetar ketakutan, ia tahu pasti akan mendapat hukuman jika sang majikan kenapa-napa.
"Kalian tunggu disini!" ujar Yahya pada kedua pelayan itu. Dia dan Ayu pun masuk keruang perawatan deandra.
“Tenanglah. Nyonya pasti akan baik-baik saja,” kata Alya yang sudah kembali bersama Yahya dan Ayu.
“Aku takut Alya.”
Dalam hati Tami dan Alya tak henti-hentinya berdoa agar semua baik-baik saja dan tidak ada kemarahan dari Tuan Besar. Verrel keluar dari lift dan melihat kedua pelayan istrinya berdiri didepan pintu ruang VVIP.
Tanpa mempedulikan kedua gadis itu, Verrel mendorong pintu dan masuk kedalam ruang perawatan. Dokter Romeo yang sudah selesai memeriksa Deandra hanya menggelengkan kepala melihat Verrel.
“Darimana saja kau, Tuan?” tanyanya namun tak direspon Verrel sama sekali. Romeo dan perawat keluar dari ruangan itu sambil berkata “Aku diruanganku jika kau ingin bicara.”
"Opa! Mama?" kata Verrel yang baru sadar ada orang lain disana. "Apa yang terjadi? Bukankah tadi mama dan istriku ada di mall?"
Lalu Ayu menceritakan apa yang terjadi.
Verrel mendekati ranjang dan memeluk Deandra, “Bangun, sayang. Jangan tinggalkan aku.” desis Verrel panik karena Deandra masih belum sadar. Wajah dan bibir istrinya pucat. Hatinya sangat sedih dan sakit melihat kondisi istrinya.
__ADS_1
Wajahnya seketika merah padam dan menyeringai mengerikan. Rahangnya mengeras. “Siapa yang menyakitimu, sayang? Akan kubalas kau!” geramnya dengan tangan mengepal. “Siapapun yang menyentuh istriku akan kuhabisi, meski itu keluargaku sendiri!”