
“Bagaimana? Apa kalian sudah menemukan pria itu?” tanya seorang wanita pada anak buahnya. Wanita itu bernama Stefanie Singgih,kakak kandung dari Sandy Singgih.
“Belum! Terakhir kali kami melihatnya memberikan keterangan dikantor polisis. Sejak rumahnya di segel polisi, dia tidak pernah kembali lagi kesana.” ucap pria itu.
“Apalagi informasi yang kalian dapatkan?”
“Tempo hari ada yang melihat beberapa pria memasuki rumah itu! Tapi tak lama mereka pergi.”
“Siapa mereka? Apa polisi?” tanya Stefanie mengeryitkan keningnya.
“Sepertinya bukan. Kami juga sudah menyelidiki.”
“Apa mereka orang-orang suruhan Verrel?”
“Bukan Nona! Kami sudah mencari tahu, mereka tidak ada hubungan dengan Tuan Verrel.”
“Lantas apa yang mereka lakukan disana?” tanya wanita itu lagi.
“Kami tidak tahu, kami tidak melihat mereka membawa apapun saat keluar dari rumah itu. Sampai sekarang kami tidak bisa melacak mereka, kami mencoba mengikuti mereka tapi kami kehilangan jejak.”
Stefanie mendengus kesal, 'Apa orang-orangku bodoh semua ya? Masa mencari informasi seperti itu saja tidak bisa. Gumamnya dalam hati.
“Pergilah! Jangan datang menemuiku jika tidak ada yang penting!” suara wanita itu kesal.
“Bagaimana dengan Tuan Verrel? Apa kami harus bergerak sekarang?”
“Tunggu perintah dariku! Bagaimana kondisi istrinya sekarang?”
“Kalau soal itu, kami tidak bisa mendapatkan informasi apapun. Pihak rumah sakit sepertinya menyembunyikan semua informasi tentang wanita itu.”
“Dasar bodoh! Kalian bisa mengecek langsung!”
“Maaf Nona. Kami tidak bisa melakukan itu, selama ini wanita itu dirawat di ruang VVIP yang dijaga ketat. Bahkan petugas kebersihannya saja khusus, bukan dari pihak rumah sakit. Di lantai itu tidak ada pasien lain, seluruh lantai itu khusus untuk wanita itu dan anaknya. Kami tidak bisa bergerak dan masuk kesana karena lift nya pun dijaga pengawal.” kata pria itu menjelaskan agar dia tidak lagi disalahkan oleh Stefanie.
“Sial! Aku tidak peduli! Kalian harus cari tahu kondisi istri Verrel dan bagaimana situasi disana agar aku bisa membuat rencana berikutnya! Kalian kubayar mahal, ingat itu!” teriak wanita itu penuh amarah. “Pergi! Aku beri kalian waktu dua hari untuk mendapatkan semua informasi yang kuingingkan!”
“Ba—baik Nona.” beberapa pria itu pun segera keluar dari ruangan.
__ADS_1
“Begitu ketatnya kau menjaga istrimu yang berharga itu, hem?” geram wanita itu sambil menyalakan rokok ditangannya.
Dia berdiri dijendela kaca besar dan memandang keluar jendela sambil menghembuskan asap rokok, pikirannya jauh melayang. “Aku tidak bisa berlama-lama. Semuanya harus kulakukan secepatnya!”
Dreetttttt dreeetttttt dreeeetttttt
“Halo.”
“Kak, kau ada dimana?” tanya Sandy.
“Kenapa kau bertanya begitu? Ada apa dengan suaramu?”
“Gawat! Ini benar-benar gawat kak! Harga saham perusahaan kita turun draktis, aku dikejar-kejar para pemegang saham dan para direksi minta penjelasan. Bahkan mereka menuntut akan melepaskan kepemilikan saham mereka!”
“Apa? Bagaimana bisa? Kemarin semua baik-baik saja. Kenapa bisa seperti ini?”
“Aku juga tidak tahu. Pagi ini asistenku mengabarkan, aku sudah mengecek. Keadaan benar-benar kacau dan ada baiknya jika kakak kembali kesini secepatnya!”
“Sandy! Apa kau pikir pakai otakmu? Semua ini gara-gara ulahmu! Apa menurutmu ini ketidaksengajaan, ha? Aku tidak bisa kembali kesana sekarang. Ada hal lain yang juga penting dan harus aku kerjakan disini.”
“Kalau kubilang tidak bisa ya tidak bisa! Aku akan mengirimkan seseorang untuk membantumu. Kau tidak bisa muncul diperusahaan sekarang! Apa kau lupa Verrel masih mencarimu?”
“Aku tidak berada di Singapura sekarang, aku jauh dari jangkauannya makanya aku minta kakak yang kesana untuk mengurus kekacauan di perusahaan.” ucap Sandy lagi.
“Sialan! Baiklah….aku akan segera kesana! Ingat ya, jangan melakukan apapun. Kau harus berdiam diri karena keadaan disini juga sedang tidak baik.”
“Apa Verrel sudah melakukan sesuatu?”
“Belum. Dia sedang teralihkan perhatiaannya pada istri dan anaknya. Aku tutup teleponnya sekarang. Lain waktu akan kujelaskan semua padamy.”
“Baik, kak.”
Sambungan telepon Sandy pada kakaknya pun terputus, wanita itu melemparkan puntung rokoknya keluar jendela lalu menggeram kesal. Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang yang sangat dipercayainya.
“Halo!”
“Batalkan semua! Jangan lakukan apapun sementara waktu ini. Aku akan kembali ke Singapura sekarang juga. Tetap pantau situasi disini.”
__ADS_1
“Kenapa? Ada sesuatu yang terjadi?”
“Apa kau tidak lihat apa yang terjadi dengan perusahaan keluargaku?”
“Ya aku sudah lihat! Bukankah itu tanggung jawab adikmu?”
“Anak bodoh itu! Jika bukan karena ulahnya semua ini tidak akan terjadi. Kau tunggulah disini sampai aku kembali. Biar aku bereskan semua urusan disana!”
“Apa kau tidak menemuiku dulu sebelum kau pergi?”
“Aku tidak punya banyak waktu sekarang. Aku harus segera berangkat! Ingat, perintahkan anak buahmu untuk menghentikan semuanya. Hanya sementara saja!”
“Baiklah.”
Stefanie mendengus kesal lalu mengemasi barang-barangnya dan pergi menuju bandara.
Tanpa sepengetahuannya, saat mobil yang membawanya ke bandara keluar dari tempat persembunyiannya ada mobil lain yang mengikutinya dari jarak jauh. Sedangkan satu mobil menunggu tidak jauh dari area rumah itu. Dua orang pria keluar dari mobil dan berjalan mengendap-endap ke area rumah yang baru saja ditingalkan oleh pemiliknya.
“Sepertinya hanya ada dua orang penjaga disana.”
“Coba cek CCTV nya. Ada berapa orang didalam rumah itu.”
“Didalam juga hanya ada dua pelayan, ada tukang kebun dihalaman belakang.”
“Kita harus masuk sekarang. Barang yang kita cari ada didalam rumah itu. Kita bisa masuk dari belakang, apa disana ada cctv juga?”
“Ikuti aku! Ada jalan rahasia yang aku temukan untuk bisa masuk kedalam tanpa diketahui siapapun.”
“Hah? Kenapa kau tidak bilang-bilang dari kemarin?”
“Aku juga baru tahu setelah mengamati jalurnya tadi malam. Disana bebas dari cctv, kita hanya punya beberapa menit setelah masuk kedalam. Aku bisa mematikan cctvnya untuk sementara agar kita bebas bergerak didalam rumah itu.”
“Ya sudah. Lakukan sekarang! Waktu kita tidak banyak!”
Salah seorang dari mereka mengeluarkan mini laptop lalu mulai mengerjakan sesuatu, tak berapa lama dia memberi kode pada temannya. Mereka berjalan memutar, rumah itu berada jauh terpisah dari rumah mewah lainnya. Disekitar rumah itu dikelilingi hutan kecil dan ada danau kecil. Mereka berjalan mengitari danau yang mengarah ke bagian sisi lain rumah itu. Tampak sebuah pohon besar dengan dahan menjuntai ke danau kecil. Mereka tiba disudut bagian belakang rumah itu. Tampak ada pintu kecil, salah satu pria itu mengeluarkan sebuah kunci. “Darimana kau dapat kunci itu?”
"Jangan banyak tanya. Tidak penting aku dapat kunci ini darimana. Sebaiknya kita masuk kedalam dan selesaikan tugas kita."
__ADS_1