TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 178. HUKUMAN SURYA


__ADS_3

Bahkan diruangan itu sudah ada sepuluh pria lainnya bertampang seram dan salah satu dari mereka adalah pria yang dia temui sebelumnya yang diajaknya untuk menculik kedua anak Deandra. Matanya terbelalak dan mulutnya melongo, Apa-apaan ini? Aku sudah membayar DP padanya, gumamnya lirih.


“Ada apa ini semua?” tanya Surya menatap tajam pada pria yang seharusnya jadi rekan kerjanya. Pria itu menyeringai dan tertawa terbahak-bahak “hahaha…..Surya! Surya! Kau memang bodoh. Aku bekerja untuk Tuan Verrel dan kau sangat bodoh mengajakku untuk bekerjasama denganmu untuk menculik Tuan Muda dan Nona Muda kami. Kau masuk dalam perangkap yang aku pasang untukmu, pemuda itu yang membawamu masuk juga  bekerja untuk Tuan Verrel. Untuk apa aku bekerjasama denganmu hu? Hidupku terjamin bekerja dengan Tuan Besar.”


Surya tak percaya atas apa yang menimpanya saat ini. Untung saja dia sudah memasukkan peluru ke pistolnya. Dengan cepat dia meraih pistol dari balik jaketnya, kesepuluh pria itu mendekati Surya yang mengacungkan pistolnya, tapi dia kalah cepat dengan dua pria yang berdiri menghadang pintu sudah berhasil merebut pistol dari tangannya lalu melayangkan pukulan pada Surya yang langsung tersungkur di lantai begitu mendapat pukulan keras. Surya dihajar habis-habisan oleh anak buah Verrel hingga babak belur dan tak sadarkan diri.


Tak lama kemudian Verrel sudah tiba disana. “Bangunkan dia! Aku tak punya waktu banyak untuk menunggu sampai dia bangun!” perintah Verrel yang saat itu mengenakan setelan jas hitam sambil duduk diatas sofa.


“Baik, Tuan.”


Pria berumur tiga puluhan tadi mengambil seember air es yang sudah sejak tadi ia siapkan dan mengguyur tubuh Surya yang terikat diatas kursi.


Byur!


Air es itu membuat Surya terhenyak dan mengerjapkan matanya sebelum terbuka sempurna, ia meringis merasakan perih yang disekujur tubuhnya yang terluka dan belum mengering. Dia mendonggakkan kepalanya dan saat melihat pria yang berada didepannya, saat itu juga dia tak bisa berkutik, tubuhnya membeku dan mulutnya kelu seketika. Tatapan Dewa Kematian menghunjam dengan tatapan tajam dan menyeringai menakutkan.


“Kau tidur terlalu nyenyak Surya!.” Suara berat pria itu seiring dengan tatapan menghunjam tajam.


“Tu---Tuan Verrel.”


Seringai dibibir pria itu terlihat sangat tak bersahabat dan penuh kebencian “Kau masih ingat juga denganku, ya. Apakah kau juga masih ingat dengan pria itu?” tanya Verrel mengarahkan dagunya ke Darma yang berjalan mendekat dan berdiri disamping Verrel menantunya.


“Da---Darma Pangestu? Ka---Kau---”

__ADS_1


“Ya, ini aku. Kau masih ingat juga ternyata ya. Aku masih hidup Surya! Tuhan masih memberiku kesempatan hidup hanya untuk melihat dan menghukummu atas apa yang sudah kau lakukan padaku dan keluargaku!” ucap Darma penuh kemarahan. Bagaimana tidak marah, saat Verrel menceritakan bagaimana Surya hendak menjual Deandra pada pria hidung belang. Belum lagi di masa lalu Surya yang menghancurkannya demi ambisinya.


“Apa mau kalian?” tanya Surya gugup. Matanya mengedar sekeliling ruangan itu dan menemui para pengawal Verrel disana. ‘Sial! Ia telah terjebak.


“Mauku? Atau mau papa mertuaku?” tanya Verrel “Kami mau membuat perhitungan denganmu.”


“Per---perhitungan?” Surya meneguk ludahnya.


“Ya. Kau mengaku-aku sebagai paman pada putriku dan kau mengambil semua warisan miliknya dan memakainya untuk dirimu sendiri. Kau juga yang sudah memalsukan tanda tanganku di masa lalu dan melakukan korupsi dana proyek bersama-sama dengan wanita yang kau cintai yang kini sudah mati!” kata Darma sinis.


“A—apa? Apa maksudmu Darma?” mata Surya terbelalak.


“Kau dengar! Andini sudah mati, dia bunuh diri di penjara dan putramu juga sekarang mendekam di penjara. Ha...ha….ha….ha….miris sekali nasibmu Surya! Kau tergila-gila pada Andini dan sangat mencintainya tapi dia malah memilih pria lain dan meninggalkanmu. Kau bahkan rela melakukan apapun demi perempuan murahan itu termasuk melakukan semua pekerjaan kotor untuknya tapi tetap saja dia mencampakkanmu….ck...ck...ck.”


“Kau tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti, hu?” tanya Darma sambil mencampakkan sebuah dokumen kewajah Surya “Baca! Itu akta lahir Rico dan hasil tes DNA. Bukankah Andini sudah hamil dua bulan saat ia menikahi Amran? Kau pikir aku lupa soal itu?” kata Darma dengan sinisnya memandang Surya. “Beruntung sekali kau menjual putriku pada Verrel dan tak menikah dengan putramu yang brengsek itu, sama brengseknya sepertimu!”


“Putramu bahkan menemuimu waktu itu menanyakan keberadaan Deandra, bukan? Bagaimana perasaannya jika dia tahu bahwa kau adalah ayah kandungnya yang sudah menjual kekasihnya? Dan jadi penyebab dia mendekam di penjara sekarang.” kata Verrel menyeringai.


“Rico di penjara?”


“Apa kau tak mengenali putramu sendiri saat bertemu dengannya? Ha...ha...ha….kasihan sekali nasibmu Surya. Kalian satu keluarga sama-sama serakah. Like father like son.” kata Verrel.


Verrel bak malaikat pencabut nyawa yang siap mencabik-cabik “Hari ini aku dan papa mertuaku akan membalaskan semua yang telah kau lakukan pada istriku dan mertuaku dengan melenyapkanmu dari dunia ini! Kau tak pantas lagi hidup Surya apalagi kau berencana hendak menculik kedua anakku. Tapi sayangnya kau terlalu bodoh dan terjebak dengan salah satu pengawalku.” tekad Verrel sudah mantap. Dia akan melenyapkan siapa saja yang ingin mengganggu keluarganya.

__ADS_1


Surya tercekat, dia tahu jika Verrel selalu serius dan ucapan sang penguasa itu memang tak pernah main-main. Habislah aku. Tamat riwayatku hari ini.


“Tuan.”


“Ada apa kau kemari?”


“Nyonya mengamuk karena tak menemukan Tuan dirumah. Semua pelayan kena marah sama nyonya di rumah utama,” ucap Frans dengan suara bergetar. Ini bukan waktu yang tepat tapi keadaan dirumah harus segera dikondisikan. “Nyonya tidak mau makan kalau Tuan tidak ada.”


“Aku akan pulang setelah menyingkirkan pria bajingan ini.” Verrel hendak memukul Surya namun ditahan oleh Frans.


“Jangan Tuan! Tangan Tuan tak pantas menyentuh kulit bajingan itu.” cegah Frans cepat. “Biar kami yang membereskan bajingan ini. Jangan kotori tangan Tuan dengan menyentuhnya.”


Verrel mendengus lalu menatap papa mertuanya yang menggangguk padanya. Ia sangat kesal dan ingin melampiaskan kemarahannya pada Surya tapi bayangan wajah cantik istri dan kedua anaknya seketika membuat hatinya menjadi tenang.


“Tuan Verrel dan Tuan Darma bisa pulang, kami akan membereskan laki-laki brengsek ini.”


“Segera kabari aku setelah kalian selesai dengannya. Jangan lupa untuk membuangnya tanpa jejak, aku tidak mau ada masalah lagi. Pastikan mayatnya tak bisa ditemukan.” bisik Verrel.


“Tenang saja, Tuan. Aku akan melemparkan tubuhnya jadi santapan buaya.” jawab Frans lirih.


“Baiklah. Aku pulang sekarang. Oh iya…..Lusa persidangan terakhir. Aku harus memastikan hukuman yang akan diterima pria bajingan itu. Dia harus mendekam di penjara seumur hidupnya.” Verrel bertekad kuat dengan dendam membara, dia memastikan Rico tak akan bisa dibebaskan.


“Iya, Tuan. Semua sudah diatur oleh pengacara kita. Semua bukti-bukti yang sudah kita berikan pada polisi sebelumnya akan sangat memberatkannya. Setelah ini Tuan dan Nyonya akan tenang tak akan ada gangguan lagi.” Ucap Frans. Verrel dan Darma meninggalkan rumah itu, masih sempat mereka menoleh pada Surya yang saat itu menangis memohon ampun agar tak berakhir di tangan para pengawal Verrel. Kini Surya mengutuki dirinya sendiri yang bodoh, tak seharusnya dia datang kesana, harusnya dia mendengarkan Diah yang melarangnya sejak mereka tiba di tanah air. Jika waktu bisa diulang, dia akan patuh pada istrinya agar tak kembali dan tetap tinggal di luar negeri.

__ADS_1


__ADS_2