
Yahya yang memerintahkan manajer hotel untuk mengawasi gerak gerik Amran setiap kali dia mendatangi hotel itupun memerintahkan seorang pelayan yang bertugas mengantarkan makanan ke kamar Amran untuk meletakkan kamera didalam kamar. Yahya yang merasa khawatir akan tingkah anaknya yang baru beberapa hari lalu keluar dari rumah sakit jiwa membuatnya resah.
Sebagai seorang ayah, dia merasa jika putranya itu sedang merencanakan sesuatu. Sebagai orang tua yang bertanggung jawab akan keselamatan keluarganya, tak ingin kecolongan. Saat tadi dia melihat Amran datang ke hotel, dia tahu pasti pria itu berada disana untuk satu hal, apalagi kalau bukan bersenang-senang. Selama ini pria itu toh sudah dikenal sebagai tukang selingkuh.
Dia hanya ingin tahu siapa orang yang dibawa oleh putranya itu ke hotel, hotel itu adalah milik keluarga Ceyhan dan Amran punya kamar khusus di hotel itu. Yahya masih ingat kejadian beberapa tahun lalu sebelum dia menikahi Andini. Amran selalu berganti-ganti wanita setiap hari. Bahkan setelah menikah dengan Andini pun pria itu masih sering terlihat bersama wanita berbeda diluaran. Yahya yang melihat Ipadnya terkejut menatap layar didepannya, dia tak menyangka sudah ada seorang wanita yang sedang polos tanpa sehelai benangpun dikamar itu.
Yahya langsung mematikan Ipadnya, enggan melihat karena dia sudah tahu apa yang terjadi disana. Dia harus waspada, jika Amran akan menggunakan wanita untuk menghancurkan keluarganya lagi. Itulah alasan Yahya meminta petugas hotel memasang kamera di kamar itu, jadi dia bisa tahu wanita mana saja yang berhubungan dengan Amran.
Dikamar 2002, tanpa penolakan dan memasrahkan diri sepenuhnya, Risna mengalungkan tangan keleher Amran. Saat pria itu merengkuh tubuhnya, ia pun semakin tak berdaya. Dengan enteng Amran menarik tubuh Risna dan menggendong wanita itu hanya untuk membaringkannya diatas meja yang berada didekat jendela. Tempat yang cukup untuk memulai kegilaan pria berusia lima puluh dua tahun itu yang kembali mencumbu perawat pribadinya. Saat merasakan kehabisan napas, Amran menarik diri. Kemudian menyatukan kening mereka dan berburu oksigen kedalam paru-parunya. “Aku yakin kau belum pernah merasakan kegilaan seperti ini dengan laki-laki manapun sebelumnya.” ucapnya penuh percaya diri.
“Benar, mas. Kau selalu membuatku melayang. Tapi tolong lakukan dengan lembut ya, jangan terlalu ganas seperti biasanya.”
__ADS_1
“Kalau lembut, kau takkan merasakan sensasinya. Diam dan nikmati saja.” ujarnya ketus. “Aku akan mulai sekarang….”
Risna yang sudah memejamkan mata dan menunggu aksi gila Amran kembali membuka matanya. Sepasang manik kecoklatan itu menatap sayu pada manik hitam pekat milik Amran. “Lakukan semaumu, Mas. Aku pasrah.” ucapnya lirih, membuat pria paruh baya itu tersenyum dengan seringai licik diwajahnya seakan-akan dia sudah merencanakan sesuatu. Tak disangka kedua tangan Risna meremas kedua gundukan dadanya membuat Amran menelan ludahnya. Amran langsung mencium Risna dan menarik tubuhnya merapat. Tak ingin berlama-lama untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, kedua tangannya meremas kuat dan kasar dada wanita itu.
Tanpa basa-basi pria dengan gairah liar yang berkobar itu melahap salah satu puncaknya sedangkan tangan lainnya meremas kasar. “Ahhh…..”
“Mendesahlah yang kuat,”
Amran tak peduli lagi, dia menggigit, meremas dan memasukkan jarinya keliang hangat wanita itu yang menjerit tertahan. Dalam hati Amran merasa puas melihat jeritan sakit dan ******* wanita dibawah tubuhnya. Wanita itu tak henti-hentinya memohon untuk langsung ke menu utama dan berhenti menggigit bagian tubuhnya. Selanjutnya, tanpa memberi aba-aba ia langsung menghunjam keras dan kasar membuat Risna menjerit kesakitan. Meskipun sudah menyatu beberapa kali, pria itu masih kesulitan untuk menembus pertahanan Risna, yang membuatnya yakin jika wanita itu memang tak pernah disentuh pria lain selama ini.
Kembali dia cambukkan ikat pinggang itu ke bokong Risna, jeritan itu keluar dari bibirnya dan membuat Amran semakin menggila dan bergerak semakin cepat tanpa peduli rasa sakit yang dirasakan wanita itu. Airmata menetes dari sudut matanya, rasa sakit dan nikmat bersamaan, namun entah kekuatan darimana yang membuatnya mampu bertahan tiap kali Amran menderanya tanpa henti.
__ADS_1
Awalnya Amran sangat menikmati perbuatan kasarnya dan menikmati setiap titik kenikmatan Risna, tetapi pada akhirnya ia harus kalah karena miliknya terasa dipijat dengan intensitas tinggi dan membuat dirinya tak bisa menahan lebih lama. “Arrggg..! Sial! Sial! Sial!” umpatnya dengan pinggul yang terus memacu semakin kencang dan memukulkan tangannya ke punggung wanita itu.
Amran menghunjam semakin dalam dan instens berulang kali sambil memukul. Wanita itu memekik karena kuatnya hunjaman Amran yang membentur sesuatu didalam sana. Kedua manusia itupun mencapai pelepasannya bersamaan. Tapi Amran masih dengan kegilaannya tak mau berhenti, dia menarik rambut Risna dan mendorongnya ke sofa dan mendudukannya diatas pangkuan Amran. Memaksa wanita itu melakukan gerakannya, lagi dan lagi keduanya mencapai pelepasan dan membuat wanita itu merasa lelah setelah beberapa kali pelepasan. Amran semakin gila, dia mengangkat Risna dan melemparkannya keatas ranjang dan kembali menyiksanya.
Amran mengambil puntung rokok dan menekannya ke puncak dada Risna yang menjerit kesakitan dan menangis menerima perlakuan kasar Amran. Tapi dia tak bisa berbuat apapun, toh ini adalah pilihannya menyetujui tawaran Amran. Rasa perih dan panas dari puntung rokok yang membakar kulitnya membuatnya merintih memohon Amran segera menuntaskannya. Tapi pria gila itu justru menyeringai “Tidak akan kuhentikan sampai aku puas menyiksamu!”
“Aku mohon hentikan, Mas. Ini sakit sekali.”
“Kau tahu, rasa sakitlah yang membawa kenikmatan.” seringai mengerikan diwajahnya muncul membuat Risna ketakutan. Baru kali ini dia merasakan ketakutan luar biasa, jika kemarin-kemarin kegilaan Amran hanya sebatas hunjaman kasar tanpa henti menderanya diatas ranjang, tapi hari ini pria itu benar-benar menyiksanya dengan cambukan dan meletakkan puntung rokok di puncak dadany. Seakan tak peduli akan rasa sakit yang dialami wanita itu, Amran terus menderanya tanpa henti hingga Risna tak sadarkan diri. Amran merasa puas setelah melihat wanita itu sudah telentang tak berdaya setelah menderanya berjam-jam.
“Hahahaha…...kau yang setuju dengan tawaranku. Kini kau hanya akan jadi mainanku, ternyata kau bisa juga jadi mainan yang memuaskan. Dasar perempuan kampung…...untung kau cantik.” ucapnya tertawa terbahak-bahak melihat tubuh mengenaskan didepannya. Amran membersihkan tubuhnya dan memakai jubah menutupi tubuhnya, duduk dibalkon sambil mengembuskan asap rokok sambil melirik kearah ranjang. Risna masih tertidur pulas.
__ADS_1
“Aku merindukan Ayu, sudah lama sekali aku tidak menyentuhnya. Sial! Jika waktu itu tidak ada pengawalnya pasti sudah kunikmati tubuhnya dirumah sakit. Aku harus cari cara untuk mendekati Ayu.”
“Kau menceraikanku saat aku dirawat dirumah sakit jiwa, Ayu. Berani-beraninya kau mencampakkanku dan kau hidup bahagia dirumah utama bersama mereka. Akan kubuat kau bertekuk lutut dan memohon padaku, tidak semudah itu kau lari dariku Ayu!” geramnya penuh amarah setiap kali dia mengingat mantan istrinya itu.