TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 211. RUMAH SAKIT


__ADS_3

Setelah menyelesaikan rangkaian pemeriksaan kesehatan, kini mereka menunggu hasil tes diruangan dokter yang akan menangani proses berikutnya.


"Sayang....kau capek ya? Mending pulang duluan dan istirahat dirumah." kata Verrel pada Deandra.


"Tidak! Aku tidak capek. Lagian ya, aku harus temani disini sampai selesai. Kalau kutinggal, yang ada kau bohong dan tidak jadi mengambil spermanya untuk disimpan."


"Mana mungkin aku lakukan itu, tapi kalau kau mau menunggu juga tidak apa-apa. Aku hanya khawatir saja sayang."


"Aku yang lebih khawatir kalau sampai batal! Pokoknya aku tidak mau sampai kau punya anak diluaran sana! Kalau sudah vasektomi, aku jadi tenang."


Verrel hanya diam, daripada obrolan dilanjutin dan istrinya malah merajuk, pria itu memilih memeluk istri tercintanya. Romeo yang berada diruangan itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kemesraan sepasang suami istri itu. Cemburu? Sudah pasti, sampai saat ini dia masih betah menjomblo.


"Gila ya, ternyata kau takut istri sampai-sampai istrimu minta kau vasektomi pun kau mau." bisik Dokter Romeo terkekeh tak habis pikir begitu patuhnya Verrel pada kemauan istrinya.


"Diam kau! Ini semua demi kebaikan keluarga kami. Kau yang jomblo mana mengerti!" ejek Verrel.


"Hehehe.....aku senang saja lihat kau yang banyak berubah setelah ketemu pawangnya."


"Hmmm....berapa lama lagi ini harus nunggu?"


"Sepuluh menit! Sabar ya...." jawab Romeo. Tak berapa lama seorang Dokter paruh baya pun datang. Setelah dokter menjelaskan prosedur yang akan dilakukan untuk pengambilan ****** dan penyimpanannya di bank ******, Verrel pun bersiap-siap.


Bank ****** merupakan tempat yang melayani pembekuan dan penyimpanan ******.Β Donor ****** akan disimpan dalam tabung pendingin berisi nitrogen cair dengan suhu -196 Β°C. Umumnya, ****** tersebut dapat disimpan selama lima tahun.


Setelah ****** disimpan di bank ****** dan Deandra memasukkan password yang hanya dia yang mengetahui, merekapun meninggalkan rumah sakit dan pulang kerumah. Verrel dianjurkan untuk tidak melakukan olahraga berat dan banyak beristirahat selama seminggu. Proses pengambilan dan penyimpanan ****** pun berjalan lancar meskipun ada sedikit drama merajuk dari Deandra karena Verrel minta ditemani istirahat dirumah setelah urusan di rumah sakit selesai.


...********...


Proses vasektomi pun dilakukan pada keesokan harinya, dokter yang menangani Verrel memberikan nasihat agar tidak melakukan hubungan intim selama seminggu setelah vasektomi dan tidak diperbolehkan berhubungan intim tanpa pengaman selama tiga bulan kedepan. Karena setelah vasektomi dilakukan butuh waktu tiga bulan agar aman untuk melakukan hubungan intim tanpa pengaman.


Usai operasi vasektomi dan Verrel dipindahkan keruang rawat untuk beristirahat selama beberapa jam, sore harinya Verrel sudah kembali lagi kerumah. Selama dua hari ini, sepasang suami istri itu menghabiskan waktu hanya di rumah sakit dan rumah saja. Frans membawa semua pekerjaan Verrel kerumah.


Mulai hari ini Verrel bekerja dari rumah selama satu minggu sampai bekas operasinya sembuh dan meminta sekretarisnya datang kerumah untuk membawakan dokumen-dokumen yang harus ditanda tangani.


"Pesankan makan siang," perintah Verrel pada sekretarisnya. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, Deandra tampak duduk di sofa diruang kerja Verrel sambil memainkan gawai.


"Baik, Tuan."


"Jangan ada seafood ya, aku juga mau sup buah dan waffle coklat!" kata Deandra. "Ohh....tunggu tunggu....aku juga mau rawon."


"Baik, Nyonya."

__ADS_1


Deandra duduk di sofa, sedangkan Verrel sibuk dengan berkas-berkas dimeja kerjanya. Deandra memandang wajah tampan suaminya lalu menghela napas panjang. 'Untung saja dia mau melakukan semuanya, semoga rumah tanggaku akan baik-baik saja. Aku bersumpah akan menjaga suamiku dan keluargaku dari pengganggu.'


Tok! Tok! Tok!


"Masuk."


"Hi Verrel! Maaf mengganggu, apa kau sedang sibuk? Oh....ada Deandra rupanya." kata Arion yang baru datang dan langsung masuk keruang kerja Verrel.


"Hai kak. Apa kabar? Sudah lama kita tidak jumpa." sapa Deandra.


"Kabarku baik. Ya, aku sibuk di luar kota dan kau pun sudah jarang ke kantor jadi kita jarang ketemu." jawab Arion lalu duduk dihadapan Verrel. "Bagaimana kabarmu dan keponakanku? Aku tidak melihat mereka saat masuk kerumah."


"Aku dan anak-anak baik saja. Mungkin Nathan dan Naomi lagi makan sama babysitternya. Nih sudah ada tiga lagi calon keponakanmu, kak."


"What? Kembar lagi? Triplet? Wah....wah.....hebat! Keluarga kita bakal tambah ramai. Dan kau Verrel, harus kerja keras untuk keluargamu. Ingat ya, kau yang bertanggung jawab atas keluarga besar Ceyhan."


"Iya....iya.....aku tahu itu." ujar Verrel melirik istrinya yang terlihat letih. "Bagaimana hasil audit di kantor cabang?" tanya Verrel mengalihkan pembicaraan.


"Hasilnya kurang baik makanya aku menemuimu. Ada banyak pelanggaran yang kutemukan di lapangan dan laporan yang tidak sesuai selama hampir delapan bulan ini. Kita terlalu sibuk mengurusi proyek-proyek baru dan kurang memperhatikan detail semua laporan."


"Apa saja yang sudah kau temukan?" tanya Verrel mengeryitkan kening.


"Ya, sepertinya begitu tapi siapa? Kemarin Henry juga mengirimkan padaku beberapa berkas dari kantor cabang yang sudah selesai di audit. Dari bagian pemasaran disana juga ada penyimpangan data. Aku masih memantau dulu dan sudah meminta orang-orangku untuk mencari tahu."


"Bagaimana di kantor ini? Menurutku semua yang terlibat pasti saling mengenal atau mungkin atas perintah orang yang sama." tanya Arion.


"Apakah kau tahu siapa kira-kira yang ingin menghancurkan kita? Selama ini perusahaan berjalan dengan baik tanpa ada gangguan. Hanya saja, sejak sebulan ini mulai ada yang meresahkan apalagi setelah istriku berhasil menemukan seorang pengkhianat di departemen IT." kata Verrel.


"Aku sudah suruh beberapa orang kepercayaanku untuk mengecek bagian gudang dan bagian pengiriman karena kita juga menerima komplain dari beberapa hotel di luar negeri." kata Arion sambil menghela napas.


"Komplain dari hotel? Maksudmu?"


"Begini, sudah lama CG Paper mensuplai perlengkapan untuk hotel berupa tisu dan lain-lain. Selama ini pabrik kita hanya memproduksi produk kualitas premium tapi seminggu yang lalu pelanggan kita komplain dan menuntut ganti rugi karena barang-barang yang dikirim tidak sesuai dan katanya produk kita dibuat dari bahan daur ulang dengan kualitas buruk." Arion menjelaskan secara detail permasalahan yang sedang datang bertubi-tubi.


"Apa? Kenapa tidak ada yang memberitahuku soal itu? Siapa yang bertanggung jawab di CG Paper? Itu perusahaan kedua yang dirintis opa dan perusahaan itu punya reputasi bagus."


"Coba kau tanya Frans. Dia pasti tahu soal itu, mungkin dia lupa memberitahumu karena sibuk."


"Aku tahu soal itu. Memang tidak kuberitahukan padamu, sayang." kata Deandra menimpali.


"Kenapa? Itu bukan masalah kecil, sayang." ucap Verrel menatap istrinya.

__ADS_1


"Karena aku yang akan mengatasi masalah itu. Aku sudah meminta orang kepercayaanku untuk menyelidiki, moga sore ini mereka sudah melaporkan temuan mereka padaku." ujar Deandra tenang.


"Semua harus aku ketahui dan kau jangan bertindak sendiri! Ingat, kau sedang mengandung anakku dan aku tidak mau kau lelah karena bekerja."


"Kenapa kau jadi marah padaku? Aku hanya ingin membantumu! Perusahaan sedang banyak masalah dan gangguan. Kau fokus saja pada masalah yang besar dan biarkan orang-orang kepercayaan kita bekerja menyelidiki masalah ini." balas Deandra sengit.


"Maafkan aku kalau menyinggungmu, sayang. Tapi semua harus aku ketahui, aku pimpinan perusahaan ini."


"Terserah! Aku hanya membantumu, kalau tidak suka ya sudah aku pulang saja!"


Arion tersenyum melihat Deandra yang merajuk dan melihat Verrel beranjak mendekati istrinya.


"Bukan begitu mommy! Kita harus bekerjasama. Kau lihat bagaimana Arion selalu melaporkan semuanya padaku supaya kita bisa sama-sama mencari solusi dalam memecahkan semua masalah. Aku hanya tidak mau kau lelah dan banyak pikiran, biarkan kami yang menghandle semuanya."


"Oh begitu? Jadi aku sebagai istri sudah tidak boleh membantu suamiku?"


Ketukan di pintu menghentikan perdebatan suami istri itu. Sang sekretaris masuk membawa beberapa paperbag berisi makanan pesanan.


"Ayo kita makan siang dulu. Setelah itu baru kita bahas lagi masalah perusahaan." kata Verrel sambil berjalan kearah sofa. Makan siangpun berjalan dalam keheningan tanpa ada yang berusaha untuk bicara. Ketiga orang itu makan sambil sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Sore hari Verrel menemani kedua anaknya bermain sedangkan Deandra melakukan yoga untuk ibu hamil. Menjelang acara pernikahan Ayu dan Peter, keluarga Ceyhan mulai mengurangi pekerjaan di kantor agar bisa fokus mempersiapkan pernikahan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ehmm.....jadi Ayu bakal menikah?" Amran mengelus dagunya dan sudut bibirnya terangkat. "Hebat juga dia bakal jadi istri Peter! Sialan!"


Raut wajah pria paruh baya itu terlihat menegang dan tidak senang mendengar kabar pernikahan mantan istrinya yang akan di gelar di akhir pekan nanti. Seorang wanita yang terbaring disampingnya melenguh lemah mendengar umpatan pria itu.


"Ada apa? Kenapa Tuan marah-marah?"


Sekilas Amran melirik wanita yang terbaring polos disampingnya. "Tidak ada apa-apa" jawabnya singkat. Dia meletakkan gawainya diatas nakas lalu menyerang kembali wanita itu yang lantas meladeni kebuasan Amran.


Kemarahannya dilampiaskan pada wanita yang berada dibawah tubuhnya. Rasa sakit hati, iri dan cemburu yang menyesakkan dadanya ditumpahkannya dengan menggauli wanita itu dengan kasar dan ganas, dia tak peduli rintihan wanita itu yang memintanya berhenti.


"Tu...tuan....tolong berhenti."


"Arrggg....shhhh.....diam!" bentak Amran semakin menghentakkan tubuh wanita itu kasar. Bayangan wajah Ayu sang mantan istri membayangi membuat Amran semakin marah karena apa yang diharapkannya tidak sesuai, ternyata Ayu tidak terpuruk bahkan segera menikah tak lama setelah mereka bercerai. Yang membuat Amran semakin iri dan marah karena pria yang akan menikahi mantan istrinya ternyata seorang pengusaha sukses dan kaya yang sangat dikenal Amran.


'Awas kau Ayu....takkan kubiarkan kau hidup tenang dan bahagia mengejekku! Kau tak boleh bahagia,kau sudah menipuku, menceraikanku saat aku dirawat di rumah sakit jiwa! Ha.....kurang ajar!' geramnya. Napasnya memburu semakin cepat ingin menggapai puncak kepuasannya, tak dia sadari wanita yang dicumbuinya sudah tak merespon karena pingsan.


Hai para pembaca setia πŸ‘‹πŸ‘‹ author mohon maaf sebesar-besarnya karena lama ngak update ya krn lg nyiapin tesis. Mulai hari ini author akan update lagi setiap harinya......terimakasih ya masih jadi pembaca setia, author doain semoga kalian semua sehat2 dan murah rejeki. Amin πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2