
"Apa yang kau lakukan pada menantuku?" tanya Ayu. Apalagi yang dibuat anak itu. Dasar tidak peka, sudah tahu istrinya lagi hamil. Moga Verrel bisa berubah kembali normal seperti dulu, sepertinya menantuku bisa mengendalikannya.
"Tidak ada ma. Tadi dia minta dipijitin. Terus dia mengusirku." kata Verrel berbohong.
"Pasti ada kata-katamu yang bikin dia tersinggung. Ingat sayang, istrimu lagi hamil muda. Dia labil, sedikit saja kau salah bicara pasti dia merajuk."
"Dia bukan lagi merajuk ma, tapi marah besar. Aku sampe diusir. Tadi sempat dilempar pakai bantal."
"Ha...ha...ha....ha. Ya, sudah mana istrimu. Biar mama yang bicara."
"Dia ada dikamar. Coba mama telepon saja dia,"....tiba-tiba Verrel tersadar kalau istrinya tidak punya ponsel. Sejak Deandra tinggal dirumahnya memang Verrel tidak mengijinkan Deandra pegang ponsel. Kalau dia perlu maka dia selalu minta Yuna yang menghubungi Verrel.
"Memangnya istrimu punya ponsel? Kamu ini keterlaluan ya Verrel. Istri tidak diijinkan punya ponsel, kalau ada apa-apa bagaimana istrimu menghubungimu?"
"Iya, ma. Besok aku belikan ponsel untuknya. Terus bagaimana ini, ma?"
"Ya, kau tanggung deritamu sayang. Malam ini kau tidur sendiri. Ha....ha...ha....lucu sekali menantuku itu."
Ayu langsung memutuskan panggilan. Tersenyum bahagia, sudah lama dia tidak tersenyum apalagi tertawa. Kini, semua berubah sejak kehadiran Deandra di keluarga itu.
"Aku harus bicara dengan papa besok. Ini demi keselamatan menantu dan calon cucuku. Pasti Andini akan merencanakan sesuatu. Aku kenal betul pelakor itu."
...*...
"Sudahlah bro, berhenti minum kau sudah mabok berat," kata seorang pria bernama Hengky pada Rico yang sudah mabok berat.
Bugh!
Rico memukul temannya. Dia sedang berada di kelab malam bersama teman-temannya.
Saat tangan Rico mau memukul lagi, Elias menahan lengannya.
"Bro....cukup. Sadar loe. Jangan bertindak bodoh, kendalikan diri loe. Gara-gara wanita loe jadi begini. Udah lupain!"
"Enak saja loe ngomong. Loe tau tidak bagaimana sakitnya.....?"
"Gue tahu bro. Tapi jangan begini. Dia sudah jadi istri kakakmu. Mending kita enjoy, loe lihat disana wanita-wanita cantik itu? Bagaimana kalau kita lanjut pesta di rumahku? Loe tinggal pilih mau berapa orang. Malam ini gue yang traktir."
"Gue hanya menginginkan kekasihku."
"Eh....dengar ya baik-baik. Daripada loe minum sampai mabok dan stress mikirin mantan kekasih loe, mending enjoy bro. Jangan sia-siakan hidup loe, lagipula tak mungkin dia kembali." kata Elias yang tidak habis pikir melihat kebodohan temannya itu.
"Oh, iya. Coba lihat foto-foto ini mereka sangat bahagia. Loe lihat video yang satu ini," ujar Yoga sambil menunjuk ke layar ponselnya, memutar sebuah video pernyataan cinta Deandra pada Verrel.
Hancur! Semakin hancur hatinya berkeping-keping melihat video itu. Video yang mendadak viral dimana Verrel dan Deandra mengucapkan janji setia. Apalagi, saat Deandra mengucapkan sebuah kalimat yang seketika itu membuat kedua kakinya lunglai dan terduduk di lantai.
__ADS_1
Teman-temannya berusaha menghibur. Baru pertama kali mereka melihat Rico seperti itu. Pria yang lebih suka pesta dan gonta ganti wanita itu kini kehilangan semangat hidupnya.
"Ayo, kita ke rumahku." ajak Elias sambil mematah Rico ke mobilnya diikuti temannya yang lain serta beberapa wanita sewaan.
...*...
"Tidak bisa seperti ini, aku harus membujuk istriku,"
'Istriku? Terdengar manis, gumam Verrel yang tidak bisa tidur. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Ahhh....aku ada ide. Dia menghubungi resepsionis.
"Selamat malam, Tuan Besar. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang resepsionis pria dengan sopan.
"Begini. Berikan saya kunci extra atau mungkin bisa bukakan pintu kamarku, istriku ada dikamar sedang tidur. Aku tidak bisa masuk." ujarnya.
"Baik, Tuan. Silahkan tunggu sebentar. Staff kami akan segera datang." tak menunggu lama terlihat seorang staff hotel datang, Verrel yang sudah berdiri didepan pintu kamarnya langsung meminta pria itu membuka pintu.
"Silahkan, Tuan. Ini kartu aksesnya." ucap staff hotel sembari memberi sebuah kartu pada Verrel.
Verrel langsung mengambil kartu akses itu dan langsung masuk kedalam kamar. Dia menutup pintu pelan agar tidak membangunkan istrinya. Ada rasa takut dan cemas jika istrinya kenapa-napa.
Tubuh yang terbaring diranjang dan tertidur pulas itu seperti merasakan kehadiran seseorang disana. Dia menggeliat dan memanggil nama suaminya "Verrel." Dengan langkah perlahan dia mendekati ranjang dan duduk. "Verrel, suamiku."
"Iya, sayang. Aku disini." ucapnya mengelus pipi istrinya lembut. "Tidurlah, aku disini."
Saat dia hendak bangkit, tangan Deandra menahannya.
"Siapa yang bilang aku tidak sayang padamu, ha?"
Perlahan deandra membuka mata dan mengerjap. Saat matanya terbuka sempurna ia menatap wajah tampan suaminya. Ya, Tuhan. Kenapa dia tampan sekali? Sudut bibirnya terangkat mencetak senyum. "Tampan sekali," ucapnya.
"Ha...ha...ha. Jangan memandangku begitu, sayang. Kau sangat menggemaskan."
"Lalu, kenapa kau pergi? Kalau kau sayang padaku dan anakku pasti kau menemaniku," dengan memasang wajah cemberut yang menurut Verrel sangat menggemaskan. Dia merasa malu karena wajahnya langsung merona.
'Pasti dia besar kepala mendengar pujianku.'
"Maaf, ya sayang. Tadi kau mengusirku makanya aku pergi."
"Kau jahat. Kakiku sakit kau tidak mau memijatnya." kata deandra meneteskan airmata. Ya, ampun kenapa aku jadi cegeng begini?
"Sssttt....sudah jangan nangis. Apa masih mau ku pijat?"
"Tidak. Peluk aku saja. Ingat ya cuma peluk!"
"Baiklah, Nyonya Verrel."
__ADS_1
'Untung saja dia sudah tidak merajuk lagi. Yang penting aku tidak tidur sendirian, mana bisa aku jauh-jauh dari istriku yang cantik ini.'
Keduanya berbaring saling berpelukan, situasi yang sungguh menyiksa Verrel karena sesuatu yang berada dibawah sana sudah mengeras setiap kali dia berada didekat istrinya.
'Sungguh, ini nikmat membawa sengsara, gumamnya dalam hati.'
...*...
“Suamiku,” setelahnya Deandra langsung menutup mulutnya dengan tangan. Melihat pahatan indah didepannya yang sedang pulas. Perlahan dia menyadari kalau tubuh mereka polos. Oh, Tuhan. Apa suamiku? wajahnya merona karena dia tahu itu pasti ulah suaminya. Kenapa aku bisa tidur senyenyak itu, sampai-sampai aku tidak sadar kejahilan suamiku.
Verrel tersenyum membuka matanya sebentar lalu memejamkan kembali. Mengeratkan pelukannya, “Iya, sayang. Kenapa?”
"Kita pulang kerumah hari inikan?"
"Memangnya kenapa? Kau tidak betah disini?"
Aku harus cari alasan yang tepat biar bisa pulang. Kelamaan dihotel, dia bakalan minta dilayani terus. Kalau dirumah ada opa dan mama.
"Aku rindu sama mama."
"Baru sehari sudah rindu?"
"Iya, kita pulang ya....ya. Please!"
"Baiklah kita pulang tapi...."
"Iya...iya. Tapi pelan-pelan ya?" dia tahu betul suaminya pasti minta syarat yang tak mungkin dia tolak. Karena dia juga menyukainya, Verrel begitu memujanya.
...*...
"Selamat pagi, Tuan." kata Frans yang sudah menunggu sang tuan besar didepan hotel.
"Apa kau sudah kerjakan semua perintahku semalam?"
"Sudah, Tuan. Silahkan tuan bisa lihat sendiri. Saya sudah kirimkan semua ke email, Tuan."
"Bagus. Kau boleh pergi. Aku akan bawa mobil istriku pulang."
"Baik, Tuan."
Perlahan tapi pasti semua keburukanmu akan kubongkar, supaya istriku tidak akan pernah berpikir untuk kembali pada pria brengsek itu.
"Ahh....Kau mau apa?" tanya Deandra yang terkejut karena Verrel tiba-tiba menggendongnya ala bridal.
"Kita mandi bersama, sayang. Kau mau pulang, bukan?"
__ADS_1
"Hanya mandi ya, tidak boleh minta yang lain."
Verrel tidak menjawab, meskipun istrinya bilang tidak tapi dia tahu betul kalau deandra tidak pernah menolak sentuhannya. Mandi bersama pun berakhir satu jam kemudian setelah drama percintaan mereka.