TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 274. BEKERJASAMA


__ADS_3

Karena Luke sangat yakin jika kasus itu ada hubungannya dengan Olivia, dia pun menyerahkan bukti video Olivia dan Danu di kamar hotel kepada pihak yang berwajib.


Pemberitaan tentang ditemukannya mayat seorang pria dalam keadaan mengenaskan di bak mandi sebuah apartemen pun menjadi berita utama dan viral disemua media. Pihak berwajib berhasil mendapatkan rekaman CCTV didepan pintu utama apartemen tersebut dengan bantuan orang yang mengelola apartemen yang ditunjuk sang pemilik.


Kini pihak berwajib menetapkan Olivia sebagai tersangka berdasarkan bukti rekaman CCTV dari apartemen tersebut dan bukti berupa video dari Luke.


“Mari kita lihat Olivia! Seperti apa hidupmu nanti, apakah kesombongan itu masih berani kau tunjukkan? Cih! Kini semua milik ayahmu sudah ku kuasai.” Luke menyeringai lalu mengalihkan pandangan matanya keluar jendela mobil.


“Kita pergi ke kantor Ceyhan Group.” ucapnya pada supir.


“Baik, Tuan.”


‘Untung saja Verrel mau bertemu denganku, setidaknya aku bisa menghindari salah paham yang terjadi sebelumnya. Aku akan memintanya untuk menyerahkan masalah Olivia padaku! Wanita itu hanya bisa mati di tanganku, bukan di tangan orang lain!” bisik hatinya.


‘Kalau sampai Verrel yang berhasil menangkap Olivia, dia akan langsung membunuh wanita gila itu! Tidak semudah itu dia mati! Aku yang harus menangkapnya dan menyiksanya sebelum mengirimnya ke neraka. Itu balasan yang setimpal untuknya!”


Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, Luke tiba di depan gedung Cehan Group. Dia menatap gedung itu dengan kagum. ‘Hebat sekali dia! Di usia muda dia sudah bisa mengembangkan perusahaan keluarganya sampai sebesar sekarang! Pantas saja dia ditakuti banyak orang, Verrel tidak pernah menunggu lama untuk menyingkirkan siapapun yang menganggunya!’


Lalu Luke berjalan masuk dan setelah menyampaikan maksud kedatangannya pada resepsionis, dia diantar menuju ke lantai atas.


“Tuan Luke sudah ada disini, Tuan.” ujar Frans.


“Suruh masuk!”


Terdengar derap langkah kaki memasuki ruang kerjanya, Verel masih fokus pada dokumen ditangannya. Setelah beberapa saat, dia mengangkat wajahnya dan menatap pria yang kini sudah duduk di sofa bersama Frans. Verrel pun berdiri dan berjalan mendekat, tatapan matanya dingin seperti biasanya. Luke langsung berdiri dan menjulurkan tangan menyalami Verrel.


“Senang bertemu anda Tuan Verrel.” sapa Luke.


“Hem!” hanya itu saja kata yang diucapkan Verrel.


Kini ketiga pria itu sudah duduk, masih dalam keheningan dengan pikiran masing-masing.


“Katakan apa maksudmu menemuiku?” tanya Verrel tanpa basa basi.

__ADS_1


“Baiklah. Tentang Olivia!” jawab Luke.


“Aku tidak mau dengar nama perempuan itu!” ujar Verrel dingin tapi tatapan matanya merah dan penuh kebencian. Mengingat bagaimana kondisi istri dan anaknya saat dia menemukan mereka membuat Verrel marah dan ingin membunuh wanita itu dengan tangannya sendiri.


“Maaf. Saya adalah orang yang mengirim semua informasi tentang Olivia dan Stefanie pada anda. Saya tidak ada maksud mencampuri urusan anda. Tapi kita sama-sama punya kepentingan yang berhubungan dengan kedua orang itu.” ujar Luke.


Verrel memicingkan matanya menatap Luke dengan tatapan mengamati seakan sedang mencari kebohongan dari netra matanya pria itu. Tapi dia tak mendapati apapun, ekspresi pria itu tampak normal dan biasa saja, tatapan matanya pun terlihat jujur.


“Apa maumu?” tanya Verrel dengan suara yang mengintimidasi.


“Aku mau Olivia mati ditanganku! Aku punya urusan yang belum selesai dengannya.”


“Heh!” Verrel mendengus. “Alasannya?”


“Dia membunuh istri dan anakku!” jawab Luke dengan suara penuh penekanan.


Verrel dan Frans agak terkejut mendengar ucapan Luke, keduanya saling bertatapan sejenak lalu kembali menatap Luke dan menunggu pria itu melanjutkan kata-katanya. “Sedangkan Stefanie! Urusan lama yang belum selesai! Ayahnya menipu ayahku hingga kehilangan segalanya dan dia adalah orang yang membantu Olivia jika ada masalah karena Olivia adalah kekasih Sandy adiknya Stefanie,”


Luke berhenti sejenak, “Saya mengenal mereka dan lingkaran sosial mereka dengan sangat baik, Tuan Verrel! Jadi, ijinkan saya yang menyelesaikan mereka. Saya janji akan menuntaskan mereka secepatnya.” ujarnya to the point tanpa basa basi.


“Saya mengerti Tuan Verrel! Saya tidak akan mencampuri urusan anda dengannya, tapi izinkan saya yang menghabisinya. Saya ingin mendapatkan kehormatan itu, seandainya anda yang menangkapnya duluan biarkan saya yang menghabisinya. Anda tidak perlu melakukan itu!” ujar Luke lagi.


“Saya adalah seorang pebisnis, dan saya tidak suka berhutang budi pada siapapun! Saya akan memberi pelajaran pada mereka dan silahkan anda lakukan apapun yang anda mau pada mereka. Saya mau berterimakasih karena anda sudah memberikan data-data itu pada saya.”


“Oh, apakah anda sudah bertemu orang itu?” tanya Luke yang tiba-tiba teringat sesuatu.


“Ya, sudah. Kemarin saya bertemu dengan Akihiro San. Kebetulan dia juga datang di acara makan malam seorang rekan bisnisku. Mungkin sekarang dia juga sedang mengejar Stefanie.”


“Hem, Tuan…..bagaimana kalau kita bekerjasama menangani masalah ini? Maksudnya, saya tahu banyak tentang aktivitas William Lee dan Keluarga Singgih di luar negeri. Tapi saya kurang paham tentang situasi disini. Mungkin kita bisa saling bertukar informasi.” ujar Luke mencoba bernegosiasi dengan Verrel. Bagaimana pun mereka punya kepentingan yang sama saat ini.


...********...


Sementara itu di kediaman keluarga Ceyhan.

__ADS_1


Deandra sedang ditemani kedua anaknya yang minta dibacakan cerita. Nathan dan Naomi berbaring disamping Deandra.


“Sudah habis ceritanya, sayang. Sekarang tidur ya?” kata Deandra mengelus rambut kedua anaknya.


“Lagi, mama!” seru Naomi dengan suara cadel dan imut.


“Lagi? Mau cerita apa?” ujarnya.


“Gak tau.”


“Nathan mau cerita apa?” Deandra menundukkan wajah menatap putra sulungnya.


Nathan mendongak menatap ibunya sambil mengelengkan kepalanya. Dia lebih suka bermain dengan Ipadnya dan robot. Dia tidak tahu judul cerita anak-anak, hanya duduk disana menemani ibu dan adiknya saja. Kedua matanya mengerjap lalu tersenyum, senyum yang jarang muncul diwajah tampan anak laki-laki itu membuat Deandra mengecup puncak kepala putranya.


“Bagaimana kalau Nathan dan Naomi bobok siang saja.” Deandra melirik jam seharusnya kedua anak itu sudah tidur siang seperti biasanya, tapi tumben hari ini mereka aktif sekali.


“Ehem…..mau liat adek, mama.”


“Nathan gimana? Mau lihat adek juga?” tanya Deandra.


“Ya. Mau mama.” jawabnya. Lalu Deandra memanggil babysitter anaknya untuk membawa mereka ke kamar bayi yang berada disebelah kamarnya.


Deandra berjalan perlahan mengikuti dan masuk ke kamar bayi. Tampak ketiga bayi sedang terbangun ditemani babysitter mereka. “Aisss…..anak mama lagi apa?”


“Mereka baru selesai minum ASI, Nyonya. Hanya Caesar yang belum.” kata babysitter Caesar.


“Kenapa tidak panggil saya dari tadi? Dia nangis tidak?”


“Tidak nangis, nyonya. Tadi saya mau panggil Nyonya tapi kata Dena kalau Nyonya sedang menemani Baby N di kamar makanya saya tidak berani, nyonya.”


“Lain kali langsung panggil saya ya! Saya tidak mau anak saya sampai kelaparan menunggu.”


“Iya, maafkan saya nyonya.” kata babysitter itu dengan wajah menunduk merasa bersalah.

__ADS_1


“Ya sudah. Lain kali jangan begitu! Kasihan Caesar, dia tidak mau minum ASI dari botol.” ujar Deandra lalu menggendong Caesar dan duduk di sofa. Dengan antengnya Deandra menyusui Caesar.


__ADS_2